NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Masalah Band

​Studio musik "Bising" yang terletak di ruko sempit belakang pasar adalah rumah kedua bagi Alea. Dindingnya ditempeli peredam suara busa telur yang sudah sobek di sana-sini, dan udaranya selalu berbau rokok campur keringat. Tapi bagi Alea, ini adalah tempat paling suci di dunia.

​Biasanya, latihan hari Selasa adalah momen pelampiasan stres. Tapi hari ini, suasananya lebih panas dari oven.

​NGIIING....

​Suara feedback gitar yang memekakkan telinga menghentikan lagu Welcome to the Black Parade yang baru berjalan setengah.

​"Stop! Stop!" teriak Alea ke mikrofon. Ia menatap Erik, gitaris rhythm mereka. "Rik, lo masuknya telat mulu di chorus! Temponya lari ke mana-mana!"

​Erik, cowok bertubuh kurus dengan rambut gondrong tanggung, tidak membalas. Ia justru melepas gitarnya dan meletakkannya di stand dengan gerakan kasar.

​"Gue nggak bisa lanjut, Le," kata Erik tiba-tiba.

​Satu ruangan hening. Raka berhenti memukul hi-hat. Dito (bass) dan Beni (keyboard) saling pandang.

​"Maksud lo? Kita istirahat dulu?" tanya Alea bingung, menyeka keringat di dahinya.

​"Bukan. Gue cabut. Keluar dari band," jawab Erik tanpa menatap mata Alea.

​"Hah?" Alea tertawa hambar, mengira ini lelucon. "Jangan ngelawak deh lo. Audisi Pensi tinggal seminggu lagi, bego. Lo mau cabut ke mana?"

​Erik mengambil tasnya. "Nyokap gue ngomel terus. Nilai try out gue jeblok. Gue disuruh fokus bimbel tiap hari. Gue nggak punya waktu buat latihan lagi."

​Alea merasakan darahnya mendesir naik ke kepala. Alasan klasik. Alasan basi.

​"Lo... lo ninggalin kita H-7 audisi cuma gara-gara disuruh bimbel?!" seru Alea emosi. "Lo udah janji, Rik! Kita udah nyusun aransemen ini dua bulan!"

​"Sorry, Le. Tapi masa depan gue lebih penting daripada Pensi," sahut Erik dingin. Ia berjalan menuju pintu studio. "Cari aja gitaris lain. Banyak kok yang lebih jago dari gue."

​BLAM!

​Pintu studio terbanting menutup. Erik pergi.

​Keheningan yang tersisa di ruangan itu terasa menyesakkan. Raka menjatuhkan stik drumnya ke lantai. Klotak.

​"Mampus kita," gumam Raka. "Mampus."

​Alea menendang stand mic di depannya sampai jatuh. "PENGKHIANAT SIALAN!"

​Setengah jam kemudian, empat anggota tersisa dari band The Rebels duduk melingkar di warung kopi depan studio dengan wajah suram. Es teh manis di depan mereka mencair tak tersentuh.

​"Gimana nih, Le?" tanya Dito putus asa. "Lagu Langit Abu-Abu itu butuh dua gitaris. Satu lead, satu rhythm yang ngisi melodi fill-in. Kalau cuma lo yang main gitar sambil nyanyi, suaranya bakal kopong."

​"Kita ubah aransemen?" usul Beni ragu.

​"Nggak keburu," potong Alea cepat. Dia menggigit sedotannya frustrasi. "Kalau diubah jadi akustik, bakal kalah saing sama band jazz anak kelas unggulan. Kita harus tetep rock. Kita butuh gitaris. Titik."

​"Siapa tapi?" tanya Raka. "Gitaris sekolah kita yang jago udah pada punya band. Sisanya cuma bocah-bocah yang baru belajar kunci C."

​Alea memijat pelipisnya. Otaknya berputar keras mencari solusi. Ia butuh seseorang yang skill-nya di atas rata-rata. Seseorang yang paham teori musik supaya bisa adaptasi cepat. Seseorang yang jarinya lincah...

​Tiba-tiba, ingatan Alea melayang ke sore hari di ruang musik.

Ke jari-jari panjang yang menari di atas tuts piano.

Ke penjelasan tentang harmonik di senar gitar.

Ke cerita tentang gitar yang dibakar.

​Mata Alea membelalak. Klik.

​"Gue tau," bisik Alea.

​"Tau siapa?" tanya Raka.

​"Gue tau siapa yang bisa gantiin Erik. Bahkan... skill-nya mungkin sepuluh kali lipat di atas Erik," kata Alea, senyum misterius mulai mengembang di wajahnya.

​"Siapa, anjir? Anak kuliahan?"

​Alea menggeleng. "Bukan. Anak sekolah kita juga."

​"Siapa?"

​"Julian Pradana."

​PUFFT!

​Raka menyemburkan es tehnya ke muka Dito. Dito mengumpat kotor.

​"Julian?!" seru Raka, Dito, dan Beni berbarengan. Volume suara mereka membuat ibu penjaga warung kaget.

​"Ketua OSIS?" tanya Beni tak percaya. "Si Robot itu? Le, lo stres ya gara-gara ditinggal Erik?"

​"Gue serius," kata Alea mantap. Ia mengambil tisu, membersihkan meja yang basah. "Gue pernah liat dia main alat musik. Dia jago, Guys. Dia ngerti teori musik lebih dari kita semua. Dia punya perfect pitch."

​"Tapi Le..." Raka menatap Alea sangsi. "Itu Julian. Musuh alami anak band. Dia yang bikin aturan dilarang rambut gondrong. Mana mau dia gabung band urakan kayak kita?"

​"Dia punya utang sama gue," kata Alea, teringat momen 'Gencatan Senjata' dan 'Insiden Hujan'. "Dan gue bakal tagih utang itu sekarang."

​Alea berdiri, menyambar tas gitarnya.

​"Kalian latihan aja bagian kalian masing-masing. Urusan gitaris, serahin sama gue. Besok sore, gue bakal bawa dia ke studio."

​"Lo gila, Le," komentar Raka menggelengkan kepala.

​"Emang. Kalau nggak gila, bukan The Rebels namanya."

​Keesokan harinya, jam istirahat pertama.

​Julian sedang duduk tenang di perpustakaan, menikmati kesendiriannya bersama buku Fisika Kuantum untuk Pemula. Tempat duduk favoritnya di pojok belakang adalah zona bebas gangguan.

​Sampai bayangan seseorang menutupi cahaya bukunya.

​Julian mendongak. Alea berdiri di sana, kedua tangannya bertumpu di meja, mencondongkan tubuh ke depan dengan tatapan mengintimidasi.

​"Kita perlu bicara. Sekarang," kata Alea tanpa basa-basi.

​Julian menghela napas, menutup bukunya. "Jadwal belajar kita jam 3 sore, Alea. Sekarang saya sedang me time."

​"Ini bukan soal belajar. Ini soal hidup dan mati. Ikut gue."

​Alea menarik lengan Julian, memaksanya berdiri. Beberapa siswa di perpustakaan menoleh, berbisik-bisik melihat pemandangan langka: Preman Sekolah menyeret Ketua OSIS.

​Alea membawa Julian ke atap sekolah (lagi). Tempat negosiasi favorit mereka.

​Matahari bersinar terik, tapi angin bertiup kencang.

​"Ada apa?" tanya Julian sambil merapikan lengan kemejanya yang kusut karena ditarik Alea. "Kalau kamu mau protes soal PR Matematika kemarin, jawabannya tidak. Kamu tetap harus mengerjakannya."

​"Gitaris gue cabut," kata Alea langsung.

​Julian terdiam sejenak. "Oh. Turut prihatin. Lalu?"

​"Gue butuh gitaris pengganti. Buat audisi Pensi minggu depan."

​"Semoga beruntung mencarinya," Julian hendak berbalik pergi.

​Alea melangkah cepat, menghalangi jalan Julian.

​"Gue udah nemu. Orangnya ada di depan gue."

​Julian berhenti. Ia menatap Alea dengan tatapan datar, lalu tertawa pendek. Tawa yang kering.

​"Saya? Kamu bercanda."

​"Gue serius, Jul. Gue tau lo bisa main gitar. Lo sendiri yang bilang dulu lo main gitar tiap sore bareng nyokap lo. Lo ngerti teori musik. Lo punya feeling."

​"Alea," suara Julian merendah, menjadi dingin. "Saya sudah bilang. Itu masa lalu. Saya tidak punya gitar, dan saya tidak punya niat untuk main band."

​"Gitar gue banyak! Lo bisa pake punya gue!" desak Alea. "Ayolah, Jul. Cuma buat Pensi ini doang. Please. Kalau kita nggak lolos audisi, band gue bubar. Mimpi gue ancur."

​Julian menatap mata Alea yang memohon. Ada keputusasaan di sana yang membuat hati Julian terusik. Tapi kemudian bayangan wajah ayahnya muncul. Tatapan tajam di dalam mobil saat hujan kemarin.

​Musik hobi orang miskin.

Jangan bikin Papa malu.

​"Tidak bisa," tolak Julian tegas. "Saya Ketua OSIS. Saya punya reputasi yang harus dijaga. Apa kata guru-guru kalau melihat saya main musik rock berantakan di atas panggung? Dan ayah saya..." Julian menelan ludah. "Ayah saya akan membunuh saya."

​"Reputasi? Lo peduli sama apa kata orang?" Alea mulai kesal. "Lo liat diri lo kemarin di ruang musik, Jul! Lo bahagia! Kenapa lo harus nyiksa diri demi imej sempurna yang palsu itu?"

​"Karena tidak semua orang punya kebebasan seperti kamu, Alea!" bentak Julian.

​Suara Julian meninggi, membuat Alea tersentak.

​"Kamu bisa pulang ke rumah, dimarahin ibu kamu, tapi besoknya kamu tetep bisa main gitar," lanjut Julian, suaranya bergetar menahan emosi. "Kalau saya melanggar satu aturan saja, kalau saya mengecewakan Ayah sekali saja... saya kehilangan satu-satunya orang tua yang saya punya. Kamu nggak akan ngerti."

​Hening. Angin menderu di antara mereka.

​Alea menatap Julian. Kemarahannya surut, digantikan rasa bersalah. Ia lupa betapa besarnya penjara yang mengurung Julian.

​"Oke," kata Alea pelan. Ia mundur selangkah. "Sorry. Gue egois. Gue nggak mikirin posisi lo."

​Alea berbalik, berjalan gontai menuju pintu atap. Bahunya merosot lemas. Mimpinya untuk Pensi rasanya sudah menguap separuh.

​Julian melihat punggung Alea yang menjauh. Ia melihat kekecewaan yang amat sangat. Hatinya bergejolak. Logika vs Perasaan. Ayah vs Alea.

​Saat tangan Alea menyentuh gagang pintu, Julian bersuara.

​"Topeng."

​Alea berhenti. "Hah?"

​Julian tidak berbalik. Ia menatap langit Jakarta yang biru pucat.

​"Kalau... kalau saya main pakai topeng. Atau penutup wajah. Supaya tidak ada yang tau itu saya. Supaya Ayah tidak tau."

​Alea berbalik perlahan. Matanya mulai berbinar lagi. Harapan itu menyala kembali.

​"Maksud lo... kayak Daft Punk atau Slipknot gitu?" tanya Alea.

​Julian menoleh, ekspresinya masih ragu tapi ada sedikit kenekatan di matanya. "Ya. Identitas rahasia. Tidak ada yang boleh tau kecuali anggota band kamu. Kalau bocor, saya keluar detik itu juga."

​"Gue janji!" teriak Alea girang. Ia berlari mendekat, ingin memeluk Julian tapi menahan diri di detik terakhir. Ia melompat-lompat kecil. "Gue janji, Jul! Sumpah! Rahasia lo aman sama kita! Kita bakal cariin lo topeng paling keren!"

​"Ini ide buruk," gumam Julian, menyesali keputusannya detik itu juga. "Ini ide sangat buruk."

​"Ini ide brilian!" koreksi Alea. "Nanti sore latihan di Studio Bising. Jam 4, abis kita belajar Fisika sebentar. Oke?"

​Julian memijat pangkal hidungnya. Ia baru saja menandatangani kontrak masalah baru. Tapi melihat senyum Alea yang merekah lebar—senyum paling bahagia yang pernah ia lihat—entah kenapa rasa takut pada ayahnya sedikit berkurang.

​"Jam 4," kata Julian pasrah. "Dan jangan harap saya mau main lagu cengeng."

​"Siap, Bos Gitaris Misterius!" Alea memberi hormat hormat, lalu berlari turun tangga sambil bersorak pelan.

​Julian ditinggal sendirian di atap. Jantungnya berdegup kencang. Adrenalin. Perasaan yang sudah lama hilang.

​"Apa yang baru saja saya lakukan?" bisik Julian pada angin.

​Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu jawabannya. Ia baru saja memilih untuk sedikit... memberontak.

...****************...

BERSAMBUNG.....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!