Memiliki suami tampan, mapan, baik dan penyayang adalah impian semua wanita, tapi tidak bagi Bella.
Empat kriteria yang di idamkan para wanita justru menjadi musibah buat Bella. Nathan, pria yang ia nikahi, ia percaya, ternyata mengkhianatinya. Diam diam Nathan menikahi wanita lain di kota tempat ia bekerja. Kepulangan Nathan kembali ke rumah harusnya menjadi kabar yang membahagiakan Bella.
Namun, kenyataan berbicara lain, Nathan pulang bersama istri barunya.
Hancur? sudah pasti. Namun luka yang Bella terima tidak hanya sampai di situ. Nathan dan ibu mertua menuduh Bella telah selingkuh dan tidak mengakui darah dagingnya sendiri.
Nathan. "Dia bukan putraku!"
Greta. "Akhirnya rencana malam itu membuahkan hasil, akan kusimpan rencana besar ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menculik Bella
Setelah bertemu dengan Bella, Rafka tidak langsung pulang. Ia pergi ke taman di mana dulu ia menjadi pengamen. Di sebuah taman tak jauh dari kediaman Bella. Bahkan ia lupa pesan papanya yang memintanya untuk segera pulang.
Sesampainya di taman, ia turun dari mobil sambil membawa Biola kesayangannya lalu berjalan ke tempat biasanya ia merenungkan diri. Saat ini tepat di depan matanya, ada kursi bekas dulu Bella menangis. Rafka kembali mengingat saat Bella memperkenalkan dirinya namun ia membalasnya dengan candaan sehingga Bella kesal dan pergi meninggalkannya.
"Bella." Gumamnya. Ia menundukkan kepala, kisah cintanya mendadak menjadi rumit setelah Bella mengetahui identitas dia yang sebenarnya, di tambah ancaman dari Papanya.
Rafka duduk di bawah pohon, seulas senyum tersemat di sudut bibirnya menatap bangku yang kini hanya menjadi kenangan. Kemarahan Bella atas kebohongan yang tidak ia sengaja perbuat telah melukai wanita yang sangat ia cintai. Haruskah ia mengalah pada keputusan papanya atau berjuang demi cinta yang ada di hatinya?
Satu jam berlalu Rafka duduk termenung, menikmati angin yang sepoi-sepoi dan kebebasan hudupnya sewaktu menjadi pengamen. Ia bisa menjadi siapa saja yang dia inginkan. Berbeda ketika dia menjadi Rafka anak seorang pengusaha, hidup dan pilihannya ada di tangan Tuan Nizam.
Tak lama kemudian, Rafka beranjak dari tempat duduknya dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Berjalan dengan langkah pasti, Rafka memutuskan untuk memperjuangkan cintanya apapun jalan yang harus ia tempuh. Mimpi buruk itu, saat ia tengah mabuk dulu. Semakin hari semakin menghantui. Ada apa dengan malam itu?
Baru saja Rafka memasuki rumah, ia di sambut dengan sorotan tajam dari kedua bola mata Papanya. Nizam yang sendari tadi menunggu Rafka pulang terlihat kesal karna lagi dan lagi Rafka masih saja tidak menurutinya.
"Maaf, Pa. Tadi Rafka-"
"Pergi kerumah perempuan tadi kan?" sela Nizam memotong ucapan Rafka. "Jangan sekali-kali lagi kau berdekatan dengan perempuan itu. Dia tidak sederajat dengan kita." Timpal Nizam.
"Pa, waktu sebelum Rafka pergi ke luar negri. Papa sudah berjanji pada Rafka. Apapun yang Rafka lakukan dan Rafka inginkan Papa tidak akan mencampurinya lagi. Tapi sekarang apa?" protes Rafka.
"Untuk masalah jodoh. Hanya Papa yang berhak memilihkan pasangan untukmu. Dan ingat Rafka!" tunjuknya ke arah Rafka. "Papa sudah memilihkan calon terbaik dan sederajat dengan kita dan kau mau tidak mau harus tetap menerima keputusan Papa." Tegas Nizam tanpa mau di ganggu gugat.
"Pa. Papa enggak bisa begitu, ini masalah hati Pa. Rafka hanya menginginkan Bella dan-"
"Kau turuti Papa atau wanita itu menerima akibat atas penolakan kamu!" ancam Nizam menyela kembali perkataan Rafka. Dengan kesal Nizam melangkah pergi memasuki kamar pribadinya
Rafka berjalan gusar menuju kamarnya, satu sisi ia benar-benar menginginkan Bella dan satu sisi lagi, Papanya menentang akan kedekatannya dengan Bella.
Setibanya di kamar, Rafka melangkah menuju balkon kamarnya. Ia merenung memikirkan Bella dan berusaha supaya Bella mau memaafkannya.
Ia duduk di kursi dan tersenyum menyeringai. "Maafkan aku pa..mungkin kau bisa mengaturku tapi untuk urusan hati, aku punya cara sendiri untuk membuktikannya kalau pilihanku tidak salah." Gumam Rafka pelan.
***
Dua minggu sudah Rafka berusaha membujuk Bella. Namun Bella hanya diam tanpa membalas perkataannya. Kali ini Rafka benar-benar bertekad supaya Bella bisa membuka mulutnya.
Sore harinya, saat Bella sedang menunggu ojek online, tiba-tiba saja dari arah belakang seseorang menutup mulut dan memasukannya ke dalam mobil secara paksa.
Bella mencoba memberontak, namun hasilnya nihil, mobil yang ia tumpangi bersama ke empat orang-orang yang menyekapnya sudah bergerak jauh meninggalkan halaman kantor.
"Siapa kalian? apa yang kalian inginkan!?" pekik Bella, masih mencoba memberontak.
"Diamlah Nona! kalau kau ingin selamat sebaiknya kau diam!" tegas salah satu dari mereka memegangi Bella sementara seorang lainnya mengikat tangan Bella agar tidak memberontak.
"Tidak. Lepaskan aku! Tolooong!" teriaknya dan spontan mulut Bella mereka tutup dengan lakban tak luput dari mata Bella, mereka tutup dengan kain hitam tebal.
"Mereka akan membawaku kemana dan apa yang akan mereka lakukan?" batin Bella ketakutan. "Rafka tolong aku!" Jeritnya dalam hati.
***
Masih dengan mulutnya yang di lakban, matanya yang tertutup dan tangannya diikat, Bella berdiri mematung dan bersikap waspada akan apa yang akan mereka lakukan padanya.
"Apa yang kalian inginkan!? kalian benar-benar bajingan, beraninya terhadap perempuan!" maki Bella setelah lakban yang menutup mulutnya di buka, Bella mengumpat dan mengeluarkan kekesalannya.
Salah satu pria tersebut hanya mengulum senyum melihat Bella mewaspadainya. Dengan perlahan Riko membuka kain yang menutupi mata Bella.
Setelah terbuka, Bella mengedipkan-ngedipkan dan memperjelas penglihatannya. Kedua matanya melebar saat melihat Riko yang berada di hadapannya tengah tersenyum mengembang ke arahnya.
"Kau." tunjuknya ke arah Riko. "Apa-apaan ini Riko, kau sudah membuatku takut!"
"Kau terlalu angkuh Bella, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu." Ucap Rico berjalan lebih dekat ke arah Bella.
"Kau sudah gila Riko..." Ucap Bella dengan nada gemetar, tatapannya tajam ke arah Riko. Berjalan mundur kebelakang menghindari Riko yang terus mendekat.
..........
kesabaran membawa kebahagian buat bella dan kel nya
pdhl ms penasarn sm papa ny bella
smg dimas baik3 sj
oh y thor kbr ayhny bella gimn ap sudh meninggl atu msi hdup
kbr ibu margaret gimn thor
msi adlg rhasua yg blm trbingkar tgu aja