Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.
Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.
Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.
Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.
Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.
Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?
Ikuti Kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Bertemu mantan suami lagi
Devi tengah menimbang-nimang gaun mana yang akan ia kenakan untuk pergi ke pesta malam ini. Revan sudah memberikannya dua pilihan gaun berwarna biru yang mewah.
"Yang ini aja deh," katanya, menjatuhkan pilihan pada gaun biru malam polos dengan potongan yang elegan namun sederhana.
Setelah memoles wajahnya tipis dengan riasan natural, Devi keluar dari kamarnya.
"Kak Devi!!"
Rio langsung berlari memeluk kedua kakinya. Devi tersenyum lembut sembari mengusap pelan kepala bocah itu.
"Kakak cantik banget. Mau ke mana?"
"Ke pesta, sayang," jawab Devi sambil berjongkok agar tingginya sejajar dengan Rio.
"Pasti perginya sama pacar Tante, kan?"
Devi terkekeh pelan, lalu mengangguk sambil mencubit gemas pipi Rio.
"Rio, makan dulu. Sini, Nak," kata Fitri yang muncul sambil membawa mangkuk di tangannya.
"Makannya sama Mama aja, Bi," rengek Rio.
"Mama kamu lama. Sini, biar Bibi suapin," kata Fitri lembut, mencoba membujuk keponakannya itu.
"Makan dulu gih," kata Devi menimpali.
Rio mengangguk patuh lalu duduk manis di samping Fitri.
Sementara itu, Devi mengeluarkan ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam.
Tepat pada saat itu, ponselnya berdering—Revan menelepon.
"Halo, sayang?" suara Revan terdengar lembut dari seberang sana.
"Aku masih di jalan. Kamu udah siap?"
"Iya, udah. Kamu jangan ngebut-ngebut ya.
Jalanan lagi licin," jawab Devi mengingatkan.
"Siap, sayangku."
Devi menutup ponselnya lalu berdiri di depan pintu rumah, menunggu di luar. Suasana malam terasa dingin dan gelap, hanya diterangi oleh cahaya lampu teras.
Tak lama kemudian, sorot lampu mobil mengarah kepadanya. Devi tahu pasti itu Revan. Benar saja, pria itu turun dari mobilnya, sedikit berjinjit saat melangkah menghindari tanah yang becek.
"Lama nunggu?" tanya Revan sambil menghampiri.
"Nggak lama kok."
"Cantik banget kamu, ih. Pengen tak cium," goda Revan.
"Biasa aja, ih," Devi merespons sambil menunduk malu.
"Kamu itu definisi cantik plus manis. Nggak bosen-bosen dipandang," Revan menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Ah, udah berhenti gombalnya. Nanti aku meleleh, nih," kata Devi dengan senyum yang terus mengembang.
"Mama kamu di dalam?" tanya Revan.
"Hum. Ada Rio juga."
"Loh, tumben sepupu kamu ada di sini?"
"Biasa... orang tuanya lagi berantem, jadi Widya bawa Rio ke sini," jawab Devi.
"Om Revan!!" Rio berseru girang saat melihat pria itu.
Revan terkekeh, lalu duduk di samping Rio sambil mengelus rambut bocah tersebut.
"Selamat malam, Bibi. Rio," sapa Revan ramah.
"Ini... Om ada bawain kue. Makan ya," katanya sambil menyerahkan kotak kue.
"Makasih, Om!"
"Mau berangkat sekarang, Revan?" tanya Fitri.
"Iya, Bi. Bentar lagi juga pestanya mulai."
"Bibi titip Devi ya. Takut aja kalau dia nanti dilirik-lirik sama cowok di sana. Tau kan kamu seberapa banyaknya cowok yang suka sama dia?" ujar Fitri dengan nada menggoda diselipi tawa kecil.
"Nggak akan aku biarin, Bi. Devi cuma milik aku. Bakalan aku colok mata mereka kalau berani mandang cewek aku," kata Revan sambil terkekeh.
Setelah berbincang sebentar, Revan dan Devi berpamitan. Kini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Cup!"
"Cantik banget sih ayang aku," kata Revan sembari mengecup punggung tangan Devi.
Devi mengulum senyum, merasa sangat salah tingkah.
"Revan..."
"Hum?"
"Udah kamu cari belum tempat tinggal Alina?"
"Ck, nanti ah. Gampang itu urusannya."
"Kalau masalah kamu sama dia selesai, kan bagus. Lebih cepat, lebih baik."
"Kamu nggak sabar ya pengen nikah sama aku? Aku juga sih," kata Revan terkekeh.
"Bukan itu aja masalahnya, kan? Kalau iya beneran anak kamu, coba pikir berapa tahun kamu ngelewatin masa tumbuh kembangnya dia."
Revan terdiam sejenak.
"Tapi 80% aku yakin itu anaknya Leon. Kamu dengar sendiri kan dia ngaku," kata Revan.
Devi tidak lagi menyahut. Mobil kembali hening sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah mewah bak istana.
Revan membukakan pintu untuk gadis itu sembari mengulurkan tangannya.
"Thanks," kata Devi seraya menyambut uluran tangan kekasihnya.
"Selamat datang, Tuan Revan," kata Giorgio, direktur perusahaan properti internasional sekaligus tuan rumah pesta itu.
"Oh, ini kekasihmu?" tanyanya lagi.
Revan mengangguk mantap.
"Devi," kata Devi seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan sopan.
"Wah, she is so beautiful," kata Giorgio sambil memandangi Devi dari atas ke bawah.
Revan berdehem, lalu menarik pinggang Devi agar lebih mendekat ke arahnya.
"But she's mine," katanya dengan nada datar.
Giorgio terkekeh.
"Silakan nikmati hidangan yang tersedia," katanya.
Setelah pria itu pergi, wajah Revan tampak cemberut.
"Baru masuk udah ada yang muji kamu cantik," gerutu Revan.
"Yah, gimana dong... aku emang beneran cantik," kata Devi terkekeh pelan.
Revan berdecak kesal lalu menarik tangan Devi, masuk lebih dalam ke pesta mewah tersebut.
Sementara itu, sebuah mobil lain juga baru saja tiba. Sepasang kekasih yang tak lain adalah Leon dan Alina.
"Nggak apa-apa kan Aeris tinggal di apart kamu?"
"Ck, nggak apa-apa sayang. Kayak sama siapa aja."
"Takut aja nanti kalau Mama kamu datang terus marahin Aeris, apalagi dia cuma sendiri," kata Alina khawatir.
"Nggak bakalan, Mama mana tahu password apartemen aku," kata Leon menenangkan.
"Sini, pegang tangan aku," lanjutnya lagi.
Alina mengaitkan lengannya ke lengan Leon, lalu mereka masuk ke dalam pesta yang sudah tampak ramai dengan kehadiran para kolega bisnis.
"Kita mau ke mana, Leon?" tanya Alina.
"Sana dulu, aku laper," kata Leon terkekeh pelan.
Sementara itu di meja lain, Devi dan Revan tengah duduk berhadapan.
"Revan, kamu jangan minum ya," kata Devi mengingatkan.
"Dikit aja, nggak bakal bikin aku tepar, Yang," kata Revan.
Devi mendengus. Dia kembali menikmati dessert-nya sambil memperhatikan sekeliling.
Matanya menyipit saat melihat seseorang dengan gaun ungu di kejauhan, tengah tertawa bersama seorang pria.
"Kayak Alina..." gumamnya lirih.
"Hum? Apa, sayang?" tanya Revan.
"Nggak apa-apa," jawab Devi cepat.
Di sisi lain, Alina merasa heran melihat Leon makan dengan sangat lahap. Sudah tiga porsi dessert ia habiskan.
"Kamu kayak orang nggak makan aja," tegur Alina.
"Laper, Rin."
"Hati-hati, ntar kalau kebanyakan makan tubuh kamu jadi gembrot loh."
"Kalau aku gendut, kamu bakal cari yang lain?"
"Cari nggak ya..." kata Alina sembari menyipitkan matanya menggoda.
Tes! Tes! Tes!
Suara seorang pengacara melalui mikrofon membuat atensi semua tamu beralih ke arah depan.
"Malam ini kita akan berpesta! Merayakan kemenangan Tuan Giorgio atas keberhasilan proyek pembangunan pusat bisnis internasional di Dubai!"
"Silakan kalian ambil topeng domino kalian dan segera pakai," lanjutnya lagi.
"Lah? Harus pakai itu kah?" tanya Alina.
"Maybe, biar seru," jawab Leon.
Setelah semua orang mendapatkan dan memakai topeng mereka, tiba-tiba saja lampu menjadi padam. Hanya tersisa sedikit cahaya temaram dari lampu-lampu hias di sekitar ruangan.
"Tenang semuanya! Tidak ada kendala listrik. Ini memang sudah direncanakan!" seru pembawa acara tersebut.
"Leon, kamu jangan jauh-jauh ya," kata Alina waswas.
"Iya, aku ada di samping kamu," sahut Leon.
"Kalian akan berdansa dengan pasangan masing-masing selama tiga menit. Setelah itu, akan dilakukan pergantian pasangan dansa secara acak sebagai bagian dari permainan malam ini. Ini hanya hiburan semata, jadi tidak perlu saling cemburu!" lanjut host itu lagi.
"Kita nggak usah dansa deh," Revan berdecak kesal.
"Ih, tapi aku pengen," sahut Devi.
"Aku nggak rela kalau orang lain megang tubuh kamu," gerutu Revan.
"Cuma tiga menit. Lagian kan dansanya juga biasa aja, nggak gimana-gimana," bujuk Devi.
Musik berirama klasik ala Eropa mulai mengalun.
Semua orang yang hadir mulai berdansa dengan pasangan masing-masing.
Devi mengalungkan tangannya di leher Revan. Meskipun wajahnya tertutup topeng, Revan tetap tampak tampan di bawah cahaya temaram ballroom tersebut.
"I love you..." bisik Revan pelan.
Revan tersenyum, lalu memiringkan kepalanya. Ia mengecup bibir gadis itu dengan lembut di tengah gerakan dansa mereka. Tangannya yang melingkar di pinggang Devi semakin mengerat, seolah ingin memeluknya lebih dalam.
Sementara itu, Alina berdansa dengan Leon. Beberapa kali ia menghela napas kasar karena Leon yang sebenarnya tidak mahir berdansa terus-menerus menyandung kakinya.
"Sorry... sorry..." kata Leon sambil cengengesan.
Tiga menit berlalu, hingga saatnya pergantian pasangan dansa dilakukan secara acak.
Revan terpaksa melepas Devi dan berbalik menyambut pasangan barunya di sebelah kanan.
"Awsh! Kau menginjak kakiku!" seru si perempuan.
Revan terdiam, ia merasa mengenali suara itu. Matanya menatap tajam wajah perempuan di hadapannya yang tertutup topeng.
Alina dengan cepat menarik tangan pria di depannya, lalu mulai berdansa kembali mengikuti irama.
Wangi tubuh pria itu tiba-tiba menyusup ke dalam ingatannya, mengingatkannya pada sosok yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam di lubuk hatinya.
"Kok aku jadi gugup gini ya..." gumamnya dalam hati.
Tanpa disadari, Alina kini tengah berdansa dengan Revan.
"Siapa namamu?" tanya Revan dengan nada suara yang rendah.
"Alina."
Seketika itu juga, Revan menghentikan langkah dansanya. Ia membuka topengnya dengan cepat, lalu meraih topeng Alina dan menariknya lepas.
Keduanya sama-sama terperanjat saat saling menatap wajah satu sama lain.
"Apa yang lo lakuin di sini!?" tanya Revan dengan nada tajam, berusaha menahan gejolak emosi yang tiba-tiba membuncah di dadanya.
buat alina n leon bahagia thor
sdah tua jg msh ky abg
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏