NovelToon NovelToon
Noktah Merah

Noktah Merah

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:13.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Asri Faris

Mencintaimu seperti menggenggam bara api. Semakin dalam aku menautkan hati ini semakin nyata rasa sakit yang dirasakan, dan itu membuat aku semakin sadar, tidak ada ruang sedikitpun di hatimu untukku. Aku begitu sangat mencintainya, tapi tidak untuk dia, dia bahkan tidak pernah melihat kesungguhan aku sedikit saja.


Nabila maharani bagai menelan pil pahit dalam hidupnya, di malam pengantin yang begitu bahagia, ia disuguhkan dengan takdir atas kehancuran dirinya. Ternoda di malam pengantin, sesuatu yang ia jaga terenggut paksa oleh sahabat sekaligus adik iparnya. Bisma maulana ikhsan kamil, ada apa denganmu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 35

Tak ada wajah ceria yang nampak di wajah pria berumur dua puluh delapan tahun itu. Berkali-kali menekan hatinya untuk tidak memikirkan perempuan itu lagi, nyatanya cinta itu terlalu dalam. Sesulit inikah melepas orang yang masih sangat ia cintai. Sedalam ini kah sakitnya mencintai sendirian. Ia menangis dalam diam, berharap keputusan yang diambil kali ini akan membuatnya tenang. Melihat dia bahagia, dengan pilihan hidupnya.

Ada Razik yang harus ia prioritaskan, walau sudah tidak terikat dengan ibunya. Hubungan dengan anaknya tetap sekental darah yang tidak akan pernah terputus. Setidaknya masih ada harapan untuk tetap bertahan menjalani hidup, masih ada semangat yang tertinggal dengan melihat putranya, walaupun menyongsong jalan hampa tanpa dia.

Pria itu baru saja selesai menunaikan kewajibannya selepas ashar berkumandang. Rasa enggan beranjak menyambungkan sujud panjangnya. Hingga selepas isya, pria itu masih betah di sana, belum beranjak dari tempat ternyamannya.

Ghem!

Suara deheman itu mampu mengalihkan pusat perhatinya, pria itu mendongak dengan netra masih mengembun di pelupuknya.

"Maaf anak muda, masjidnya akan segera dikunci, ini sudah malam dan semua jamaah telah turun," ucap seseorang bersorban putih.

"Iya Pak, saya akan segera beranjak, maaf atas ketidaknyamanan ini," ujarnya bergegas.

Keluar dari masjid, Bisma tidak lekas beranjak, ia masih setia menatap langit, duduk di undakan teras. Hatinya masih diselimuti luka, dan sendu. Tiga tahun lebih menanti, berharap bisa kembali, nyatanya hanya sakit yang tersisa, tetap mencintai sendiri, berjuang sendiri tanpa ada sambutan cinta, dan setelah memutuskan untuk pergi nyatanya rindu itu tak pernah sirna, masih belum bisa beranjak dari relung hatinya.

"Belakangan ini saya sering melihat kamu menghabiskan petangmu di sini, selepas ashar sampai selepas isya, apa kamu tidak segera pulang? Atau sedang tidak ingin jumpa dengan orang terkasih di rumah?"

"Saya gagal Pak Ustadz, saya gagal mempertahankan, memperjuangkan seseorang yang begitu aku sayangi, nyatanya walaupun sudah berusaha ikhlas, hati saya masih terasa sakit," curhatnya begitu saja. Merasa butuh pencerahan yang panjang.

"Rasa sakit hati itu manusiawi, begitupun dengan rasa cinta yang Allah beri, semua adalah anugrah yang saling berdampingan. Kita bebas menautkan hati dan memilih berlabuh dengan siapapun yang kita mau, tetapi belum tentu Allah kehendaki. Berserah dirilah wahai anak muda, jika engkau mendekat pada-Nya, niscaya pertolongan itu akan datang padamu dari sudut mana pun yang tanpa engkau sangka." Nasihat ustadz panjang lebar.

"Saya hanya seorang pendosa yang tidak pantas untuk bahagia dan dimaafkan, mungkin itulah kata yang tepat untukku, Ustadz." Pria itu menunduk dalam diam, punggung tangannya kembali menyusut sudut netranya yang berembun.

"Tidak ada seorang pendosa yang abadi jika ingin bertaubat, sekelam dan sehitam apapun masalah kita, selagi kita masih bernyawa, kita tetap berpeluang menjadi lebih baik, jangan pernah berputus asa untuk berubah dan mencari ampunan dari-Nya." Ustadz itu menepuk-nepuk punggung Bisma.

"Ada kalanya kita harus merelakan apa yang ada dalam genggaman untuk suatu hal kebaikan. Allah tidak pernah salah memberikan takdir. Sadarlah, anak muda, ada yang hilang bukan untuk dicari, namun untuk diikhlaskan."

"Suatu hari nanti kamu akan bersyukur atas apa saja yang Allah tunda. Percayalah, jodoh, rezeki, maut, sudah ditetapkan dan digariskan, yakin saja, suatu hari nanti ada seseorang yang menunggumu dengan sabar dan mencintaimu tanpa ragu, yang akan dipertemukan di waktu yang tepat dan di tempat yang seharusnya," sambung ustadz lugas.

"Terima kasih Ustadz, atas pencerahannya hari ini, semoga saya bisa belajar melepaskan dengan ikhlas."

"Aamiin ...."

Setelah mendapat siraman rohani, Bisma sedikit tenang. Setidaknya berserah diri itu lebih baik dari pada harus terpuruk dengan keadaan. Sudah beberapa hari semenjak memutuskan berpisah. Bisma belum ketemu lagi dengan Razik, rasa rindu itu cukup menyiksa qolbu.

"Pandu, bisa minta tolong jemput Razik ke sini? Gue kangen banget."

"Ya elah ribet amat lo, tinggal samperin aja sebelah rumah, nggak usah gengsi, toh yang ditemui juga Razik, Bila mana mau lihat lo?"

"Kalau tidak mau nggak usah ngeselin tuh mulut, lama-lama gue lakban," ujarnya kesal.

Bisma mencebik seraya mengayunkan langkahnya keluar di pintu balkon. Tiba-tiba sudut matanya menangkap bayangan mantan yang tengah di balkon juga. Perempuan itu duduk di ayun gantung sembari memangku laptopnya. Bisma tersenyum tipis, ibu dari satu anaknya itu bertambah cantik saja, pasti setelah perpisahan itu, Bila lebih bahagia.

"Mbak Lastri!" seru perempuan itu melengking, bahkan suaranya sampai mampir ke telinga tetangganya.

"Iya, Non." Lastri datang dengan tergesa.

"Tolong mandiin Razik ya Mbak, siapkan sarapan dan juga susunya, hari ini saya mau ngajak anak saya jalan."

"Siap, Non, 86."

Nabila sudah membuat janji dengan Disya dan si kembarnya. Mereka akan bermain bersama anak mereka. Hatinya lebih tenang. Selang satu jam kemudian, Bila dan Razik dikagetkan oleh seseorang begitu membuka pintu hendak keluar. Nampak Pak Rama sedang berbincang asyik dengan ayah dari anaknya.

"Ayah ...." Razik berseru girang mendapati ayahnya ada di depan rumah mereka.

"Hallo sayang ... ayah kangen ...." Anak dan ayah itu saling berhambur mengikis jarak. Hampir satu minggu tidak bertemu membuat Bisma melepas rindu. Ia cukup bersyukur, Bila tidak melarang anaknya untuk bertemu dengannya.

"Wah ... kalian ternyata mau pergi ya?" tanya Pak Rama tersenyum.

"Em ... saya mau ajak Razik jalan, Yah," jawab Bisma jujur. Walaupun tidak lagi menjadi menantunya, panggilan pada kedua orang tua Bila dari Bisma tidak berubah.

"Hai, Bila, boleh aku membawa Razik? Hari ini aku ingin membawanya ke tempat bermain."

"Kamu mau pergi? Mau ke mana, biar sekalian saja aku antar?" tawarnya semangat.

"Iya sih, sebenarnya mau ngajak jalan, tetapi ...."

Bisma meneliti pakaian ibu dan anak itu dengan kaus yang senada. Terus melirik dirinya sendiri yang ternyata berkaus polo tshirt warna senada. Pria itu terseyum, kebetulan yang amat nyata.

"Mmm ..." Bila berjongkok mensejajarkan tubuh mungil putranya.

"Sayang, hari ini Razik sama ayah ya? Lusa depan, Bunda janji kita jalan-jalan," ujar perempuan itu memberi pengertian.

"Yah ...." Razik langsung murung, bocah yang hampir genap tiga tahun itu terlihat kecewa.

"Endha itut ya?" Anak itu nampaknya tak mau dipisah. Namun, tentu saja jalan bertiga dengan status baru mereka, jelas bukan solusi. Kemarin-kemarin waktu masih ada ikatan saja, Bila cukup jaga jarak aman, mungkin kalau sekarang malah akan membuat sekat dan batasan untuk dirinya.

"Sayang, Bunda tunggu di rumah aja, Razik temenin ayah?" ujarnya berharap Razik mau mengerti.

"Kalau kamu tidak keberatan, boleh ikut kok Bil, kasihan Razik," ujarnya memberi solusi. Bila nampak menimbang-nimbang.

Kok bisa barengan gini sih, mana Razik rewel, bikin bad mood aja.

1
Cee Suli
part ini bikin nangis🥺🥺
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪
Wahyunni Winarto
akhirnyaa cinta tdk akan salah memilih untuk pulang🥲🥲
Wahyunni Winarto
nyesekkk sekali😭😭😭
Bundanya Syahdan
ya ampun razik, kamu datang disaat yg tidak tepat nak 😭
Bundanya Syahdan
mana ketemu mantan lagi 😭
Hani Hani89
novelnya judul nya apa yg sama Azmi
Bundanya Syahdan
wah akhirnya bila balik juga, dan langsung ketemu bisma nhhak tuh 😭
Bundanya Syahdan
ayo bisma pepet teroooss 🤭🤣
Luar biasa
Faris Fahmi
percuma menyendiri di pesantren bila
kalo masih memendam kebencian
aturan berkumpul aja sama emak2 tukang gosip, baru maklum kalo masih benci sama bisma
Linda Febri
Luar biasa
Mumun Munawwaroh
itu suamimu bila
gia nasgia
candunya Bisma
Gita mujiati
Luar biasa
Gita mujiati
Lumayan
Idhar Dar
Bagus masih mau lanjutannya
Jumi Nar
Luar biasa
Borahe 🍉🧡
jodohnya Gua Azmi nih. hahaha
Borahe 🍉🧡
haha "kok mau?? "
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!