NovelToon NovelToon
Pacar Sewa Satu Milyar

Pacar Sewa Satu Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.

Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.

Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.

Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tol Cipularang, Ibu, dan Perempuan Bernama Sofiah

Tol Cipularang pagi itu terlihat seperti kehidupan yang Andi jalani: panjang, kadang berkelok dan selalu ada kendaraan yang tiba-tiba menyalip.

Sebuah papan peringatan bicara langsung di hatinya, HATI-HATI. JANGAN TERLALU CEPAT.

Dia menatap jalan sambil menggenggam setir jari kaku. Jam di dashboard menunjukkan 07.48. Masih ada waktu untuk sampai di stasiun Bandung tepat jam sepuluh—tapi kepalanya penuh kalimat: satu miliar rupiah, kata-kata Mira tentang profesionalitas, wajah Nayla terlalu tenang saat melihat kontrak, dan suara ibunya kemarin malam terngiang terus.

Ponselnya bergetar di saku celana. Nama Mama ❤️ muncul di layar. Ia menelan ludah sebelum mengangkat.“Iya, Ma?”

Suara di seberang terdengar cerah—terlalu cerah, seolah ibu sudah menghidupkan semangat pertemuan sejak puku lima pagi.

“Kamu di mana? Udah berangkat belum?"

“Udah, Ma. Di tol.sampai sebentar lagi.”

“Alhamdulillah.” Ada jeda, lalu berubah lembut, penuh harapan. “Sofiah juga udah datang. Dia bawa kue putri salju dan Rendang buatan sendiri—anaknya cantik, sopan, dan beneran bisa masak, kamu pasti suka.”

Laki laki itu memijat pelipisnya, checklist ibu selalu diulang setiap kali pembicaraan, Sofiah: cantik, sopan, bisa masak. Seolah itu semua yang dibutuhkan laki laki untuk hidup bahagia. “Iya, Ma.”jawabnya pendek.

“Jangan telat ya? Mama capek jelasin kepada Ibu Narti kenapa kamu selalu terlambat!” Ibu tertawa, tapi ada nada ancaman di dalamnya—ancaman yang Andi tahu bukan berarti jahat.

“Iya… Andi usahain.”

Telepon ditutup, perasaan bersalah tidak mau juga hilang. Dia menghela napas panjang, melihat spion: mobil-mobil melaju cepat tahu arah yang akan diambil kecuali dirinya.

 \=\=\=

Rumah Andi di Bandung tidak berubah sama sekali: cat hijau pucat sedikit luntur di sudut pagar, pohon jeruk yang selalu berbuah di halaman, dan aroma sayur asem yang langsung menyergap hidung begitu pintu dibuka.

“Andiii!”

Suara ibu datang duluan sebelum orangnya muncul—Dia berlari memeluknya erat, tangan sedikit keriput membelai rambutnya. “Kurus banget! Kamu makan nggak sih di Jakarta? Atau kerja terlalu keras?”

“Makan, Ma. Cuma makan stres.”

Ibu mencubit lengannya lembut, “Kurang doa. Nanti ibu masak nasi goreng favoritmu, ya?

Andi mengangguk, matanya tercekat diruang tamu, seseorang gadis berdiri memakai gaun krem sederhana, rambut disanggul rapi dengan bunga jepit kecil di sisi, dan senyumnya sopan—senyum yang tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, pas. Dia adalah tipe perempuan yang ibu inginkan untuknya tenang, rapi, dan terlihat “aman”.

“Andi, ini Sofiah anaknya Bu Narti tetangga kita dulu. Kamu inget, kan? Dia yang selalu ikut kamu main kelereng di halaman, suka nangis kalau kalah."

Laki laki itu mengangguk kaku, ingat—tapi hanya sedikit: gadis kecil selalu membawa permen, menangis saat kelerengnya hilang, sekarang tumbuh menjadi perempuan cantik membuatnya tidak nyaman.

“Halo.”

“Halo, Mas Andi.” Suaranya lembut air mengalir, menunduk sedikit, senyum tetap terjaga. “Tante bilang kamu suka kue putri salju dan rendang, aku ada bawa."

”Eh..ia, terimakasih."

Mereka duduk. Teh hangat disajikan, kue putri salju diletakkan di meja. Sunyi pertama terasa berat—seolah semua orang menunggunya untuk membuka percakapan.

Ibu membuka mulut pembawa acara arisan siap digelar “Andi kerja sebagai akuntan di Jakarta, Sof. Pekerjaan stabil, lho. Dia teliti banget sama angka-angka!”

“Oh,” Sofiah tersenyum. “Pasti orang yang bertanggung jawab.”

Andi tertawa kecil. Teliti sama angka-angka—tapi tidak teliti sama pilihan hidupnya.

“Teliti untuk kesalahan sendiri, lebih tepatnya.”

Gadis berparas cantik itu tertawa kecil sopan, terukur tidak terlalu keras, tidak terlalu lembut. Dan justru membuatnya semakin gelisah: seolah sedang bicara dengan Robot meskipun ibunya bilang teman sepermainan sewaktu kecil.

Ibu menatap penuh harapan, menonton sinetron episode awal, di mana pasangan utama akan jatuh cinta dan hidup bahagia selamanya. Lalu sebuah pertanyaan seolah tidak sengaja meluncur “Andi, kamu nggak ada pacar, ya?”

Detik itu juga jantungnya jatuh ke perut. Kata-kata Nayla, kontrak satu miliar, dan janji Mira terngiang sekaligus di kepalanya.

“Ehm—”

Sofiah menunduk sedikit, senyumnya sedikit memudar.

“Ma, sebenarnya—”Ponselnya bergetar di saku sekali dua kali nama Nayla muncul di layar pesan singkat:

Kak, semoga lancar di Bandung. Jangan lupa makan ya.

Andi mematung pesan itu membakar telapak tangannya.

Ibu memperhatikan wajahnya lamat “Kamu kenapa? Ponselnya berdering terus?”

“Gak apa-apa, Ma. Notifikasi kerja.”

Ia mengangguk tersenyum “Gimana kalau habis makan siang kalian jalan sebentar? Ke alun-alun Bandung, biar ngobrol lebih tenang.”

Sofiah mengangguk sopan, meskipun ada sedikit keraguan di matanya. “Boleh, Tante.”

Sementara laki laki itu seperti mau pingsan

satu kalimat berputar-putar tanpa henti di kepalanya , Gue punya pacar. Tapi bukan punya. Dan nggak boleh jatuh cinta.

Di depan ada perempuan baik ibu siapkan penuh harap—perempuan menjadi “pilihan aman” untuk hidupnya. Dan di ponselnya, ada pesan dari gadis lain: gadis sewa, yang di janjikan untuk tidak jatuh cinta, tapi entah kenapa, terasa lebih nyata dari semua hal di hari ini.

\=\=\=

Rendang itu terlalu harum untuk suasana setegang ini. Uap panas mengucup perlahan dari piring, membawa aroma santan kental dan rempah yang seharusnya menenangkan. Tapi buat Andi, bau rendang terasa seperti alarm bahaya — keras, tak terhindarkan, mengingatkan bahwa sesuatu akan pecah.

Mereka duduk bertiga di meja makan: Mama di ujung meja (tempat yang selalu jadi "pusat perhatian" dalam setiap obrolan keluarga), Andi di satu sisi, Sofiah di seberangnya.

Formasi sempurna untuk interogasi halus.

“Ini rendang kesukaan kamu, Di,” kata Mama sambil menyendokkan nasi hangat ke piringnys “Sofiah masak sendiri, pakai santan kelapa segar.”

“Iya, Ma, terimakasih Sofiah” Ia tersenyum — tidak sampai ke pipi dan mata menatap piringnya sedang menghitung butir nasi.

Gadis itu mengambil suapan kecil, gerakannya rapi dan terkontrol. “Sama sama Mas,"

Mama tersenyum puas, jari-jarinya mengusap pinggiran piring. “Resep Ibu ?atau dirimu sendiri, Sof ? Mama mesti pelajarin ini.”

" Sofia sendiri kok, Ma, Sofia senang masak."

Sunyi menyergap hanya suara sendok bertemu piring, lembut tapi terdengar keras di telinga laki laki itu. Ia mengunyah dengan kecepatan mobil balap — menggigit, mengunyah sampai tersedak.

Sofiah menatap tenang, tapi ada sesuatu di dalamnya: bukan kagum, tapi pengamatan. “Mas Andi jarang pulang?”

“Iya,” jawabnya cepat, terlalu cepat, “Mas kerja.”

Mama menimpali sebelum dia bisa berucap “Kerjanya kebanyakan mikir —banyak pilih akhirnya menjadi bujang lapuk, makanya Mama cariin perempuan bisa ngurusin dia, berbagi beban.”

Andi tersedak, otot lehernya menegang mencoba menahan batuk yang tersekat.

“Mas Andi kelihatannya capek. Bukan capek kerja aja.”

Ia berhenti mengunyah lidahnya terasa kering.

Mama tidak sadar. Atau pura-pura tidak sadar. “Anak laki zaman sekarang gitu, Sof, senengnya mendem, ngurung dikamar kaya ibu hamil

“Beban yang dibagi biasanya lebih ringan, Tante, apalagi sifat introvert."

Kalimat itu lembut tapi menghantam tepat di jantung membuatnya terkapar, untung ponselnya bergetar di saku celana membantu.

“Kok Mas Andi sering lihat HP?”

“Kerja, Sof” jawabnya — kebohongan yang sama, jaraknya belum semenit.

Getaran kedua.

Mama mengangkat alis ngedumel . “Kantor pajak sekejam itu di hari Minggu ? Gangguin orang makan siang”

Getaran ketiga. Panjang, berulang.

Ia merogoh saku, melihat layar di bawah meja seolah-olah bisa menyembunyikan dari Sofiah dan Mama ;

Lidahnya terasa kering bibirnya bergetar membaca nama

Sofiah melihat perubahan wajahnya — halus, tapi jelas. “Angkat aja, Mas. Nggak apa-apa.”

“Kalau penting, diangkat Ndi.”

Ia berdiri setengah badan, langkahnya tergesa-gesa menjauh ke dapur — tempat yang paling aman dari meja makan, tempatnya berbagi napas.

“Ya?” bisiknya panik, saat menekan tombol

Suara gadis itu terdengar tenang, seperti biasa. “Kak, maaf ganggu. Gue cuma mau ngingetin — besok jam 10 kita harus kirim foto proposal ke admin. Jangan lupa ya.”

Andi memejamkan mata. “Iya. Gue inget.”

Hening sebentar di seberang telepon.

“Kakak lagi sama keluarga?” tanyanya pelan.

“Iya.”

“Oh.”Nada itu netral. Tapi ada jeda kecil — sepersekian detik — terasa berat. Seolah-olah dia tahu teleponnya datang di waktu yang salah.

“Oke. Nanti aja gue chat lagi. Maaf ya gangguin.

Telepon ditutup.

Laki laki berwajah tampan itu terdiam beberapa detik, menatap wastafel berair, menekan dahinya, mencoba menghilangkan rasa penyesalan muncul.

ia kembali ke meja melihat Sofia sedang menuangkan air ke dalam gelas, gerakannya masih rapi.

Mama tersenyum — senyum terlalu manis, terlalu "menunggu".“Itu siapa?” tanyanya penuh selidik. Rekan kerja?”

Ia menarik napas dalam-dalam, sebelum menjawab tapi sudah dipotong

“Perempuan?”

Sendoknya berhenti di tengah jalan — tepat di atas potongan rendang hatinya gak bisa berbohong menjawab “Iya.”

Mama menggeleng pelan, “Teman satu kerja gak tahu aturan, orang lagi makan di telponin.

Sofiah mengulas senyum tipis bukan lagi mengamati tapi menilai.“Mas Andi,” ucapnya lembut tapi tegas — suara yang tidak bisa diabaikan, “kalau sudah ada orang lain… bilang saja ke Tante. Nggak usah disembunyikan.”

Mama terdiam.

Andi menatap rendang di piringnya terasa pahit. “Belum,”ucapnya lemah, tapi jelas. “Belum ada.”Kebohongan itu keluar dengan mudah. Tapi terasa berat — batu mengganjal di perut.

Sofiah hanya diam, menggit bibir

Mama tersenyum lega — beban di pundaknya hilang.Tapi laki laki itu tahu: Sofiah tidak sepenuhnya percaya telepon masuk tadi sudah menanam benih kecurigaan — benih tidak bisa ditarik lagi, tumbuh menjadi pohon besar menghancurkan segalanya.

Di meja makan itu, tiga orang duduk rapi.

Dan satu rahasia mulai mengeluarkan bau — lebih tajam dari aroma rendang, lebih sulit diabaikan.

1
Greta Ela🦋🌺
Dah ketebak pasti si Nayla/Facepalm/
Ddie: 🤣🤣 ...ya gitu dk...Nayla
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Jadi dia ini anak mama yang manja ya/Chuckle/
Ddie: ya begitu lah dk ...kalau dk gak begitu ya..mandiri ...mandi sendiri
total 1 replies
Ddie
lucu absurd tapi mengena di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!