NovelToon NovelToon
Menikahi Adik Ipar Bos

Menikahi Adik Ipar Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu

~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.

Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.

BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Datang dan Pergi

Heyra, menutup pintu mobilnya dengan kasar. Sepulangnya dari rumah sakit dia langsung pulang ke apartemennya, hatinya masih kesal karena perkataan Essa.

Mereka sempat berdebat di rumah sakit tadi, bahkan karena perdebatan itu Essa tidak jadi menjenguk keponakannya. Hatinya sudah panas yang tidak mungkin bertemu kedua orang tuanya.

"Apa Alex pernah melakukannya untukmu?"

Kata-kata itu membakar jiwanya. Apa maksudnya itu, apa Heyra pikir Alex tidak pernah melakukan sesuatu untuknya seperti menaruhkan nyawanya.

Heyra merasa menang tapi nyatanya dia belum menang. Essa, mendekat ke arah Heyra, menatap wanita itu dengan tajam.

"Apa maksudmu Nona, Heyra. Apa dia pernah melakukannya untukku, tentu saja karena aku istrinya. Tentu suamiku akan melakukan apapun."

"Perlu kamu ingat, ya Nona ... Alex melakukan itu karena kemanusiaan. Jadi, jangan membawa urusan hati karena masalah ini siapapun pasti menolongmu begitupun aku. Jika aku ada di sana, aku pasti berteriak meminta pertolongan. Jadi tidak ada hubungannya dia mencintaimu atau tidak."

Heyra menatap geram. Tidak adakah rasa cemburu di hati Essa, gadis tengil itu selalu saja menyimbanginya.

Essa, berbalik menatap Alex, yang hanya diam. Gadis itu, merangkul pinggang suaminya bukan semata untuk membuat sang mantan cemburu. Tapi Essa, dia tidak bisa menggapai bagi Alex kerena postur tubuhnya yang pendek.

Essa, semakin erat merangkul pinggang itu sebelum akhirnya pergi melewati Heyra.

"Ayo Om."

"Bukankah kita akan ke ruangan kakakmu?" Alex merasa heran karena Essa menuntunnya kembali masuk ke dalam lift.

"Suasananya sedang tidak tepat. Aku tidak mau ada orang lain yang ikut juga," ucap Essa yang melirik Heyra. "Lebih baik kita pulang saja aku akan mengabari Ibu nanti," katanya yang berjalan memasuki lift.

"Alex tung—"

"Nona, apa kau tidak malu terus mengikuti suamiku? Jika kau ingin turun naiklah lift yang lain, kau tidak mau para wartawan nanti melihatmu, kan. Jangan sampai kamu di cap pelakor."

"PELAKOR?" Kata-kata itu membuat darahnya mendidih.

"Arrgh!"

Heyra, meluapkan amarahnya setelah masuk ke dalam apartemennya. Tasnya dilempar ke sembarang arah lantas teriak sekeras yang dia inginkan.

"Gadis tengil itu! Dia selalu saja bisa membalasku. Tidak bisakah membiarkan aku dan Alex sebentar saja."

"Essa ... awas saja kamu nanti. Heyra tidak akan kalah olehmu."

Heyra berjalan ke arah dapur, membuka lemari pendingin lalu mengambil sebotol air mineral yang langsung ia teguk pada botolnya. Amarahnya masih membara, nafasnya naik turun dengan pikiran yang kacau hari ini.

Sedetik Heyra terdiam. Ia mengingat insiden di kantor tadi pagi dan mengingat seseorang yang hampir membunuhnya.

"Apa benar dia fans ku, tapi kenapa aku merasa ada hal aneh. Apa ini rencana yang Karla katakan."

"Heyra!"

Baru saja ia menyebut nama manajernya, wanita itu sudah datang. Karla datang dengan cemas, hanya menyimpan tasnya di meja tamu lalu melangkah ke arah dapur untuk menemui Heyra.

"Heyra, kau baik-baik saja? Aku dengar dari Citra ada orang yang menerobos masuk mengancammu dan hampir membunuhmu. Aku hampir gila memikirkanmu tadi, aku cemas sekali Heyra."

"Berhenti mencemaskanku Karla, sekarang aku ingin bertanya padamu. Apa ini rencanamu? Kau bilang kau punya rencana untukku supaya Alex mencemaskan ku apa ini rencana yang kau maksud?"

Karla tidak menjawab wanita itu hanya menyipitkan mata sambil menggeleng. "Tidak Heyra, kamu harus mendengar penjelasanku dulu."

"Aku kecewa Karla." Tatap Heyra, dengan rasa kecewa. "Niatmu memang baik, tapi ... itu bahaya. Bagaimana jika Alex mati, Alex hanya terluka di tangannya saja aku sudah cemas dan sangat khawatir. Ide gila mu ini benar-benar—"

"Heyra dengarkan aku dulu. Aku memang pernah merencanakan itu, aku meminta seseorang untuk masuk dan berpura-pura menjadi penggemar gila mu, tapi ... orang yang aku suruh masih menunggu instruksi dariku, dan sebelum aku memerintahnya seseorang sudah mendahuluinya. Jadi ... orang itu memang gila, dia terobsesi padamu dan bisa saja dia kembali mengganggumu."

Heyra tercengang. Ia semakin syok mendengar kabar buruk itu. Kini dirinya semakin ketakutan, karena orang itu bisa datang kapanpun.

Sementara di tempat lain, istri kecil yang selalu merengek dan hanya meminta makan kini berdiri di depan meja bar, dengan sebuah apron yang terikat ditubuhnya. Tangan gadis itu masih menggenggam pisau dengan sepasang mata yang menatap bahan-bahan sayuran di depannya.

Satu tangannya dibiarkan bertumpu pada ata meja, satu tangannya lagi menghentakkan benda tajam itu pada ujung meja dengan otak yang terus berpikir mau masak apa dengan semua bahan itu.

Ide—Essa tidak pernah punya ide untuk memasak, sebab gadis itu tidak pernah masuk ke dapur apalagi sampai membantu ibunya. Kesehariannya setelah menikah pun ia hanya mengandalkan Alex, tidak pernah ingin membantu atau belajar. Bisa dibilang itu kebodohannya.

Tapi kali ini, ia ingin melakukannya. Entah, karena keinginan yang tulus dari hatinya atau dorongan dari seseorang. Essa tidak akan membiarkan Alex memakan masakan dari orang lain terutama Heyra, si mantan rese itu.

"Essa kamu harus tenang. Fokus, fokus, fokus." Gumamnya seraya menghela nafas. "Kita mulai, dengan mengiris bawang," ucapnya lagi lalu mengambil bawang putih yang sudah dikupas bersih dan kini ia iris-iris tipis.

Essa, mengambil bawang merah yang sudah siap diirisnya tetapi, tangannya berhenti ketika merasakan sesuatu yang perih pada matanya.

"Aduh, kok jadi perih mata. Ah ... makin perih lagi gimana ini." Essa, berbalik mengarah ke westafel, matanya masih merem dengan satu tangan yang mencoba meraba posisi keran.

"Aduh ... dimana itu air, keran, kau dimana? Mata perih banget tidak bisa melihat. Nah, akhirnya ketemu juga."

Essa, langsung memutar kerannya dan mengucurkan wajahnya agar tersiram air. Sepasang jarinya mengucek-ngucek matanya yang perih. Setelah merasa lebih baik Essa mematikan kerannya.

"Huh." Ia bernafas lega. Dengan mata yang masih merem, Essa berbalik hendak kembali ke meja bar tetapi ia dikejutkan dengan tubuh Alex yang berada di hadapannya.

"Ah! Om—" Essa tercengang karena Alex, tidak memakai bajunya. Salivanya tertelan habis ketika menatap badan atletis yang tampak jelas tanpa sehelai kain. Alex, yang saat ini hanya mengenakan celana tanpa mengenakan bajunya.

"Om, kenapa tidak pakai baju?" Essa melengos—mengalihkan pandangan ke sisi lain.

Alex menjadi gugup, saking paniknya melihat Essa yang kesakitan membuat Alex, lupa diri dan berjalan ke arah Essa tanpa memakai bajunya.

"Ehm ... ini, tadinya aku ingin meminta bantuan agar kamu memakaikan baju ini untukku. Tanganku masih sedikit susah untuk bergerak," ucapnya kikuk.

"Oh— sini biar aku bantu." Essa, gercep. Dia tidak lagi malu menghadap Alex, walau ada desiran aneh dalam dirinya ketika melihat tubuh polos itu. Namun, Essa segera membuang jauh pikiran itu, yang dengan pelan memasukkan tangan Alex ke dalam kaosnya.

"Sudah-sudah Essa, biar aku saja." Alex, hanya memintanya untuk membantu memasukkan tangannya saja setelahnya biar dia yang lakukan. Tetapi Essa malah melakukan semuanya.

"Tidak apa-apa Om, ini hampir selesai. Nah, sudah," ucapnya setelah kaos yang Alex pakai menutupi tubuhnya dengan sempurna.

"Apa Om, ingin makan sesuatu? Tapi aku belum masak," ucapnya melirik sesaat ke arah meja bar yang berantakan. Alex, ikut meliriknya.

"Apa kamu ingin memasak? Padahal aku bisa memesannya."

"Tidak perlu. Aku akan memasak tapi— tadi mataku perih karena bawang merah, apa ini pertama kalinya apa bawang itu selalu membuat menangis."

Alex terkekeh pelan. "Kamu itu lucu, bawah merah memang perih dan bisa menyebabkan matamu berair. Kalau begitu biar aku saja."

"Tidak Om—" Essa, menahan Alex ketika hendak mengambil pisaunya. "Biarkan aku melakukannya, tapi bisakah kau mengajariku?"

Pada akhirnya Essa tetap memasak tetapi dengan arahan dari Alex. Alex, hanya duduk manis di depan meja bar sambil melihat istrinya itu memasak. Essa, akan memberikan sedikit masakannya kepada Alex untuk dicobanya apakah masakannya enak atau tidak. Dalam hal ini Essa masih kurang menguasai dan tetaplah Alex, yang memberikan perasa dalam setiap masakan.

Cukup aneh bagi Essa, kenapa lelaki itu handal dalam setiap hal. Memasak yang harusnya keahlian wanita tapi dikuasai juga.

"Masakannya sudah jadi. Kita akan memakannya setelah dingin."

Alex hanya mengangguk.

"Kemarilah, duduklah di sini." Alex menepuk kursi bar di sampingnya. Essa, pun berjalan memutari meja hingga tiba di samping Alex yang langsung mendaratkan bokongnya di sana.

"Om, apa tangannya masih sakit?" tanya Essa dengan cemas.

"Sedikit," jawabnya pelan.

"Kenapa bisa kaya gitu, sih. Emangnya apa yang terjadi?" Essa masih tidak habis pikir Alex mempertaruhkan nyawanya demi Heyra.

"Sebenarnya saat itu aku sudah turun untuk menjemputmu. Tapi aku lupa meninggalkan ponselku, aku lalu kembali ke atas dan malah melihat Heyra yang ditodong oleh orang misterius. Aku tidak mungkin diam, kan sayang."

Lagi-lagi Alex memanggilnya sayang. Essa sampai terpaku dan melupakan apa yang sedang dibahasnya saat ini. Hatinya berdebar lagi menandakan apa? Pipinya terasa panas, tidak boleh memerah saat ini. Essa, mencoba tersenyum manis dan berusaha menetralkan detak jantungnya.

Rasanya ingin sekali ia berjingkrak-jingjrak di sana. Itupun jika tidak punya rasa malu.

"Aku langsung menghampiri mereka, aku tidak mungkin membiarkan orang itu membuat kerusuhan di perusahaan. Jadi aku hanya melakukan tugasku bukan semata untuk menyelamatkan Heyra."

Tatapan Alex mendadak teduh, pria itu seolah meyakinkan istrinya agar percaya.

Oh tidak, tatapannya. Om, berhenti menatapku seperti itu, batin Essa yang tanpa sadar tangan kirinya sedang menyentuh dadanya.

"Sampai sekarang ponselku masih di sana," lanjut Alex.

"Kenapa Om tidak mengambilnya?"

"Bagaimana caranya? Kamu langsung membawaku pulang. Tapi tenang saja, aku sudah menyuruh Ella untuk mengantarkannya." Ella yang dimaksud adakah sekretaris Darren.

Ting Tong

Suara bel berbunyi. Alex dan Essa menoleh bersamaan.

"Itu pasti Ella."

"Biar aku buka Om."

"Tidak perlu, biar aku saja. Kamu siapkan saja makanannya di atas meja makan."

"Mmm ... baiklah."

Essa hanya menurut. Ia langsung memindahkan masakannya ke meja makan. Sementara Alex, ia berjalan ke arah pintu untuk membukanya.

Ketika pintu terbuka lebar, wajahnya yang semula datar kini terkejut menatap Heyra yang ada di depannya.

"Hai, Alex."

...----------------...

Ulat keket ada terus ya. Kira-kira mau ngapain ya? Next chapter nanti sore ya. Aku double up lagi jangan lupa like dan Vote nya ya 🙏

1
Inez Putri
jgn terlalu muter2 thour, jd agak bosen baca nya, semngat 💪💪
kalea rizuky
essa cerai aja laki g bs move on dih menjijikkan
kalea rizuky
alex goblok
Herlina Susanty
heyra ulet bulu🤣🤣
lanjut thor smgt 💪😍
Khoirun Nisa
lanjutkan kakak ceritanya,
Inez Putri
sudah 3hari gak up, kok cm 1 up nya thour..
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.
Inez Putri
semangat thour
panjul man09
uh , cerita yg sama
panjul man09
jangan tumbuhkan rasa suka alex pada essa, tunggulah sampai essa tamat smu ,beri kesempatan essa kuliah dulu.
panjul man09
jangan terlalu banyak konflik seperti cerita di novel lain , alex harus lebih sabar menghadapi essa ,selalu mengalah , walaupun tidak saling cinta ,alex harus memperlihatkan keromatisannya pada essa
Dini_Ra
Jangan lupa komentar like dan Vote 💪🙏
Dini_Ra
Jangan lupa like dan Vote komentarnya🙏
Dini_Ra
Ayo dong like dan komentarnya 🙏
Dini_Ra
Tinggalkan jejak sedikitlah 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!