NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Gencatan Senjata

​Kafe 'Halaman Belakang' adalah tempat nongkrong hits di Jakarta Selatan yang konsepnya semi-outdoor. Ada pohon rindang, lampu gantung, dan yang paling penting bagi Alea: kopinya enak dan playlist-nya bagus (bukan lagu-lagu remix TikTok yang bikin sakit kepala).

​Jam satu lewat lima menit.

​Alea berjalan masuk sambil celingukan. Ia tidak memakai seragam sekolah, melainkan kaos band Arctic Monkeys warna hitam yang agak kebesaran, celana jeans sobek di lutut, dan kemeja flanel kotak-kotak yang diikat di pinggang. Rambutnya dicepol asal dengan tusuk konde pensil.

​Matanya langsung menangkap sosok Julian di meja sudut yang agak terpencil.

​Julian juga tidak memakai seragam. Tapi tetap saja, casual-nya Julian berbeda dengan casual-nya manusia normal. Dia memakai kemeja polo warna navy yang dikancingkan sampai atas, celana chino krem, dan jam tangan kulit. Rambutnya tidak diberi gel serapi di sekolah, membiarkan poni depannya jatuh sedikit menutupi dahi.

​Ganteng juga kalau nggak mode robot, batin Alea, sebelum buru-buru menepis pikiran itu.

​"Sorry telat dikit. Tadi nyari parkir susah, penuh sama anak mobil," sapa Alea sambil menarik kursi kayu di hadapan Julian.

​Julian melirik jam tangannya, lalu menatap Alea. "Lima menit. Masih dalam batas toleransi untuk standar kamu."

​"Wih, ada kemajuan. Nggak langsung ngasih surat pelanggaran," cibir Alea. Ia memanggil pelayan dan memesan Iced Americano dan kentang goreng.

​Julian sudah menggelar "lapak"-nya di meja. Buku Fisika, kertas HVS kosong, dan tiga pulpen berbeda warna.

​"Hari ini kita bahas Gelombang dan Bunyi. Materi Fisika kelas 11 semester 2. Ini materi favorit saya, dan harusnya..." Julian menatap kaos band Alea, "...ada hubungannya dengan hobi kamu."

​Alea menguap lebar tanpa ditutup. "Fisika tetep aja Fisika, Jul. Mau tentang bunyi kek, tentang alien kek, tetep aja bikin ngantuk. Rumusnya banyak cacing-cacingnya."

​"Berhenti mengeluh. Kita mulai."

​Julian mulai menjelaskan tentang frekuensi, periode, amplitudo, dan cepat rambat gelombang. Ia menggambar grafik sinusoidal di kertas. Grafik naik turun yang sempurna.

​"Jadi, v \= \lambda \cdot f. Di mana v adalah cepat rambat, \lambda adalah panjang gelombang, dan f adalah frekuensi..."

​Alea menatap kertas itu dengan tatapan kosong. Suara Julian masuk telinga kanan, berputar-putar sebentar di otak mencari tempat pendaratan, tidak ketemu, lalu keluar lagi lewat telinga kiri.

​Sepuluh menit berlalu.

​"Alea, kamu dengar saya tidak?" tegur Julian, sadar lawan bicaranya sedang melamun menatap remah-remah di meja.

​"Denger, Jul. V sama dengan lamda dikali frekuensi. Terus kenapa? Kalau gue tau itu, emangnya gue bisa beli bakso pake rumus itu?"

​Julian meletakkan pulpennya dengan keras. Suara tak membuat beberapa pengunjung kafe menoleh.

​"Kenapa kamu antipati sekali?" tanya Julian frustrasi. "Kamu tidak bodoh, Alea. Saya lihat catatan SD dan SMP kamu di data sekolah. Nilai kamu dulu bagus. Kenapa sekarang kamu memblokir semua ilmu yang masuk?"

​"Karena gue nggak suka!" seru Alea defensif. "Buat apa gue belajar ginian kalau cita-cita gue jadi musisi? Musisi butuh feeling, bukan hitung-hitungan!"

​"Salah," potong Julian cepat. "Musisi butuh Fisika. Kamu pikir gitar kamu itu bunyinya dari mana? Sihir?"

​Alea terdiam. "Ya... dari senar yang dipetik."

​Julian mengambil garpu di piring kentang goreng Alea. Ia mengetukkan garpu itu ke gelas kaca berisi air. Ting! Suaranya nyaring.

​Lalu ia meminum airnya sedikit, dan mengetuknya lagi. Tung! Suaranya lebih rendah.

​"Itu Fisika," kata Julian, matanya berbinar. "Kolom udara berubah, frekuensi berubah, nada berubah. Kamu bilang kamu benci Fisika, tapi setiap hari kamu memainkannya."

​Alea menatap gelas itu, lalu menatap Julian.

​"Coba pinjam gitar akustik yang dipajang di dinding itu," kata Julian tiba-tiba, menunjuk dekorasi kafe.

​"Hah? Buat apa?"

​"Ambil saja. Saya kenal pemilik kafe ini. Boleh dipinjam."

​Dengan bingung, Alea berdiri dan mengambil gitar akustik tua yang tergantung di dinding. Ia kembali duduk dan memangkunya. "Terus?"

​"Petik senar 6. Nada E rendah," perintah Julian.

​Alea memetiknya. Jreng... Suaranya rendah dan berat.

​"Sekarang taruh jarimu di fret 12. Petik lagi."

​Alea menuruti. Ting... Suaranya tinggi dan jernih, satu oktaf lebih tinggi.

​"Kenapa nadanya berubah?" tanya Julian.

​"Ya karena senarnya dipendekin lah," jawab Alea logis.

​"Tepat!" Julian menjentikkan jarinya. "Senar dipendekkan artinya panjang gelombang (\lambda) mengecil. Karena cepat rambat bunyi di senar itu tetap (tegangan senarnya sama), maka frekuensi (f) harus naik. Frekuensi naik artinya nada lebih tinggi. Itu rumus v \= \lambda \cdot f yang tadi kamu bilang nggak guna."

​Mulut Alea sedikit terbuka. "Oh..."

​"Lagi," Julian semakin semangat. Ia mengambil pulpennya. "Kamu tau kenapa distortion gitar listrik suaranya kasar dan rock banget?"

​"Karena... gain-nya digedein?"

​"Secara teknis, ya. Tapi secara Fisika, itu namanya clipping. Gelombang suara yang harusnya melengkung halus, dipotong paksa bagian atas dan bawahnya jadi kotak. Itu mengubah bentuk gelombang, menciptakan overtone yang terdengar 'kasar' di telinga. Itu murni manipulasi gelombang. Fisika."

​Alea menatap Julian dengan pandangan baru. Selama ini, guru Fisikanya di sekolah cuma bicara soal balok yang ditarik tali atau mobil yang ngerem mendadak. Membosankan. Tapi Julian... Julian bicara tentang musik. Tentang dunianya.

​"Lo... kok tau banyak soal gitar?" tanya Alea curiga. "Lo bilang lo nggak suka musik."

​Wajah Julian berubah sedikit kaku, menyadari ia terlalu antusias. Ia berdehem, merapikan kerah bajunya.

​"Saya... banyak membaca. Teori musik dan akustik itu bagian dari ilmu pengetahuan."

​Alea menyipitkan mata. Ia tidak percaya alasan itu, tapi ia memilih tidak mendesak.

​"Oke," kata Alea perlahan. Ia meletakkan gitar itu di sampingnya. "Jadi maksud lo, semua rumus cacing ini sebenernya bisa dijelasin pake musik?"

​"Hampir semua. Resonansi, gelombang bunyi, dawai, pipa organa. Semuanya adalah dasar dari alat musikmu."

​Alea menarik kertas HVS yang tadi penuh coretan rumus. Kali ini, coretan itu tidak terlihat seburuk tadi.

​"Oke, Tuan Guru," kata Alea, kali ini tanpa nada mengejek. "Ajarin gue. Pake bahasa gitar. Jangan pake bahasa alien."

​Julian tersenyum. Bukan senyum sinis, tapi senyum lega. "Baik. Kita mulai dari Hukum Mersenne tentang dawai."

​Dua jam berikutnya berlalu tanpa terasa.

Tidak ada bentakan. Tidak ada keluhan "ngantuk".

Alea mendengarkan, bertanya, dan mencatat dengan gaya bahasanya sendiri ("Jadi amplitudo itu kayak volume master di ampli"). Julian menjelaskan dengan sabar, menggunakan analogi fretboard, stem gitar, dan sound system.

​Pukul empat sore.

​Langit mulai jingga. Kopi Alea sudah habis, tinggal es batu yang mencair.

​"Cukup untuk hari ini," kata Julian menutup bukunya. "Otak kamu sudah mulai berasap. Saya bisa lihat."

​Alea menyandarkan punggungnya ke kursi, meregangkan otot-ototnya yang kaku. "Gila. Gue nggak percaya gue baru aja belajar Fisika dua jam non-stop dan nggak muntah."

​"Kamu paham materinya?"

​"Lumayan. Ternyata nggak seserem itu kalau gue bayangin senar gitar," aku Alea jujur. "Lo... lumayan juga ngajarnya. Lebih pinter dari Bu Ratna."

​"Jangan bandingkan saya dengan guru. Tidak sopan," tegur Julian otomatis, tapi nadanya santai.

​Hening sejenak. Suasana di antara mereka terasa jauh lebih cair dibanding saat pertemuan pertama di gerbang sekolah.

​"Jul," panggil Alea.

​"Hm?" Julian sedang membereskan alat tulisnya ke dalam kotak pensil dengan presisi militer.

​"Soal Pensi..." Alea memainkan sedotan di gelasnya. "Gue serius mau bikin itu sukses. Bukan cuma buat band gue, tapi buat buktiin ke semua orang kalau seni itu penting. Dan sekarang, gue sadar gue butuh bantuan lo buat menuhin syarat nilai itu."

​Julian berhenti bergerak. Ia menatap Alea.

​"Dan saya..." Julian ragu sejenak, "...saya butuh Pensi itu terlaksana. Karena kalau batal, saya gagal sebagai Ketua OSIS."

​"Jadi kita satu tim?" Alea mengulurkan tangannya di atas meja.

​Julian menatap tangan itu. Tangan yang kapalan di ujung jarinya, kuku yang dipotong pendek dan dicat hitam yang mulai mengelupas. Tangan seorang pekerja keras di bidang seni.

​Julian mengulurkan tangannya yang bersih dan halus.

​Mereka berjabat tangan.

​"Gencatan senjata," kata Alea sambil nyengir. "Nggak ada lagi perang dingin di sekolah. Minimal sampe UTS selesai."

​"Sepakat. Gencatan senjata," jawab Julian. "Tapi aturan tetap aturan. Kalau kamu telat, poin tetap berlaku."

​"Ah elah, ngerusak suasana aja lo!" Alea menarik tangannya sambil tertawa.

​Julian ikut tersenyum kecil.

​"Satu lagi, Alea," tambah Julian saat mereka beranjak berdiri.

​"Apa?"

​"Lagu kamu... yang di ruang musik kemarin..." Julian menggantung kalimatnya, terlihat sedikit canggung. "Kalau kamu butuh feedback atau saran aransemen... mungkin saya bisa bantu sedikit. Secara teori."

​Mata Alea berbinar kaget. Julian menawarkan bantuan musik?

​"Secara teori, ya?" goda Alea.

​"Ya. Hanya teori," Julian bersikeras, memakai kembali topeng gengsinya.

​"Oke. Gue pegang omongan lo. Awas kalau lo malah ngubah lagu gue jadi mars upacara."

​Mereka berjalan keluar kafe beriringan.

Di parkiran, Alea menuju motor matic-nya yang penuh stiker, sementara Julian menuju mobil sedan hitam yang mengilap.

​"Sampai ketemu Senin, Alea. Jangan lupa PR nomor 1 sampai 15."

​"Siap, Bos Robot! Hati-hati di jalan, jangan ngelamunin rumus!" teriak Alea sambil memakai helm bogo-nya.

​Julian masuk ke mobilnya. Saat menyalakan mesin, ia tidak langsung jalan. Ia melihat dari kaca spion, Alea melaju membelah kemacetan Jakarta dengan lincah.

​Julian menyalakan radio mobil. Lagu Sheila on 7 mengalun. Biasanya ia akan mematikannya dan menggantinya dengan berita atau podcast edukasi. Tapi kali ini, ia membiarkannya. Jarinya mengetuk setir mengikuti irama.

​Gencatan senjata telah dimulai.

Dan tanpa mereka sadari, bukan hanya nilai Fisika Alea yang akan berubah, tapi hati mereka juga perlahan mulai bergeser dari orbitnya masing-masing.

...****************...

BERSAMBUNG....

Terima kasih telah membaca 💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!