Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
Gang sempit yang pengap dan berbau pesing itu mendadak hening. Hujan rintik-rintik yang mulai turun kembali menyentuh genangan air kotor di tanah, menciptakan suara gemericik pelan yang berpadu dengan napas terengah-engah dari dua bajak laut yang tersisa.
Di tanah, pria yang tangan kanannya baru saja terpotong masih berguling-guling, mengerang dalam penderitaan yang tak tertahankan. Darah segar bercampur dengan lumpur, menciptakan aroma besi berkarat yang menyengat hidung Muzan.
Muzan Kibutsi berdiri di posisinya, bersandar pada dinding bata yang dingin dan berlumut. Ekspresi wajah anak berusia empat belas tahun itu tidak berubah sedikit pun. Mata hitamnya yang dalam mengamati pemandangan berdarah di depannya seolah ia sedang menonton sebuah pertunjukan teater yang membosankan. Tidak ada rasa mual, tidak ada getaran ketakutan. Mentalitasnya sebagai pria dewasa yang telah mengalami transmigrasi jiwa membuatnya mampu memproses kekerasan dengan rasionalitas yang dingin.
Di depan sana, Giyu Tomioka berdiri mematung. Posturnya tegak lurus, sempurna tanpa celah. Ujung pedang Nichirin di tangannya diarahkan miring ke bawah, membiarkan sisa-sisa air dari teknik pernapasannya menetes jatuh. Mata birunya yang gelap dan kosong menatap lurus ke arah dua bajak laut yang tersisa, seolah mereka hanyalah kerikil yang tak pantas mendapatkan perhatian lebih.
Pria berbadan besar yang memegang pentungan paku menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin sebesar biji jagung meluncur dari pelipisnya. Otot-ototnya yang kekar tiba-tiba terasa kaku. Ia menatap temannya yang kehilangan tangan, lalu menatap Giyu dengan tatapan horor.
"M-Monster..." bisik pria pemegang belati yang berdiri di belakang si pria besar. Kakinya gemetar hebat hingga lututnya saling beradu. "D-Dia bahkan tidak terlihat bergerak... Ilmu sihir apa itu tadi? Air? Kenapa ada air yang keluar dari pedangnya?!"
Di dunia One Piece, fenomena aneh biasanya dikaitkan dengan Buah Iblis. Namun, mereka yang berada di East Blue—lautan terlemah dari keempat lautan—sangat jarang melihat pengguna Buah Iblis secara langsung. Bagi preman jalanan sekelas mereka, seorang pendekar pedang yang bisa memunculkan elemen air dari tebasannya adalah mimpi buruk yang melampaui akal sehat.
Muzan, melalui ikatan telepati misterius yang disediakan oleh Puppet System, merasakan seluruh indera Giyu. Ini adalah sensasi yang luar biasa memabukkan. Ia bisa merasakan berat gagang pedang Nichirin di telapak tangannya, ia bisa merasakan aliran energi yang tenang di dalam paru-paru boneka tersebut, dan ia bisa melihat dunia dengan ketajaman visual yang jauh melampaui mata manusia normal.
Jangan biarkan mereka berpikir, perintah Muzan dalam hatinya yang dingin. Selesaikan dengan cepat. Pria besar itu, pukul tengkuknya dengan punggung pedang. Pria berbelati, hantam ulu hatinya dengan gagang pedang. Jangan buat mereka berdarah lagi, nilai jual mereka bisa turun jika mereka mati.
Begitu instruksi mental itu terkirim, tubuh Giyu merespons seketika tanpa delay sedikit pun. Sistem beroperasi dengan efisiensi absolut.
Pria besar itu baru saja mengangkat pentungannya sambil berteriak histeris, "MATI KAU, BRENGSEK—!"
Kata-katanya terputus di tenggorokan.
Giyu Tomioka telah menghilang dari pandangannya. Bagi mata preman itu, Giyu hanya menyisakan bayangan kabur yang tersapu oleh angin. Namun bagi Muzan yang memegang kendali, ia melihat Giyu menggunakan teknik langkah kaki yang sangat cepat, meluncur di atas tanah basah seolah tidak ada gesekan.
"Pernapasan Air, Bentuk Kedua: Roda Air," suara datar Giyu bergema, namun kali ini nadanya diatur sedemikian rupa oleh Muzan untuk mengintimidasi, dingin dan tanpa ampun.
Alih-alih menebas secara vertikal menggunakan bilah tajam pedangnya, Giyu melompat ringan ke udara, memutar tubuhnya ke depan membentuk formasi roda, namun di detik terakhir, ia memutar pergelangan tangannya. Bilah tajam pedang Nichirin dialihkan ke atas, sementara punggung pedang yang tumpul menghantam tepat di bagian belakang leher pria berbadan besar itu dengan kekuatan yang diukur secara presisi.
KRAK!
Suara tulang yang bergeser terdengar mengerikan. Gelombang air biru yang mengikuti alur pedang Giyu menghantam tubuh raksasa itu, meredam sebagian dampak mematikan agar lehernya tidak patah sepenuhnya, namun cukup untuk menghentikan aliran darah ke otak secara instan.
Mata pria besar itu memutih. Tubuhnya yang seberat lebih dari seratus kilogram ambruk ke depan, menghantam genangan air kotor dengan bunyi Bruk! yang keras. Ia pingsan sebelum wajahnya menyentuh tanah.
Pria ketiga, si pemegang belati, menjerit ketakutan layaknya babi yang akan disembelih. Pemandangan itu telah menghancurkan kewarasannya. Ia membalikkan badan, bermaksud lari terbirit-birit keluar dari gang.
Tahan dia, perintah Muzan, matanya tidak berkedip.
Giyu mendarat dengan mulus dari putaran udaranya. Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, ia menggunakan momentum pendaratannya untuk melesat ke depan bagaikan panah yang lepas dari busurnya. Jarak tiga meter dipangkas hanya dalam satu tarikan napas.
Saat pria berbelati itu baru mengambil dua langkah, sosok Giyu sudah berada tepat di hadapannya, menghalangi jalan keluarnya. Pria itu menatap wajah Giyu yang pucat dan tanpa ekspresi, merasa seolah ia sedang menatap wajah malaikat maut.
Giyu tidak menggunakan teknik pernapasan kali ini. Ia hanya mengayunkan tangan kirinya yang memegang sarung pedang (saya), menghantamkannya dengan telak ke ulu hati pria tersebut.
BUGH!
Sebuah pukulan tumpul yang sangat padat. Udara di dalam paru-paru pria berbelati itu terlempar keluar dari mulutnya dalam bentuk semburan ludah. Matanya melotot hampir keluar dari rongganya. Sistem sarafnya lumpuh seketika akibat rasa sakit yang luar biasa di pusat saraf perutnya. Ia berlutut perlahan, lalu jatuh tertelungkup tak sadarkan diri, menyusul kapten regu kecilnya.
Pertarungan—jika bisa disebut pertarungan—itu selesai dalam waktu kurang dari lima belas detik.
Muzan menghela napas panjang. Ia melepaskan sebagian fokus kendalinya dari Giyu. Sensasi dual-vision perlahan mereda. Giyu kembali ke posisi netralnya, berdiri diam layaknya patung penjaga yang tak bernyawa, sarung pedang kembali ke pinggangnya, dan napasnya kembali beraturan.
Sebuah suara mekanis yang dingin berdenting di dalam benak Muzan.
«"DING!"»
«"Misi Selesai: Basmi Ancaman Lokal."»
«"Evaluasi: Sempurna. Tidak ada kerusakan berlebih pada target buronan."»
«"Hadiah didistribusikan: 15.000 Belly, 10 Poin Pengalaman Sistem."»
Muzan membuka panel sistemnya dan melihat tab [Belly Counter]. Angka 0 yang menyedihkan itu kini berubah menjadi 15.000 Belly.
"Awal yang bagus," guman Muzan pelan. Ia berjalan perlahan, menyeret kaki kurusnya yang tidak beralas kaki mendekati ketiga tubuh yang tergeletak di tanah.
Pria pertama yang tangannya terpotong kini sudah setengah pingsan karena syok dan kehabisan darah. Napasnya tersengal-sengal. Jika dibiarkan lebih lama lagi, ia pasti akan mati. Dan di dunia ini, buronan yang sudah mati terkadang nilainya dipotong hingga 30% oleh pihak Angkatan Laut karena mereka tidak bisa melakukan interogasi atau eksekusi publik. Muzan, sebagai seorang pragmatis yang sangat menghitung setiap sen keuntungannya, tidak akan membiarkan uangnya menguap begitu saja.
Muzan memberi isyarat mental kepada Giyu.
Boneka Giyu membungkuk, merobek paksa kain dari kemeja pria berbadan besar yang pingsan. Dengan gerakan yang sangat efisien dan cekatan (memori otot tentang pertolongan pertama yang dimiliki oleh seorang Hashira), Giyu mengikat erat pangkal lengan pria yang buntung itu untuk menghentikan pendarahan. Jeritan tertahan keluar dari mulut pria itu saat ikatan dikencangkan, membangunkannya sedikit dari kondisi setengah sadarnya.
Muzan berjongkok di depan pria yang terluka itu. Wajah Muzan yang masih belia, kotor, dan kurus kering sangat kontras dengan aura dominasi dingin yang ia pancarkan.
"Kau masih bisa mendengarku?" tanya Muzan dengan suaranya yang serak.
Pria itu menatap Muzan, lalu menatap Giyu yang berdiri di belakang Muzan dengan tangan bersiap di gagang pedang. Ketakutan kembali menguasai matanya. Ia mengangguk lemah, air mata bercampur keringat mengalir di wajah kotornya. "T-Tolong... ampuni aku..."
"Itu tergantung pada seberapa berguna informasi yang keluar dari mulutmu," jawab Muzan datar. "Siapa nama kelompok bajak laut kalian? Di pulau mana kita sekarang? Dan di mana kapten kalian berada?"
Muzan sengaja bertanya tentang lokasi. Ia harus mengonfirmasi hipotesisnya. East Blue itu luas. Tanpa koordinat yang jelas, ia tidak bisa menyusun rencana jangka panjang.
Pria itu terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. "K-Kami... Bajak Laut Taring Berdarah... K-Kami sedang berlabuh di... di Pulau Toroa... T-Tuan, tolong, biarkan aku hidup."
Pulau Toroa, batin Muzan. Ia mencoba menggali ingatannya tentang lore One Piece. Toroa... Toroa... Ah, ia ingat. Pulau Toroa adalah sebuah pulau kecil yang memiliki kota pelabuhan yang cukup ramai, tempat di mana Zoro pernah mencari pedang baru dalam versi cerita lepas, atau setidaknya, itu adalah pulau persinggahan yang sering dikunjungi oleh pedagang dan bajak laut kelas teri sebelum menuju ke Loguetown. Letaknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk Grand Line, yang menjadikannya tempat yang strategis namun berbahaya.
"Lanjutkan. Siapa kaptenmu dan di mana dia sekarang?" desak Muzan, matanya menatap tajam layaknya elang yang mengintai mangsa.
"K-Kapten kami... 'Rahang Besi' Barts... D-Dia sedang minum-minum di bar di pusat kota pelabuhan... B-Bounty-nya... 2.200.000 Belly..." Pria itu merintih kesakitan, matanya perlahan menutup kembali karena kelelahan yang ekstrem. "Kami hanya disuruh... mencari budak baru..."
"Rahang Besi Barts. 2,2 Juta Belly," Muzan mengangguk pelan. Itu adalah angka yang cukup besar untuk ukuran bajak laut kroco di East Blue, meski jika dibandingkan dengan nilai buronan Arlong (20 Juta Belly) atau Luffy (30 Juta Belly), angka itu hanyalah recehan. Namun bagi Muzan saat ini, uang 2,2 Juta Belly setara dengan dua kali putaran Gacha karakter tingkat Legenda atau dua puluh dua putaran tingkat Kuat. Itu adalah harta karun yang luar biasa.
"Giyu," perintah Muzan. "Geledah kantong mereka. Ambil semua barang berharga yang mereka miliki."
Giyu segera melaksanakan perintah tersebut. Tangan boneka itu dengan cepat menggeledah kantong celana dan baju ketiga preman tersebut. Ia menemukan beberapa keping koin emas, gulungan uang kertas yang basah, dan sebuah jam saku berlapis perak yang terlihat curian.
Giyu menyerahkan semua barang itu kepada Muzan.
Sistem segera memberikan notifikasi.
«"Menemukan mata uang fisik. Mengonversi ke dalam Belly Counter..."»
«"Total dikonversi: 4.850 Belly."»
«"Saldo Belly saat ini: 19.850 Belly."»
Muzan mengantongi jam saku perak tersebut ke dalam saku celananya yang robek. Ia bisa menjualnya nanti. Sekarang, prioritas utamanya adalah mengubah ketiga mayat hidup ini menjadi uang tunai di markas Angkatan Laut terdekat.
"Ikat mereka berdua. Kita akan pergi ke markas Angkatan Laut."
Giyu menemukan seutas tali tambang yang kasar di tumpukan sampah di sudut gang. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, ia mengikat tangan dan kaki ketiga bajak laut itu, menyambungkan mereka layaknya rentengan ikan hasil tangkapan. Giyu lalu memegang ujung tali tersebut dengan satu tangan, sementara tangan kirinya bertumpu santai pada gagang pedangnya.
Muzan menatap formasi mereka. Ia harus menentukan strategi penyamaran. Jika seorang anak kecil berusia 14 tahun yang mengenakan pakaian gembel terlihat menyeret tiga buronan berbahaya, itu akan menarik terlalu banyak perhatian yang tidak diinginkan. Organisasi bayangan atau perwira Angkatan Laut korup mungkin akan menculiknya untuk dijadikan bahan eksperimen atau budak peliharaan. Ia belum cukup kuat untuk melawan sistem kekuasaan dunia ini.
"Mulai sekarang," gumam Muzan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Giyu, "Kau adalah Giyu Tomioka, seorang pendekar pedang bisu yang berkelana sebagai pemburu hadiah (Bounty Hunter). Aku hanyalah asistenmu, anak yatim piatu yang kau selamatkan dari jalanan dan kau pekerjakan untuk mengurus urusan administrasi dan memegang uangmu."
Giyu, tentu saja, tidak menjawab. Wajahnya tetap datar. Namun sistem mencatat roleplay (peran) tersebut dan akan secara otomatis menyesuaikan mannerism (perilaku halus) Giyu saat berinteraksi pasif dengan orang lain, selama tidak bertentangan dengan kepribadian asli karakter Giyu.
"Ayo jalan."
Mereka berdua keluar dari gang sempit tersebut. Pemandangan Pulau Toroa menjelang sore mulai terlihat jelas. Hujan telah berhenti, menyisakan kabut tipis yang merayap di atas jalanan berbatu yang memantulkan cahaya jingga dari matahari yang mulai terbenam di ufuk barat.
Kota pelabuhan itu cukup padat. Bangunan-bangunan kayu berlantai dua dengan atap genteng merah berjajar di sepanjang jalan utama. Kedai-kedai minuman mulai menyalakan lentera gas mereka, memancarkan cahaya hangat yang mengundang para pelaut dan pekerja pelabuhan untuk menghabiskan malam. Suara tawa kasar, dentingan gelas bir, dan musik akordeon terdengar bersahutan dari kejauhan.
Namun, keramaian itu terhenti seketika ketika Giyu dan Muzan melangkah masuk ke jalan utama.
Orang-orang yang berlalu lalang spontan menyingkir, membuka jalan bagaikan lautan yang terbelah. Mata mereka membelalak ngeri melihat pemandangan di hadapan mereka. Seorang pemuda tampan dengan haori aneh dua warna berjalan dengan wajah tanpa dosa, sementara satu tangannya dengan santai menyeret tiga pria dewasa yang bersimbah darah melintasi jalanan berbatu. Darah menetes membentuk jejak garis merah yang panjang.
Di belakang pemuda itu, berjalan seorang anak kecil kurus yang menundukkan kepalanya, terlihat seperti pelayan yang ketakutan.
Bisik-bisik mulai menyebar di antara kerumunan layaknya wabah.
"H-Hei... bukankah itu si Jagal Kiri dari kelompok Taring Berdarah?" bisik seorang pedagang buah sambil menunjuk dengan tangan gemetar.
"Ya Tuhan! Tangan kanannya putus! Dan itu Gorz Si Gada! Mereka berdua adalah buronan dengan nilai hadiah di atas ratusan ribu Belly!" balas seorang pelaut yang sedang memegang botol rum.
"Siapa pendekar pedang itu? Apakah dia Roronoa Zoro si Pemburu Bajak Laut yang terkenal itu?"
"Bodoh! Zoro menggunakan tiga pedang dan rambutnya hijau. Pria ini menggunakan pedang aneh dan auranya... auranya sedingin es. Aku tidak bisa merasakan emosi sedikit pun dari wajahnya. Dia benar-benar monster!"
Muzan mendengarkan semua bisikan itu dengan saksama. Kepalanya tetap tertunduk, memainkan perannya sebagai asisten yang rendah hati, namun di dalam hatinya, ia tersenyum puas. Reputasi. Di dunia bajak laut, reputasi adalah mata uang kedua setelah Belly. Dengan membangun persona Giyu sebagai pemburu hadiah yang kejam dan tak kenal ampun, orang-orang akan berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengan mereka. Dan yang paling penting, tidak ada yang mencurigai bahwa dalang sebenarnya dari kekuatan mematikan itu adalah anak kecil kurus yang berjalan di belakangnya.
Mereka menyusuri jalan utama selama sepuluh menit hingga akhirnya mereka melihat sebuah bangunan besar yang mendominasi pemandangan kota. Bangunan itu terbuat dari batu bata putih kokoh, dikelilingi oleh tembok tinggi dan meriam-meriam pertahanan di setiap sudutnya. Di atas gerbang utama yang terbuat dari besi tempa, terpampang bendera besar berwarna putih dengan lambang burung camar biru yang membentangkan sayap, memegang tulisan 'MARINE'.
Markas Angkatan Laut Cabang ke-77.
Di depan gerbang, dua orang prajurit Angkatan Laut yang sedang berjaga dengan senapan laras panjang tampak tegang. Mereka telah melihat kedatangan Giyu dari kejauhan, dan tangan mereka berkeringat memegang senapan.
Ketika Giyu berhenti tepat dua meter di depan gerbang, kedua prajurit itu menyilangkan senapan mereka, membentuk barikade darurat.
"B-Berhenti di sana!" teriak salah satu prajurit, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras terdengar berwibawa. "T-Tunjukkan identitasmu! Apa yang kau bawa itu?!"
Melalui instruksi mental Muzan, Giyu melepaskan tali tambang di tangannya, membiarkan ketiga tubuh bajak laut itu teronggok di depan gerbang layaknya karung beras. Giyu tetap diam, menatap kedua prajurit itu dengan pandangan kosong.
Kesunyian Giyu membuat suasana menjadi sangat canggung dan tegang. Kedua prajurit itu mulai berkeringat dingin di bawah tatapan mata biru gelap yang seolah menembus jiwa mereka.
Di sinilah Muzan mengambil alih panggung.
Ia melangkah maju dari balik punggung Giyu. Bahunya sedikit diturunkan, memberikan kesan rapuh. Ia menatap kedua prajurit itu dengan pandangan yang seolah penuh harap namun ketakutan.
"M-Maafkan Tuan saya, Tuan-tuan Angkatan Laut yang terhormat," ucap Muzan dengan suara seraknya yang diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti anak kecil yang sopan. "Tuan Giyu adalah seorang yang tidak banyak bicara. Kami adalah pemburu hadiah yang sedang melintas. Kami membawa tiga anggota Bajak Laut Taring Berdarah yang mencoba menyerang kami di gang tadi. Kami ingin menukarkan mereka dengan nilai buronan yang dijanjikan."
Kedua prajurit itu menghela napas lega secara bersamaan. Ternyata hanya pemburu hadiah, bukan psikopat gila yang ingin menyerang markas.
"P-Pemburu hadiah, ya? Tunggu sebentar. Aku akan memanggil Perwira Jaga." Salah satu prajurit segera berlari masuk ke dalam markas, sementara yang satu lagi tetap berjaga, matanya terus melirik ke arah Giyu dengan penuh kewaspadaan.
Beberapa menit kemudian, prajurit itu kembali dengan seorang pria bertubuh tegap, mengenakan jas khas perwira Angkatan Laut berpangkat Letnan, lengkap dengan pedang kavaleri di pinggangnya. Letnan itu memiliki bekas luka sayatan di pipi kirinya dan mengisap sebatang cerutu.
"Aku Letnan Roka," kata pria itu dengan suara berat bariton. Ia berjalan melewati gerbang dan berjongkok di dekat ketiga bajak laut yang tak berdaya itu. Matanya menyipit saat ia memeriksa wajah mereka satu per satu.
"Gorz Si Gada... Dagger Pete... dan si Jagal Kiri," Letnan Roka bergumam, mengambil selembar kertas buronan kecil dari saku jasnya dan mencocokkannya. Ia bersiul pelan. "Luar biasa. Ketiga orang ini adalah eksekutif rendahan dari kelompok Taring Berdarah. Mereka sudah meneror pedagang di perairan sekitar selama dua bulan terakhir."
Letnan Roka berdiri, mengembuskan asap cerutunya, dan menatap Giyu dengan pandangan menilai. Ia adalah seorang perwira yang telah melihat banyak pertumpahan darah, namun bahkan ia pun merasa terintimidasi oleh ketenangan absolut yang dipancarkan oleh pemuda berhaori itu. Tidak ada setetes darah pun di pakaiannya, dan pedangnya masih tersarung rapi. Bagaimana dia mengalahkan tiga monster kecil ini dengan begitu bersih?
"Keterampilan yang luar biasa," puji Letnan Roka. "Kalian beruntung. Ketiganya memiliki total nilai buronan sebesar 650.000 Belly. Karena satu di antaranya cacat permanen namun masih hidup, kami tidak akan memotong nilainya."
Mata Muzan sedikit berbinar di balik poni rambutnya yang kotor. 650.000 Belly. Angka itu melebihi ekspektasi awalnya. Tampaknya nilai buronan gabungan kru di East Blue cukup fluktuatif tergantung pada tingkat kerusakan yang mereka timbulkan belakangan ini.
"Siapa namamu, Pendekar?" tanya Letnan Roka, berjalan mendekati Giyu.
Muzan membuat Giyu menatap lurus ke mata Roka, lalu Giyu membuka mulutnya. Suara yang keluar sangat datar, dingin, dan berwibawa, sangat kontras dengan penampilannya yang relatif muda.
"Giyu Tomioka."
Itu adalah pertama kalinya warga lokal mendengar suara sang boneka. Dan hanya dua kata itu sudah cukup untuk membuat beberapa prajurit Angkatan Laut di sana merinding. Suara itu seolah tidak memiliki emosi manusiawi.
"Tomioka..." Letnan Roka mengulang nama itu, mencoba menggali ingatannya. "Aku belum pernah mendengar nama itu di East Blue. Apa kau datang dari lautan lain? Dengan keahlian seperti ini, kau bisa dengan mudah menjadi Perwira menengah jika bergabung dengan Angkatan Laut. Apakah kau tertarik?"
Penawaran rekrutmen. Hal yang wajar dilakukan oleh Angkatan Laut ketika melihat bakat yang menjanjikan, terutama setelah mereka kehilangan banyak moral akibat kekalahan beruntun markas-markas cabang oleh bajak laut baru yang bermunculan.
Muzan mengontrol Giyu untuk menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak."
Hanya itu. Singkat, padat, dan menolak ruang untuk diskusi lebih lanjut.
Letnan Roka tersenyum kecut, memahami tipe-tipe pendekar pedang penyendiri yang keras kepala. "Baiklah. Kami tidak bisa memaksa. Prajurit! Bawa ketiga sampah ini ke sel isolasi. Dan siapkan uang hadiahnya sebesar 650.000 Belly dari brankas!"
"Siap, Letnan!"
Kurang dari sepuluh menit kemudian, seorang prajurit membawakan sebuah koper kulit kecil berwarna cokelat tua. Letnan Roka membukanya sebentar, memperlihatkan tumpukan uang kertas Belly yang diikat rapi, sebelum menyerahkannya kepada Giyu.
Namun, sebelum Giyu mengambilnya, Muzan dengan sigap melangkah maju dan menerima koper itu dengan kedua tangannya yang kurus. Koper itu cukup berat bagi tubuhnya saat ini, namun sensasi memegang uang sungguhan di dunia baru ini memberinya kepuasan tersendiri.
"T-Terima kasih, Tuan Letnan. Kami akan pamit undur diri," kata Muzan, membungkuk sopan seraya memeluk koper itu di dadanya.
Ia tidak langsung menyerap uang itu ke dalam Sistem. Melakukan sihir menghilangkan koper di depan mata Angkatan Laut adalah tindakan bodoh yang akan mengundang interogasi. Ia akan menyerapnya nanti saat mereka berada di tempat yang aman.
"Berhati-hatilah," pesan Letnan Roka sebelum memutar tubuhnya kembali ke pangkalan. "Kalian baru saja menangkap anak buah Kapten Barts. Pria itu adalah monster seberat dua ratus kilogram dengan rahang berlapis baja yang bisa menghancurkan tiang kapal. Jika dia tahu kalian yang menyerahkan anak buahnya, dia akan memburu kalian sampai ke ujung pulau."
"Kami akan mengingatnya," balas Muzan sopan, sambil memberi isyarat mental kepada Giyu untuk membalikkan badan dan pergi.
Mereka berdua berjalan menjauh dari markas Angkatan Laut, kembali menyusuri jalanan kota yang kini mulai tertutup kegelapan malam. Lampu-lampu jalan menyala terang. Muzan merasa sangat puas. Rencana tahap pertamanya berjalan sangat mulus. Dengan tambahan 650.000 Belly, total saldo sistemnya akan mencapai sekitar 669.850 Belly. Ini adalah fondasi yang sangat kuat. Ia bisa menyewa kamar penginapan mewah malam ini, membeli makanan enak, pakaian baru, dan mandi air hangat.
Ia mulai merencanakan masa depan. Jika aku bisa mengumpulkan hingga 1 Juta Belly, aku bisa membuka fitur Shop dan mungkin melakukan Gacha tingkat Legenda. Boneka tingkat Legenda mungkin sekelas dengan para Komandan Yonko atau Shichibukai di dunia ini.
Namun, takdir di dunia One Piece jarang sekali membiarkan seseorang merencanakan hari esok dengan tenang.
Tepat ketika Muzan dan Giyu berada di tengah alun-alun kota, berniat mencari penginapan, sebuah suara ledakan yang sangat menggelegar memecah keheningan malam.
BOOOMMM!!!
Gelombang kejut yang kuat menyapu jalanan, memecahkan kaca-kaca jendela kedai dan menerbangkan debu tebal ke udara. Orang-orang menjerit histeris dan berlarian panik.
Muzan menoleh dengan cepat ke arah sumber ledakan. Matanya menyipit, mencoba menembus kepulan asap hitam yang membumbung tinggi di langit malam.
Arah ledakan itu berasal dari pelabuhan utama kota.
Suara sirine bahaya dari markas Angkatan Laut tiba-tiba meraung-raung, suaranya melengking membelah malam. Di tengah kepanikan warga yang berlarian mencari tempat berlindung, Muzan bisa melihat siluet sebuah kapal raksasa bersandar secara paksa di pelabuhan, menghancurkan dermaga kayu. Bendera tengkorak dengan rahang besi tergambar di layarnya yang hitam.
Dari arah asap ledakan, terdengar suara tawa yang begitu besar dan serak, seolah keluar dari tenggorokan seekor beruang raksasa.
"ANGKATAN LAUT KEPARAT! KEMBALIKAN ANAK BUAHKU, ATAU AKU AKAN MERATAKAN KOTA INI MENJADI LAUTAN API!"
Orang-orang di sekitar alun-alun menjerit semakin kencang.
"I-Itu Kapten Barts! Rahang Besi Barts telah tiba!" teriak seorang warga yang ketakutan.
Muzan berdiri diam di tengah arus manusia yang berlarian. Wajahnya yang kotor terpapar cahaya merah dari api yang mulai berkobar di kejauhan. Angin panas meniup rambutnya. Bukannya merasa takut, sudut bibir anak itu malah tertarik membentuk seringai tipis yang mengerikan.
Sebuah panel biru transparan mendadak muncul di depan pandangannya, berkedip dengan warna merah peringatan.
«"DING!"»
«"MISI DARURAT TERPICU: KEMARAHAN SANG KAPTEN."»
«"Kondisi: Kapten Barts (Bounty: 2.200.000 Belly) telah menyerang Pulau Toroa untuk mencari anak buahnya."»
«"Tujuan Utama: Lindungi kota Toroa ATAU Kalahkan Kapten Barts beserta krunya."»
«"Hadiah Penyelesaian Misi: Tiket Gacha Karakter Menengah x3, 50.000 Belly ekstra, dan Peningkatan Kapasitas Pengendalian Boneka (+1 Slot)!"»
Napas Muzan tertahan sejenak saat matanya membaca kalimat terakhir dari daftar hadiah tersebut.
Peningkatan Kapasitas Pengendalian Boneka (+1 Slot).
Ini berarti, jika ia menyelesaikan misi ini, ia tidak hanya mendapatkan uang tunai lebih dari dua juta Belly dari bounty Barts, tetapi sistemnya akan berevolusi, memungkinkannya mengendalikan dua boneka sekaligus secara bersamaan. Itu adalah lompatan kekuatan yang eksponensial. Kombinasi dua karakter anime yang kuat dalam satu pertarungan akan membuka peluang strategi yang tak terbatas.
Muzan menatap Giyu Tomioka yang masih berdiri diam di sampingnya, tangan kirinya siap di gagang pedang Nichirin, menunggu perintah mutlak dari tuannya.
"Giyu," bisik Muzan, matanya berkilat di tengah cahaya kobaran api. "Malam ini kita lembur. Kita akan berburu beruang."