NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: KERINDUAN DAN KEPUTUSAN BESAR

Waktu terus berjalan seperti sungai yang mengalir deras menuju lautan. Rangga kini duduk di kelas dua SMA, usianya menginjak enam belas tahun. Ia semakin dewasa, semakin percaya diri, dan semakin jelas melihat masa depannya. Nilai-nilainya tetap berada di peringkat teratas di setiap ujian, dan ia menjadi salah satu siswa terbaik di sekolahnya, bahkan dikenal di tingkat kabupaten karena prestasinya yang gemilang. Guru-guru memprediksi bahwa ia akan diterima di universitas terbaik di pulau Jawa jika ia terus mempertahankan prestasinya dan tidak lengah.

Rangga telah beradaptasi dengan kehidupan di SMA dan lingkungan kota. Ia tidak lagi menjadi sasaran ejekan dari teman-teman sekelasnya. Fajar dan teman-temannya, yang dulu sering mengejeknya, kini mulai menghormatinya setelah melihat prestasi dan sikapnya yang rendah hati. Rangga bahkan pernah membantu Fajar mengerjakan soal matematika yang sulit, tanpa pamrih dan tanpa menyimpan dendam. Sejak itu, Fajar menjadi lebih ramah dan tidak pernah lagi mengejek siswa-siswa dari desa.

Rangga juga semakin aktif dalam berbagai kegiatan sekolah. Ia bergabung dengan klub matematika, klub sains, dan bahkan menjadi ketua OSIS setelah melalui pemilihan yang ketat. Ia membuktikan bahwa siswa dari desa pun bisa memimpin dan menginspirasi orang lain. Setiap hari, ia disibukkan dengan berbagai tugas—belajar, mengurus organisasi, dan sesekali mengikuti lomba di luar kota. Namun di balik semua kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri untuk pulang ke desa setiap akhir pekan, menemui Nenek Saroh yang semakin tua dan lemah.

Nenek Saroh kini usianya sudah mendekati delapan puluh tahun. Tubuhnya semakin ringkih, rambutnya semakin putih, dan kulitnya semakin keriput. Ia sering batuk-batuk dan mengeluh nyeri di persendiannya. Namun setiap kali Rangga pulang, matanya selalu berbinar-binar dan senyumnya selalu merekah. Ia selalu menyiapkan makanan favorit Rangga, meskipun dengan susah payah dan tubuh yang gemetar.

"Nak, Nenek rindu padamu. Setiap malam Nenek memandangi jalan, berharap melihatmu datang," kata Nenek suatu akhir pekan saat Rangga baru saja tiba di gubuk. Tangannya yang gemetar mengusap rambut Rangga dengan lembut.

Rangga memeluk Nenek erat-erat, merasakan tulang-tulangnya yang menonjol. "Aku juga rindu Nenek, Nek. Aku selalu memikirkan Nenek di sekolah. Aku berdoa setiap malam agar Nenek sehat dan kuat."

Suatu malam, saat Rangga dan Nenek duduk di teras gubuk menikmati angin malam yang sejuk, Rangga memberanikan diri untuk membicarakan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan. Langit di atas mereka dipenuhi bintang-bintang yang berkelap-kelip, dan suara jangkrik terdengar merdu dari kejauhan.

"Nek, aku ingin bicara sesuatu yang serius," kata Rangga pelan, suaranya bergetar.

Nenek menatapnya dengan penuh perhatian. "Ada apa, Nak? Ceritakan pada Nenek."

Rangga menarik napas dalam-dalam. "Nek, aku ingin kembali ke kota setelah lulus SMA. Aku ingin mencari tahu kebenaran tentang kematian orang tuaku. Aku tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian seperti ini. Setiap malam, aku masih teringat pada malam pembunuhan itu—wajah ayah dan ibuku, darah di lantai marmer, pria botak berkacamata hitam, dan suara yang memerintahkan mereka untuk membuangku di hutan. Aku tidak bisa melupakannya, Nek. Itu menghantuiku setiap hari."

Nenek Saroh terdiam beberapa saat, matanya menatap Rangga dengan dalam. Ia menghela napas panjang, lalu berkata dengan suara yang lembut tetapi penuh makna. "Nak, Nenek sudah tahu sejak lama bahwa suatu hari kau akan melakukan ini. Nenek bisa melihatnya di matamu setiap kali kau menatap ke kejauhan. Nenek tahu kau adalah anak yang memiliki misi dalam hidupnya—misi untuk mencari keadilan bagi orang tuamu. Nenek mendukung keputusanmu, asalkan kau berjanji untuk selalu berhati-hati dan menjaga dirimu sendiri. Orang-orang yang melakukan itu pada keluargamu pasti masih ada di luar sana, dan mereka mungkin masih berbahaya."

Rangga memeluk Nenek erat-erat, air mata mengalir di pipinya. "Terima kasih, Nek. Aku berjanji akan selalu berhati-hati. Aku tidak akan gegabah. Aku akan mempersiapkan diri dengan matang sebelum melangkah. Dan aku berjanji akan pulang untuk menjenguk Nenek sesering mungkin."

Nenek Saroh mengusap rambut Rangga dengan lembut, tangannya yang keriput terasa hangat di kepalanya. "Nenek akan selalu mendoakanmu, Nak. Ke mana pun kau pergi, Nenek akan selalu bersamamu dalam doa. Nenek akan meminta kepada Tuhan untuk melindungimu dan membimbing langkahmu."

Malam itu, Rangga tidak bisa tidur. Ia berbaring di tikar pandan, memandangi langit-langit gubuk yang berlubang, dan memikirkan masa depannya. Ia memikirkan tentang keputusannya untuk kembali ke kota, tentang Anisa yang setia mendampinginya, dan tentang Nenek yang selalu mendoakannya. Ia tahu bahwa perjalanan ke kota akan mengubah hidupnya selamanya. Ia akan menghadapi bahaya, orang-orang jahat, dan mungkin juga kekecewaan. Namun ia siap menghadapi apa pun yang datang, karena ia memiliki tujuan yang jelas dan tekad yang tidak bisa dipatahkan oleh siapa pun.

Keesokan paginya, Rangga berbicara dengan Anisa melalui telepon umum di desa. Ia menceritakan keputusannya untuk kembali ke kota setelah lulus SMA. "Anisa, aku sudah memutuskan. Aku akan kembali ke kota setelah lulus. Aku harus mencari tahu kebenaran tentang kematian orang tuaku."

Anisa terdiam sejenak di ujung telepon, lalu berkata dengan suara yang mantap, "Rangga, aku akan mendukungmu. Aku akan bersamamu. Kita akan pergi bersama ke kota. Aku juga ingin kuliah di sana. Kita bisa saling mendukung dan menjaga satu sama lain."

Rangga terharu mendengar kata-kata Anisa. "Kau yakin, Anisa? Kau tidak takut?"

"Tentu saja aku takut, Rangga. Tapi aku lebih takut kehilanganmu. Aku akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi," kata Anisa dengan penuh keyakinan.

Rangga merasa sangat beruntung memiliki Anisa di sisinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Anisa dan tidak pernah menyakitinya. Ia juga berjanji untuk menjadi seseorang yang layak bagi Anisa—seseorang yang bisa melindunginya dan memberinya kebahagiaan.

Seminggu kemudian, Rangga kembali ke sekolah dengan semangat baru. Ia belajar lebih giat dari sebelumnya, mempersiapkan diri untuk ujian akhir dan seleksi masuk universitas. Ia juga mulai mengumpulkan informasi tentang kota tempat ia dulu tinggal, tentang perusahaan ayahnya, dan tentang orang-orang yang mungkin terlibat dalam pembunuhan orang tuanya. Ia membaca koran-koran lama, mencari berita tentang kasus tersebut, dan mencatat nama-nama yang mungkin relevan.

Anisa membantunya dengan tekun. Mereka menghabiskan banyak waktu di perpustakaan, membaca dan mencatat. "Rangga, aku menemukan sesuatu," kata Anisa suatu hari sambil menunjukkan sebuah artikel koran lama. "Ada berita tentang perusahaan ayahmu yang bangkrut setelah kematiannya. Dan ada nama Pak Hartono yang disebut-sebut sebagai pengambil alih aset perusahaan."

Rangga membaca artikel itu dengan teliti, jantungnya berdebar kencang. "Pak Hartono… itu nama yang sama yang disebut ayahku di malam pembunuhan. Dia adalah mitra bisnis ayahku. Dan aku yakin dia terlibat dalam pembunuhan itu."

"Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang Pak Hartono," kata Anisa. "Tapi kita harus berhati-hati. Jika dia terlibat, dia pasti masih punya pengaruh dan kekuatan."

Rangga mengangguk. "Aku tahu. Kita akan melakukannya dengan hati-hati. Kita akan mengumpulkan bukti, lalu kita akan melaporkannya ke pihak berwajib."

Malam harinya, Rangga menulis surat untuk Nenek Saroh. Ia bercerita tentang rencananya dan tentang penemuan yang ia dapat. Ia menulis dengan penuh perasaan, setiap kata ia pilih dengan hati-hati.

"Nenek, aku semakin dekat dengan kebenaran. Aku menemukan nama Pak Hartono, yang mungkin terlibat dalam pembunuhan orang tuaku. Aku tidak akan menyerah sampai aku mendapatkan keadilan untuk mereka. Tapi aku berjanji, Nenek, aku tidak akan gegabah. Aku akan berhati-hati. Aku akan selalu mengingat nasihat Nenek untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Aku akan mencari keadilan dengan cara yang benar. Doakan aku selalu, Nek. Aku mencintaimu."

Ia menutup surat itu dengan perasaan lega, lalu memejamkan mata. Ia berdoa untuk Nenek, untuk Anisa, dan untuk dirinya sendiri. Ia tahu masih banyak tantangan yang menunggu di depan, tetapi ia siap menghadapinya—dengan keteguhan hati, keyakinan, dan cinta dari orang-orang yang ia sayangi.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!