Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Steel Couple
Pagi harinya, Sesilia terbangun pada pukul lima, seperti biasa. Perasaannya hari ini sangat cerah, bak mentari pagi. Selama mandi dan bersiap-siap, gadis itu tidak henti bersenandung riang. Persis bocah lima tahun setelah dibelikan mainan baru.
Setelah mematut diri di depan cermin selama hampir satu jam, gadis itu keluar. Wangi parfum mahal pemberian Axel tercium sangat pekat, sepekat kebahagiaannya pagi itu. Kalung pemberian Axel melingkar di lehernya, sebuah simbol kepemilikan yang kini ia terima bukan lagi sebagai rantai, melainkan sebagai bagian dari identitas barunya.
Di meja makan, sudah berjejer lebih dari sepuluh jenis makanan. Ada nasi goreng, ayam goreng tepung kesukaan gadis itu, roti tawar, dan masih banyak lagi.
Axel muncul dari belakang Sesilia. Lelaki itu menggunakan kameja putih dan Jas mahal berwarna Navy, juga dasi senada. Sesilia juga mengenakan baju berwarna navy dengan rok putih dibawah lutut. Pakaian mereka berdua sangat serasi. Sesilia diam-diam tersipu malu karena hal itu. Rona merah muncul di kedua pipinya.
Beberapa menit kedepan, dua orang itu tidak bersuara sama sekali. Keduanya sibuk dengan urusan piring masing-masing.
"Si... Hari ini, aku akan mengantarmu ke kampus. Juga hari-hari berikutnya" Axel menjadi yang pertama bersuara.
"I like it, X. Tapi sejujurnya, aku agak ragu. Karena setelah pengumuman pertunangan itu, publik benar-benar menyoroti kita berdua. Aku... agak tidak terbiasa dengan semua itu." Sesilia menjawab tenang.
Axel diam. Mencerna situasi.
"Mau pakai bodyguard?" Lelaki itu bertanya.
"What!! No, X. I'm not the daughter of a president."
"So, what baby girl?"
Sesilia terdiam. Otaknya berputar memikirkan solusi yang tepat untuk situasi mereka berdua.
"I have no idea, X."
"Aku akan tetap mengantarmu ke kampus. Mulai hari ini. Urusan publik, biar diserahkan pada bodyguard. Kamu akan tetap punya kehidupan biasa di kampung, Si. No matter what."
"Ok."
....
Iring-iringan mobil hitam mengkilap itu membelah jalanan Jakarta dengan formasi yang teratur. Di tengah barisan, sebuah Rolls-Royce Phantom dengan kaca film yang sangat gelap membawa manusia paling berharga bagi Steel Group.
Saat iring-iringan itu memasuki gerbang utama Fakultas Kedokteran, atmosfer kampus yang biasanya dipenuhi oleh hiruk-pikuk mahasiswa mendadak hening. Suara raungan halus mesin V12 dari mobil Axel terdengar seperti dengung pemangsa yang memasuki wilayah baru.
Mahasiswa yang sedang duduk di selasar, para dosen yang sedang berjalan menuju ruang kuliah, hingga petugas keamanan kampus, semuanya berhenti bergerak. Mereka terpaku pada iring-iringan yang tampak seperti kedatangan kepala negara.
"Siapa itu?" bisik salah satu mahasiswi di pinggir jalan.
"Kau tidak tahu? Itu Axel Steel. Dan wanita di sampingnya... itu Sesilia Kira, his fiancee." jawab yang lain dengan nada penuh kekaguman dan iri yang bercampur.
Mobil itu melambat secara dramatis saat mendekati lobi utama fakultas. Sinar matahari pagi memantul pada bodi mobil yang hitam legam, menciptakan efek kilauan yang menyilaukan mata bagi siapa pun yang berani menatapnya langsung. Kesan mewah, dingin, dan tak tersentuh terpancar dari setiap inci kendaraan tersebut.
Rolls-Royce itu berhenti tepat di depan tangga lobi. Empat orang pengawal berbaju hitam segera keluar dari mobil pengiring dan membentuk barisan, memastikan tidak ada yang berani mendekat dalam radius lima meter.
Pintu belakang terbuka. Axel Steel melangkah keluar lebih dulu.
Para gadis memekik tertahan, saat melihat langsung sosok CEO tampan itu. Semua mata hanya tertuju padanya, tidak ada yang berani bersuara.
Axel berdiri tegak, kacamata hitam menutupi matanya yang kelabu, memberikan kesan misterius sekaligus mengintimidasi. Ia tidak langsung berjalan, lelaki iy berputar menuju pintu sisi lain dan membukanya sendiri. Sangat gentleman. Sebuah tindakan bak ksatria yang sangat didambakan kaum hawa.
Ia mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh pada Sesilia, gadis itu menyambut uluran tangan itu dengan malu-malu. Ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Axel dan melangkah keluar.
Pada detik itu, seolah-olah waktu berhenti berputar.
Dunia seolah berubah menjadi hitam-putih, menyisakan Axel dan Sesilia sebagai satu-satunya objek yang berwarna. Axel dengan ketampanannya yang tajam dan berbahaya, dan Sesilia dengan kecantikan klasiknya yang mempesona. Mereka berdiri berdampingan, menciptakan komposisi visual yang sempurna, sebuah perwujudan dari "pasangan terbaik abad ini."
"Oh my god... mereka manusia?" bisik seorang mahasiswa kedokteran yang sedang memegang buku teks tebal.
"Mereka terlihat seperti malaikat yang turun dari Olympus, tapi dengan versi yang jauh lebih kaya," komentar yang lain.
Bisik-bisik itu merambat seperti api di padang rumput kering. Semua orang membicarakan keserasian mereka. Axel yang protektif, dengan tangannya yang selalu berada di punggung bawah tunangannya, dan Sesilia yang berjalan dengan dagu terangkat, memancarkan aura ratu kampusnya. Mereka bukan hanya dua orang yang berpacaran, mereka adalah kesempurnaan itu sendiri.
....
Axel tidak melepaskan tunangannya di lobi. Ia terus melangkah masuk, mengawal Sesilia menyusuri selasar fakultas menuju ruang dosen yang menjadi tujuan gadisnya pagi itu.
Langkah kaki mereka yang berirama di atas lantai granit menciptakan gema yang teratur. Setiap kali mereka melewati sekelompok mahasiswa, kerumunan itu secara otomatis terbelah, memberikan jalan dengan rasa hormat yang tidak terucapkan. Sorot mata Axel yang dingin menyapu sekeliling, memastikan tidak ada tatapan pria lain yang terlalu lama menetap pada tunangannya.
"Aku akan menunggumu di sini," ucap Axel saat mereka tiba di depan pintu kayu jati ruang dosen.
"X, ini akan memakan waktu satu jam. Kau bisa menunggu di mobil," Sesilia mencoba memberi saran.
Axel menggeleng pelan. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap gadis cantik itu dengan tatapan yang bisa melelehkan es di kutub utara, sebuah tatapan yang penuh dengan obsesi yang dalam. "it's okay. Aku pernah menunggu selama empat tahun, satu jam saja tidak berpengaruh apa-apa. Masuklah. Selesaikan urusanmu."
Sesilia menghela napas, namun di dalam hatinya, ia merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Axel Steel dan sifat posesif adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
...
Sesilia masuk ke dalam ruang dosen, meninggalkan Axel yang berdiri tegak di selasar layaknya patung dewa perang yang menjaga kuilnya. Di luar, kerumunan mahasiswa masih belum bubar. Mereka memotret dari kejauhan, mengunggah momen itu ke media sosial dengan tagar yang memuja,
The Steel Couple. Definisi Sempurna yang Tak Tergapai.
Reputasi Sesilia di kampus berubah seketika. Jika dulu ia dianggap sebagai mahasiswi beasiswa yang pintar namun tertutup, kini ia adalah permaisuri dari kerajaan Steel. Kecantikan dan ketampanan mereka hari ini telah menetapkan standar baru bagi seluruh fakultas, sebuah standar yang mustahil dicapai oleh manusia biasa.
Axel tetap berdiri di sana, mengabaikan bisikan dan tatapan ratusan orang. Baginya, hanya ada satu hal yang penting, yaitu pintu kayu di depannya. Ia menunggu belahan jiwanya keluar, siap untuk kembali membawanya ke dalam sangkar emas yang kini terasa semakin nyaman bagi mereka berdua.
Selama hampir satu jam, Axel tetap disana, menyandarkan bahunya di dinding selasar. Matanya menatap pintu dengan kesabaran yang tidak pernah ia miliki. Sementara di dalam ruang dosen, Sesilia mulai menyadari bahwa ia tidak hanya dicintai, tapi hampir disembah oleh pria yang paling ditakuti di dunia ini.
bau bau bucin😍😄