Cerita berlatarkan negara luar
Meira seorang gadis berusia 21 tahun, ia tinggal bersama seorang ayahnya yang hanya tinggal sendiri karena kedua orangtuanya telah berpisah saat Meira masih berusia 7 tahun. Ibu Meira menikah lagi dengan seorang aktor terkenal, sementara Meira menjalani kehidupan seperti biasa bersama ayah nya yang hanya memiliki satu perusahaan kecil.
"Meira.. tolong teruskan perusahaan itu demi papa." ucap papa Meira, dan menjadi pesan terakhirnya sebelum ia meninggalkan putrinya untuk selamanya.
*
Suatu saat perusahaan mengalami penurunan drastis hingga Meira harus meminta pertolongan pada perusahaan besar yang di pimpin oleh pria dingin.
"Permohonan mu saya terima dengan satu syarat." ucap si pria itu.
"A-apa?"
"Menikahlah dengan ku."
Ucapan itu membuat Meira terkejut bagaikan di sambar petir di siang bolong. Namun rencananya terhalang oleh seseorang.
Simak yuk 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Drrtt. . ..drrtt. . . Sebuah ponsel yang terletak di hadapan Meira berdering. Ia mengalihkan pandangannya pada ponsel tersebut dan terlihatlah nomor tidak di kenal pada layar ponsel Meira. "Orang iseng mana lagi yang menelpon." gumam Meira. Setelah panggilan nya terhubung, terdengar suara seorang pria di balik panggilan telpon nya.
"Siapa nih?" tanya Meira yang sama sekali tidak mengetahui siapa pemilik nomor yang menelponnya itu.
"Apa kau tidak menyimpan nomor ku?" saut pria di sebrang sana.
"Bagaimana aku bisa menyimpan nomor mu, sementara aku tidak tau kamu siapa?"
"Orang yang satu kamar dengan mu!"
"Wah luar biasa, darimana kamu punya nomor ku?"
"Astaga.. apa kau benar-benar amnesia? apa perlu aku membawa mu ke rumah sakit?"
"ehh?"
"lupakan." ucap Alexi menutup sambungan telponnya.
"Dasar pria menyebalkan, selalu bersikap seenaknya." gumam Meira sambil kembali memakan camilannya.
Mendengar Meira menyebut pria menyebalkan, menarik perhatian Ayumi yang duduk di hadapannya. Belum sempat Ayumi menanyakan suatu hal, Meira menggebrak sebuah meja dan membuat gadis di hadapannya itu kaget.
"Aku ingat sekarang."
"Ingat apa?"
"nomor ponsel."
"Punya Nino?"
"Bukan, masalah aku pernah memberikannya nomor ponsel ku waktu di taman dulu, ternyata dia masih menyimpannya." ucap Meira.
"aishh..."
Sebuah mobil datang dan terparkir di depan mini market, keluarlah seorang pria dari mobil itu dan menghampiri kedua gadis yang sedang asik berbincang. Tanpa sebuah kata pria itu duduk di samping Meira dan mengambil minuman yang ada di hadapannya.
"Hei itu punya ku.." ucap Meira tanpa melihat orang itu.
"Devan.. kau... ngapain disini?" tanya Meira ketika melihat pria di samping nya.
"Tentu saja menjemput kakak ipar." saut Devan.
"Tunggu. . . maksud kakak ipar?" ucap Ayumi yang tidak mengetahui kalau Devan adalah adik sepupu Alexi.
Devan pun angkat bicara, ia menjelaskan yang sebenarnya pada Ayumi.
"Jadi kamu adik sepupu nya Alexi? tapi kenapa bisa kebetulan sepeti ini?" ucap Ayumi.
"Mungkin takdir kalau aku gak boleh terpisah dari nya, ya... walau bukan menjadi suaminya seenggaknya masih bisa dekat." ujar Devan dengan senyuman nya.
Meira yang mendengar ucapan Devan seperti itu, tersirat rasa curiga pada pria yang di sebut adik ipar nya itu. Kecemasan dalam dirinya timbul begitu saja, walau ia tau Devan pria yang baik namun semua itu tidak menutup kemungkinan untuk dia berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya.
"Emm... Dev.. kayaknya aku akan pulang bareng Ayumi deh, kamu bisa pulang duluan." ucap Meira mencari sebuah alasan untuk membatasi jarak dengan nya.
"Tapi ini perintah, aku tidak bisa meninggalkan mu begitu saja."
"Atau mau aku telpon kak Lexi?"
"Ahh.. baiklah kalau gitu, ayo pergi antarkan aku ke tempat Lexi."
Walau dengan perasaan sedikit kesal, Devan menyetujui permintaan Meira. Mereka pun pergi masuk kedalam mobil yang sama dan meninggalkan tempat itu juga Ayumi.
"Sepertinya ada sesuatu di balik semuanya, kenapa harus Devan?" gumam Ayumi yang kemudian pergi masuk ke dalam sebuah taksi.
**
Sesampainya di sebuah perusahaan, Meira bergegas menuju ruangan Alexi. Di sebuah lobby dengan secara kebetulan ia berpapasan dengan Nino yang sedang berjalan menuju luar, Ketika melihat pria di hadapannya, Meira langsung teringat dengan Ayumi dan pembicaraannya beberapa jam lalu. Ia menghentikan langkah Nino dan meminta nomor telponnya secara terang-terangan. Dengan mudah Nino memberikan nomor ponselnya pada Meira. Ia pun melanjutkan langkahnya yang terburu-buru begitu juga dengan Meira.
Setelah sampai di depan sebuah ruangan, Meira menerobos masuk tanpa mengetuk pintunya terlebih dulu dan mengagetkan seorang pria yang sedang bersama dengan wanita di dalam ruangan itu.
"Aahh.... maaf, aku gak tau ada orang lain disini." ucap Meira membalikkan tubuhnya dan hendak kembali ke luar.
"Diam di situ." ucap Alexi menghentikan langkah istrinya.
"Kamu boleh keluar." sambung Alexi pada karyawannya.
Wanita itu berjalan keluar dan melewati Meira sambil membungkuk memberi hormat. Begitu juga dengan Meira yang membalas sapaannya.
"Ada apa tiba-tiba kesini?"
"Emm... itu... aku mau minta satu permintaan."
"Katakan, permintaan apa itu?"
"Bisakah kamu menggantikan Devan?"
"Kenapa kamu ingin aku menggantikannya?"
"Devan teman satu kampus aku dan... itu terlalu canggung." ucap Meira terputus-putus.
Alexi beranjak dari duduknya dan menghampiri Meira yang masih berdiri di dekat sebuah jendela, ia mengulurkan tangan nya dan melingkarkan di pinggang kecil nya. Kini jarak mereka sangatlah dekat hingga membuat Meira tidak nyaman dengan posisinya.
"Jangan seperti ini."
"Kenapa? disini gak ada orang lain."
"Bukan masalah ada atau enggaknya, tapi aku gak nyaman dan ingat jangan pernah lupakan satu hal, aku menikah dengan mu cuma ingin NH kembali bukan karena cinta." jelas Meira.
Seketika Alexi melepaskan tangannya dari pinggang Meira dan berjalan mundur beberapa langkah darinya. "baiklah jika itu mau kamu, lakukan sesuka mu." ucap Alexi.
Meira pun bergegas keluar dengan perasaan yang tak menentu, di satu sisi ia ingin menjaga jarak dengan Devan untuk menghindari kesalahpahaman, dan di sisi lain ia juga tidak mencintai Alexi. "Apa yang telah kamu lakukan Meira." gumamnya pada diri sendiri.
Gadis itu pun pergi meninggalkan perusahaan dan masuk ke dalam sebuah taksi.
Sesampainya di sebuah rumah, sepeti biasa Meira di sambut dengan beberapa pelayan rumah, ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan dirinya. Melihat ekspresi wajah nona nya, beberapa pelayan di rumah itu membicarakan nya hingga membuat Lily terdorong untuk menemui Meira di kamarnya.
Tok. .tok. . .tok . .
"Permisi non." ucap Lily di balik pintu kamar.
Meira bergegas menuju pintu dan membukanya.
"Ada apa Li?"
"Apa nona baik-baik aja? wajah nona terlihat sedikit pucat."
"Benarkah?"
Lily hanya mengangguk menyauti Meira. "Biar aku buatkan secangkir teh hangat." Ucap Lily sambil pergi ke dapur.
Setelah membuatkan secangkir teh, Lily kembali ke kamar Meira dan menaruh cangkir itu di sebuah meja. Saat ia akan kembali Meira menyuruhnya untuk tetap diam dan mengajaknya mengobrol di sebuah balkon. Meira mengajukan beberapa pertanyaan yang ia rasakan sekarang dan minta pendapat dari Lily.
Meski Lily belum menikah namun ia bisa mengerti dengan apa yang di rasakan nona nya itu. Ia pun memberikan sedikit saran pada Meira untuk mencoba membuka hatinya sebelum semuanya terlambat.
"Maksudnya dengan kata terlambat apa dia akan meninggalkan aku begitu saja?" tanya Meira.
"Aku gak tau pasti non, tapi yang namanya pria seiring dengan berjalannya waktu dia bisa melakukan apa aja, tapi nona tenang aja, tuan Lexi bukan pria yang seperti itu." jelas Ayumi.
Meira menghela nafas beratnya dan memikirkan semua apa yang di katakan Lily padanya.
***
Bersambung. . .
katanya gadis pintar tapi kok bodoh
selalu bertindak tanpa pikiir terlebih dahulu
meski Meira udah 2 kali ke kantor Lexi ttp aja yang pertama kan dia hanya di bagian depanperusahaan