TERPAKSA MENIKAH DENGAN MANTAN—BALIK LAGI! SKUY BACA!
~•••~
Bagi Risa, Juna adalah pria yang tidak seharusnya ada di bumi ini. Selama sisa hidupnya, Risa berharap tidak pernah bertemu dengan Juna lagi.
Tapi, apalah daya Risa ketika takdir berkata lain. Ternyata ayah Risa dan ayah Juna adalah teman dekat, kedua pria paruh baya itu membuat sebuah perjanjian yang teramat kuno di jaman modern ini.
Sebuah perjanjian yang menjadikan Risa sebagai korban perjodohan.
Perjodohan, dimana Risa harus menikah dengan mantan pacar yang sangat di bencinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Love On Progress (bagian satu)
Gadis itu pun sepertinya belum puas melemparkan pertanyaan pada Chef Ramon, lantas ia menatap ke arah pria yang ada disampingnya. “Deon, sejak kapan kamu jadi pemilik restoran ini?” tanya Risa pada teman prianya itu.
“Dari awal restoran ini berdiri, restoran ini sudah menjadi milikku.” jawabnya.
“Ha?”
“Kamu dulu waktu melamar kerja disini memangnya tidak melihat profil restoran ini?” tanya Chef Ramon.
Risa terlihat menggaruk tengkuknya, itu sudah beberapa tahun berlalu. Hanya ada ingatan semu yang masih bersarang di kepalanya.
“Aku melihatnya. Tapi seingatku pemilik restoran ini seorang pria tua.” kata Risa.
Deon terkekeh, “Pria yang kamu sebut tua itu ayah aku loh Sa.” ujarnya.
“Eh, itu— maaf. Bukan begitu maksud aku.” ucap Risa sembari menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
“Sudahlah. Tidak masalah. Tapi ingatanmu itu memang benar. Aku belum lama ini menjadi pewaris ayahku.” kata Deon.
“Pewaris?” Risa mengernyitkan keningnya. “Kamu, ah tidak mungkin. Deon, aku ingat, kamu itu bukan dari kalangan atas. Kamu itu tingkat menengah kan?” tanya Risa. Sepengetahuannya, Deon itu bukanlah seorang konglomerat, pria itu dulu hanyalah seorang pria muda pada umumnya.
“Kamu sudah sarapan?” Deon balik bertanya dengan pertanyaan yang melesat jauh dari topik yang sedang mereka bahas.
“Deon, jangan coba-coba mengalihkan topik pembicaraan. Aku tidak suka.”
Gadis itu tetap sama seperti dulu, itu yang terlintas dipikiran Deon ketika ia melihat Risa tampak bersedekap sembari menatapnya sinis. Sangat menggemaskan baginya.
“Baiklah. Ayo bahas ini dengan santai.” katanya.
“Maksud kamu?”
“Ikut aku.” ujar Deon sembari meraih tangan Risa.
“Eh tunggu. Kamu mau ajak aku kemana? Aku harus bekerja.” kata Risa.
“Aku bos-nya disini.” ucap Deon yang kemudian menarik lengan Risa dan keluar dari bagian dapur restoran tersebut.
Tingkah laku kedua insan itu sungguh mirip seperti sepasang kekasih yang dipaksa pisah. Ramon merasa terhibur melihatnya. Ini sungguh drama umum yang menarik. Tapi di balik terhiburnya sang hati, terselip juga rasa iri didalamnya.
“Sabar hatiku.” ucapnya sembari menepuk-nepuk dadanya. Ya, memang sulit menjabat sebagai seorang direktur lajang dengan masa jabatan yang entah kapan akan berakhir.
•••
Pintu ruang operasi satu terbuka. Seorang dokter penanggungjawab operasi tersebut langsung di hadang oleh keluarga pasien. Raut cemas dan penuh harapan terlihat di wajah dua orang beda jenis itu. Mereka adalah orangtua dari pasien yang baru saja selesai di operasi.
“Dokter. Bagaimana keadaan anak kami?” tanya wanita paruh baya itu. Wajahnya terlihat suram, tidak memiliki pancaran cahaya sedikitpun.
Dokter Ali membuka maskernya. Ia melepaskan atribut operasinya satu-persatu lalu memberikannya pada salah satu perawat yang membantunya dalam operasi tadi.
“Ada dua kabar yang harus kalian dengar.” ucapnya.
Pria dan wanita paruh baya itu saling pandang. Mereka tahu kabar itu adalah kabar buruk dan kabar baik. Mengingat bagaimana parahnya kecelakaan yang dialami anak mereka, tentu saja kabar buruk tidak mungkin bisa lari dari mereka. Semuanya harus mereka terima, setidaknya masih ada kabar baik yang mungkin saja bisa meredakan kesedihan yang akan mereka dapatkan.
“Kami siap mendengarnya.” ucap si suami.
Dokter Ali mengangguk paham, Lalu mulai menyampaikan kabar tersebut. “Operasinya berhasil. Anak kalian selamat.” kata Dokter Ali. “Itu kabar baiknya.”
“Lalu, apa kabar buruknya, Dokter?” tanya si istri.
Dokter Ali menghela nafasnya sebelum menjawab. Ia sebenarnya merasa berat menyampaikan kabar yang tergolong buruk ini. Tapi walaupun hatinya berkata tidak ingin, ia tetap harus memberitahu kabar buruk ini pada keluarga pasiennya.
“Cedera yang terjadi di lehernya cukup parah. Bahkan kalau tim medis tidak sampai lebih cepat, mungkin anak kalian bisa mati di tempat. Dan karena cederanya itu, anak kalian mengalami kerusakan saraf tulang belakang. Buruknya, cedera itu terjadi di bagian leher. Kemungkinan besar anak kalian akan mengalami kesulitan bernapas, jadi dia membutuhkan alat bantu pernapasan.” ucap Dokter Ali.
Suara tangisan kembali pecah. Tubuh wanita paruh baya itu terlihat hampir ambruk kalau saja suaminya tidak bergerak cepat menjadi penopang tubuhnya.
“Sampai kapan? Sampai kapan Riko akan menggunakan alat pernapasan?” tanya pria itu.
Dokter Ali menghela nafas beratnya lagi, dan lagi. Entah sudah berapa kali ia melakukan helaan nafas itu. Perasaan tidak berdaya selalu menyelinap tanpa permisi ke hatinya ketika ia harus berhadapan dengan situasi seperti ini.
Rasanya sangat mengecewakan. Dirinya adalah seorang dokter, seorang penolong. Tapi dalam keadaan seperti ini, ia merasa tidak berguna sama sekali. Memang bukan salahnya, tapi tetap saja terasa sangat menyesakkan hati kecilnya.
“Maafkan saya karena terpaksa harus mengatakan ini pada kalian.” ucapnya sebelum pada inti penjelasannya. “Cedera saraf tulang belakang itu jenis cedera fisik yang sangat serius. Karenanya, dampak yang di timbulkan pun bersifat jangka panjang. Artinya, kemungkinan besar seumur hidupnya, anak anda akan terus menggunakan alat bantu pernapasan. Kecuali ada keajaiban yang terjadi, mungkin saja dia bisa sembuh. Tapi peluangnya— ” Dokter Ali menghentikan perkataannya. Merasa tidak sanggup untuk melanjutkan perkataan itu. Ia merasa dirinya akan mematahkan harapan pasangan itu jika ia mengatakannya.
Tapi, walaupun Dokter Ali tidak mengatakannya sekalipun. Mereka juga pasti akan tahu.
“Maaf. Saya mohon maaf karena tidak bisa berbuat banyak untuk menolong anak anda. Hanya sebatas ini sajalah kemampuan saya.” kata Ali sembari menundukkan kepalanya.
“Dokter bukanlah tuhan, tentu saja tidak bisa berbuat banyak. Tugas dokter hanyalah menolong orang sakit. Bukan menyembuhkan, karena yang bertugas menyembuhkan itu adalah obat dan juga tuhan. Dokter hanya seorang perantara antara alat medis, obat-obatan dengan pasien. Jadi, jika seorang dokter telah sampai pada titik batas usahanya. Bukan berarti dia tidak mampu, melainkan memang sampai disitulah tugasnya.” kata seorang pria. Juna terlihat baru saja keluar dari ruang operasi dua.
“Anak kalian seperti itu karena takdirnya. Dia bisa sembuh juga karena takdirnya, tapi juga tidak lepas dari tekad dan usahanya. Dokter Ali sudah berusaha keras menolong anak kalian yang sekarat. Kata terimakasih seharusnya kalian ucapkan padanya. Karena terkadang dokter bisa merasa bersalah ketika keluarga pasien merasa tidak puas dengan hasil kerja kerasnya.” kata Juna lagi.
Juna menghela nafasnya. Ia tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba mau menenangkan hati dokter Ali yang tadinya terlihat merasa bersalah. Tapi setidaknya ia sudah berhasil membuat keluarga pasien itu terlihat tampak tenang dari sebelumnya.
Suami dari Risa itu pun kemudian melihat ruang operasi satu, tempat pasien bernama Riko masih terbaring disana.
“Anak kalian akan segera di pindahkan ke ruang perawatan. Senyum hangat dan dukungan kalian adalah obat utama untuk meningkatkan semangat hidupnya kembali. Seburuk apapun keadaannya saat ini, semua pasti akan menjadi kenangan di masa depan.” ucapnya lagi. Setelah itu Juna pergi, ia melewati dokter Ali dengan menepuk sekilas bahu seniornya itu.
“Dia siapa? Terlihat sangat berwibawa sekali. Kata-katanya bahkan tidak dapat aku bantah sedikitpun.” ucap si suami dari keluarga pasien dokter Ali.
“Tapi bagaimanapun juga, apa yang dia katakan ada benarnya juga. Kalau kita terus bersedih, Riko pasti akan merasa sedih juga. Seharusnya kita bersyukur dia masih hidup. Sekalipun harapannya sembuh dan bisa kembali normal hanya nol koma satu persen, setidaknya masih ada harapan daripada tidak sama sekali.” ujar si istri.
Dokter Ali melihat kepergian Juna dengan pandangan tanpa teralihkan sedikitpun. Benaknya bertanya, apa yang membuat pria itu membantunya berbicara pada keluarga pasiennya? Dokter Ali sebenarnya enggan mengakui ini, tapi Juna sungguh luar biasa.
•••
Beberapa menit yang lalu, Deon menarik Risa, membawa gadis itu pergi ke suatu tempat. Dalam perjalanan pun Deon sama sekali tidak berniat memberitahu Risa sama sekali. Deon seolah sedang memberi kejutan pada gadis itu.
Dan sekarang, Risa berdiri di halaman sebuah rumah dengan luas sekitar seribu meter persegi.
“Kamu ingat tempat ini?” tanya Deon dengan senyum manisnya.
“Ini, dulu ini, tidak mungkin, kamu sungguh membangun rumahmu di sini. Bahkan danau itu masih ada.” kata Risa sembari menatap ke sekeliling halaman rumah dengan dekorasi yang seperti berada di kampung halaman sendiri.
“Iya. Ini dulu adalah tempat kita menghabiskan waktu sore bersama. Danau itu masih ada karena— ” perkataannya sengaja ia gantungkan. Deon menatap Risa lekat.
“Karena apa?”
Karena aku membangun dan membuat rumah ini khusus untukmu. Untuk kita tinggali bersama. Andai saja aku sedikit lebih cepat dari orang yang dijodohkan denganmu itu. Ya, saat ini aku hanya bisa berkata andai dan andai.
“Deon?”
Deon kembali mengulas senyuman-nya. “Lupakan saja. Ah, lebih baik kita masuk. Masih ada kejutan lainnya untukmu.” katanya.
💥thanks for reading this novel. Don't forget to favorite, like, comment and vote.💥
✍ Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf apabila ada persamaan nama tokoh, karakter, tempat kejadian ataupun peristiwa yang terjadi.✍
Terimakasih sudah mengikuti novel ini. Jangan lupa komentar dan vote kalian. Ty
dr awal crita ny bgus bnget smpe part ini pun ttp bgus...yah apa emag crita ny dibikin gntung gni kli ya