Bagaimana perasaanmu jika tiba-tiba ada yang datang ke rumahmu dan melamarmu?
Apa yang akan kamu lakukan?
Menolakkah? Atau menerimanya?
Inilah yang dialami oleh Jiana Calysta Pranaja. Ia tiba-tiba dijodohkan oleh orang yang tidak ia kenal.
Bagaimana kisahnya?
Simak yukk❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Seperti biasa, Jiana sampai di kampus langsung masuk ke kelasnya bersama dengan Sarah. Mereka datang lima menit sebelum dosen masuk ke kelasnya. Sembari menunggu dosen tiba, mereka mengobrol santai.
"Selamat pagi semuanya," ucap bu Dira. Dosen Jiana pagi ini.
"Selamat pagi bu," jawab mahasiswa serentak.
"Sebentar lagi kita akan UAS. Jadi ibu harap kalian persiapkan diri. Jika masih ada tanggungan dengan pihak administrasi bisa segera diselesaikan," ujar bu Dira dengan ramah.
"Baik bu," jawab mahasiswa serentak.
Kelas dimulai, Jiana fokus dengan apa yang disampaikan oleh bu Dira. Mereka dengan khidmat menyimak setiap materi yang disampaikan oleh bu Dira itu.
Sementara di kantor, Raka terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Maklum, kemarin ia tidak datang ke kantor karena menemani istrinya ke rumah orang tuanya. Jadi pekerjaannya ia alihkan ke asistennya.
Hari ini ada pertemuan dengan klien penting. Raka sedang bersiap di ruang kerjanya. Sebentar lagi ia akan berangkat menuju salah satu kafe yang tak jauh dari kantornya.
"Semua sudah siap tuan," ucap Farrel.
"Baiklah, kita berangkat sekarang," ujar Raka. Farrel dan Vanya mengangguk dan berjalan mengikuti Raka di belakangnya.
"Pak Raka," sapa Sandra dengan hormat.
Raka hanya mengangguk dan melewati Sandra. Ia tak ingin ada masalah nantinya. Ia tak punya waktu untuk bermain-main dengan wanita seperti itu.
"Cih, lihat saja sampai kapan kamu akan sok begini," batin Sandra kesal. Sedangkan Farrel dan Vanya hanya menahan senyumnya.
Mereka berangkat ke salah satu kafe yang sudah dijanjikan tadi. Setelah beberapa menit, mereka sampai juga. Mereka langsung membahas kerja sama yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.
Tak hanya satu klien, hari ini ada beberapa klien yang harus ia temui. Hingga tanpa ia sadari hari sudah semakin sore. Raka masih fokus dengan pekerjaannya.
Di kampus, Jiana sengaja menunggu Raka. Entah angin apa yang membawanya hingga Jiana memilih menunggu suaminya itu. Tidak buruk juga jalan dan menghabiskan sorenya dengan Raka.
Jiana melirik jam ditangannya. Ini sudah pukul 16.00, artinya Jiana sudah menunggu Raka dari tadi siang. Jiana duduk di taman yang ada di kampusnya. Sarah sudah pergi sedari tadi. Ia menunggu Raka sendirian di sana.
"Katanya mau ajak jalan, mana? Dari tadi belum datang," gumam Jiana sambil memperhatikan sekitarnya.
Sudah dari tadi siang Jiana menghubungi Raka. Namun tak ada satu pesan yang dibalas olehnya. Namun konyolnya Jiana memilih untuk tetap menunggu Raka di taman kampus.
Jiana mencoba menghubungi Raka kembali. Namun sekarang ponsel Raka tidak bisa dihubungi. Jiana mulai gusar.
"Jadi nggak sih? Kalau tahu seperti ini harusnya pulang saja dari tadi," gerutu Jiana yang masih fokus dengan ponselnya.
"Oke, tunggu lima menit lagi kalau masih tidak datang awas saja," gumam Jiana.
Lima menit sudah terlewati dan bahkan sekarang sudah pukul 16.30. Raka belum juga datang menjemputnya.
Merasa kecewa, Jiana memutuskan untuk pulang. Tidah seharusnya ia mempercayai Raka. Dirinya bahkan sudah menunggu Raka berjam-jam. Pesannya juga tak ada satupun yang dibalas.
Sebelum pulang ke rumah, Jiana memutuskan untuk mampir ke kafe langganannya terlebih dahulu. Ia duduk dipojokan yang sedikit menjauh dari keramaian. Sambil menikmati minuman yang ia pesan tadi, Jiana memperhatikan jalanan yang ramai dari balik jendela.
"Tak seharusnya aku percaya sama kamu Raka," gumam Jiana dan menghela napasnya pelan.