Novel ini mendapat JUARA HARAPAN LOMBA YOU ARE A WRITER SEASON 6
Terima kasih atas dukungannya.
_
_
Blurb :
Akibat kesalahpahaman, Xena Fathari memilih bercerai dengan suaminya yang bernama Evan Dimitri. Gadis itu meninggalkan tanah kelahirannya dengan membawa luka hati. Bagaimana tidak? seorang wanita datang dan mengaku mengandung anak Evan. Hingga saat kembali, Xena tidak bisa menghindari pertemuannya dengan pria itu lagi.
Karena sebuah situasi, Xena terpaksa mengungkit keinginan Evan satu tahun lalu yang memintanya menjadi istri selama 40 hari.
Kini semua terbalik, Xena yang meminta Evan menjadi suaminya selama 40 hari. Akankah Evan bersedia menerima tawaran Xena?
cover by Tiadesign_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sepanjang perjalanan kembali ke gedung perusahaan Evan, Xena hanya membisu. Gadis itu nampak lebih banyak menatap ke luar jendela mobil, merutuki kebohongan dan malah dikira marah oleh pria yang sesekali menolehnya sambil mengendarai mobil.
“Ev, bisa berhenti di parkiran saja? aku mau langsung pulang,” pinta Xena mengingat mobilnya berada di parkirkan basement gedung.
Evan merasa ada yang aneh ke Xena setelah makan siang bersama Prawira dan Hana tadi, hingga dia sedikit merasa bersalah, padahal sebenarnya mereka memang tidak sengaja bertemu, Ia tidak merekayasa keadaan tadi.
_
_
_
Xena termenung beberapa saat di dalam mobilnya, memikirkan langkah yang harus dia ambil untuk mengakhiri semua kebohongan ini. Bagaimanapun berbohong membuatnya tidak bisa hidup tenang. Hingga ponsel miliknya berdering, sebuah pesan masuk dari Hana. Wanita itu mengingatkannya agar ikut liburan ke pulau Kilikili.
Mendengkus kasar, Xena memilih pergi menemui papanya.
***
"Kenapa tiba-tiba manja sekali?"
Hari melirik putrinya yang sejak datang tadi langsung menempel padanya. Xena sedang galau, sedangkan tidak ada sahabat yang bisa dia ajak berkeluh kesah tentang rumah tangganya selama ini.
"Aku dan Evan-"
"Kenapa lagi?" Hari bertanya tak seperti meriam perang tapi penuh kelembutan. "Papa tak habis pikir kenapa kamu mau kembali padanya, bukankah dia menyakitimu?"
Xena mendongak, tersenyum lantas menyipitkan mata mendapat pertanyaan seperti itu dari sang papa, bukannya menjawab Xena malah balik melempar pertanyaan. "Dulu kenapa Papa setuju aku menikahi dia?"
"Karena wasiat mendiang mamamu, kamu tahu? jika tidak bertemu Papa, mamamu paling nikah sama si Demitri itu." Hari mulai kembali seperti biasa, wajahnya pun berubah masam.
"Lagi pula kamu juga suka sama Evan, kan? dulu, setiap kali dia ke rumah wajahmu berbinar-binar, kamu tidak pernah mau diganggu dan marah jika ada yang mengusik setiap kali sibuk melukis, tapi kalau Evan datang, kamu langsung meninggalkan lukisanmu, berdandan cantik untuk menemuinya."
Pipi Xena bersemu merah mendengar ledekan Hari, dia tidak bisa mengelak karena apa yang disampaikan sang papa semuanya benar.
"Dia baik, apa Papa tahu? setiap bulan Evan selalu datang ke panti asuhan dengan membawa banyak makanan dan kebutuhan untuk anak-anak, sebagai pengusaha dia juga tidak pernah ingin namanya terlalu dielu-elukan, dia bahkan beberapa kali menolak tabloid bisnis menyebutkan deretan prestasinya," ucap Xena.
Namun, semua ucapan Xena barusan dimentahkan Hari dengan satu kalimat.
"Tapi dia berselingkuh, tidak ada orang baik yang melakukan itu."
Xena menelan saliva karena papanya malah mengingatkan pada hal yang hampir dia lupakan. Gadis itu merasa bimbang, haruskah dia menanyakan dan meminta penjelasan tentang hubungan Evan dan Jihan di masa lalu, atau membiarkannya saja seperti sekarang. Xena menutupi keresahan hatinya dengan seulas senyum. Ia masih enggan membahas itu dengan Evan karena mengingat saja hatinya terasa ngilu.
"Malam ini aku akan menginap di sini, bagaimana kalau aku buatkan pastel sayur kesukaan Papa?"
Xena menenggakkan badan, menepuk paha Hari sebelum berdiri. Pria paruh baya itu sadar bahwa putrinya pasti tidak suka membahas masalah Evan dan perselingkuhan.
"Sama teh tarik ya," teriak Hari dengan senyum ironi. Ia yakin Xena tidak sedang baik-baik saja.
_
_
_
Sore harinya, Evan galau karena tidak bisa melihat Xena di rumah saat pulang. Saat bertanya ke sang pembantu, dia mendapat jawaban bahwa Xena tidak pulang sejak keluar dari rumah siang tadi. Hal ini membuat Evan yakin bahwa Xena marah karena kejadian di restoran hari ini.
Evan berkali-kali menghubungi Xena, mengirim pesan bahkan sampai lupa mandi. Pria itu berjam-jam duduk di tepian ranjang dan terus mencoba menghubungi istrinya. Evan memang menjadi bodoh saat panik atau ketakutan. Ia bahkan tidak berpikir mungkin saja Xena ke rumah Hari.
Hingga hampir jam sepuluh malam, Evan masih saja galau. Ia tidur tengkurap masih dengan ponsel di sampingnya, matanya terpejam jelas dia lelah karena pekerjaan kantornya, sampai sebuah notifikasi pesan masuk, Evan seketika bangun. Wajahnya nampak penuh harap mendapati pesan itu dari Xena.
[ Ev, maaf! Aku tadi sedang sibuk membuat kudapan untuk Papa, aku tidak marah. Aku malam ini ingin menginap di rumah Papa dulu ]
Evan mengembuskan napas lega, tapi bukannya pergi mandi lalu tidur, dia malah berjalan cepat menuruni anak tangga menuju garasi mobil untuk pergi ke rumah Hari.
_
_
_
_
"Ev!"
Xena melongo tak percaya mendapati suaminya datang malam-malam dengan masih menggunakan setelan saat mereka bertemu tadi siang.
"Untuk apa ke sini?" tanya Xena yang masih tak percaya jika Evan sudah berdiri di depannya.
"Aku-, aku mau kudapan yang kamu buat," ucap Evan asal.
"Sudah habis!"
Teriakan dari dalam membuat Evan dan Xena kaget, jelas mereka tahu suara siapa yang menggelagar itu.
"Papa belum tidur?" tanya Xena sesaat setelah menolehkan badan.
Hari yang mengenakan baju tidur kebangsaan berupa kaus polos dan sarung cap gajah jongkok pun berjalan mendekat. Masih dengan mimik wajah sinis ke Evan, dia mengulangi ucapannya. "Sudah habis, jadi pulang saja!"
"Pa!" Xena merasa tak enak hati.
"Aku tidak mau pulang, aku mau menginap di sini juga malam ini," ucap Evan yang langsung membuat Xena terperanga.
Bukannya apa-apa, ranjang kamar Xena terlalu sempit. Setelah menikah dia langsung diboyong Evan, terlebih pernikahan mereka dulu hanya sekitar lima bulan. Selama itu Xena belum terpikirkan untuk mengganti ranjang kamarnya dengan ukuran yang lebih besar.
Hari menatap Xena, seolah meminta putrinya itu untuk menolak keinginan Evan. Namun, dia harus menerima kenyataan pahit karena Xena malah mengizinkan.
_
_
_
"Pakai ini! aku pinjamkan dari Papa," ucap Xena meletakkan kaus di samping Evan. Ia hampir saja pergi lagi tapi Evan lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya.
Xena menoleh, mendapati Evan yang menunduk terdiam seolah menyesali sesuatu.
"Kamu kenapa?"
Evan perlahan mengangkat kepala, matanya sendu menatap wajah Xena.
"Xen, aku lapar."
_
_
_
Komen
like 🥰
mamacih
jangan ngembek terus, jadi kayak Zoya kamu.
di nyanyiin sendiri lagi...
jagal JD kayak sapi om...