Kirana Ardhita, 17 tahun gadis cantik yang sangat mandiri yang memiliki sifat yang sedikit arogan, Bahkan tak jarang ia sering berantam dengan laki-laki yang awalnya menyukai dirinya, Kirana masih duduk di kelas 3 SMA dia juga terkenal pintar, makanya banyak yang menyukainya. Namun sedikit nakal membuat sang ibu berkali-kali di panggil oleh pihak sekolah, ia juga dikenal si gadis tomboi bahkan para teman-teman lebih sering memanggilnya si Tomboi atau Boi itu karena memang polah lakunya yang seperti laki-laki.
Kana itulah panggilan untuk dirinya sendiri bila bersama keluarganya. Kana adalah seorang anak yatim dan Ia hidup hanya tinggal berdua saja bersama ibunya, sang Ayah, telah tiada semenjak ia duduk di bangku SMP, sedangkan sang Ibu hanya seorang buruh cuci, maka dari itu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, Kana bekerja setiap ia pulang sekolah.
Suatu hari sang Ibu mengalami kecelakaan akibat ia menolong seorang wanita, yang ternyata wanita itu adalah teman karibnya sewaktu mereka muda, tapi pertemuan itu tak berlangsung lama karena sang ibu keburu sekarat dan sang ibu meminta Kana untuk menikah dengan anak temannya itu, yang ternyata dia adalah gurunya sendiri yang amat ia benci.
Akankah Kana menemui cinta pada sang gurunya itu?.
Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya ya, LIKE, VOTE, HADIAH, DAN FAVORITkan oke😉🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA BIKIN MEREM MELEK.
*┉━◌⑅●♡🤍Mutiara Hikmah🤍♡●⑅◌━┉*
"Janganlah engkau merasa senang dan bangga saat manusia amat mencintai dan menyayangimu. Sehingga, kamu melupakan cinta yang sesungguhnya. Ketahuilah bahwa jika terkumpulnya cinta seluruh manusia di muka bumi ini.Itu tidak akan pernah menandingi cinta Allah terhadap hamba-Nya.
SO...
❤️CInta Allah dulu, Allah lagi, Allah selamanya❤️
In shaa Allah, akan Bahagia dunia wal akhirat 😉.
sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ
*┉━❖🤍◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌🤍❖━┉*
Setelah menempuh perjalanan satu jam dari kantornya Adnan. Kini mobil Adnan pun mulai memasuki pekarangan rumah orang tuanya Kirana. Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Kirana dan Adnan pun turun dari mobil mereka. Dan disaat mereka hendak memasuki rumah Kirana. Tiba-tiba seseorang memanggil Kirana.
"Woy, tomboi, lo sama sia..?" teriak seorang gadis cantik. Namun perkataannya terhenti tatkala ia melihat Adnan menoleh kearahnya. "Eh, P-pak Guru? Maaf Pak saya tadi nggak lihat wajah Pak Guru" lanjutnya lagi, terlihat gugup.
"Iya tidak apa-apa! Kamu Salsabilakan? Ada apa kamu memanggil Dhita?" tanya Adnan terdengar datar.
"I-iya Pak Guru, saya Salsabila. Itu saya ada perlu sebentar sama Dhita Pak Guru, boleh saya pinjamkan Dhitanya?" balas gadis itu yang ternyata ia adalah teman sekelas Kirana, yaitu Billa.
"Ya sudah kalian pergilah ingat jangan lama-lama!" kata Adnan terdengar tegas.
"Baik Pak!" balas Billa. "Ayo Boi, ikut gue sebentar," ajaknya lagi pada Kirana, sambil menarik tangan Kirana.
"Saya pergi sebentar ya Pak," pamit Kirana, saat melewati suaminya.
"Pergilah, dan cepat kembali!" balas Adnan dan dibalas Kirana hanya mengacungkan jempolnya saja. Karena ia langsung ditarik oleh Billa.
"Huh! Dasar bocah, mengganggu saja!" umpat Adnan, yang masih terlihat memandang kepergian istrinya dan Billa.
Setelah mereka tidak terlihat lagi, Adnan pun memasuki rumah Kirana, yang terlihat mulai berdebu. Karena, sang penghuni tak lagi tinggal disana.
"Haiiis, debunya tebal sekali sih? Seperti aku harus mencari penghuni baru untuk rumah ini biar kembali terawat," gumam Adnan, yang kemudian ia langsung membuka jasnya,. Dan setelah itu ia pun mengambil sapu yang berada disudut rumah.
Setelah sapu berada ditangannya Adnan pun mulai menyapu rumah mertuanya itu. Di mulai dari belakang, hingga kedepan. Dan disaat ia sedang menyapu dibagian bawah kolong sebuah lemari hias. Tiba-tiba sebuah benda kecil, keluar dari kolong tersebut, bersamaan dengan sapu yang ia masukkan di kolong lemari hias tersebut.
Adnan mengerenyit dahinya, saat melihat benda tersebut. Lalu ia pun langsung mengambil benda itu. "Inikan Cincin nikahnya Kana? Hmm, ini memang sengaja dibuang atau terjatuh tanpa sengaja ya?" gumam Adnan, masih terus melihat Cincin tersebut. "Ah sudahlah nanti aku tanyakan saja." gumamnya lagi, lalu ia pun mengantongi cincin tersebut kedalam saku celananya. Dan kemudian ia pun melanjutkan bersih-bersihnya.
********
Sementara di sisi lain.
Billa masih menggandeng tangan Kirana, dan membawanya ke sebuah taman, yang tidak begitu jauh dari rumahnya Kirana. Setelah mereka mendapatkan sebuah kursi yang terlihat kosong Billa pun menghentikan langkahnya dan mengajak Kirana untuk duduk di kursi tersebut.
"Sekarang Katakan Boi! Ada hubungan apa lo sama Pak Guru hah? Mengapa Pak Guru bisa ada dirumahnya kamu? Dan kata Arya, saat ia dipanggil Kepsek. Dia sempat melihat nama pak Adnan tertera sebagai walinya Lo! Sekarang katakan apa maksud semua ini Boi? Ayoo katakanlah sejujurnya Boi!" tanya Billa, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan oleh Kirana. Antara kesal dan penasaran menjadi satu.
Kirana tersentak, saat mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Sehingga ia bingung harus mengatakan apa padanya. "Eh! Maaf Bil, gue belum bisa katakannya sekarang, tapi nanti setelah gue siap, gue pasti akan memberitahukan Lo," jawabnya terlihat bingung.
"Ooh, inikah sahabat gue, yang dulu pernah berjanji tidak akan ada rahasia apapun diantara kita? Benarkah elo sahabat gue, yang pernah berjanji itu?" tanya Billa lagi, yang terlihat sekali diraut wajahnya, ada kekecewaan yang amat dalam. Membuat Kirana jadi serba salah.
"Baiklah, gue akan memberitahukan Lo. Tapi bisakah elo jaga rahasia ini?" tanya Kirana yang terlihat meragu, untuk membeberkan sebuah rahasia kehidupannya.
"Elo, meragukan sahabat Lo ini? Sudah berapa lama sih kita berteman Dhita? Dan elo masih meragukan gue? Ingat kita berteman sedari kita TK, dan hingga sekarang kita selalu berada disekolah yang sama! Dan baru sekarang Lo meragukan gue?" tanya Billa, yang kini di raut wajahnya terlihat sedih, karena ternyata Kirana masih meragukan dirinya.
"Maaf Billa, gue bukan ragu ama elo, gue.."
"Aah, sudahlah Dhit, tidak usah banyak alasan, gue sudah cukup tahu kok dari perkataan tadi. Ya sudah gue nggak mau maksa Lo lagi, dan setelah ini lupakanlah kalau kita pernah menjadi sahabat dekat!" potong Billa, yang terlihat sekali matanya sudah berkaca-kaca. Setelah mengatakan itu, ia pun langsung bangkit dari duduknya, dan bermaksud pergi meninggalkan Kirana. Namun dengan cepat Kirana memeluknya dari belakang.
"Bil, jangan berkata seperti itu. Gue akan berkata jujur, kalau sebenarnya Pak Guru Adnan adalah suami gue," kata Kirana, yang akhirnya ia mengungkapkan kebenarannya.
"Apa! Bagaimana bisa?" tanya Billa, terlihat kaget.
"Gue akan ceritakan, tapi kita duduk ya" ajak Kirana dan akhirnya Billa pun mengikuti sahabatnya itu. Dan setelah mereka duduk, Kirana pun mulai bercerita dari awal, ia menikah atas permintaan terakhir dari sang Ibu. Dan mau tak mau ia harus mengikuti keinginan terakhir. Dan akhirnya Billa paham saat Kirana, yang mencari pacar waktu itu, semata-mata, karena ia ingin membuat Adnan menceraikannya.
"Huuft.. untung saja Pak guru, nggak langsung menyetujuinya kamu untuk bercerai, kalau dia setuju. Bisa-bisa almarhum nyokap Lo, bakalan tidak tenang disana Boi" kata Billa, yang kini ia sudah mulai biasa lagi.
"Iya juga sih, tapikan gue sudah nggak minta cerai lagi kok, berarti nyokap gue udah tenang dong?" ucap Kirana.
"Aamiin, semoga saja ya"
"Aamiin, Iya in shaa Allah, gue nggak mau Nyokap sedih lagi kok, makanya gue udah mulai menerima pak Guru,"
"Syukurlah, eh ngomong-ngomong, berarti Lo sudah pernah ciuman bibir dong sama Pak Guru?" tanya Billa terlihat penasaran.
"Ciuman bibir? Idih jorok akh!" celetuk Kirana, terlihat bergidik.
"Kok jorok sih? Enak tahu, rasanya kenyal-kenyal gimana gitu, gue aja sudah beberapa kali, ciuman sama Roy, bikin candu tau," ungkap Billa, tanpa ragu, Bahkan ia sampai merem melek, saat membayangkan ia sedang berciuman dengan Roy.
"Apaan sih Lo! Sampai merem melek gitu?" tanya Kirana polos.
"Aah Lo sih, nggak pernah pacaran, jadi Lo nggak akan tahu, nikmatnya berciuman, pokoknya nikmatnya bikin merem melek, deh," jelas Billa membuat Kirana jadi penasaran.
"Eh, lupa tadikan pak Guru bilang jangan lama-lama, udah yuk kita pulang. Biar Lo bisa cobain rasanya ciuman brai" kata Billa sambil mengedipkan matanya.
"Wokeh.. dah kalau begitu, entar gue mau cobain, ciuman sama Pak Guru" ujar Kirana terlihat polos.
"Iya dong, kan Pak Guru, udah jadi suami Lo jadi bebas dong mau menciumnya"
"Ha iya iya? Ah sudahlah ayo pulang, biar gue mau mau coba ciuman."
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏