Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tabrakan tak terduga
Pagi itu, Jakarta sedang dalam mode “ngebut atau ketinggalan rezeki”. Langit masih kelabu, tapi trotoar sudah penuh dengan orang-orang yang berlari-lari kecil sambil genggam kopi dan HP. Kirana, seperti biasa, dorong gerobaknya dengan mantap—kali ini pesanan untuk acara launching buku di sebuah toko buku ternama di Kemang. Enam puluh porsi nasi box spesial: ayam rica-rica, telur balado, oseng kangkung, plus brownies pisang ala Gio sebagai dessert dadakan.
Gio duduk di atas tumpukan kotak, megang peta digital di HP pinjaman, jadi navigator andalan. “Ma, kita harus belok di lampu merah depan! Tapi hati-hati, tadi ada motor nyelonong dari gang!”
“Siap, Komandan!” sahut Kirana sambil tertawa.
Tapi Jakarta punya rencana lain.
Di persimpangan dekat taman kota, seorang lelaki berjalan cepat dari arah berlawanan—jas hitam rapi, rambut disisir ke belakang, tas kulit di bahu, dan langkah kakinya tegas seperti orang yang terbiasa memimpin rapat penting. Dia mengejar taksi online yang baru saja berhenti, tapi matanya terlalu fokus pada layar HP, nggak lihat ke depan.
Kirana juga lagi buru-buru. Gerobaknya agak miring karena roda kanan mulai aus, dan dia harus menyeimbangkan sambil menghindari genangan air bekas hujan semalam.
"Brukk!!
"Aduh !!
Gerobak Kirana menabrak pinggang si lelaki. Kotak-kotak nasi bergoyang hebat. Satu kotak nyaris jatuh, tapi berhasil ditangkap Gio tepat waktu.
“Waduh! Maaf, Mas! Saya nggak lihat—” seru Kirana panik.
Lelaki itu terhuyung sebentar ia meringis sambil memegang pinggangnya ,mungkin ia merasa kesakitan karena pinggangnya di tabrak oleh gerobak kurang , setelah ia sudah berdiri dia lalu menoleh. Dan saat matanya bertemu mata Kirana… dunia kayak berhenti lima detik.
Dia tinggi, kulitnya sawo matang, rahang tegas, tapi matanya… hangat. Bukan dingin seperti eksekutif pada umumnya. Ada sesuatu di sana—lelah, mungkin, tapi juga lembut.
Kirana langsung merasa jantungnya berdebar aneh. Bukan karena takut, tapi… karena (melihat)
“Nggak apa-apa,” jawab lelaki itu cepat, suaranya dalam tapi tenang. “Saya juga nggak nengok. Lagi buru-buru.”
Kirana buru-buru periksa kotak-kotaknya. “Semua aman, Alhamdulillah…”
Lelaki itu melirik gerobak, lalu membaca tulisan di stiker: (Dapur Kirana – Masakan Rumahan yang Bikin Kangen Mama)
Seulas senyum tipis muncul di bibirnya. “Ini catering?”
“Iya, Mas. Hari ini antar ke acara launching buku.”
“Oh…” Matanya menyala sedikit. “Di Toko Buku Matahari? Aku juga mau ke sana. Aku penulisnya.”
Kirana terbelalak. “Serius?!”
Tapi sebelum sempat lanjut ngobrol, HP lelaki itu berdering. Dia lihat layar, wajahnya langsung tegang. “Harus angkat. Deadline interview sama media.”
Kirana mengangguk cepat. “Iya, iya… saya juga harus buru-buru. Kotaknya belum sampai.”
Mereka saling pandang sekali lagi—cuma sekejap, tapi cukup bikin udara di sekitar jadi hangat kayak kuah soto.
“Semoga lancar acaranya,” kata lelaki itu sambil mundur selangkah.
“Semoga bukunya laris manis!” balas Kirana.
Dan begitu saja, mereka berpisah. Lelaki itu lari mengejar taksi yang hampir pergi. Kirana dorong gerobaknya lagi, tapi kali ini langkahnya agak… melambat.
“Ma, tadi itu penulis buku?” tanya Gio penasaran.
“Iya, Nak.”
“Keren banget, ya? Tinggi, cakep, pake jas… kayak di drama Korea!”
Kirana ketawa, tapi dalam hati masih terbayang tatapan lelaki itu. “Jangan nonton drama Korea terus, ah. Nanti kamu mimpi jadi aktor.”
“Kalau aku jadi aktor, aku main film tentang Dapur Kirana! Judulnya: *Cinta di Antara Nasi Box*.”
Kirana geleng-geleng, tapi senyumnya nggak bisa berhenti.
***
Sesampainya di toko buku, acara sudah mulai. Meja prasmanan disiapkan, dan begitu kotak-kotak dibuka, aroma rempah langsung menyebar. Para tamu—penulis, editor, influencer buku—langsung mendekat.
“Wah, ini catering dari mana? Enak banget!” seru seorang perempuan berambut pendek sambil cicip opor ayam.
“Dapur Kirana,” jawab panitia. “Langganan Bu Anita. Katanya masakannya bikin rindu rumah.”
Di sudut ruangan, lelaki tadi—yang ternyata bernama Arka Wijaya—sedang duduk di sofa, ngobrol santai dengan pewawancara. Tapi matanya sesekali melirik ke arah meja prasmanan. Dan setiap kali itu, dia tersenyum kecil.
Dia ambil satu kotak, buka pelan-pelan. Nasi putih pulen, ayam rica-rica berminyak menggoda, telur balado yang warnanya merah menggairahkan, dan kangkung yang masih segar. Dia coba sesendok.
Ekspresinya berubah.
“Ini… enak banget,” bisiknya, hampir seperti pada diri sendiri.
Rasanya nggak cuma enak—tapi *nyaman*. Seperti makan di rumah nenek dulu, waktu dunia belum serumit sekarang. Dia ingat masa kecilnya di Bandung, ibunya yang selalu masak pakai daun jeruk asli, bukan bubuk instan.
“Mas Arka, ini catering langgananmu?” tanya pewawancara.
Arka menggeleng. “Baru pertama kali. Tapi rasanya… familiar. Kayak kenangan yang lupa bentuknya, tapi masih ada rasanya.”
***
Sementara itu, Kirana sudah selesai menata semua kotak. Dia pamit pada panitia, lalu dorong gerobak pulang. Tapi pikirannya masih melayang.
Siapa tadi lelaki itu? Penulis buku? Namanya siapa? Apakah dia suka pedas? Apakah dia punya anak? Kenapa matanya terlihat… kesepian?
“Ma, kamu mikirin penulis tadi, ya?” tiba-tiba Gio nyeletuk.
Kirana langsung salah tingkah. “Apa? Enggak! Aku mikirin… resep rendang besok.”
Gio nyengir. “Bohong. Kamu senyum-senyum sendiri kayak pas lihat foto Ayam Galak Rica-Rica.”
Kirana pura-pura marah. “Nah, ini akibat nonton drama Korea! Sekarang kamu jadi detektif cinta!”
Tapi dalam hati, dia tahu Gio benar.
***
Sore harinya, Kirana dapat WA dari Bu Anita:
#Kir, tadi aku lihat postingan Mas Arka Wijaya di Instagram. Dia bilang catering acara launching bukunya ‘the best home-cooked meal in years’. Katanya dia pengen tau siapa pemilik Dapur Kirana. Aku belum kasih tau, biar kamu yang cerita sendiri kalau ketemu lagi #
Kirana baca pesan itu berkali-kali. Jantungnya berdebar lagi.
Arka Wijaya.
Nama itu terdengar kuat, tapi juga… lembut. Seperti masakannya—pedas, tapi tetap hangat.
Malam itu, setelah Gio tidur, Kirana duduk di depan ruko. Lampu jalan kuning temaram, angin Jakarta berdesir pelan. Dia buka buku catatan, tulis di halaman kosong:
# Hari ini, aku nabrak seseorang.
# Bukan cuma tubuhnya,tapi juga rasa penasaranku yang sudah lama mati.
# Semoga kotak nasiku bikin harinya lebih baik.
# Dan semoga suatu hari, kami ketemu lagi…
# tanpa buru-buru.*
Dia tersenyum, lalu tutup buku itu pelan.
Besok pagi, jam tiga, dia akan bangun lagi. Bukan cuma untuk masak,tapi juga, diam-diam, berharap Jakarta membawa mereka bertemu sekali lagi.
Karena kadang, cinta itu dimulai bukan dari kata-kata…
tapi dari tabrakan kecil di pagi yang sibuk,
dan satu kotak nasi yang bikin seseorang merasa… pulang.