Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasehat Ayah
🦋
Perubahan Nadira sebenarnya tidak mencolok bagi orang lain. Ia masih bangun pagi, masih berangkat sekolah seperti biasanya, masih makan malam meski hanya dua suap.
Tapi bagi kakek Wiratama yang terbiasa melihat Nadira sebagai anak yang tidak memenuhi ekspektasi, perubahan sekecil apa pun langsung dianggap penyimpangan.
Pagi itu, Nadira melewati ruang makan dengan langkah pelan. Kakek sedang membaca koran, kacamatanya bertengger rendah di hidung. Nadira berhenti sejenak di ambang pintu.
"Kek…" suaranya nyaris tak terdengar.
Tidak ada respons.
Ia menunggu dua detik. Tiga. Lalu melanjutkan langkahnya. Bukan karena ia tidak sopan tapi karena ia lelah menunggu perhatian yang tidak pernah benar-benar datang.
Dan ketika Nadira mulai diam, tidak lagi menyapa, tidak lagi ikut membantu pekerjaan kakek, tidak lagi menunjukkan wajah patuh yang selama ini dipaksakan padanya… kakek langsung menganggap itu bentuk pembangkangan.
"Kamu lihat sendiri kan?" suara kakek suatu pagi terdengar tajam. "Sekarang lewat saja seperti orang asing."
Bagi kakek, diam adalah bentuk perlawanan yang paling tidak bisa diterima.
Suatu sore, Nadira mendengar suaranya membahana di ruang tengah.
"Anak itu makin menjadi-jadi!" seru kakek pada tantenya. "Tidak sopan! Lewat saja tidak menyapa. Seperti orang yang tidak punya tata krama!"
Nada suaranya tinggi, penuh amarah yang sudah lama terpendam.
Bude Riana, yang selalu siap menambah bensin ke api, langsung menimpali, "Saya juga lihat dia makin malas! Kamar berantakan, wajah seperti itu, kok dia tidak malu?"
"Benar!" kakek menggebrak meja. "Dibiarkan begini, nanti jadi apa dia?"
Nadira di dalam kamar hanya memejamkan mata. Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar ke dinding, mendengarkan setiap kata seolah itu hujan batu yang jatuh satu per satu.
Ia sudah bisa menebak ke mana arah semua ini.
Kakek Wiratama selalu punya satu senjata pamungkas. Melapor pada orang tuanya. Dan senjata itu selalu tepat sasaran.
***
Begitu Maghrib lewat, ponsel Nadira bergetar.
Ibu
Nama itu menyala di layar seperti peringatan. Nadira menatapnya lama sebelum menjawab. Jarinya dingin.
Nadira menghela napas pelan. Ia sudah tahu dialog seperti apa yang menunggunya. Tapi kali ini… hatinya terasa semakin sesak karena ia tahu akan sulit menjelaskan apa pun. Orang tuanya terlalu jauh, terlalu sibuk, terlalu percaya pada versi cerita kakek.
"Aku angkat… atau enggak ya…," gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Akhirnya, ia mengangkat telepon itu dengan suara lemah.
"Halo, Bu…"
Tapi bukan suara ibunya yang terdengar. Melainkan suara berat dan dingin yang sudah lama tidak ia dengar yaitu suara ayahnya, Fayzel.
"Apa-apaan sikap kamu sama kakek?"
Langsung to the point. Tanpa salam. Tanpa tanya kabar.
Nadira terdiam. Napasnya tercekat. Jarinya mencengkeram ponsel lebih erat.
"Kakek bilang kamu tidak sopan. Diajak bicara tidak jawab. Diminta bantuan tidak mau. Apa itu benar?"
"Bu... Yah, bukan begitu. Nadira cuma"
"Jangan membantah!" suara ayahnya meninggi. "Kamu selalu begitu! Setiap kali kakek bicara, kamu tidak pernah mau mendengarkan. Kamu tahu tidak betapa kecewanya beliau?"
"Aku dengar, Yah… aku selalu dengar," bisik Nadira, suaranya gemetar.
Nadira menggigit bibirnya. "Sumpah, Yah… aku enggak seperti yang dibilang kakek. Aku cuma.."
"Ayah tidak mau dengar alasanmu!" Nada itu memotong seperti pisau dingin. "Kalau kakek bilang kamu salah, berarti kamu salah."
Kalimat yang sama, yang selalu menghancurkannya sejak kecil.
Nadira memejamkan matanya. Dadanya naik turun cepat. Tangannya gemetar hebat.
"Tapi Yah… kakek cuma lihat sisi buruk aku. Kakek enggak pernah lihat usaha aku. Aku selalu… aku selalu"
"Nadira!" suara ayahnya membentak. "Kamu jangan kurang ajar. Kakek itu orang tua ayah. Orang yang sudah mengasuh ayahmu ini dari kecil. Kamu harus hormat!"
"Aku hormat…" suara Nadira hampir tak terdengar. "Aku cuma capek"
Tapi kalimat itu tenggelam. Nadira terpukul. Dan parahnya… ia tidak tahu bagaimana harus mempertahankan dirinya.
"Ayah kecewa sekali sama kamu…" suara itu melembut sedikit tapi justru terasa lebih menyakitkan. "Kalau kamu begini terus, Ayah tidak tahu harus bilang apa lagi."
Telepon terputus.
Nadira menatap layar yang kini gelap.
"Halo… Yah?"
Tidak ada jawaban.
Dalam sekejap, kamar Nadira serasa menyusut. Dindingnya seperti bergerak mendekat. Suaranya tercekat.
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, menangis tanpa suara.
"Kenapa… kenapa semua salahku?" bisiknya. "Kenapa tidak ada yang mau dengar aku…?"
Dadanya sesak, terlalu penuh oleh kata-kata yang tidak pernah diberi ruang.
Ia bangun tiba-tiba, terlalu sesak untuk duduk diam. Ia berjalan ke meja rias yang kacanya retak sejak minggu lalu. Retakan itu seperti urat-urat pecah dalam dirinya sendiri.
Ia menatap bayangannya sendiri, mata sembab, wajah pucat, senyum yang sudah lama hilang.
"Aku ini salah lagi ya…?" tanyanya pada pantulan itu.
Dan saat sesaknya mencapai puncak, tubuhnya memilih cara paling buruk untuk meluapkannya.
Ia mengangkat tangan kanannya. Tinjunya menegang.
"Berhenti… berhenti…," gumamnya, tapi tubuhnya sudah tidak mendengar lagi.
Lalu
Brak!
Ia meninju pecahan itu. Kaca patah. Rasa sakit langsung menjalar.
"A ah…!" Nadira terisak tertahan.
Cairan merah hangat merembes dari sela-sela luka di tangannya, menetes ke lantai. Nadira megap-megap, bukan karena sakit fisiknya… tapi karena akhirnya beban di dadanya seperti sedikit terbuka.
"Maaf…" desisnya pada dirinya sendiri. "Aku cuma… enggak tahu harus apa"
Ia duduk pelan di lantai. Di sampingnya, pecahan kaca berkilat dalam remang kamar.
"Aku capek…," bisiknya lagi.
Air matanya turun tak tertahan. Bukan karena rasa sakit di kulit tapi karena luka di dalam dirinya akhirnya pecah.
***
Paginya, Nadira berangkat sekolah dengan langkah goyah. Ia kurang tidur. Matanya sembab parah. Wajahnya pucat. Dan tangan kanannya dibalut perban seadanya.
Ia menarik lengan jaket lebih panjang, mencoba menyembunyikan perban itu.
"Fokus aja… satu hari lagi," gumamnya lirih.
Dunia seakan kabur. Suara-suara di sekitarnya seperti gema jauh.
Begitu ia tiba di gerbang sekolah, cahaya matahari terasa terlalu terang, suara anak-anak terlalu bising, dan dunia terasa terlalu… hidup.
Kontras sekali dengan dirinya.
Ia berjalan pelan menuju kelas, menunduk, berharap tidak ada yang memperhatikan. Tapi seseorang menangkap langkah goyahnya.
Keenan.
Cowok yang biasanya bertingkah santai, cerewet, dan selalu bisa membuat orang lain tertawa. Tapi kali ini wajahnya berubah drastis ketika melihat Nadira.
"Nadira?" suaranya tercekat.
Nadira berhenti.
Tidak menoleh.
Keenan mendekat cepat, tanpa memikirkan orang lain yang melihat mereka. Mata cowok itu membesar saat melihat perban di tangan Nadira.
"Nadira… tangan kamu kenapa? Ya Tuhan, kenapa bengkak begini?" suara Keenan bergetar.
Nadira menunduk makin dalam. "Enggak apa-apa kok"
Namun Keenan langsung memegang pergelangan tangannya dengan hati-hati.
"Nadira…" Nada itu bukan nada menegur. Bukan marah. Bukan kecewa.
Nada itu… pecah.
Keenan mengangkat tangan Nadira, melihat darah yang sedikit tembus ke perban. Matanya memerah seketika.
"Siapa yang nyakitin kamu?" tanya Keenan, hampir berbisik.
Ia menatap Nadira seolah dunia runtuh.
Nadira menggeleng pelan. "Enggak ada, aku cuma… jatuh."
Keenan menghela napas gemetar. "Nadira, aku bukan orang bodoh… tangan kayak gini bukan luka jatuh."
Ia mengusap perban itu dengan jempol, gerakannya sangat hati-hati seakan takut Nadira rapuh seperti kaca.
"Kenapa kami selalu bilang enggak apa-apa, padahal jelas-jelas kamu kenapa-kenapa…?"
Airmata Keenan jatuh, betulan jatuh.
"Nadira… jangan kayak gini. Kamu bikin aku takut…" suaranya pecah, setengah napas. "Aku enggak mau lihat kami hancur."
Nadira terdiam. Jantungnya mencubit pelan. Ini pertama kalinya… ada seseorang yang benar-benar melihatnya.
Benar-benar peduli. Dan untuk sesaat, dunia yang gelap itu terasa sedikit lebih berwarna.
Itulah awal dari bab yang akan mengubah segalanya bagi Nadira bukan karena ia tiba-tiba pulih, tapi karena seseorang akhirnya melihat luka yang selama ini disembunyikannya.