NovelToon NovelToon
Naura, Seharusnya Kamu

Naura, Seharusnya Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Menikah Karena Anak
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku ingin menikah denganmu, Naura."
"Gus bercanda?"

***

"Maafin kakak, Naura. Aku mencintai Mas Atheef. Aku sayang sama kamu meskipun kamu adik tiriku. Tapi aku gak bisa kalau aku harus melihat kalian menikah."

***

Ameera menjebak, Naura agar ia tampak buruk di mata Atheef. Rencananya berhasil, dan Atheef menikahi Ameera meskipun Ameera tau bahwa Atheef tidak bisa melupakan Naura.
Ameera terus dilanda perasaan bersalah hingga akhirnya ia kecelakaan dan meminta Atheef untuk menikahi Naura.
Naura terpaksa menerima karna bayi yang baru saja dilahirkan Ameera tidak ingin lepas dari Naura. Bagaimana jadinya kisah mereka? Naura terpaksa menerima karena begitu banyak tekanan dan juga ia menyayangi keponakannya meskipun itu dari kakak tirinya yang pernah menjebaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Papa Rendra

“Bisa Bunda kasih tahu alasannya ke Ameera… kenapa Bunda berbohong soal ayah kandung Ameera?” suara Ameera lirih, tapi menusuk. “Apa… Bunda dan Ayah sudah tidak saling menyayangi?”

Laras menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Ia duduk di samping Ameera, meraih tangan kecil itu dengan jemari yang sedikit bergetar.

“Dulu…” Laras menghela napas panjang. “Dulu Bunda dan ayah kandungmu saling mencintai, sayang. Kami benar-benar saling menyayangi. Kami hidup bersama… meski hanya sebentar.”

Ameera menatap wajah bundanya lekat-lekat.

“Bunda selalu percaya sama ayahmu, meskipun beliau sibuk. Tapi mungkin Allah memang menakdirkan kebersamaan Bunda dan ayahmu hanya sampai di situ.” Suara Laras melemah. “Bunda pergi… dan ayahmu sama sekali tidak tau kalau waktu itu Bunda sedang mengandung kamu.”

Laras memilih kata-katanya dengan hati-hati. Ia tak ingin menanamkan kebencian di hati Ameera. Ia tak ingin putrinya tumbuh dengan luka yang sama seperti yang ia bawa selama bertahun-tahun. Terlebih ia sudah tau bahwa Rendra tak sepenuhnya bersalah.

“Terus…” Ameera menelan ludah. “Kenapa Bunda bilang ayah kandung Ameera sudah meninggal?”

Air mata Laras jatuh tanpa bisa ditahan.

“Maafkan Bunda…” suaranya bergetar. “Waktu itu Bunda benar-benar tidak tau kabar ayahmu, nak. Kita hidup bertiga dengan kakekmu. Bunda hanya ingin kamu merasa aman, merasa cukup… tanpa harus menunggu seseorang yang Bunda sendiri tak tau di mana.”

Laras mengusap punggung tangan Ameera perlahan. “Sampai akhirnya kita ke sini… bertemu tante Rania… dan sekarang kamu punya Papa Bani.”

Laras tersenyum tipis. “Papa Bani menyayangi kamu setulus hati. Sama tulusnya seperti Papa menyayangi Naura.”

Ameera terdiam lama. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia memeluk Laras erat-erat. “Maafin Ameera ya, Bunda…” isaknya tertahan. “Ameera sudah salah paham.”

Laras membalas pelukan itu, menahan tangisnya.

“Tidak apa-apa, sayang. Justru Bunda yang minta maaf… karena sudah berbohong.”

Ameera mengangkat wajahnya. “Bunda…”

“Iya, nak?”

“Sekarang… apa Ameera boleh ketemu ayah kandung Ameera?”

Deg

Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dada Laras. Sekejap ia kehilangan suara. Wajah Rendra terlintas, bersama luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

Namun Laras menarik napas dalam-dalam. Ia tak ingin ego dan ketakutannya menjadi penjara bagi anaknya.

“Boleh,” jawabnya akhirnya, lembut namun tegas. “Kalau itu yang Ameera inginkan.”

Mata Ameera berbinar. Senyum kecil merekah di wajahnya. “Makasih, Bunda.”

Laras mengusap rambut putrinya sambil tersenyum, meski hatinya gemetar. Ia tahu, sejak saat itu… hidup mereka tak akan pernah sama lagi.

***

Laras menggenggam tangan Ameera lebih erat dari biasanya. Telapak kecil itu terasa hangat, namun justru membuat dada Laras bergetar. Di sampingnya, Bani berjalan tenang—terlalu tenang, namun Laras tau, suaminya sedang menahan badai di dadanya sendiri.

Mereka berhenti di sebuah kafe kecil yang tenang, tidak terlalu ramai. Rendra sudah duduk di sana, punggungnya tegak, namun jemarinya tak berhenti saling mengunci—tanda kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan.

Saat pintu terbuka dan Ameera masuk, Rendra refleks berdiri.

Waktu seolah berhenti.

Anak itu… benar-benar berdiri di hadapannya.

“Ameera…” lirih Rendra, suaranya bergetar tanpa ia sadari.

Ameera berhenti melangkah. Tangannya mencengkeram jemari Laras, lalu menoleh sebentar ke arah Bani. Bani mengangguk kecil, memberi isyarat aman. “Itu… Om Rendra?” tanya Ameera pelan.

“Iya, sayang,” jawab Laras lembut. “Om Rendra yang ingin Ameera temui.”

Rendra berjongkok perlahan, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Ameera. Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha tersenyum—senyum yang dipelajari dari bertahun-tahun penyesalan.

“Hai, Ameera,” katanya pelan. “Terima kasih… sudah mau datang.”

Ameera mengangguk kecil. Ia menatap wajah pria itu lama—wajah yang asing, tapi entah kenapa terasa… dekat.

“Om,” ucap Ameera ragu, “kata bunda… Om itu ayah Ameera?”

Kalimat itu menghantam dada Rendra tanpa ampun.

“Iya,” jawabnya jujur, suaranya nyaris pecah. “Om adalah ayah kandung Ameera.”

Sunyi.

Laras menahan napas. Bani mengeratkan genggaman tangannya sendiri, berusaha tetap berdiri sebagai lelaki dewasa, sebagai ayah—meski bukan darah.

Rendra menunduk. “Om minta maaf… karena baru sekarang bisa ada di depan Ameera. Bukan karena Om gak mau… tapi karena Om gak tahu.”

Ameera terdiam. Lalu perlahan, ia melangkah mendekat. “Om dulu… tau gak kalau Ameera ada?” tanyanya polos.

Rendra menggeleng. “Tidak, sayang.”

Ameera mengangguk, seolah sedang mencerna dunia orang dewasa dengan hati anak-anaknya. “Kalau gitu…” Ameera menoleh ke arah Bani. “Papa Bani tetap papa Ameera kan?”

Deg!

Bani tersenyum—senyum yang jujur, meski matanya basah.

“Selalu,” jawabnya tegas. “Papa tidak ke mana-mana.”

Ameera tersenyum lega. Ia lalu menatap Rendra lagi. “Om… Ameera boleh kenal Om pelan-pelan?”

Air mata akhirnya jatuh dari mata Rendra. “Boleh,” jawabnya lirih. “Om akan nunggu. Seberapa pun lama Ameera butuh.”

Laras menunduk, air matanya jatuh tanpa suara. Untuk pertama kalinya, ia merasa bebannya sedikit terangkat—bukan karena luka sembuh, tapi karena kebenaran akhirnya berjalan di jalan yang benar.

Bani melirik Laras, lalu berkata pelan namun tegas, seolah menetapkan garis yang jelas:

“Kita lakukan ini demi Ameera. Dengan batas. Dengan adab. Dengan rasa saling menghormati.”

Rendra mengangguk. “Saya mengerti.”

Di antara mereka, Ameera duduk tenang—tak sadar bahwa hari itu, hidupnya berubah. Bukan kehilangan satu ayah, tapi justru mengetahui bahwa ia dicintai oleh lebih dari satu hati.

Dan Laras… akhirnya belajar bahwa kebenaran, meski terlambat, tetap lebih hangat daripada kebohongan yang dibungkus cinta.

***

Hari itu, Rendra menghabiskan waktunya bersama Ameera. Seharian penuh.

Meski di awal Ameera masih memanggilnya dengan sebutan “Om”, Rendra sama sekali tidak keberatan. Ia paham, kedekatan tidak bisa dipaksakan. Ameera butuh waktu—dan Rendra bersedia menunggunya.

Hari-hari berlalu, dan perlahan jarak itu menyusut.

Tawa Ameera kini lebih sering terdengar setiap kali Rendra ada di dekatnya. Setelah meminta izin pada Bani dan Laras, Rendra mengajak Ameera berjalan-jalan bersama Aurel dan putra kedua mereka, Rafael.

Ameera sangat senang.

Rafael ramah, Aurel pun memperlakukannya dengan lembut—tanpa jarak, tanpa sikap canggung.

“Kak Ameera,” tanya Rafael polos, sambil memainkan mobil remotnya, “kenapa Naura nggak ikut?”

Ameera tersenyum kecil.

“Naura lagi di pesantren. Dia senang banget ke sana.”

Rafael terlihat murung sesaat. “Aku pengin main sama Naura.”

“Kenapa?” Ameera menoleh.

“Memangnya di pesantren ada siapa aja, Kak?”

“Banyak,” jawab Ameera antusias. “Ada Gus Atheef, Ning Hanifa, Umi Nafisah, sama Abi Zaki.”

Aurel yang baru datang mendekat ikut menyimak.

“Umi Nafisah dan Abi Zaki itu siapa, Ameera?”

“Mereka keluarga Papa Bani,” jawab Ameera lugu, “juga keluarganya Tante Rania.”

Aurel mengangguk pelan. Ia sudah mengetahui kisah itu—bahwa Laras adalah istri kedua Bani, dan istri pertamanya, Rania, telah wafat saat melahirkan.

Rafael kembali bermain sendiri, sementara Ameera duduk dekat Rendra, bersandar manja di lengannya.

Rendra menikmati momen itu, kedekatan yang terasa alami, seolah tak pernah terpisah oleh waktu dan kesalahan masa lalu.

“Ameera,” panggil Rendra lembut.

“Iya, Pah.”

Deg!

Rendra membeku sejenak.

Jantungnya berdegup keras, seolah dunia berhenti berputar.

“Tadi… Ameera manggil Om apa?” tanyanya lirih, hampir tak percaya.

“Papa,” jawab Ameera jujur. Ia menatap Rendra polos. “Boleh kan sekarang Ameera panggil Om papa?”

Tak ada lagi yang mampu ditahan Rendra.

Ia langsung memeluk Ameera erat, seerat-eratnya. Dadanya bergetar, matanya basah.

“Boleh… boleh banget, sayang,” suaranya parau.

“Itu panggilan yang papa tunggu selama ini.”

Ameera tersenyum di dalam pelukan itu.

“Terima kasih, Ameera,” bisik Rendra. “Papa janji… papa gak akan pernah ninggalin kamu lagi.”

Untuk pertama kalinya, Rendra merasa benar-benar pulang.

***

Di gubuk kecil dekat pesantren, angin sore berembus pelan, menggoyangkan tirai bambu yang tergantung di sisinya. Gus Atheef duduk bersila, mushaf kecil terbuka di pangkuannya. Di hadapannya, Naura duduk rapi, jilbab mungilnya terpasang rapi, matanya berbinar penuh semangat.

“Pelan-pelan ya, Naura,” ucap Gus Atheef lembut. “Ikuti Gus.”

Naura mengangguk, lalu melafalkan ayat yang diajarkan dengan suara bening, meski sesekali masih terpatah-patah. Gus Atheef tak pernah terlihat kesal. Ia sabar, mengulang bacaan, membenarkan makhraj huruf, sesekali tersenyum kecil ketika Naura berhasil melafalkan dengan benar.

“Bagus,” pujinya singkat, tapi tulus.

Naura tersenyum lebar. “Iya kan? Naura kan mau pinter ngaji biar kayak Mama Rania… sama kayak Gus.”

Gus Atheef terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang tak bisa ia jelaskan setiap kali Naura menyebut nama itu—nama yang begitu dimuliakan di pesantren mereka.

Dari kejauhan, Umi Nafisah dan Abi Zaki memperhatikan. Mereka tak berkata apa-apa, hanya saling bertukar pandang. Pemandangan itu terasa menenangkan—dua anak dengan jarak usia yang tak jauh, duduk berdampingan, menjaga adab tanpa perlu diingatkan terus-menerus.

Sesekali, Naura bergerak mendekat tanpa sadar, terlalu bersemangat ingin melihat mushaf di tangan Gus Atheef. Dengan sigap, Gus Atheef sedikit menggeser duduknya. “Naura,” katanya pelan, tidak menegur, lebih seperti mengingatkan. “Ingat ya… kita jaga jarak. Kita sudah besar. Tidak boleh bersentuhan.”

Naura menunduk sebentar, lalu mengangguk patuh. “Iya, Gus. Maaf.”

“Tidak apa-apa,” jawab Gus Atheef cepat. “Gus cuma ngingetin. Kamu anak baik.”

Mereka kembali mengaji. Tak ada sentuhan, tak ada sikap berlebihan. Hanya dua hati kecil yang sama-sama tulus belajar dan tumbuh, dengan adab yang dijaga.

Entah sejak kapan, Gus Atheef menyadari satu hal, berada di dekat Naura membuatnya tenang. Anak itu ceria, ingin tahu banyak hal, dan selalu mendengarkan. Rasa nyaman itu hadir tanpa alasan, tanpa niat apa pun—sekadar ketenteraman yang sederhana.

Di kejauhan, Umi Nafisah tersenyum samar. “MasyaAllah,” bisiknya.

Abi Zaki menghela napas pelan.

“Kamu lihat itu?”

Umi Nafisah mengangguk, matanya lembut. “Iya. Aku melihatnya.”

“Kita tidak pernah mengajarkan apa-apa yang berlebihan. Tapi Atheef terlihat… tenang di dekat Naura.”

Umi Nafisah terdiam sejenak. Lalu suaranya lirih, penuh keyakinan. “Bukan hanya karena janjiku pada Rania dulu. Tapi Naura memang pantas. Akhlaknya, hatinya… anak itu tumbuh dengan luka, tapi Allah jaga kelembutannya.”

Abi Zaki menoleh pada istrinya. “Dan Atheef menghormati batas. Itu yang paling penting.”

Umi Nafisah tersenyum tipis. “Aku menyayangi Naura seperti anakku sendiri. Kalau Allah berkehendak… biarlah waktu yang menjawab.”

Di gubuk itu, Atheef kembali membuka mushaf.

“Kita lanjut ya, Naura.”

“Iya, Gus,” jawab Naura cerah.

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi bertahun-tahun ke depan. Namun hari itu, di gubuk sederhana dekat pesantren, dua anak kecil duduk berdampingan—menjaga adab, belajar agama, dan tanpa sadar sedang menanam benih takdir yang kelak akan tumbuh pada waktunya.

1
Arga Putri Kediri
Naura kpn bhgiany kak thor
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya allah naura beban kamu berat banget.
Fegajon: akan ada pelangi setelah badai🥺
total 1 replies
Yuni Songolass
ameera ini tdk tau diri banget
Anak manis
sedih bgt jadi Naura😭
cutegirl
Naura terlalu banyak. berkorban
Arga Putri Kediri
kpn amera dpt balasNy... papanya Naura jg terlalu jahatttt....
just a grandma
kasian naura😥
anakkeren
makin seru
just a grandma
plis amira kmu jgn jahat
anakkeren
naura msh kecil gus🤭
cutegirl
happy birthday naura😍
anakkeren
makin seru
just a grandma
lanjut
just a grandma
❤️
Anak manis
lanjut
just a grandma
ceritany bikin sedih. aku srlalu menunggu up terbsru dari cerita kamu thor
cutegirl
aku yakin pasti gus atheef berjodoh dgn naura
Anak manis
seruuu tapi sedih
anakkeren
aku suka sm cerits author ini. sejauh ini ceritsnya nasih sedih dan aku merasakan sedih saat membacanya.
anakkeren
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!