NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Romansa / Tamat
Popularitas:824.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII

Seasons 1:

Gara-gara kesalahannya yang tidak membawa helm saat berkendara. Ceisya, harus terjebak jaring razia yang membuatnya berpikir keras. Di satu sisi Ceisya tidak keberatan kalau mendapat hukuman. Tapi, di sisi lain dia tidak mau berhadapan dengan Dosen killernya yang terkenal seantero kampus. Berkat usahanya yang keras akhirnya dia bisa lari dari hukumannya.

Bagaimana kah kelanjutan kisah mereka?


Seasons
2 (kisah tentang anak Ceisya & Zafran) :


Judul Novel: (Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 35

Keesokan malamnya sehabis makan malam Zafran akan mengantarkan Ceisya pulang ke kost-annya karena besok Ceisya harus mengikuti mata kuliahnya.

"Kapan-kapan main ke sini ya, Sya?" Mama Tina memeluk Ceisya saat mereka sudah berada di ambang pintu.

"Insya Allah, Tante."

Kini giliran Ceisya memeluk Emi, si bumil yang terus menempel dengannya.

Sesudah memeluk Emi, Ceisya menjongkok mensejajarkan kepalanya tepat di depan perut Emi.

"Apa aku boleh memegangnya?" tanya Ceisya meminta persetujuan.

"Boleh."

Tangan Ceisya terulur untuk mengusap perut buncit itu. Dia tersenyum tanpa sadar. "Ini cewek atau cowok, Kak?" tanya Ceisya penasaran.

"Kakak juga tidak tau. Rencananya ini akan menjadi kejutan saat kelahirannya nanti."

"Semoga saja cewek."

"Kenapa bisa?"

"Karena kalau cowok nanti akan menyebalkan sama seperti Pamannya." sindir Ceisya sembari melirik Zafran.

Zafran yang merasa itu dirinya langsung mendelikkan matanya.

"Hahaa... semoga saja. Kakak sebenarnya juga maunya cewek. Kalau nanti cowok ya terima saja asal nanti dia lahir dengan sehat."

"Hehe, betul juga, Kak."

Ceisya berdiri dari jongkoknya bersiap untuk pulang. "Aku pamit dulu ya, Tante, Kak Emi."

"Hati-hati!" seru keduanya.

"Om, nanti kira-kira dedek bayinya cewek atau cowok ya?" ternyata sedari tadi Ceisya memikirkan akan hal itu.

"Tidak tau. Kenapa memangnya?"

"Kan kalau tau tuh mudah, Om. Nanti kalau dia lahir aku akan memberikannya kado."

"Oh ya! Siapa ya kira-kira namanya?"

Zafran menggelengkan kepalanya mendengar Ceisya yang terus berbicara. "Tunggu saja nanto saat lahiran."

"Oh ya? Ajak aku ya, Om?"

"Ke mana?" Zafran yang ling lung.

"Tadi katanya nunggu dedek bayinya lahir." ujar Ceisya cemberut.

"Oh, ya iya. Nanti aku akan mengajakmu untuk melihatnya."

"Janji ya, Om?"

"Iya, janji."

"Awas saja kalau bohong." ancam Ceisya.

"Kalau bohong memangnya kenapa?"

"Aku akan mencabut semua rambut di kepalamu."

Zafran tergelak. Ada-ada saja ancaman yang keluar dari mulut gadis itu.

"Kenapa ke sini, Om?" Ceisya bingung saat Zafran memberhentikan mobilnya di supermarket.

"Ayok, turun!" Zafran melepas seatbeltnya dan keluar dari mobilnya diikuti Ceisya yang memasang wajah bingungnya.

Sesampainya di dalam Zafran langsung mengambil troli, membawanya mengelilingi supermarket.

"Kok banyak?"

"Apanya?" ujar Zafran sambil memasukkan banyak cemilan dan minuman.

"Itu! Kenapa banyak sekali. Memangnya untuk siapa?"

"Untukmu."

"Aku? Jangan, Om. Itu terlalu banyak." tolak Ceisya menghentikan tangan Zafran yang saat itu mengambil cemilan.

"Tidak apa. Untuk stok. Nanti kalau mengerjakan tugas dan kamu lapar kan tidak perlu pergi ke luar."

"Owh. Tapi, ini kebanyakan, Om. Aku kan hanya sendiri."

"Apanya yang banyak? Kamu nyemil aja banyak, tapi, badannya gitu-gitu aja." Zafran membalikkan badannya menghadap Ceisya.

Ceisya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya tidak gatal.

"Nah! Jangan protes ya." Zafran mengacak rambut Ceisya gemas lalu kembali memasuki cemilan ke dalam troli yang dia dorong.

Ceisya hanya mengikuti, berjalan di belakang Zafran tanpa melakukan apapun. Sesekali mengambil cemilan tapi langsung dia kembalikan.

"Kita ke kasir ya." Ceisya mengangguk mengikuti Zafran ke kasir membayar belanjaannya.

Dua kantong kresek besar yang memenuhi kursi belakang. Ceisya yang melihat itu hanya menghela nafasnya.

"Langsung pulang atau mau singgah ke tempat lain?"

"Pulang saja, Om. Lagian ini sudah larut malam."

Zafran melajukan mobilnya melewati jalanan yang lumayan sepi karena sudah malam hari. Hampir sampai, tapi, tiba-tiba Zafran menghentikan mobilnya saat ada yang menghadang jalanan.

Dia melirik ke arah samping di mana Ceisya telah memasang wajahnya waspada.

"Om."

"Kenapa, hem?" tanya Zafran tenang, dia menyampingkan badannya mengelus pucuk kepala gadis itu.

"Itu... mereka mendekat." tunjuk Ceisya ke depan.

"Tenang saja, oke? Jangan takut, aku ada di sini."

Ceisya menarik nafasnya dalam, memandang bola mata pria itu dalam. Kemudian dia menganggukkan kepalanya.

Tok tok tok

"Tunggu di sini. Jangan keluar apapun yang terjadi. Paham?"

"Iya, Om."

Zafran keluar saat ada yang mengetuk kaca mobilnya. Ternyata para preman yang berkeliaran di jalanan sepi. Setelah ini Zafran harus memberitahu anggota patrolinya.

"Ada apa ini?" tanya Zafran santai tanpa takut sama sekali.

Seorang pria bertubuh kekar maju mendekati Zafran. "Bawa apa, bro?"

Seakan mengerti maksud dari pria itu, Zafran langsung siaga.

"Kalian mau apa?"

"Itu mobil lo? Bagus juga." ujarnya mengelus dagunya.

Zafran malah tersenyum. Dia melirik anggota preman itu, celana yang sudak seperti tidak layak pakai, memakai anting, berkalung, jangan lupakan tato mereka.

"Serahin dompet, kunci mobil, handphone, semuanya!" ucapnya to the point.

"Cepat!!" teriak preman itu.

Zafran mengeluarkan kalung di balik baju kaosnya yang di lapisi jaket.

"Saya dari kepolisian XX." Zafran menunjukkan kalung lencananya.

"Hahaha... mau nipu kita? Jangan harap!!"

"Cepat serahin semuanya!!!"

Zafran menurut, dia mengambil dompet dari saku celananya lalu menyerahkannya kepada preman itu.

"Lagi!!"

Kini Zafran menyerahlah ponsel dan kunci mobilnya. "Tidak ada lagi." ujar pria itu saat dirinya mau digeledah.

"Jangan bohong!!"

"Saya tidak berbohong."

"Oke! Awas! Jangan mengikuti, kalau mengikuti lo akan tau akibatnya." ancam preman itu sembari menunjukkan senjata tajam yang dia keluarkan dari belakang tubuhnya.

Preman itu dan kawanannya berjalan mendekati mobil Zafran berniat untuk membawanya. Namun, saat preman itu hendak membuka pintu mobil, tangannya sudah dipelintir ke belakang. Pelakunya? Siapa lagi kalau bukan Zafran. Dia langsung merebut barang-barang miliknya, dompet, ponsel, dan kunci mobil. Semuanya Zafran lakukan dengan tenang.

"Aaaarghhhh...!!! Lepasin! Apa gue bilang, jangan ngikutin atau lo akan tau akibatnya!" preman itu berteriak kesakitan saat tangannya dipelintir ke belakang.

Kawanannya langsung berlarian untuk menolong bosnya.

"Jangan mendekat! Selangkah kalian maju... maka, tangan teman kalian ini akan patah!" ujar Zafran tidak main-main dengan ucapannya.

"Tolong gue bang*sat! Kenapa kalian diam semua an*jing!" makinya sambil berteriak. Badannya sudah dibekuk oleh Zafran hingga preman itu tidak bisa bergerak.

"Mau menyerahkan diri atau secara paksa?"

"Anj*ing! Gue gak takut! Lepasin bang*sat!" preman itu meronta-ronta berharap dia terlepas. Namun, kekuatan Zafran sangatlah besar.

Dengan sebelah tangannya dia membekuk preman itu dan sebelah tangannya memegang HT untuk berkomunikasi dengan anggotanya.

Saat telah selesai, Zafran kembali menyimpan alat komunikasinya itu ke dalam saku celananya. Zafran termasuk pria yang siap siaga.

"Bos, dia bawa cewek di dalam. Cantik banget." teriak salah satu kawanannya yang sehabis mengintip ke dalam mobil Zafran melalui kaca yang tertutup.

"Cuih! Tunggu aja pembalasan gue. Lo akan tau akibatnya."

"Jangan pernah berani menyentuhnya!" ujar Zafran sedikit kesal, dia semakin menguatkan pelintirannya hingga membuat preman itu berteriak.

"Aku tidak akan menyentuhnya. Tapi, tidak salah bukan kalau teman-temanku yang melakukannya? Hahahaa..."

Zafran hanya diam menahan emosinya. Tapi, dia harus tetap tenang. Tidak boleh gegabah. Mereka hanya memancing dirinya saja. Pikir pria itu.

Preman itu mengedipkan sebelah matanya ke arah semak-semak. Dan tidak lama kemudian anggota yang Zafran hubungi tadi telah sampai. Bunyi sirine begitu terdengar. Kawanannya langsung melarikan diri dan ada juga yang tertangkap oleh petugas.

"Bang*sat! Lo akan tau akibatnya." masih sempat-sempatnya preman itu berteriak saat tangannya diborgol.

"Masuk!" titah salah satu rekan Zafran.

Saat semua sudah selesai, Zafran kembali mendekati Ceisya yang saat ini sudah keluar dari mobil saat preman itu sudah tertangkap.

"Tidak apa-apa, hem?" tanya Zafran berdiri tepat di depan Ceisya yang sedikit ketakutan.

"Mereka terus mengintip, Om." ujar Ceisya memberitahu.

"Semua sudah selesai. Jangan khawatir. Kita pulang ya?" kedua tangan Zafran terulur memegang kepala Ceisya lalu mengelus rambutnya.

kurang greget ya? 😂🗡🗡soalny otor bkn psikopat 🗡🗡

1
Nhierwana Bundanya Al
bab ini q ngerasa baca di ulang2
Dewi Kasinji
ijin baca kak
JANE ARDIANA
Luar biasa
JANE ARDIANA
Lumayan
Zahra Nadira
aku ktwa dibagian ini ,🤣🤣🤣🙏
Dilalisa Lisa
Biasa
Dilalisa Lisa
Kecewa
Dela Sapitri
Masya Allah👍
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜
pedagang berkaki lima,,maksudnya pedagang kaki lima ya kak??😂
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜: ampun dah 😂
ok lanjut baca
total 2 replies
Trisna Savitri
babag tamvan 🥰🥰🥰🥰
Santy Susanti
bari berapa ban udah suka sama alurnya semngat i
yustina arie
Luar biasa
Irfan Nona Vanessa
menarik😍😍😍
Bungsu_Fii: makasih udh mampir kak🤗 semoga suka 🥰
total 1 replies
Eka Kurniawati
😘😘😘
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣🤣
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣🤣
Tri Susanti
wkwkwkw.... kapan thor disatuin mereka udah gak sabar
Tri Susanti
lanjut thor
Lena Kasenda
thoor masa selama Ceisya di rawat sampai sdh pesantren pacarnya yg polisi tdk ada kabar
Bungsu_Fii: hehe, itu ceritanya om polisi lagi nugas kak dan waktunya cukup lama 🙏🏼
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!