Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Hancur di Bawah Guyuran Badai
Hujan badai menghantam hutan dengan beringas. Petir menyambar, menerangi pepohonan yang bergoyang liar seperti raksasa yang mengamuk. Di tengah kegelapan itu, Arazka berlari tanpa arah, napasnya tersengal, dadanya sesak oleh rasa bersalah yang mencekik.
"MAURA! MAURA, TOLONG JAWAB GUE!"
🕯️ Penemuan yang Menyayat Hati
Langkah Arazka terhenti di dekat sebuah lereng curam yang licin. Matanya menangkap sesuatu yang kontras di antara tanah merah dan dedaunan basah. Sebuah sepatu putih yang ia kenali. Jantung Arazka seolah berhenti berdetak.
Ia meluncur turun ke bawah lereng dengan nekat, mengabaikan bebatuan yang menghantam tubuhnya. Di dasar lereng, di bawah perlindungan akar pohon besar yang mencuat, ia melihatnya.
Maura.
Gadis itu tergeletak menyamping dengan wajah pucat pasi. Seragamnya robek, kakinya membiru karena terkilir parah, dan kepalanya bersandar pada batu dengan darah yang mulai mengering namun tersapu air hujan. Maura menggigil hebat, bibirnya membiru karena hipotermia.
"Maura..." Arazka jatuh berlutut. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh pipi Maura yang sedingin es.
💔 Kehancuran Sang Ketua
Arazka mengangkat tubuh Maura ke pangkuannya, mendekapnya dengan sangat erat seolah ingin memberikan seluruh hangat tubuhnya.
"Bangun, Maur... Gue mohon, bangun. Pukul gue, maki gue, tapi jangan diem kayak gini," isak Arazka. Air matanya pecah, bersatu dengan air hujan yang membasahi wajah mereka.
Ia melihat luka-luka di tubuh Maura dan menyadari bahwa ini semua adalah akibat dari keegoisannya. Ia yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjadi penyebab Maura berada di ambang maut. Arazka merasa jiwanya hancur berkeping-keping. Di saat ini, ia bukan lagi Ketua ALVEGAR yang ditakuti; ia hanyalah seorang remaja laki-laki yang merasa gagal menjaga dunianya.
"Gue nggak guna... Gue ketua macam apa yang bahkan nggak bisa jagain loe?" bisiknya di telinga Maura sambil terisak hebat.
🔦 Kedatangan Danis dan Ketegangan di Goa
Tak lama kemudian, cahaya senter menembus kegelapan. Danis muncul dengan napas memburu, diikuti oleh Asean dan Keysha.
Danis terpaku melihat pemandangan di depannya. Kemarahannya pada Arazka sesaat hilang, berganti dengan rasa ngeri melihat kondisi Maura. "Zka... dia nggak apa-apa?" suara Danis bergetar.
Arazka tidak menjawab, ia hanya terus mendekap Maura. Asean segera bertindak. "Zka! Jangan cuma dipeluk! Kita harus pindahin dia ke goa kecil di atas sana. Kalau tetep di sini, dia bisa mati kedinginan!"
Dengan sisa tenaganya, Arazka menggendong Maura. Danis mencoba membantu memegang kaki Maura yang terluka, namun Arazka sempat menyentak. "Biar gue! Gue yang bikin dia begini, biar gue yang bawa dia!"
Danis menelan ludah, ia melihat betapa hancurnya mental Arazka saat itu. Ia memilih untuk menahan diri dan menerangi jalan bagi mereka.
🩹 Pertolongan Pertama dan Rasa Bersalah
Di dalam goa kecil yang sempit, Yasmin dan Keysha langsung mengambil alih. Yasmin dengan cekatan membersihkan luka di kepala Maura menggunakan persediaan medis yang tersisa, sementara Miko dan Asean berusaha menyalakan api kecil di sudut goa.
Fanila duduk di samping Maura, menggenggam tangannya yang dingin sambil menangis. "Maur, bangun dong... jangan bikin kita takut."
Arazka hanya duduk di sudut goa yang gelap, memeluk lututnya. Matanya kosong, menatap Maura yang masih belum sadarkan diri. Setiap rintihan kecil yang keluar dari bibir Maura terasa seperti belati yang menusuk jantung Arazka.
Danis mendekati Arazka, menyerahkan sebotol air. "Minum, Zka. Loe juga bisa sakit kalau kayak gini."
Arazka menepis botol itu pelan. "Loe bener, Dan. Loe jauh lebih pantes buat dia. Loe tenang, loe selalu ada... sedangkan gue cuma bawa kehancuran buat dia."
Danis terdiam. Ia melihat Arazka yang selama ini ia benci karena kesombongannya, kini benar-benar sudah kehilangan harga diri.
🌑 Bayangan Rangga
Di mulut goa, Rangga berdiri menatap hujan. Ia melihat kehancuran Arazka dengan kepuasan yang tersembunyi di balik wajah datarnya. Rencananya berjalan sempurna. Arazka sekarang meragukan dirinya sendiri, dan benih perpecahan antara dia dan Danis sudah tertanam sangat dalam.
"Sedikit lagi, Zka. Saat loe benar-benar hancur, gue akan mengambil alih sisanya," batin Rangga.
Tiba-tiba, mata Maura perlahan terbuka. Ia mengerang pelan. "A... Arazka?"
Arazka langsung merangkak mendekati Maura, namun ia berhenti satu jengkal darinya, merasa dirinya tidak layak lagi menyentuh gadis itu.
TO BE CONTINUED