NovelToon NovelToon
GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Duda / Persahabatan / Keluarga / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 5
Nama Author: juskelapa

Sebuah spin off dari novel CINTA WINARSIH
Baca. Karya ini beda. Pasti suka. Lalu, jatuh cinta.
Selamat datang di dunia imajinasi juskelapa.

***

Sebuah keresahan menerpa tiga ayah muda tampan, kala sebutan 'Genk Duda Akut' itu melekat dalam persahabatan mereka. Bagaimana tak resah? Yang duda hanya seorang, kenapa yang lainnya harus turut dipanggil dengan sebutan sama?

Mampukah tiga pria tampan beristri ini mencarikan seorang wanita bagi sahabat mereka tanpa tersandung masalah dengan istri sendiri?

originally story by juskelapa ©2021
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Feedback Bingkisan

Kartu telah ditulis oleh Musdalifah. Direkatkan rangkap, seerat mungkin dengan lem dan selotip. Hampers itu sedang dipandang-pandangi dengan senyum sumringah oleh Toni dan Musdalifah, serta tatapan aneh dari Langit dan Rio.

“Saya panggil Pak Mus dulu ya, Pak.” Musdalifah mengangkat telepon di meja Toni.

“Eh, Lang, foto dulu—foto dulu, Dean harus liat.” Toni menunjuk hampers-nya seraya menatap Langit.

Langit mengeluarkan ponselnya dan memotret hampers beberapa kali dari berbagai sudut. Setelah mengirimkan beberapa foto pada Dean, ia kembali menatap Toni.

“Eh, yang ngirimin namanya Pak Mus juga?” tanya Langit, tanpa segan meski Musdalifah masih berada di sana.

“Iya … Mustafa,” jawab Toni.

Musdalifah baru saja berbicara pada Pak Mustafa untuk memintanya ke ruangan Toni.

“Wah … banyak Mus, ya, ternyata.” Langit memandang wajah Musdalifah. “Itu, temennya keyboard komputer, Mus juga, kan?” canda Langit menunjuk sebuah mouse di atas meja Toni.

“Ha-ha … itu mouse. Garing,” sahut Musdalifah dengan wajah sebal. Langit seketika terdiam.

Pak Mustafa datang beberapa saat kemudian. Musdalifah memberikan secarik kertas berisi alamat kantor Wulan dan pak Mus pun membawa hampers itu keluar. Rio yang sejak tadi tertawa tak henti-henti, terlihat menghabiskan hampir sebotol air mineral.

“Pak, saya permisi dulu …,” pamit Musdalifah, diiringi oleh anggukan Toni.

Rio mengiringi kepergian Musdalifah dengan tatapan. Ia lalu memiringkan duduknya menghadap Toni. “Ton, selanjutnya gimana? Lo nggak bisa cuma deketin Wulan aja. Harus ada pendekatan ke Mami lo juga. Lo deketin Wulan lagi, pasti ada tujuannya. Enggak cuma untuk pacaran aja, kan?”

“Nah … iya. Setelah ini apa?” tanya Langit, ikut memandang Toni.

“Ini yang mau gue omongi ke Dean kemarin. Gimana kalo gue ngomong ama Mami, mau balikan ke Wulan, tapi wulannya nggak mau? Lo, kan, tau kalo Mami benci ke Wulan sejak gugatan cerai itu. Terus … kalo Mami denger gue juga yang mohon-mohon minta balik gimana? Bukannya posisi Wulan jadi makin nggak baik di mata Mami? Gue nggak mau nyakiti dua-duanya. Mami juga … semakin berat. Curigaan, posesif ke gue, minta gue datengin Asih lagi … minta apalah katanya. Pusing gue,” kata Toni.

“Hah?!” pekik Langit dan Rio bersamaan.

“Minta lo datengin Asih lagi?” tanya Rio. Toni mengangguk.

“Gue nggak ikutan kalo soal Asih,” sambut Langit.

“Gue juga enggak,” kata Rio. “Dan Dean juga bisa dipastikan akan menjawab hal yang lebih mengerikan dari yang gue dan Langit bilang. Heran juga. Itu nyokap lo kenal Asih dari mana, sih?” tanya Rio.

“Eh, hampers-nya udah jalan?” tanya Rio.

“Udah—udah, pakai mobil box kantor. Mungkin sebentar lagi nyampe. Kantor Wulan, kan, nggak jauh-jauh banget dari sini. Paling cuma setengah jam,” jawab Toni.

(Danawira’s Law Firm, 17.30)

Ryan berdiri merapikan kertas-kertas yang terhampar di atas meja, tempat Dean baru melakukan diskusi bersama tim legal salah satu perusahaan.

“Jadwal hari ini selesai, kan, Yan?” Dean menhela napas bersandar ke sofa. Ia baru duduk satu jam, tapi rasanya sudah terlalu lama. Kalau saja tak berjanji akan pulang cepat, ia pasti akan menyambangi sahabat-sahabatnya.

“Hari ini selesai. Tinggal jadwal dengan anak-anak dan ibunya di rumah,” cetus Ryan.

“Novi kapan lahiran? Cariin pengganti untuk Novi sementara. Bini gue ntar nggak ada temennya ke mana-mana.”

“Kan, nggak ke mana-mana juga …,” sahut Ryan kalem.

“Harus lo cari segera. Kasian entar dia mau apa-apa nggak ada temennya.”

“Syaratnya apa?” tanya Ryan. “Untuk tiga bulan aja, ya … gimana kalo anak magang?” usul Ryan.

“Umur berapa?” tanya Dean langsung.

“Usia anak magang? 21?” Ryan berpikir-pikir.

“21 ya? Yang mahir dan cekatan, Yan … kalo perlu ikut Novi seminggu dampingi bini gue.”

“Penampilannya gimana?” selidik Ryan memandang wajah atasannya.

“Penampilan bukan yang utama. Tapi kalo penampilannya oke, kan, nggak ada salahnya.” Dean tersenyum memandang Ryan.

“Oke. Baik, Pak.” Ryan mengangguk mantap. “Oh, ya … ini ada pesan dari Mas Langit. Tadi waktu Pak Dean lagi diskusi dengan klien.” Ryan menyodorkan ponsel menunjukkan isi pesan Langit. Beberapa foto hampers untuk Wulan yang siap dikirim disertai foto iseng menampakkan lubang hidung Langit, tampak di layar.

Dean sedang membuka lembaran kertas dan menyiapkan pulpen di tangannya. Ia baru saja akan menandatangani selembar dokumen saat matanya membelalak menatap foto bingkisan.

“Hah? Ada pakaian dalemnya? Hahaha ….” Dean tertawa terbahak-bahak sambil menggeleng. “Itu pasti kerjaan si Mus. Panitia mana ngasi pakaian dalem ke peserta outing-nya? Dengan size yang bener pula. Kata-kata di kartu bakal sia-sia," kata Dean masih tertawa. Ia menunduk menandatangani kertas di depannya.

“Jadi dibales apa, Pak?” tanya Ryan, memegang ponsel Dean menunggu perintah.

“Bales ke Langit … jangan tinggalin Toni sendirian. Sebentar lagi, sekretaris Toni akan menyebabkan kekacauan. Kalo mau balik, maleman aja. Ketik itu.” Dean masih terkekeh-kekeh saat mengatakan hal itu.

Ryan sedikit sebal mendengar perkataan Dean yang menyalahkan sekretaris Toni. Menurutnya, Musdalifah hanya bawahan yang bekerja maksimal untuk atasannya.

Ryan tak menuruti perintah Dean. Ia hanya mengetik, ‘Keren. Bilang ke Mbak Mus, kerjanya bagus dan luar biasa.’

Ryan lalu mengirimkan pesan itu.

“Udah?” tanya Dean mendongak.

“Udah. Jadi … saya udah bisa pulang? Novi udah di rumah, Bu Win minta dia pulang lebih cepat akhir-akhir ini.” Ryan membereskan kertas terakhir yang baru ditandatangani atasannya.

“See? Baiknya istriku, ibu anak-anakku. Yang tenang bak air danau … rata … nggak pernah punya gelombang yang membahayakan.”

“Tapi air danau adalah air tawar. Sesuai prinsip hukum Archimedes, air tawar lebih berbahaya. Manusia lebih sulit mengapung karena massa air yang tidak padat. Artinya, kalau tenggelam di danau yang dalam, jarang bisa ditemukan.”

Dean memandang sebal pada sekretarisnya. “Iya. Aku adalah manusia yang tenggelam itu, Ryan. Tenggelam dalam danau yang bernama Winarsih. Itu ponselku bunyi, tolong dijawab. Aku mau beres-beres dulu.” Dean bangkit dari sofa menuju meja kerja.

Ryan langsung menoleh ponsel Dean yang berkedip di tangannya. “Ya, halo? Dengan Ryan di sini. Ya, Mas Rio?”

“Dean mana, Yan?” tanya Rio di seberang.

“Ada. Sedang beres-beres mau pulang. Sebentar aku kasi ponselnya—”

“Enggak—enggak usah. Minta Dean langsung dateng aja.”

“Dateng ke mana, Mas?” tanya Rio sedikit khawatir. Suara Rio di seberang terdengar cemas.

“Ke kantor polisi, dekat kantor Toni. Kantor T&T Express. Cepat ya, Yan!”

“Mas—Mas, tunggu dulu. Ini kenapa?” sergah Ryan tak mengerti.

Dean ikut menoleh karena mendengar suara sekretarisnya meninggi.

“Ada apa?” tanya Dean.

“Bilang aja ke Dean, pacarnya Wulan dateng ke sini. Baku hantam. Ya udah, itu aja. Toni perlu kuasa hukum. Gue ama Langit baru aja balik padahal. Sampein ke Dean ya … gue puter lagi, nih, ke sana.” Setelah mengatakan hal itu, Rio langsung mengakhiri pembicaraan.

“Apa, Yan?” tanya Dean lagi.

Ryan terperangah. Ia merasa salah membalas pesan.

“Pak Toni sekarang di Polsek. Baru aja baku hantam dengan pacar Mbak Wulan.”

Dean mendelik. Sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

To Be Continued

1
Paramita Waluyo
😂😂😂😂
Paramita Waluyo
🤣🤣🤣🤣
Paramita Waluyo
🤣🤣🤣🤣🤣
Paramita Waluyo
kakkk juss aku nyesel baru baca ini skrg. Ngakak terusss, sambil mutar sp*tify My Waynya Frank biar menjiwai 🤣🤣🤣
reti
sempet2nya narsis coba..
aaaampuuun dah dean..
hahahahahahahahaha
Ahmad Ibrahim
kekel bcanya🤣🤣
Ardiansyah Gg
ya ampun... aku ngakak abis l🤣🤣🤣🤣 rasain🤭
Ardiansyah Gg
gitu dong bu Win... sekali" suaminya harus di kasih efek kejut🤣
Ardiansyah Gg
pening Njuss... sampe blingsatan🤣🤣🤣
Eni Gustini
.
jumirah slavina
pelajaran berkembang biak ya Pa'De

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jessica
Seru karya karya nya gk bisa cm sekali baca novel karya Beliau ini
Jessica
dasar musdalifaaah🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Reni
Baguusss bangeettt, buruan baca guys
Susi Andriani
aman pak de,,aman😄😄😄
Susi Andriani
aduh,,,
Lailatus
Gak ada yg d baca jadi baca dean lg aja deh 🤣
Asisthaning Nirwana
hai mbk jussssss......aku kembali lagi lhooooo.....tiba2 bgt kangen tini, lha kok jadi kangen mas dean sampai ke siniiii....hbs ini meluncur ke mas dul
sukensri hardiati
makasiiih....👍🙏💪/Rose//Heart//Ok/
sukensri hardiati
p De emang anak ragilnya b. Win.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!