Dijebak oleh kakak tiri dengan seorang pemuda pada malam ulang tahun teman. Siapa sangka, orang yang satu kamar dengan dia ternyata seorang tuan muda yang paling berpengaruh di kota itu.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Ikuti terus kelanjutan kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Hampir satu jam lamanya setelah kepergian Hero meninggalkan rumah. Belum ada tanda-tanda kalau Hero membawa Dicky pulang ke rumah itu.
Merlin yang menunggu kedatangan Hero dengan gelisah, kini memilih melupakan penantiannya. Dia beranjak meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya untuk tidur.
"Huh ... ngapain aku jadi bodoh gini ya? Kenapa harus mikir dan berharap kalau Hero akan membawa Dicky pulang ke rumah ini? Bukankah dia punya orang tua? Hero pasti bawa Dicky pulang ke rumah orang tuanya."
"Dan ... Dicky itu bukannya tadi sore ke desa buat ketemu sama pacarnya? Tunggu! Jangan-jangan dia mabuk-mabukan sama pacarnya di klab malam itu. Terus ... dia ... dia ke ... ke hotel sama pacarnya."
Setelah membayangkan hal itu, emosi Merlin tiba-tiba saja melonjak naik. Ingin sekali rasanya dia marah dan membenci Dicky jika apa yang dia pikirkan itu benar adanya.
Namun, beberapa saat kemudian dia ingat kalau hal itu tidak bisa dia lakukan.
"Bodoh kamu, Merlin. Untuk apa kamu memikirkan hal itu sih? Siapa kamu buat Dicky, hah? Kenapa kamu malah emosi dan sakit hati memikirkan sesuatu yang tidak penting itu."
"Lebih baik tidur dengan nyenyak. Agar besok bisa bagun pagi-pagi untuk menikmati suasana seger pekarangan rumah barumu. Kan indah."
Merlin berusaha melupakan apa yang sedang dia pikirkan soal Dicky barusan. Dia menutup matanya rapat-rapat dengan harapan bisa segera terlelap dalam mimpi indah dan melupakan semua tentang apa yang dia pikirkan sebelumnya.
Sayangnya, harapan itu tidak nyata. Ketika dia coba memejamkan matanya, yang ada bukan hilang apa yang dia pikirkan, malah semakin terbayang-bayang dan semakin membuat hatinya bertambah sakit saja.
"Ah ... sial! Ngapain lo main-main di benak gue sih." Merlin berteriak kesal sambil bagun dari baringnya.
Saat itulah, pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang dari luar. Perhatian Merlin segera teralihkan sekejap itu juga.
"Nona ... apakah nona sudah tidur?"
Suara yang tidak asing bagi Merlin terdengar jelas di depan pintu kamar itu.
"Belum. Aku masih belum bisa tidur, bik. Tunggu sebentar! Aku akan bukankan pintunya."
"Baik, nona."
Pintu terbuka lebar. Bersamaan dengan itu, Merlin juga muncul dengan wajah gusarnya.
"Ada apa, bik?"
"Maaf, nona. Bibi ganggu nona yang mungkin sudah bersiap-siap untuk tidur. Bibi ke sini karena perintah mas Hero. Dia ada di bawah bersama pangeran tampan."
"Pangeran tampan? Siapa?"
"Ih nona. Siapa lagi kalau bukan tuan muda Dicky. Suami tampan nona ku ini."
Merlin menarik senyum canggung yang sangat tidak enak untuk dilihat.
"He ... bibi bisa saja."
"Eh, tunggu! Barusan bibi bilang apa? Hero datang bersama Dicky? Dicky ada di bawah sekarang?"
"Iya, nona. Tuan muda Dicky ada di bawah. Namun, sepertinya dia sedang tidak sadarkan diri. Dia terus meracau, bicara sendiri."
Tanpa bicara lagi, Merlin langsung turun untuk melihat keadaan Dicky. Ketika sampai ke ruang tamu, Dicky sedang terbaring di sana. Matanya tertutup, namun bibirnya terus saja berucap kata-kata yang sulit untuk dipahami.
"Kamu jahat! Kamu tega! Kamu tolak aku, padahal aku sangat cinta padamu. Kau tahu, rasanya seperti apa? Rasanya sangat sakit, tau? Sakit sekali?"
"Hero. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa dia bisa sampai seperti ini?" tanya Merlin sambil mendekat.
"Nona. Ceritanya panjang. Mungkin sebaiknya, besok saja saya ceritakan pada nona. Kasihan tuan muda, jika tetap berada di sini. Harus kita pindahkan dia ke kamar terlebih dahulu biar dia beristirahat dengan nyaman."
"Ya sudah kalo gitu, bawa ke kamar aku saja. Kamar itu sudah di bersihkan ulang oleh bi Imah sebelum aku tempati tadi. Jika kamar lain, kasihan Dicky harus menunggu lama di sini."
"Ya sudah. Itu ide yang bagus sepertinya."
"Mm ... bisakah nona bantu saya memapah tuan muda naik ke atas? Karena akan sulit jika saya sendirian."
"Ya, aku bisa. Ayo!"
Hero dan Merlin berusaha memapah Dicky untuk mereka bawa menaiki anak tangga. Memang agak sulit untuk mereka, karena Dicky sedang terkulai lemah meski bibirnya terus berucap kata-kata yang sama terus menerus.
Sampai di depan pintu kamar, tepat saat Merlin berusaha menjangkau pintu untuk dia buka, tiba-tiba saja, Dicky memu*tahkan isi perutnya. Dia melakukan hal itu ke arah Merlin.
"Ya Tuhan, nona. Tuan muda .... "
"Tidak apa-apa, Hero. Biarkan saja dia mengeluarkan barang kotor yang dia masukkan ke dalam perutnya."
"Tapi, baju nona jadi kotor semuanya, nona."
"Tidak perlu cemas soal baju. Karena sekarang, aku punya banyak baju untuk aku ganti. Namun, Dicky tidak punya baju lain di sini. Kita tidak bisa membiarkan dia memakai baju kotor
ini lagi. Tapi juga tidak bisa menggantikan bajunya."
"Baju? Mm .... " Hero terlihat memikirkan apa yang Merlin katakan. Beberapa menit kemudian, wajahnya terlihat bersemangat karena berhasil menemukan solusi untuk masalah yang sedang mereka hadapi.
"Aku ingat sekarang, nona. Tuan muda bawa baju ganti di mobil. Aku akan hubungi pak sopir nanti. Sekarang, nona bisa ganti baju nona. Biar aku urus tuan muda."
Merlin mengikuti apa yang Hero katakan. Dia langsung mengambil baju setelah membantu Hero meletakkan Dicky ke tempat tidurnya. Lalu, membawa baju itu menuju kamar yang lain.
Kurang dari lima menit kemudian, Merlin telah siap mengganti baju. Dia bergegas menuju kamarnya kembali untuk melihat keadaan Dicky.
Pikirannya masih waras meskipun dalam keadaan cemas. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam.
"Masuk saja, nona. Saya sudah siap mengganti
baju tuan muda," ucap Hero dari dalam kamar.
Tanpa banyak bicara. Merlin langsung masuk ke dalam. Dia melihat Dicky yang sedang terbaring dengan selimut menutupi tubuh.
"Apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Merlin sambil memperhatikan wajah Dicky yang sedang terlelap dengan tenang.
"Sepertinya tidak, nona. Tuan muda masih bicara sendiri, cuma agak jarang sekarang."
"Dia masih belum sadar juga, Hero? Apa sebaiknya kita bawa dia ke dokter? Atau ... kita panggil dokter saja ke sini untuk memeriksanya."
"Tidak perlu, nona. Tuan muda tidak memerlukan dokter spesialis seperti pada umumnya. Karena yang sakit itu hatinya. Dia butuh dokter spesialis cinta yang tidak bisa kita temui di kota ini."
"Maksud kamu ... dia sedang patah hati sekarang? Begitu kah?"
"Mm ... sepertinya. Ah, maaf. Sepertinya saya tidak bisa terus berada di kamar ini, nona muda. Saya harus keluar sekarang. Saya titip tuan muda pada nona. Tolong rawat dia nona."
"Baiklah. Akan aku lakukan sebisa aku."
"Terima kasih, nona. Saya permisi dulu."
"Ya."
nikah muda ny
dpt jodoh putri cengeng lagi 😁😁😁
siapa dia...
wlu pun kau serang nyonya,
tapi kau terlalu Egois, ingin ter lalu mengatur hidup nak mu
picik sekali pemikiran mu
toh yg buat kepurltusan dan bunuh diri kan adek mu sendiri.
tich dicky blom nogmong ke adk mu.
kenapa hrs dicky yg di salah kan atas kematian ny .
uang 20 M, gak ada apa2 ny buat mereka...
ah..awaq wong misqin iki 100 rebu sdh sangat berarti 😁😁😁
klu hdp Meelyn bakal sengsara
dasar emak sana anak sama aja.
sama2 gak tau diri
ini lg papa Merlyn kok bisa nuta y mata hati ny, pada anak kandung Sendiri
target ny salah sasaran ..😀😀😀
malah bunuh diri 😱