Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.
Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.
Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam di Kota Qinghe masih tenang.
Tak seorang pun menyadari...
Lima sosok berjubah hitam telah berdiri di atas tebing yang menghadap kota. Salah seorang bertopeng merah menatap ke arah Kediaman Keluarga Shen.
"Jadi... sumber aura itu berasal dari kota ini."
Pria berjubah ungu menutup matanya.Benang-benang energi hitam menyebar ke seluruh penjuru kota. Sesaat kemudian...
Ia membuka mata.
"Aneh. Aura itu sudah menghilang."
Pria bertopeng merah mendengus.
"Berarti pemiliknya pandai menyembunyikan diri."
Seorang wanita berjubah hitam tertawa pelan.
"Kalau begitu kita buat saja dia keluar."
Keempat rekannya langsung menoleh.
"Apa maksudmu?"
Wanita itu tersenyum dingin.
"Manusia selalu muncul ketika orang yang ingin mereka lindungi berada dalam bahaya."
Semua langsung memahami maksudnya. Mereka tidak perlu mencari. Mereka cukup membuat Kota Qinghe menjadi umpan.
...
Sementara itu...
Seekor elang emas akhirnya mendarat di halaman Kediaman Shen. Pak Hong segera menerima gulungan surat itu. Matanya langsung berubah serius.
"Tuan Muda!"
Shen Yu yang sedang duduk menikmati teh bersama Lin Xue mengangkat kepalanya.
"Ada apa?"
Pak Hong menyerahkan surat tersebut.
"Surat darurat dari Yang Mulia."
Shen Yu membuka gulungan itu.
Isinya singkat.
"Tiga sekte di utara telah lenyap. Waspadalah. Musuh mungkin telah bergerak."
Shen Yu perlahan menggulung kembali surat itu.
"Nampaknya mereka lebih cepat dari dugaan."
Lin Xue mengangguk.
"Mereka tidak pernah memberi lawan waktu untuk bersiap."
Belum sempat percakapan berlanjut...
BOOOM!!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh Kota Qinghe.
Langit malam berubah merah. Asap membumbung dari arah gerbang timur. Pak Hong langsung berdiri.
"Itu arah pasar!"
Jeritan warga mulai terdengar dari kejauhan.
Mu Xueyi ikut berdiri.
"Apa yang terjadi?"
Lin Xue perlahan menutup matanya.
Lalu...
Tatapannya berubah sangat tajam.
"Bukan kecelakaan."
"Itu sengaja."
Shen Yu berdiri. Senyum santainya perlahan menghilang. Tatapannya menjadi dingin.
"Kalau begitu..."
"Akhirnya mereka datang."
Di atas gerbang timur Kota Qinghe...
Lima sosok berjubah hitam berdiri berjajar di udara. Aura mereka menyelimuti seluruh kota seperti malam tanpa akhir. Warga yang melihat pemandangan itu langsung berlutut ketakutan. Salah seorang berjubah hitam melangkah maju.
Suaranya menggema ke seluruh penjuru kota.
"Pemilik aura emas..."
"Keluar menemui kami."
"Kalau tidak..."
Ia mengangkat satu jarinya ke arah kota.
"Satu kota ini akan lenyap sebelum matahari terbit."
Di Kediaman Shen...
Shen Yu perlahan membuka kipasnya.
Senyumnya kembali muncul.
Namun kali ini...
Bahkan Lin Xue dapat merasakan bahwa senyum cucunya berbeda. Bukan senyum seorang pemuda nakal. Melainkan senyum seseorang yang akan segera memburu mangsanya.
Malam semakin larut.
Di dalam kamar...
Mu Xueyi telah tertidur dengan kepala bersandar di bahu Shen Yu. Wajahnya terlihat damai setelah akhirnya melepaskan rasa cemburu yang sejak tadi ia pendam.
Shen Yu mengusap lembut rambut istrinya. Lalu perlahan membaringkannya di tempat tidur dan menyelimutinya.
"Istirahatlah."
Ia kemudian berjalan keluar kamar.
...
Di halaman belakang...
Lin Xue masih berdiri memandang langit malam.
Seolah sedang menunggu sesuatu. Shen Yu menghampirinya.
"Nenek belum tidur?"
Lin Xue menggeleng pelan.
"Aku sedang merasakan beberapa aura asing."
Shen Yu sedikit mengernyit.
"Mereka sudah datang?"
"Belum memasuki Kota Qinghe. Tetapi mereka sudah berada di wilayah sekitar."
Tatapan Shen Yu berubah serius.
"Secepat itu..."
Lin Xue mengangguk.
"Kuil Kegelapan selalu bergerak lebih cepat daripada dugaan."
Saat itu juga...
Pak Hong berlari memasuki halaman.
"Nyonya Lin."
Lin Xue menoleh.
"Ada apa?"
Pak Hong memberi hormat.
"Seluruh pengikut keluarga Shen telah berkumpul sesuai perintah."
"Baik."
Lin Xue berjalan menuju aula utama.
Shen Yu mengikuti dari belakang.
...
Begitu pintu aula dibuka puluhan orang telah berdiri rapi. Tidak ada satu pun yang berbicara. Begitu melihat Lin Xue...
Mereka serempak memberi hormat.
"Salam kepada Nyonya Lin!"
Shen Yu memperhatikan mereka satu per satu. Sebagian adalah orang yang pernah ia lihat sejak kecil. Namun...
Sebagian lagi benar-benar asing. Aura mereka bahkan jauh lebih kuat daripada para tetua keluarga besar di Kota Qinghe.
Di barisan paling depan...
Yan Luo berdiri dengan pedang di pinggangnya. Di sampingnya berdiri seorang pria berambut panjang berusia sekitar tiga puluh tahun.
Tatapannya tenang. Namun aura yang dipancarkannya membuat bahkan Yan Luo terlihat lebih rendah.
Shen Yu memandang pria itu.
"Aku belum pernah melihatnya."
Lin Xue tersenyum tipis.
"Tentu saja. Karena selama ini dia menjalankan tugasku di luar Kota Qinghe."
Pria itu melangkah maju lalu memberi hormat.
"Hamba memberi salam."
Lin Xue mengangguk.
"Perkenalkan. Dia adalah Han Tian. Pemimpin seluruh pengikut keluarga Shen."
Shen Yu sedikit terkejut.
"Lebih kuat daripada Yan Luo?"
Yan Luo sendiri langsung menjawab.
"Kalau bertarung, aku mungkin bahkan tidak sanggup bertahan sepuluh jurus melawan Senior Han."
Han Tian hanya tersenyum tipis.
"Itu hanya karena aku berlatih lebih lama."
Shen Yu mengangguk pelan. Kini ia akhirnya mengerti.
Selama ini...
Keluarga Shen ternyata menyembunyikan jauh lebih banyak kekuatan daripada yang ia bayangkan. Lin Xue memandang seluruh pengikutnya.
"Dengarkan baik-baik. Waktunya telah tiba. Kuil Kegelapan mulai bergerak lagi."
Begitu nama itu disebut...
Beberapa wajah langsung berubah. Jelas mereka mengetahui betapa mengerikannya organisasi tersebut.
Lin Xue melanjutkan.
"Aku tidak memanggil kalian untuk mati. Aku memanggil kalian untuk melindungi rakyat. Mulai malam ini, seluruh wilayah Kota Qinghe berada di bawah perlindungan keluarga Shen. Siapa pun yang berani menyakiti rakyat..."
Tatapannya berubah dingin.
"...akan menjadi musuh keluarga Shen."
"Baik Nyonya Lin"
Seluruh aula bergemuruh oleh jawaban mereka. Di saat yang sama...
Ratusan kilometer dari Kota Qinghe. Lima Raja Kegelapan akhirnya berhenti di puncak sebuah gunung. Salah seorang dari mereka menutup mata.
"Sudah terlihat."
"Aura kota itu."
Pria berjubah merah mengangguk.
"Tapi ada yang aneh, aku merasakan lebih dari satu aura kuat."
Wanita berjubah hitam tersenyum tipis.
"Berarti perjalanan ini tidak akan membosankan."
Mereka berlima tidak terburu-buru. Sebaliknya...
Mereka memilih menunggu hingga fajar. Karena bagi para pemburu...
Mangsa yang lengah selalu lebih mudah ditangkap.
Sementara itu...
Tak seorang pun menyadari bahwa malam itu, dua kekuatan besar telah bersiap. Di satu sisi...
Keluarga Shen mulai membuka taring yang selama puluhan tahun disembunyikan. Di sisi lain...
Lima Raja Kegelapan terus mendekat, selangkah demi selangkah, menuju Kota Qinghe.