NovelToon NovelToon
Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Dokter Genius / Kehidupan di Kantor / Karir / Teman lama bertemu kembali / Dokter / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 5
Nama Author: Margaret R

Ketika laki-laki itu menabraknya di lobby rumah sakit, Melisa marah-marah. Pria blasteran itu dipanggilnya 'Bambang' karena menumpahkan kopi di baju kerjanya, padahal tak ada sebaris pun kumis melintang diatas bibirnya.

Pun ketika pria itu memberinya sapu tangan untuk membersihkan tumpahan kopinya dia menambah julukannya menjadi manusia kuno prasejarah.

Dan ternyata sejam kemudian Melisa tahu, Bambang yang kuno itu adalah Boss-nya.

●●●●
Cerita Vincent yang ditolak ama Liana dan Gendhis dimari. Yukkk masuk 🤣🤣🤣

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEASON 1 Part 34. Pas Gak Sibuk

"Ayo...ayo masuk." Aku melihat seorang wanita berwajah ramah membuka pintu dan langsung tersenyum lebar. Vinceht bilang Mamanya sudah 64 tahun tapi masih terlihat lebih muda dari usianya.

"Ma, ini Melisa-nya." Bambang langsung mengenalkanku pada Mamanya.

"Halo sayang akhirnya kamu datang juga. Tante udah nunggu calon mantu dari lama." Aku hanya bisa membalas pelukannya sambil tersenyum lebar.

"Tante, saya gak bawa apa-apa kesini. Vincent baru kasih tahu pas mau kesini tadi..." Aku benar-benar tak enak datang dengan tangan kosong.

"Ehh mesti bawa apa? Ga pa pa, Tante yang ngajak makan kok, banyak makanan udah. Lain kali aja masih banyak kesempatan, ayo masuk dulu, Vincent udah cerita tentang kamu ke Tante, akhirnya kalian bisa datang sekarang..." Dia bahkan langsung merangkul lenganku, benar-benar ramah. Mungkin karena terlalu lama mengharapkan anaknya menyetujui seseorang.

"Ini rumah Tante, rumah Vincent, anggap rumah kamu juga, kalo ada waktu sering-sering kesini ya nanti."

"Iya Tante pasti." Mamanya memang ramah. Aku kadang sedikit takut dengan label 'mertua'.

Dulu Ibu Mertuaku tidaklah mudah, mungkin karena aku masuk dengan bukan label keluarga sosialita kelas atas. Walau Papa punya jabatan profesional yang dihormati sebelumnya, namun itu cuma jabatan, bukan sebuah nama besar keluarga dengan kekayaan tujuh turunan seperti istrinya sekarang keluarga Gunawan.

Aku berkenalan dengan Papa tirinya nya, pria berwajah teduh yang dia bilang membuat Mamanya bahagia.

"Ini Papanya Vincent, Om Markus. Pa, ini Melisanya."

"Malam Om. Saya Melisa senang ketemu Om."

"Melisa malam. Tantemu ini udah ribut dari pagi-pagi kamu mau datang. Sekarang mungkin dia suruh kamu nginep disini." Aku tertawa mendengarnya. Vincent juga punya seorang saudara tiri perempuan tapi dia sudah menikah.

"Pa, Mama emang sudah ribut dari kemarin. Pas aku bilang udah punya pacar aja dia langsung bilang bawa kesini." Gincent menanggapi Papanya.

"Ya sudah, kau tahu Mak-mu itu gak akan berenti sebelum dapet checklist yang dia harus kerjakan." Apa maksudnya checklist?

"Checklist?" Aku melihat ke Vincent yang sudah ngaso di sofa dideket Papanya.

"Checklist undangan sayang." Mamanya yang menjelaskan sambil menyenggolku.

"Ohhh..." Aku tersenyum tapi tak tahu bagaimana menjawabnya sekarang. Walau mungkin tak lama lagi. Vincent belum pernah mengatakan kapan, bagaimana.

"Vin? Kapan?" Waduh langsung ditodong.

"Mah, biar Vincent atur sendiri lah, waktu dan kesepakatan mereka, jangan diburuin gitu." Papanya yang ngomong sekarang. Vincent hanya tersenyum kecil dan duduk deket Mamanya.

"Lamaran aja langsung Vin ke keluarga dulu. Mama ketemu Mamanya Melisa langsung kalo gitu." Mamanya langsung berinisiatif melakukan sesuatu

"Ma, sabar dulu kenapa..." Papanya Vincent yang menghela napas sekarang melihat Vincent yang didesak Mamanya padahal dia baru datang. "Sudahlah ayo kita makan dulu. Mereka pasti udah lapar... Ayo makan dulu."

Akhirnya makan malam berlangsung. Orang tuanya sangat ramah, dalam pertemuan pertama mereka membuatku merasa diterima sepenuhnya sebagai keluarga. Aku merasa lega. Ini keluarga kecil yang hangat, benar-benar membuatku berada dirumah sendiri, tidak merasa harus memuaskan orang lain dan terlalu hati-hati bersikap.

"Kalian jangan lama-lama lagi ya. Kamu dan Vincent sudah bukan anak muda lagi, apalagi yang kalian tunggu... Sama-sama bukan pertama kali menikah. Yang penting kalian sama-sama sampai akhir, pesta nikah gak usah besar yang penting undang temen dan keluarga dekat." Mamanya berpesan sebelum kami pulang.

"Iya Ma, ... Nanti Vincent kasih tahu Mama." Akhirnya Vincent yang menjawabnya.

"Tante aku pulang. Nanti main kesini lagi."

"Iya, jangan lama-lama ya. Ingat pesan Tante." Aku tersenyum padanya mendengar iklan yang diulang-ulang itu.

Kami pamitan kemudian. Malam yang melegakan akhirnya aku melewati satu tahap lagi.

"Mel..." Dia tiba-tiba memanggil.

"Hmm..." Aku melihatnya ketika mobil kami sudah mulai berjalan pulang ke rumah.

"Mau kapan?"

"Apanya?"

"Lamarannya? Atur tanggal deh... Gimana kalo Minggu ini aja kita bicarain tanggal. Ntar aku bawa Mama ke rumah."

"Hah?" Kok begini amat ya. Ga ada bawa kembang , kasih cincin gitu. Gak bilang kalimat sakti ya.

"Kenapa? Kamu belum mau merried, April aja gimana, 3 bulan lebih lagi, April gak begitu padat, gak banyak kerjaan biasanya."

"April?"

"Iya, mau kan?"

"Mau apa?" Aku binggung mau apa maksudnya.

"Mau nikahannya Aprillah, emang kita ngomongin apa?" Lamaran yang gak ada romantis-romantisnya. Langsung ditanya mau kawin bulan April gak. Udah gitu doang?

"Kamu lagi ngelamar aku ya? Gak pake cincin, bunga, ngomongnya dimana gitu? Gak pake candle light dinner. Ngomongnya dimobil gini aja? Kamu gak mau susah banget? Mau kawin sama lo bulan April gak, gitu doang ya Bambang?" Dia diem sekarang, aku ngambek ngelamarnya gak ada aturan, yaaa ada manis-manisnya dikit gitu lhoo. Biar keinget sampe tua.

Masa nanyanya lu mau kawin ama gue bulan April aja gimana pas gue gak sibuk. Kan seenaknya banget. Gitu amat...

"Gak mau saya sibuk bulan April, laporan pajak." Aku menolak percobaan lamaran pertama, seenak udelnya ngomongnya.

"Ya kita kan...." Tapi bukan Vincent namanya kalo dia langsung nyerah. Dia mau jawab tapi diem lagi. Aku males ngeliat dia. Mau ngelamar aja cincinnya gak ada langsung nyodorin bulan.

"Apa? Kita kan bukan anak muda gitu maksudnya!" Aku ceplosin yang dia maksud. "Cincinnya mana?" Dia garuk-garuk kepala.

"Cincinnya kan ntar pas lamaran. Belinya sama kamu aja ya besok. Kita cari cincin yang kita mau... Mesti pake bunga juga ya, mau dinner juga?"

"Dasar Bambang mau ngelamar aja cincinnya beli dulu. Yang dibeli sama-sama itu cincin nikahan bukan cincin lamaran." Diem dia. Mikir dulu kayanya...

"Ya biar kamu suka modelnya yang mana terserah kamu..." Pinter ngelesnya.

"Kalo gitu aku minta solitaire yang 3 karat aja ya? Cartier boleh?" Dia diem lagi. Emang harus dikerjain balik biar dia mikir, ngomongnya gak usah nyelap-nyelip " yuk nikah pas gue gak sibuk" gitu juga kali.

"Ribet ya..." Dia ngeluh.

"Emang ribet Bambang,..." Dia menghela napas lagi. Aku jadi pengen ketawa, dasar Bambang. Ngomongin lamaran kaya ngomongin tanggal rapat.

"Jadi enaknya gimana..."

"Bambang, lu tuh praktis banget ya. Ngomongin tanggal kawin kaya nyelipin tanggal meeting." Si Bambang ngerangkul bahuku sekarang, kayanya dia mau nyelip muter kemana lagi ngomongnya.

"Bu Melisa, saya ngaku salah, maaf, saya pikir kamu orangnya gak mau ribet juga... Ada gak cara biar kita bisa bikin kawinan bulan Mei, kamu mau Cartier ya udah, gak kemahalan Cartier, itu mahal nama doang." Aku ketawa dan nyubit perutnya.

"Jadi besok aku bisa milih apa aja ya, cincin, bunga, dinner ditempat yang aku mau. Baru kita ngomongin tanggal...." Dia langsung mengangguk dan tersenyum lebar.

"Iya yang penting April. Minggunya aku bawa Mama dan Papa kamu kerumah ya. Kamu mau pesta gede?"

"Enggak..."

"Syukurlah..." Aku langsung menoleh.

"Lega banget kayanya." Dia nyengir.

"Sayang pesta gede-gede itu ..." Dia mau ceramah soal manfaat ekonomi.

"Iya..iya ..tahu...gak ada gunanya. Gak usah ceramah ekonomi ke gue lagi Bambang. Itu bidang keahlian gue bukan lo." Diem lagi dia karena kuskak. "Lamaran gue, di mobil, dengan kalimat, Eh April aku gak sibuk, kita merried April aja ya...Jelek banget kalo diinget-inget." Dia malah ngakak.

"Sayang yang penting kita sampe kakek nenek. Yang penting kita jadi kakek nenek dan punya cucu berdua. Masih baek-baek aja,ntàe lamarannya jadi cerita komedi aja." Dia ngerangkul aku dengan sebelah tangan yang gak pegang setir.

"Paling bisa emang kamu..." Aku mengerucutkan bibirku padanya.

"Aku serius, aku udah bilang kan aku serius, walau caranya gini, tapi aku mau serumah sama kamu secepatnya..." Aku cuma senyum ngeliat si Bambang yang ngelesnya emang paling bisa.

"Mama kamu baik ya."

"Mama mertua terbaik yang bisa kamu dapatkan."

"Hmm..."

"Makasih udah terima lamaran aku."

"Aku belum terima." Aku melihatnya untuk meminta syaratku sendiri. Cincin bunga dan dinner.

"Iya beliin bunga, cincin ama dinner besok. Akhir bulan aja ya, atau awal Meinya juga gak pa pa." Dia langsung nego tanggal. Membuatku tersenyum.

"Iya awal Mei. Ntar WO nya aku ada." Akhirnya diputuskan tanggal nikahanku adalah awal Mei. Aku akan menghubungi WO pernikahanku yang dulu.

Sesimple itu. Dealnya selesai dalam 15 menit. Tak seheboh pernikahanku yang lalu yang harus runding sana sini, sekarang kami bisa memutuskan sendiri semuanya dengan pembicaraan kecil antara kami.

"I really love you." Sebuah kalimat membuatku tersenyum kecil dan menatapnya.

"Love you back Bambang."

Mak mau ngucapin Selamat Idul merayakan.

Mohon maaf lahir batin ya

Jangan lupa kirim THR wkwkwkwk.

Klik jempol, vote, hadiah jangan lupa komen juga

1
Maria Ulfah
buku nya mak othor selalu bagus dan keren-keren 👍👍👍👍
Mei Saroha
meleleh nihh baca kisah Bambang Melisa...
aku padamu kk othor
Lulu
luar biasa keren
💜Ilalang Senja💜
Author...Jempolan...teruslah berkarya..
Sarange ... Author
💜Ilalang Senja💜
Kamsahamida... Author....Sarange..
Novee Lim
Andreas & sandra tidak adakah kak margaret?
Ria Nilasari
Luar biasa
Ria Nilasari
Lumayan
Jessica
Luar biasa
Sunaryo Sunaryo
Biasa
Sunaryo Sunaryo
Kecewa
Gita mujiati
Luar biasa
V-hans🌺
mukanya terlalu tua untuk umur 30 apa lagi blasteran kyak umur 40 malah 🙏
Bakul Lingerie: blesteran kan ang gitu kak, muka mereka boros. nanti menginjak 50 mukanya bakal begitu2 aja, mereka keliatan muda
total 1 replies
Anita Candra Dewi
menurutku wajah dr andreas kek org india, apa krn brewokan ya
ms. yati74
Luar biasa
Puspa Ayundari
Nt lama lama gultik kalo aturan nya nggk bikin nyaman penulis...😔
Nurul Kistianti
Luar biasa
Serevina Simanjuntak
luar biasa...bale lg baca novel ini
GegeSter
hihihi.. maap leo.. bukan minggir.. tapi lebih cakep erwin diliat dari kamera 360 nya juga..
u itu terlalu perpect, ga ada unsur badass nya 🤣
legira
aku suka semua novel mu kak .yg paling favorit itu l hate my bos..😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!