Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Runtuhnya Sekte Utusan
Hawa panas yang membakar dunia mendadak terhenti dalam keheningan yang dingin. Di bawah pengaruh Hukum Sepuluh Senti: Distorsi Hampa, sembilan pilar api raksasa yang menyokong matahari buatan di atas Aula Utama mengeras bagai pilar kristal merah di dalam semesta abu-abu monokrom.
Seteguk darah segar kembali mengalir dari bibir Kala. Menahan pergerakan dua orang di Ranah Penguasa Langit—bahkan dengan status Zhuo Yan yang membawa serpihan hukum dewa—membuat organ dalam Kala terasa seperti dihantam palu godam kosmis. Retakan kecil mulai muncul di pembuluh darah lengannya, menyemburkan esensi darah perak naga.
"Satu detik... adalah batasanku saat ini," bisik Kala di dalam ruang waktu yang membeku.
Kala tidak membuang waktu fana yang berharga itu. Tubuhnya melesat maju, meninggalkan jejak bayangan hitam yang terdistorsi akibat gravitasi Black Hole-nya. Target pertamanya adalah sang Ketua Sekte, Feng Tian.
Dalam fraksi milidetik, Kala sudah berdiri tepat di hadapan Feng Tian. Mata sang Ketua Sekte masih melotot kaku, jimat perisai api di sekeliling tubuhnya membatu tanpa fluktuasi. Kala menarik pedang Jian hitamnya keluar sepenuhnya dari sarung kayu Yggdrasil.
"Tebasan Nihilitas: Pemutus Benang Takdir!
"Bilah pedang tipis hitam yang setipis kertas itu diayunkan dengan kecepatan yang melampaui batas kecepatan cahaya fisik. Tebasan horizontal itu tidak melepaskan energi, melainkan langsung memotong ruang tempat leher Feng Tian berada. Celah hitam tipis terbentuk di udara, melahap seluruh atom dan pertahanan Qi pelindung sang Ketua Sekte secara absolut.
Tanpa melihat hasilnya, Kala langsung memutar tubuhnya di sisa setengah detik terakhir. Mata kanan Black Hole-nya berkilat hebat, mengunci pandangan ke arah Utusan Agung Klan Api Berkobar, Zhuo Yan.Zhuo Yan, yang memiliki basis kultivasi Ranah Penguasa Langit Tingkat Puncak, ternyata tidak sepenuhnya lumpuh. Jiwanya yang diberkati oleh Dewa Api bergetar hebat. Di bawah tatapan Kala, bola mata Zhuo Yan
mulai bergerak lambat, dan tato api di keningnya mulai memancarkan percikan api perak sejati yang mencoba membakar belenggu waktu Kala.
“Kala! Dia hampir lepas! Gunakan Netra Kosmos untuk melumat energinya!” suara peringatan Pohon Akalbuana bergaung kencang di batin Kala.
"Isap!" raung Kala dalam hati.
Pupil kiri mata Kala melebar secara ekstrem. Sebuah lubang hitam mikro (miniature black hole) termaterialisasi di depan dada Zhuo Yan di dalam ruang waktu yang berhenti. Gaya tarik gravitasi nihilisme yang tak terbatas meledak, menarik jubah matahari, energi hukum dewa api, hingga esensi Qi di dalam dantian Zhuo Yan untuk masuk ke dalam pusaran mata kiri Kala
.Zhuo Yan hanya bisa merintih dalam keheningan total saat energinya dikuras paksa dari luar tubuhnya.
KLIK.Satu detik absolut berakhir. Kala mendorong kembali pedang tipisnya masuk ke dalam sarung kayu Yggdrasil dengan presisi mutlak.Waktu semesta kembali mengalir dengan dentangan yang keras.
SLASSH... BRUUK!
Kepala Ketua Sekte Feng Tian langsung menggelinding jatuh ke atas lantai Aula Utama yang mulai mencair. Tubuhnya ambruk ke dalam genangan magmanya sendiri, tewas seketika tanpa sempat menyadari bahwa dia telah ditebas di dalam dimensi waktu yang dijeda.
Di saat yang sama, sebuah ledakan energi sisa menghempaskan tubuh Zhuo Yan. Utusan Agung Klan Api itu terlempar menghantam pilar emas aula hingga hancur berkeping-keping. Zhuo Yan jatuh terduduk, memuntahkan darah segar berulang kali. Wajahnya yang tadinya kemerahan kini pucat pasi bagai mayat; setengah dari basis kultivasi Penguasa Langit miliknya telah lenyap, ditelan habis oleh mata kiri Black Hole Kala.
"Kau... kau benar-benar monster waktu..." Zhuo Yan menatap Kala dengan ketakutan yang tak terlukiskan. Sifat angkuh seorang utusan klan suci runtuh total. "Membunuh Ketua Sekte... Menelan hukum Dewa Api... Istana Langit tidak akan membiarkanmu hidup!
"Kala melangkah melewati jasad Feng Tian yang perlahan melepuh menjadi abu. Dia berdiri di depan Zhuo Yan yang sekarat, menundukkan kepalanya dengan mata penuh konstelasi bintang yang berputar dingin.
"Kembalilah ke Benua Tengah," ucap Kala, suaranya sedingin es kutub. "Katakan pada pemimpin Klan Api Berkobar, dan sampaikan pada Dewa Api yang kau sembah di langit... bahwa anak budak yang takdirnya mereka jadikan hiburan ini, sedang berjalan kaki untuk meruntuhkan singgasana mereka.
"Kala mengangkat kaki kanannya, lalu menghentakkannya ke lantai Aula Utama dengan segenap sisa energi naga purba.BOOOOOOMMM!!!
Hantaman itu memicu distorsi gravitasi yang masif. Lantai batu, dinding emas, sembilan pilar pilar api formasi, hingga seluruh kompleks Aula Utama Perguruan Pedang Langit runtuh dan meledak menjadi puing-puing debu yang beterbangan ke udara. Skenario megah perguruan yang telah menindas dataran utara selama ratusan tahun itu runtuh secara total hanya dalam satu hari penyerbuan.
Zhuo Yan menggunakan sisa energi apinya yang cacat untuk membakar selembar jimat pelarian spasial kuno, menghilang dalam kilatan cahaya perak sebelum reruntuhan bangunan menguburnya hidup-hidup. Kala membiarkannya lolos secara sengaja; dia membutuhkan seekor anjing untuk mengantarkan surat tantangan darahnya ke Benua Tengah.
Di tengah reruntuhan yang terbakar dan debu yang membubung tinggi, Kala berdiri tegak di bawah langit musim dingin yang kini bersih dari awan salju hitam.
“Kala, basis kultivasimu telah stabil di Ranah Penempa Jiwa Tingkat Puncak setelah menelan energi utusan tadi,” suara Pohon Akalbuana kembali terdengar dari dalam sarung pedangnya, kali ini dengan nada yang lebih hangat. “Namun, langkahmu berikutnya akan membawa kita ke Benua Tengah, tempat di mana Aliansi 4 Klan Suci berkuasa. Di sana, hukum waktu fana tidak akan semudah ini digunakan.
”Kala mengusap permukaan sarung pedang kayu putih peraknya yang bergetar pelan, merasakan kehangatan samar di dalamnya yang mengingatkannya pada tekadnya untuk melangkah lebih jauh.
"Aku tidak peduli seberapa kuat mereka," bisik Kala sambil mengikatkan kembali kain penutup matanya, bersiap untuk meninggalkan dataran utara yang telah rata.
"Perjalanan menuju langit baru saja dimulai."