Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ganteng Ganteng Kok Muntah
Pagi berikutnya, Anand sudah duduk dikursi meja makan. Ia biasa menunggu Hawa dan Fariz, sambil melihat pasar otomotif diponselnya.
"Tuan, apa tuan ingin sarapan duluan?" Tanya Timbul
"Tidak, nanti nunggu anak anak turun saja" Jawab Anand sambil sibuk menyekrol laman yang ia sukai
"Oh iya tuan"
Timbul memutari Anand sambil melihat Krah baju Anand sedikit kurang rapih
"Tuan, maaf tuan, krah baju belakang tuan kok kurang rapih"
"Kurang rapih" Anand otomatis membenahi krah bajunya.
"Maaf tuan, sebentar" Timbul membenahi krah belakang milik Anand
Bersamaan itu, Hawa turun terlebih dahulu dibanding Fariz. Ia mendekati meja makan, dan melihat tangan kurang ajar Timbul sudah memegang megang krah kemeja milik Anand
"Mbok, kenapa dengan baju papi?" Hawa berjalan mendekat
"Anu non, krah tuan tadi kurang rapih" Jawabnya sambil tersenyum
Hawa merangkul Anand, tapi netranya terus melirik Timbul tak suka
"Besok lagi jangan begitu mbok. Simbok itu urasannya makanan, bukan pakaian" Ketusnya
"Iya non maaf" Timbul menjawab sambil senyum, membuat Hawa eneg melihatnya
"Kalau sudah disiapkan, biar kami sarapan. Dan papi, biar aku yang ambilin" Tangan Hawa terangkat, mempersilahkan Timbul untuk tenggelam lagi
"Duduk nak" Anand menyuruh Hawa untuk duduk didepan samping kiri
"Lihat nak, ternyata showroom papi ada yang ngiklanin" Anand memperlihatkan postingan menandakan toko dirinya sebagai aktifis jual beli otomotif
"Padahal papi nggak pernah pasang postingan?" Tanya Hawa
"Nggak pernah. Papi hanya menyimak saja"
"Pagi semua" Ucap Fariz tiba tiba
"Pagiii" Jawab Anand dan Hawa
Anand menoleh keatas "Duduk sebelah sini nak" Anand menyuruh Fariz untuk duduk dikursi berhadapan dengan Hawa, atau yang biasa ditempati oleh Wahidah
Hawa berdiri "Papi mau sarapan pakai apa?"
"Pakai ini, ini, ini" Tunjuk Anand pada lauk yang ada didepannya
"Ini pih. Kalau abang mau pakai apa?" Melayani Anand, sekaligus menawari Fariz
"Samain sama papi" Fariz
Hawa sudah mengambilkan sarapan untuk mereka berdua, dan terakhir untuk dirinya sendiri.
-
Setelah sarapan usai, mereka sudah berdiri diteras, untuk berangkat kerja dan kuliah
"Showroom membutuhkanmu. Nanti pulang dijemput pak Casbari ya, dan langsung ke showroom" Titah Anand
Hawa memandang Fariz
"Nggak pa apa, dijemput pak Casbari ini" Bisik Fariz
"Apa mau pakai mobil sendiri milik mami" Tawar Anand
Fariz langsung melotot terkejut "Pih, memangnya dia bisa nyetir" Fariz tidak percaya
"Tanyakan saja sama anaknya" Anand menunjuk Hawa dengan netranya
"Bener kamu bisa? mana sim B mu?" Tangan Fariz sudah melayang diudara, untuk meminta SIM milik Hawa
Hawa mengambil dompet didalam tasnya, langsung direbut Fariz karena penasaran
"Sini, biar abang cek, siapa tau kamu bohong" Fariz masih memilah kartu yang berjajar didompet Hawa "Ini kamu punya ATM, kok kalau dikasih kartu abang, kamu nggak mau?" Masih sibuk mencari kartu yang ia inginkan
"Kan sudah Hawa bilang, Hawa maunya tunai bang" Hawa
"Terus, gunanya ATM yang kau simpen untuk apa?"
"Menunggu transferanlah bang"
"Dari??"
"Dari abang" Hawa tersenyum lebar
Anand yang melihat anak dan mantu berantem, ikut geli
"Sudah, sana berangkat. Ntar papi tunggu oke. Papi pergi dulu, jangan lupa, pulang kuliah langsung keshowroom ya Hawa. Papi tunggu beneran" Anand masuk kedalam mobil miliknya
"Hah, ini dia. Memang kamu biasa nyopir beneran?" Fariz belum yakin
"Nggak percaya yaudah" Rajuknya
"Baiklah, kali ini abang percaya. Sekarang, kamu yang nyetir. Ini kontaknya" Hawa menerima kontak tersebut, dan masuk kemobil bagian kemudi
"Mana ponselmu" Tangan Fariz menengada
"Didalam tas" Hawa menjawab sambil membelokkan mobil agar bisa keluar dari halaman rumah ini
Fariz masih ragu
Dan benar, setelah dijalan raya, Hawa menancap gas dengan kecepatan tinggi. Fariz yang tadinya fokus dengan ponsel, kini beruba tegang, bukan takut nyrempet atau apa. Sekarang takutnya takut terbang.
"Hawa, kita masih pengantin baru. Jangan ngebut !! kasihan nyawa kita Hawa !!" Fariz pegangan dengan kuat. Tangan kiri pegangan dibagian atas pintu, sedang tangan kanannya pegangan jok milik Hawa "Turunin Hawa turunin. Abang bilang turunin!!!"
"Abang, Hawa hafal medan jalan ini.. Jadi abang merem saja"
"Ya Tuhan Hawa. Kamu perempuan kok brutal begitu modelnya. Huweeeek. Hawa minggir, abang mau muntah Hawaaaaa huweeek"
Hawa langsung menepihkan mobilnya
Ciiiiittt
Fariz langsung keluar, dan muntah muntah dipinggir jalan. Hawa nyamperin dan memijit tengkuk Fariz "Kok bisa mabok sibang" Tanya Hawa heran
"Mabok sibang mabok sibang" Kesal Fariz
"Ini tissue" Hawa memberikan beberapa lembar tissue pada Fariz
"Kepalaku pusing Hawa" Fariz berdiri "Kamu belajar nyetir dimana sih. Mana kontaknya?"
"Abang yakin bisa. Katanya abang pusing?"
"Kalau yang nyetir kamu, abang makin pusing"
Mobil mulai berjalan, dengan kecepatan sedang
Hawa tersenyum "Lucu, orang gagah ganteng, berkacamata hitam, pakai jas. Eh, muntah muntah dijalan ahahaha" Ejek Hawa
"Sudah, kau jangan menghina. Bukakan botol air mineral ini"
Hawapun menurut "Nih"
"Jawab pertanyaanku Hawa. Sebelumnya, kamu kerja sebagai apa? abang nggak percaya, kalau kamu hanya tau doang"
"Sopir ojek"
"Nggak mungkin"
"Mungkinnya?"
"Kamu pembalap ya?"
"Ya, pembalap liar disirkuit sentul"
"Halah" Fariz membalikkan rambut Hawa, hingga sampai kedepan semua
"Abang !!! rambutku acak acakkan semua"
"Kamu belum menjelaskan padaku. Sebelumnya, kau jadi sopir apa?"
"Ambulan abang..."
"Masak, yang bener"
"Hawa ngomong tukang ojek nggak percaya"
"Nggak"
"Tau nggak bang. Mobil abang itu enak banget, makanya Hawa hilaf"
"Uh dasar" Fariz mengacak acak rambut Hawa kembali
"Udah bang, udaaaah"
-
Setelah sampai dikampus, Hawa turun dari mobil.
"Hawa, tadi sudah abang transfer ya, diATMmu"
"Masa, kapan?"
"Sebelum abang muntah muntah"
"Oh, makasih ya bang" Hawa mencium tangan Fariz
Tak sengaja Hadi melihat interaksi mereka dari kejauhan
"Mobil yang sama. Sebenarnya, siapanya Hawa??" Hadi bertanya tanya dalam hati
Setelah Hawa masuk, mobil yang tadi membawa Hawapun jalan menyebrang kearah kiri lagi
-
Siang harinya setelah Hawa pulang. Hawa berlari menuju pintu gerbang. Hadipun mengejar Hawa
"Hawa!!" Teriak Hadi
Hawa berhenti " Iya pak"
"Kamu mau pulang ? Mas antar ya?"
"Nggak usah pak, Hawa dijemput"
"Dijemput siapa?"
"Dijemput sopir"
"Sopir bermobil mewah?"
Hawa bingung "Sudahlah pak" Hawa langsung berlari menuju mobil Anand, yang dikendarai oleh pak Casbari
Hadi melihat mobil yang berbeda menjemput Hawa. Hadi mulai ingin menyelidiki, siapa Hawa sebenarnya. Tapi sayang, jadwal mengajar, terlalu sibuk
-
Bersamaan itu, Arzu datang menemui Anand dishowroom
"Anand.....!!" Teriak Arzu
"Arzu?"
Arzu berjalan mendekati Anand.
Tangan Arzu menjulur mengajak bersalaman "Apa kabar Anand? lama tidak berjumpa"
Anand membalas sambutan tangan dari Arzu "Iya... Alhamdulillah baik" Ada jedah "Arzu"
"Kenapa kamu kaku menyambutku Anand?"
Anand diam tidak menjawab
"Apa nonamu tidak dipersilahkan masuk Anand?" Goda Arzu
"M baiklah, masuklah" Ucapnya terbata bata
Lanjut ya.....
BERSAMBUNG.......
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....