elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Saya Bukan Pembantu
“Kamu sekarang berani ya sama saya.”
Ibu Kho bangkit dari kursi. Teh di dalam cangkir masih bergoyang ketika ia menunjuk Nan Shin.
“Sejak dapat pesangon, sikapmu berubah. Kartu disembunyikan, saldo tidak mau bilang, diminta membantu keluarga malah menolak.”
Nan Shin melirik Yi Chen yang berdiri di dekat rak sepatu. Anak itu memandang mereka sambil memegang tali tas kecilnya.
“Yi Chen, masuk kamar dan susun mobil-mobilan dulu, ya.”
“Popo marah?”
“Mama dan Popo sedang bicara. Kamu tidak salah apa-apa.”
“Aku mau sama Mama.”
Nan Shin berjongkok dan merapikan rambutnya. “Mama akan menyusul.”
Yi Chen berjalan ke kamar dengan langkah lambat. Nan Shin menunggu sampai pintunya tertutup sebelum kembali menatap Ibu Kho.
“Saya tidak akan membicarakan rekening di depan anak.”
“Kamu yang membuat ini jadi masalah besar.”
“Mama masuk kamar saya, membuka laci saya, lalu menentukan dua puluh juta harus dipindahkan. Itu memang masalah besar.”
“Jangan menuduh saya menggeledah.”
“Amplop bank saya berubah posisi.”
“Saya cuma merapikan.”
“Mama tidak perlu merapikan laci kamar saya.”
Ibu Kho mengambil ponsel. “Saya sudah bilang Cheng An. Biar dia yang mengurus istrinya.”
Kalimat mengurus istrinya membuat leher Nan Shin terasa kaku. Ia bukan anak yang melanggar aturan. Namun Ibu Kho sudah menekan nama putranya di layar, seolah memanggil orang yang memiliki kewenangan lebih tinggi.
“Halo? Kamu pulang malam ini. Istrimu sudah tidak bisa diajak bicara.”
Suara Cheng An terdengar samar dari ponsel. Ibu Kho berjalan menjauh sambil menceritakan versinya: Nan Shin menyembunyikan uang, menolak membantu biaya anak, dan melarangnya masuk kamar.
Tidak ada bagian tentang laci yang dibuka tanpa izin. Tidak ada bagian tentang keputusan Rp 20 juta yang dibuat sepihak.
Nan Shin menyiapkan makan siang untuk Yi Chen, kemudian mencuci pakaian, mengangkat jemuran, dan menjemput Yi Ming seperti biasa. Ibu Kho tidak berbicara kepadanya lagi. Perempuan itu hanya mengirim pesan suara panjang kepada Cheng An dari ruang keluarga.
Menjelang malam, nasi sudah matang dan sup masih mengepul ketika pintu depan terbuka. Cheng An masuk dengan jas kerja tersampir di lengan. Ia tidak menyapa anak-anak lebih dulu.
“Kita bicara sekarang,” katanya.
Nan Shin meletakkan sendok sayur. “Setelah anak-anak makan.”
“Mama bilang kamu menuduhnya mencuri.”
“Saya tidak pernah mencuri!” seru Ibu Kho dari meja makan.
Yi Ming yang sedang menuang air berhenti. Yi Chen memegang ujung baju kakaknya.
“Aku bilang setelah anak-anak makan,” ulang Nan Shin.
“Kenapa harus ditunda?” Cheng An melepas jasnya. “Selesaikan sekarang supaya rumah tidak tegang.”
Nan Shin menatap dua anaknya. “Yi Ming, ajak adik makan di kamar sebentar. Mama bawakan piring.”
“Kenapa kami harus pergi?” tanya Yi Ming.
“Karena ini urusan orang dewasa.”
“Papa marah sama Mama?”
Cheng An mengembuskan napas. “Tidak usah membuat anak berpikir macam-macam.”
“Mereka sudah mendengar suara kita.” Nan Shin membagi nasi dan sup ke dua mangkuk. “Mama akan bicara setelah kalian makan. Kalian tidak perlu memperbaiki apa pun.”
Yi Ming membawa mangkuknya dan membantu Yi Chen memegang sendok. Keduanya naik ke lantai dua, tetapi pintu kamar tidak menutup sepenuhnya.
Begitu langkah mereka menghilang, Cheng An menatap Nan Shin.
“Sekarang jelaskan.”
“Mama masuk kamar kita tanpa mengetuk. Laci meja rias dibuka. Setelah itu Mama meminta aku menunjukkan saldo dan memindahkan Rp 20 juta ke rekeningmu.”
“Untuk dana keluarga,” sela Ibu Kho.
“Kita belum pernah menyepakati itu,” kata Nan Shin.
Cheng An mengusap kening. “Kalau uangnya untuk kebutuhan keluarga, apa masalahnya?”
“Masalahnya tidak ada yang bertanya. Kalian memutuskan atas uang pesangonku, waktu mencari kerjaku, bahkan laci kamarku.”
“Itu kamar di rumah yang cicilannya saya bayar,” kata Cheng An.
Nan Shin menatapnya. “Jadi karena cicilan dibayar dari rekeningmu, aku tidak punya ruang pribadi?”
“Jangan memelintir.”
“Aku sedang memastikan aturan rumah ini.”
Ibu Kho menepuk meja. “Aturannya sederhana. Istri membantu suami. Menantu menghormati orang tua. Ibu mengurus anak. Apa yang sulit?”
“Mengurus anak tidak sulit untuk saya. Yang sulit adalah semua orang menganggap saya tersedia dua puluh empat jam.”
“Kamu di rumah!”
“Saya di rumah karena kehilangan pekerjaan, bukan karena berhenti menjadi manusia.”
“Dengar cara dia bicara, Cheng An.” Ibu Kho menoleh kepada putranya. “Dua belas tahun saya bantu rumah ini. Sekarang saya dianggap pengganggu.”
Nan Shin menahan telapak tangannya di tepi meja. “Saya menghargai bantuan Mama. Tapi membantu bukan berarti boleh mengatur rekening saya atau masuk kamar tanpa izin.”
“Saya tinggal di sini!”
“Saya juga.”
“Kalau begitu jalankan kewajibanmu tanpa banyak menghitung!”
Kalimat itu menghantam sesuatu yang telah lama retak. Nan Shin melihat jadwal di pintu kulkas, tumpukan piring kotor, jas Cheng An di kursi, dan dua mangkuk anak yang dibawa ke kamar agar mereka tidak mendengar orang dewasa berteriak.
“Saya memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengantar anak, menjemput anak, mengurus obat Mama, menyetrika baju Cheng An, dan tetap mencoba mencari kerja.” Suaranya tidak tinggi, tetapi setiap kata terdengar jelas. “Saya anggota keluarga ini.”
Ibu Kho mendengus. “Kalau memang anggota keluarga, jangan pilih-pilih tugas.”
Nan Shin berdiri lebih tegak.
“Saya bukan pembantu di rumah ini.”
Ruangan diam selama satu detik.
Wajah Ibu Kho memerah. “Apa maksudmu? Jadi selama ini saya memperlakukanmu seperti pembantu?”
“Mama membuat jadwal dari sebelum subuh sampai malam, lalu menambah tugas setiap kali melihat saya duduk. Ketika saya butuh waktu untuk melamar kerja, Mama bilang rumah lebih penting. Ketika saya melindungi pesangon, Mama bilang saya tidak membantu keluarga.”
“Saya melakukan itu supaya rumah teratur!”
“Rumah yang teratur tidak seharusnya menghapus satu orang di dalamnya.”
Cheng An mengangkat suara. “Cukup, Nan. Minta maaf kepada Mama.”
Nan Shin menoleh kepadanya. “Untuk kalimat yang mana?”
“Untuk semua cara bicaramu.”
“Apakah Mama akan minta maaf karena membuka laci saya?”
“Dia ibuku.”
“Dan aku istrimu.”
“Makanya kamu harus membantu menjaga keadaan, bukan memperbesar masalah.”
“Menjaga keadaan selalu berarti aku yang diam.”
“Karena kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya!”
“Sebelumnya aku masih percaya kalau aku cukup sabar, kalian akan melihat pekerjaanku.”
Ibu Kho berdiri di samping putranya. “Apa lagi yang mau dilihat? Kamu tinggal di rumah bagus, anak-anak sekolah, makanan tidak kurang. Semua dari Cheng An.”
“Dua belas tahun gaji saya masuk ke rumah ini.”
“Itu masa lalu,” kata Cheng An.
Nan Shin merasakan telapak tangannya dingin. “Bagimu mungkin. Tubuhku masih mengingat dua belas tahun itu.”
“Jangan bicara seolah kami memanfaatkanmu.”
“Kalau aku berhenti melakukan semua tugas di jadwal itu selama satu hari, baru kita lihat siapa yang selama ini dimanfaatkan.”
Cheng An menekan kedua tangan ke meja. “Kamu mau meninggalkan anak-anak?”
“Jangan pakai anak-anak untuk mengubah maksudku.”
“Kamu sendiri yang bilang mau berhenti mengurus rumah.”
“Aku bilang tugas harus dibagi.”
Suara tangis kecil terdengar dari tangga.
Yi Chen berdiri di anak tangga terakhir dengan pipi basah. Sup menetes di bagian depan bajunya. Yi Ming berada di belakangnya, memegang bahu adiknya.
“Jangan usir Mama,” kata Yi Chen terputus-putus.
Nan Shin langsung meninggalkan meja dan berlutut di depan anaknya. “Tidak ada yang mengusir Mama.”
“Papa bilang Mama mau pergi.”
“Papa tidak bilang begitu.” Cheng An mendekat satu langkah.
Yi Chen mundur dan menabrak kaki kakaknya. Tangisnya makin keras.
Yi Ming menatap ayahnya. “Kenapa Papa teriak?”
“Orang dewasa sedang menyelesaikan masalah.”
“Tapi Xiaobao takut.”
Nan Shin memeluk Yi Chen tanpa memintanya berhenti menangis. “Kalian berdua tidak salah. Mama dan Papa yang bicara terlalu keras.”
Ibu Kho masih berdiri di ruang makan. “Lihat, Cheng An. Anak-anak jadi begini karena dia membantah terus.”
Nan Shin mengangkat kepala. “Anak-anak takut karena tiga orang dewasa berteriak. Jangan letakkan semuanya pada saya.”
“Masih mau melawan?”
“Saya sedang mengatakan apa yang terjadi.”
Cheng An mengusap wajah. “Sudah. Minta maaf, selesai.”
Nan Shin berdiri sambil menggendong Yi Chen. Anak itu melingkarkan tangan di lehernya.
“Tidak. Saya tidak akan meminta maaf karena punya rekening sendiri, waktu sendiri, dan batas di kamar sendiri.”
“Kalau kamu naik ke kamar sekarang, kamu lari dari pembicaraan,” kata Cheng An.
“Saya menghentikan pertengkaran di depan anak. Besok kita bisa bicara kalau semua sudah tenang.”
Ia menatap Yi Ming. “Bawa mangkuknya, ya. Mama bersihkan baju adik.”
Yi Ming mengangguk. Ia mengambil mangkuk di anak tangga dan mengikuti ibunya naik.
Tidak ada seorang pun mengejar mereka.
Di kamar anak, Nan Shin mengganti baju Yi Chen, membasuh wajahnya, lalu duduk di antara kedua anak sampai napas mereka kembali teratur. Ia menjelaskan sekali lagi bahwa pertengkaran orang dewasa bukan tanggung jawab mereka. Ia tidak menjelaskan rekening, pesangon, atau pekerjaan.
“Mama tidur di sini?” tanya Yi Chen.
“Sampai kamu tidur.”
Yi Ming menarik selimut. “Mama jangan minta maaf kalau Mama nggak salah.”
Nan Shin menatapnya. “Anak tidak perlu menentukan siapa yang benar. Yang perlu kamu tahu, Mama sayang kalian.”
Setelah keduanya tidur, ia kembali ke kamar utama. Cheng An tidak ada di sana. Jasnya juga sudah hilang dari kursi.
Nan Shin mengunci pintu. Tangannya masih dingin, tetapi dadanya tidak lagi sesak seperti ketika pertengkaran dimulai. Tidak meminta maaf ternyata tidak membuat rumah runtuh. Rumah itu tetap berdiri, hanya kebiasaan lamanya yang retak.
Ia mengeluarkan tas beritsleting, memastikan kartu dan dokumen bank masih tersimpan, lalu mengambil sebuah benda dari dasar lemari.
Nan Shin membuka buku catatan biru itu.