Aini adalah seorang istri setia yang harus menerima kenyataan pahit: suaminya, Varo, berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri, Cilla. Puncaknya, Aini memergoki Varo dan Cilla sedang menjalin hubungan terlarang di dalam rumahnya.
Rasa sakit Aini semakin dalam ketika ia menyadari bahwa perselingkuhan ini ternyata diketahui dan direstui oleh ibunya, Ibu Dewi.
Dikhianati oleh tiga orang terdekatnya sekaligus, Aini menolak hancur. Ia bertekad bangkit dan menyusun rencana balas dendam untuk menghancurkan mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Saksikan bagaimana Aini membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bollyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Orang-Orang Tak Tahu Diri
Suasana ruang tamu itu terasa mencekam, sisa-sisa amarah masih tertinggal di udara yang pengap. Kebenaran yang baru saja dilemparkan Aini layaknya bom yang meluluhlantakkan harga diri keluarga Varo. Sertifikat rumah yang digenggam Varo yang kini ia sadari hanya berisi satu nama tunggal yaitu AINI, terasa panas seperti bara api yang membakar telapak tangannya.
Aini berdiri tegak di tengah ruangan. Rambutnya sedikit berantakan akibat tarikan Ibu Sarah tadi, namun sorot matanya memancarkan kekuatan yang tak tergoyahkan. Ia menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang tak lagi mengandung setetes pun rasa hormat.
"Kenapa kalian mendadak bisu?" tanya Aini dengan nada dingin yang mengiris kalbu.
"Silakan kalian kemas barang-barang kalian sekarang juga. Detik ini juga, seret kaki kalian keluar dari Rumah saya, dan jangan pernah lagi berani bermimpi untuk menginjakkan kaki di lantai rumah ini! Kesabaran saya sudah mencapai batasnya."
Ibu Sarah, yang tadi sempat tersungkur, bangkit perlahan dengan wajah merah padam menahan malu dan perih. Ia merebut paksa sertifikat itu dari tangan Varo, matanya yang mulai rabun itu meneliti setiap baris tulisan dengan tangan gemetar.
"Ini tidak mungkin! kamu pasti bohong! Kamu pasti memalsukan kertas ini, kan?!" teriak Ibu Sarah dengan suara melengking yang pecah.
"Kamu pasti sudah menukar sertifikat yang asli dengan sampah ini supaya bisa mengusir kami secara tidak sah! Varo yang membeli rumah ini! Anak saya yang memeras keringatnya menjadi manajer demi rumah ini!"
Aini tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan kepahitan selama lima tahun.
"Ibu masih ingin membohongi diri sendiri? Silakan bawa surat itu ke kantor pertanahan besok pagi kalau Ibu punya nyali. Sertifikat itu asli, terdaftar secara hukum, dan di sana tidak ada nama anak kebanggaan Ibu barang satu huruf pun!"
Cilla, yang sejak tadi berdiri di belakang Varo sambil mengusap perutnya, mulai merasakan ketakutan yang nyata. Istana pasir yang ia bangun di atas penderitaan Aini seketika runtuh.
"Mbak Aini... kamu jangan sejahat itu jadi orang. Masa Mas Varo yang sudah lelah bekerja setiap hari malah kamu usir begitu saja? Mana hati nurani kamu? Cepat berikan sertifikat yang aslinya, jangan main-main dengan harta milik suami!"
Aini menoleh ke arah Cilla, menatapnya dengan pandangan menjijikkan seolah melihat kotoran.
"Harta milik suami? Kamu bicara tentang siapa, Cilla? Kamu yang menyelinap ke rumah orang lain, tidur di ranjang istri sah, dan sekarang berani bicara soal hati nurani? Untuk apa saya memalsukan aset yang memang saya beli dengan uang saya sendiri? Jangan banyak bicara lagi, atau saya panggil security komplek untuk menyeret kalian keluar seperti sampah!"
Cilla mulai terisak, ia mengguncang-guncang lengan Varo yang masih mematung.
"Mas! Katanya ini rumah kamu! Kamu bilang aku akan jadi ratu di sini dan tidak akan kekurangan apa pun! Tapi kenapa di sertifikat ini ada nama dia? Kenapa namamu tidak ada, Mas?! Jawab aku!"
Varo tertunduk lesu, bahunya merosot seolah beban dunia menimpanya.
"Iya, Varo... jelaskan pada Ibu!" timpal Ibu Sarah yang masih tidak terima.
"Bukankah kamu yang membayar semua uang mukanya? Harusnya ini rumah kamu, dan sebagai ibu, ini juga hak Ibu!"
Varo memberanikan diri menatap Aini, mencoba mencari sisa-sisa cinta di mata istrinya yang kini sedingin es.
"Aini... bukankah kita membeli rumah ini dalam ikatan pernikahan? Kita sudah bersama lima tahun. Logikanya, uangmu adalah uangku juga. Mas merasa Mas juga punya hak atas rumah ini karena Mas yang mendampingimu selama ini."
Mendengar logika yang sangat tidak tahu malu itu, tawa Aini kembali meledak. Kali ini tawanya terdengar lebih keras dan penuh penghinaan. "Punya kamu, Mas? Dan kamu bilang 'kita' membeli bersama? Hahaha! Benar-benar komedi yang sangat lucu!"
Aini tiba-tiba berhenti tertawa dan wajahnya berubah menjadi sangat menyeramkan. "Dengarkan baik-baik agar otak kalian yang bebal itu mengerti. Rumah ini dibeli menggunakan uang pribadi saya seratus persen! Tidak ada satu rupiah pun uang hasil kerjamu yang masuk ke dalam proses pelunasan rumah ini. Jadi berhenti berhalusinasi kalau kamu punya hak di sini!"
"Mas tahu itu uangmu, Aini... tapi kita ini suami istri," Varo masih mencoba bernegosiasi dengan argumen yang lemah.
"Harta dalam pernikahan itu adalah harta bersama. Kamu tidak boleh seegois ini hanya karena namamu yang tercantum di sana."
Aini melangkah maju, membuat Varo refleks mundur karena aura kemarahan Aini yang begitu kuat.
"Ingat ya, Mas Varo yang terhormat. Uang yang saya gunakan untuk membeli rumah ini adalah hasil tabungan saya sejak saya masih perawan, jauh sebelum saya mengenal pria benalu seperti kamu! Saya sengaja merahasiakannya karena saya tahu tipe keluarga seperti apa yang akan saya hadapi."
Aini menarik napas dalam, matanya menyala. "Waktu saya mulai bekerja di perusahaan Artha Kencana Group sebagai sekretaris pribadi Tuan Artha, saya mulai menabung gaji saya yang saat itu sudah sangat besar. Dalam setahun pertama, tabungan saya terkumpul 70 juta. Tapi saya menahan diri karena ingin rumah yang benar-benar bagus. Setelah kita menikah dan menyewa rumah ini, pemiliknya butuh uang mendesak dan menjualnya murah. Saya langsung menjual seluruh perhiasan emas simpanan saya sebelum menikah dan menambah sisa tabungan saya untuk melunasinya sebesar 85 juta secara tunai! Itu harta bawaan saya, Mas! Tidak ada istilah harta gono-gini untuk uang yang sudah saya miliki sebelum namamu ada di KTP-ku!"
Cilla berteriak tidak terima, mencoba mencari celah untuk menghina.
"Cih! Sekretaris?! Mbak, jangan mengarang cerita! Kamu itu cuma lulusan SMK, mana mungkin perusahaan besar seperti Artha Kencana Group mau mempekerjakan sekretaris hanya lulusan SMK? Kamu pasti cuma karyawan rendahan yang gajinya habis buat beli bedak! Kamu pasti bohong soal tabungan itu!"
Aini menatap Cilla dengan rasa iba yang menghina.
"Kamu pikir kenapa saya dulu bilang ke Ibu dan kamu kalau saya cuma staf administrasi biasa? Itu karena saya tahu kalian adalah tipe orang yang tamak dan parasit! Kalau kalian tahu gaji saya puluhan juta, pasti kalian sudah merampok saya habis-habisan sebelum saya bisa memiliki apa pun. Saya diam bukan karena saya bodoh, Cilla. Saya diam karena saya sedang membangun benteng untuk melindungi diri saya dari orang-orang seperti kalian!"
"Aini! Berani kamu menghina Ibu dan istriku!" bentak Varo, mencoba menunjukkan taringnya yang sudah tumpul.
"Kenapa? Tersinggung? Memang itu kenyataannya, kan? Kamu pria yang tidak tahu terima kasih, Varo! Kamu lupa, berkat siapa kamu bisa keluar dari pekerjaan sebagai cleaning service dan menjadi karyawan tetap di kantor? Kamu yang datang bersimpuh di kaki saya, memohon agar saya membujuk Tuan Artha agar memberimu kesempatan! Berkat surat rekomendasi saya, kamu bisa bergaya jadi manajer sekarang. Tapi apa balasanmu? Kamu malah membawa pelakor ini ke rumah yang saya beli!"
Varo terdiam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu seolah terikat. Semua yang dikatakan Aini adalah kebenaran pahit yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari Ibu Sarah dan Cilla demi menjaga martabatnya yang palsu.
Ibu Sarah yang sudah kehilangan akal sehat kembali mencoba menerjang Aini.
"Dasar perempuan iblis kamu! Menyesal saya membiarkan Varo menikahimu!" Ia berlari ingin mencakar wajah Aini, namun Aini dengan gerakan gesit menghindar ke samping. Karena tenaganya yang serampangan, Ibu Sarah justru terjerembap dan jatuh tersungkur di lantai marmer.
"Awww! Aduh, pinggangku... lututku!" Ibu Sarah menjerit kesakitan.
"Ibu!" teriak Varo dan Cilla serentak. Mereka segera mengerumuni wanita tua itu, sementara Aini hanya berdiri bersedekap dengan wajah datar.
"Mbak Aini, kamu keterlaluan! Kamu sengaja mencelakai mertua sendiri!" tuding Cilla dengan wajah penuh kebencian.
"Jaga mulutmu. Semua orang melihat dia jatuh sendiri karena kebodohannya. Jangan pernah coba-coba memutarbalikkan fakta di depan saya," jawab Aini ketus. Tanpa membuang waktu lagi, Aini berbalik dan masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan dentuman yang keras sebagai tanda berakhirnya diskusi.
Di dalam kamar, Aini terduduk di tepi ranjang, dadanya masih naik turun.
"Astaghfirullah, sabar Aini... kuatkan hati. Jangan biarkan mereka menghancurkan sisi baikmu," gumamnya pelan. Ia meraba tasnya untuk mencari ponsel, namun ia baru tersadar ponselnya sudah menjadi puing akibat amukan Varo tadi.
"Varo benar-benar sudah gila. Ponsel mahal itu aku beli dengan hasil kerjaku sendiri, dan dia menghancurkannya begitu saja," gerutunya pedih.
Setelah beberapa saat menenangkan diri dan merasa suasana di luar mulai sepi, Aini keluar menuju dapur. Ia melirik jam dinding dan terperanjat melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam.
"Ya Allah, sudah lewat waktu makan malam! Gara-gara berdebat dengan para pengkhianat itu, aku sampai lupa untuk makan. Jangan sampai maagku kambuh karena telat makan."
Aini segera menuangkan segelas air putih dan meminumnya dengan sekali teguk. Rasanya sangat lega. Ia teringat bungkusan soto babat dan nasi yang ia beli saat pulang tadi. Beruntung, bungkusan itu masih aman di mobil. Setelah mengambilnya, Aini memutuskan untuk menunaikan sholat Isya terlebih dahulu agar hatinya lebih tenang sebelum menyantap makan malamnya.
Usai sholat, Aini duduk di meja makan dengan tenang, menikmati soto babatnya yang aromanya sangat menggugah selera. Tiba-tiba, Cilla muncul dari arah kamar belakang dengan langkah yang diseret, menatap Aini dengan pandangan penuh dendam sambil membuka pintu kulkas.
"Enak ya makan mewah sendirian, sementara Ibu lagi meringis kesakitan di kamar," sindir Cilla dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Aini tetap tenang, ia menyuapkan sesendok nasi dan kuah soto ke mulutnya, sama sekali tidak menganggap keberadaan Cilla.
"Mertua jatuh sampai memar-memar, bukannya dibantu malah asyik makan enak. Benar-benar menantu yang tidak punya hati," lanjut Cilla lagi, terus memancing emosi Aini.
BRAKK!
Aini menggebrak meja dengan sangat kuat hingga piringnya bergetar. Ia berdiri dan menatap tajam ke arah Cilla.
"Kalau mau bicara, bicara langsung di depan muka saya! Jangan jadi pengecut yang cuma bisa menyindir! Ingat ya, kamu di sini itu cuma NUMPANG, perempuan j@lang! Jadi jangan sok mengatur di rumah saya!"
Telunjuk Aini menunjuk tepat di depan hidung Cilla.
"Lagipula, dia itu mertua KAMU sekarang, bukan mertua aku lagi. Urus saja sendiri beban yang kamu ambil itu. Siapkan mentalmu, Cilla. Sebentar lagi kamu akan tahu bagaimana rasanya setiap hari dicereweti dan dimintai uang oleh wanita tua itu tanpa ada aku yang membayari semuanya."
Aini membereskan piringnya ke wastafel. Sambil mencuci, ia kembali berujar tanpa menoleh, "Kenapa diam? Mulai takut membayangkan masa depanmu? Makanya, kalau mau jadi istri itu cari pria yang mandiri, bukan malah mencuri suami orang yang hidupnya pun masih numpang di ketiak istri sah. Sekarang, nikmati saja penderitaan yang kamu pilih sendiri."
Aini melenggang pergi dengan anggun, meninggalkan Cilla yang mematung dengan wajah pucat di dapur.
Di ruang tengah, Varo menghampiri Cilla dengan wajah yang sangat kelelahan.
"Sayang, kamu sudah masak? Mas, Ibu, dan Bapak sudah sangat lapar."
"Belum ada makanan, Mas!" sahut Cilla ketus.
"Lho, kenapa belum? Kan sudah jam begini?"
"Bahan makanan di kulkas habis semua! Cuma sisa mie instan tiga bungkus. Ibu bilang uang belanjanya sudah habis," keluh Cilla dengan nada tinggi.
Varo terkejut bukan main.
"Habis?! Baru empat hari yang lalu Mas kasih Ibu 700 ribu. Masa sudah ludes?"
"Tanya saja sama Ibu kamu yang boros itu! Lagian Mas kenapa kasih uangnya ke Ibu terus? Kenapa bukan ke aku? Begini kan jadinya, entah dipakai apa saja sama Ibu!" gerutu Cilla kesal.
Varo mengusap wajahnya dengan kasar, merasa kepalanya ingin pecah.
"Ya sudah, Mas pesan lewat ojek online saja. Mas pesan soto saja ya, tadi kelihatannya Aini makan soto."
"Iya, pesan soto yang spesial Mas! Tadi Mbak Aini makan soto babat baunya enak sekali, tapi dia sombong banget, tidak mau berbagi sama sekali. Malah dia maki-maki aku lagi, dia sebut aku j@lang!" adu Cilla dengan nada manja yang dibuat-buat agar Varo membela.
Varo menghela napas panjang.
"Aini sekarang sudah berubah total. Ini pasti karena hasutan dari pria bernama Adit itu. Dia pasti sudah mencuci otak Aini agar memusuhi kita semua."
"Benar Mas, aku setuju. Jangan-jangan Mbak Aini itu memang sudah selingkuh lebih dulu dengan si Adit itu sebelum Mas dekat denganku," hasut Cilla lagi, mencoba memutarbalikkan kenyataan agar Varo tidak merasa bersalah.
Varo terdiam, namun benih-benih kecurigaan yang ditanam Cilla mulai tumbuh di pikirannya. Ia masuk ke kamar ibunya untuk melihat keadaan.
"Gimana, Bu? Masih sakit?"
"Lutut Ibu nyut-nyutan, Varo. Kamu harus ambil tindakan! Jangan sampai rumah ini jatuh ke tangan perempuan mandul itu. Ibu tidak akan rela kalau kita harus terusir dari sini!" ucap Ibu Sarah dengan tatapan penuh dendam.
"Tapi Bu, Aini punya bukti kuat kalau ini harta pribadinya..."
"Halah, jangan bodoh! Kamu harus tuntut harta gono-gini, Varo! Dia punya usaha rumah makan yang sukses kan? Tuntut saja usaha itu! Biar tempat itu dijual dan kamu ambil setengah hasilnya. Jangan sampai kita keluar dari sini dengan tangan kosong. Kita harus buat dia miskin lagi!" hasut Ibu Sarah dengan licik.
Varo menatap ibunya, dan perlahan rasa tamak mulai menguasai kewarasannya. Di balik dinding rumah itu, sebuah rencana jahat baru mulai disusun untuk menjatuhkan Aini sekali lagi.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like dan komen ya dan dukungannya juga terima kasih 😊