Perjalanan hidup Kanaya dari bercerai dengan suaminya.
Lalu ia pergi karena sebuah ancaman, kemudian menikah dengan Rafa yang sudah dianggap adiknya sendiri.
Sosok Angela ternyata mempunyai misi untuk mengambil alih harta kekayaan dari orang tua angkat Kanaya.
Selain itu, ada harta tersembunyi yang diwariskan kepada Kanaya dan juga Nadira, saudara tirinya.
Namun apakah harta yang di maksud itu??
Lalu bagaimana Rafa mempertahankan hubungannya dengan Kanaya?
Dan...
Siapakah ayah dari Alya, putri dari Kanaya, karena Barata bukanlah ayah kandung Alya.
Apakah Kanaya bisa bertemu dengan ayah kandung Alya?
Lika-liku hidup Kanaya sedang diperjuangkan.
Apakah berakhir bahagia?
Ataukah luka?
Ikutilah Novel Ikatan Takdir karya si ciprut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si ciprut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Nadira
Ingatan itu datang pada Nadira pelan, seperti kabut yang menyingkap dirinya sendiri.
Ia masih terbaring di ranjang ICU ketika potongan masa lalu itu menyusup—bukan sebagai mimpi, melainkan kenyataan yang dulu dipaksa ia simpan sendirian.
Nadira berusia dua belas tahun saat itu.
Ia ingat ruang arsip kecil di belakang rumah sakit lama. Bau kertas lembap. Lampu kuning. Ia sedang menunggu ibunya yang bekerja lembur ketika tanpa sengaja mendengar dua suara di balik pintu setengah tertutup.
“…dia tidak boleh tahu,” suara laki-laki itu tegas, tertekan.
“Kalau Kanaya tahu, semuanya berakhir.”
Nama itu membuat Nadira berhenti melangkah.
Ia mengintip. Di dalam ruangan, seorang pria duduk membungkuk—wajahnya pucat, tapi matanya hidup oleh kecemasan. Di hadapannya, ibunya berdiri dengan tangan gemetar.
“Dia berhak tahu,” suara ibunya lirih. “Setidaknya salah satu dari mereka.”
Pria itu menggeleng keras. “Tidak. Bukan Kanaya. Kamu. Kamu cukup dewasa.”
Nadira menahan napas.
Saat itulah pria itu menoleh—dan tatapannya bertemu mata Nadira.
Waktu berhenti.
Ibunya berbalik, wajahnya runtuh. “Nadira…”
Pria itu berdiri perlahan. Mendekat. Tidak menyentuh. Hanya menatap—tatapan yang membuat dada Nadira terasa aneh, seolah ada magnet yang menarik ingatan yang tak pernah ada.
“Aku ayahmu,” katanya akhirnya. Suaranya bergetar. “Bukan yang membesarkanmu… tapi yang melahirkan kebenaran ini.”
Nadira tidak menangis. Tidak berteriak. Ia hanya bertanya satu hal—pertanyaan yang keluar begitu saja:
“Kenapa bukan Kanaya?”
Pria itu tersenyum pahit. “Karena Kanaya harus hidup tanpa rasa takut. Dan kamu… cukup kuat untuk menanggung ini.”
Malam itu, Nadira tahu semuanya.
Tentang ayah kandungnya yang menjadi saksi kunci kejahatan besar.
Tentang ancaman yang membuat satu anak harus disembunyikan, dan satu lagi harus dijauhkan.
Tentang dokumen yang tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun—dan kunci yang kelak ia simpan tanpa pernah diminta.
“Kamu tidak harus melakukan apa pun,” kata pria itu sebelum pergi. “Cukup ingat. Dan bertahan.”
Itulah terakhir kali Nadira melihatnya.
Kembali ke masa kini, di ICU yang sunyi, Nadira membuka mata. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena sakit—melainkan karena beban lama yang akhirnya kembali ke permukaan.
Ia berbisik pelan, hampir tanpa suara:
“Kanaya… maafkan aku.”
Bukan karena menyembunyikan kebenaran.
Melainkan karena selama ini,
ia memikulnya sendirian—
agar satu saudara perempuannya
bisa tumbuh tanpa bayangan yang sama.
Di balik pintu ICU, dunia masih menunggu.
Dan ketika pintu itu akhirnya dibuka,
Nadira tahu:
cerita ini tidak lagi tentang rahasia—
melainkan tentang bagaimana kebenaran disampaikan tanpa menghancurkan yang dicintai.
*
Ingatan itu muncul lebih tajam daripada yang lain.
Bukan potongan emosi.
Bukan suara.
Melainkan nama folder.
Nadira membuka mata di ICU, napasnya tersendat ketika satu kata muncul jelas di kepalanya:
PWG_HOLDINGS
Perusahaan tempat ia bekerja.
Perusahaan Prayuda Wicaksono.
Dadanya berdenyut. Monitor sedikit naik. Perawat melirik, lalu kembali tenang. Nadira memejamkan mata lagi—bukan untuk tidur, tapi untuk mengikuti ingatan itu sampai selesai.
Ia ingat hari itu.
Terlambat pulang. Lantai kantor sudah sepi. Hanya lampu darurat dan dengung AC. Nadira sedang menyelesaikan laporan keuangan lintas anak perusahaan—pekerjaan membosankan yang biasanya tak menyisakan kejutan.
Sampai ia membuka satu direktori yang seharusnya kosong.
Folder itu terkunci.
Bukan dengan sistem perusahaan.
Melainkan lapisan manual—password tambahan yang tidak tercatat di SOP.
Rasa ingin tahunya menang.
Ia mencoba kombinasi lama—tanggal, inisial, kebiasaan atasan. Gagal. Lalu satu dorongan aneh membuatnya mengetik nama ayah kandungnya—nama yang selama ini ia simpan rapat di kepalanya, tak pernah ia ucapkan.
Folder itu terbuka.
Nadira ingat betul bagaimana dadanya langsung sesak.
Di dalamnya:
Rekap aliran dana bertahun-tahun lalu
Perusahaan cangkang
Dan satu subfolder berlabel: Saksi
Ia mengkliknya.
Nama itu muncul.
Nama ayah kandungnya.
Nadira membeku di kursi.
File PDF terbuka—ringkasan yang dingin, rapi, dan kejam:
Status: hidup
Risiko: tinggi
Penanganan: dikendalikan melalui keluarga
Tangannya gemetar. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Ia menutup file itu cepat-cepat. Tapi satu hal sudah terlanjur ia lihat—rantai.
Rantai yang menghubungkan:
Ayah kandungnya sebagai saksi
Perusahaan Prayuda sebagai pengendali
Dan… dirinya sendiri sebagai bagian dari sistem yang tak sengaja ia masuki
Itulah malam ketika Nadira tidak pulang ke rumah.
Ia duduk di parkiran kantor sampai subuh, ponsel di tangan, tak tahu harus menelepon siapa. Nama Kanaya muncul—lalu menghilang. Ia tidak berani.
Karena saat itu, Nadira mengerti:
Jika Prayuda tahu ia melihat folder itu,
maka hidupnya tak lagi miliknya sendiri.
Kembali ke masa kini, di ranjang ICU, Nadira membuka mata. Air mata mengalir pelan, bukan karena takut—melainkan karena penyesalan.
“Aku bekerja di sana,” bisiknya lirih. “Di dalam sarang.”
Dan kini ia paham kenapa kecelakaan itu terjadi.
Kenapa ia “jatuh sakit”.
Kenapa ia dijaga ketat—oleh dua kubu yang berbeda.
Nadira menoleh ke pintu ICU yang masih tertutup.
Jika Rafa mengendalikan keamanan,
jika Kanaya masih hidup tenang di kota kecil,
jika Barata sudah menghilang—
maka satu-satunya yang tersisa dari masa lalu
adalah dirinya dan apa yang ia ingat.
Nadira menarik napas dalam-dalam.
Ia belum boleh ditemui siapa pun.
Namun ketika pintu itu dibuka nanti,
ia tahu kalimat pertama yang harus ia ucapkan bukan permintaan maaf—
melainkan peringatan.
Karena rahasia terbesar bukan lagi dokumen yang disembunyikan.
Rahasia itu sudah pernah terbuka—
di layar komputer,
di kantor Prayuda,
dan di ingatan seorang perempuan
yang kini sadar:
ia bukan korban kebetulan,
melainkan saksi hidup yang belum dipadamkan.
*
Ingatan itu datang utuh, seperti pintu yang akhirnya menemukan engselnya.
Nadira terbaring diam, mata terbuka menatap langit-langit ICU. Detak monitor stabil. Namun di kepalanya, satu kalimat lama berulang—kalimat yang dulu ia anggap hanya pesan aneh dari seorang ayah yang hidup dalam bayangan.
Ia ingat malam itu.
Suara ayah kandungnya rendah, tergesa, seolah waktu sedang mengejarnya.
“Kalau suatu hari kamu menemukan sesuatu… jangan pernah mencoba membukanya sendiri.”
Nadira mengerutkan kening, remaja yang belum sepenuhnya mengerti ketakutan orang dewasa.
“Terus sandinya buat apa?” tanyanya waktu itu.
Ayahnya menatapnya lama—tatapan yang membuatnya tak berani bercanda.
“Sandi itu bukan untukmu.”
“Itu untuk Kanaya.”
Nadira terdiam.
“Hanya Kanaya yang bisa membukanya,” lanjutnya.
“Bukan karena dia lebih pintar. Tapi karena sandi itu dibangun dari hidupnya, bukan dari ingatanku.”
Kini, di ICU, Nadira mengingat detail yang dulu terasa ganjil:
Sandi itu bukan angka murni.
Bukan tanggal.
Bukan nama lengkap.
Melainkan rangkaian yang hanya masuk akal jika seseorang menjalani masa kecil Kanaya.
Potongan-potongannya kembali jelas:
Nama panggilan kecil Kanaya yang bahkan Nadira jarang dengar
Waktu tertentu yang hanya Kanaya ingat karena berhubungan dengan kebiasaan ibunya
Dan satu kata terakhir—kata yang ayah mereka ucapkan sambil menahan air mata:
“Maaf.”
Nadira menutup mata.
Ia akhirnya mengerti kenapa ayahnya tidak pernah memberinya akses penuh.
Kenapa folder itu terbuka, tapi inti terdalamnya tetap terkunci.
Bukan karena tidak percaya pada Nadira.
Melainkan karena ia ingin memastikan kebenaran itu tiba dengan cara paling manusiawi—
melalui orang yang paling terdampak, bukan yang paling siap.
“Kanaya…” bisik Nadira lirih. “Kamu kuncinya.”
Bukan sebagai alat.
Bukan sebagai umpan.
Melainkan sebagai pemilik cerita.
Di luar pintu ICU, dunia masih menahan napas. Rafa menjaga waktu. Ardi menjaga jarak. Dan Kanaya—jauh di kota kecil—sedang menjaga Alya, tak tahu bahwa hidupnya sendiri adalah kode terakhir yang selama ini dicari banyak orang.
Nadira mengusap sudut matanya, menarik napas panjang.
Saat pintu itu akhirnya dibuka,
ia tidak akan membawa dokumen.
Ia tidak akan membawa tuduhan.
Ia hanya akan membawa satu kalimat sederhana sebagai kunci utama:
“Aku tahu sandinya.”
“Dan sandi itu… adalah kamu.”
Karena kebenaran terbesar tidak dikunci oleh teknologi,
melainkan oleh siapa yang berhak membukanya tanpa menghancurkan diri sendiri.
.
.
.
BERSAMBUNG
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tp mboh aq asline mumet
kogoro mouri, siap beraksi memecahkan misteri 🧐
kek nya dr situ jelas deh siapa ayah alya
dan akan musnah semua musuh2 nya dan sebeneranya yg di buru apa coba