NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: ALDEN KEMBALI MENGAJAR

Kelas Manajemen Strategis pagi itu terasa berbeda begitu Kirana melangkah masuk dan mendapati Alden sudah berdiri di depan, merapikan slide presentasinya seperti biasa. Setelah beberapa hari absen karena rapat dekanat, kehadirannya kembali membuat suasana kelas sedikit lebih hidup, meski Kirana sendiri merasakan jantungnya berdebar aneh begitu melihat sosok itu lagi setelah beberapa hari komunikasi mereka dibatasi hanya lewat pesan singkat sesekali.

"Selamat pagi," sapa Alden, suaranya kembali ke nada formal yang biasa, tanpa ada tanda khusus yang membedakan sapaan itu untuk Kirana dibanding mahasiswa lain.

"Pagi, Pak," jawab beberapa mahasiswa serempak, termasuk Kirana yang duduk di barisan tengah bersama Tesa.

Kelas berjalan seperti biasa, Alden menjelaskan materi baru tentang manajemen perubahan organisasi dengan gaya tegasnya yang khas. Kirana mencatat dengan seksama, mencoba fokus meski sesekali matanya secara tidak sengaja tertuju ke depan, memperhatikan cara Alden bergerak, cara suaranya mengalir menjelaskan konsep konsep rumit dengan begitu meyakinkan.

"Ada yang bisa jelaskan, kenapa resistensi terhadap perubahan sering muncul dalam organisasi?" Alden melempar pertanyaan ke kelas, matanya menyapu seisi ruangan tanpa berhenti lebih lama di satu titik pun.

Beberapa mahasiswa mengangkat tangan, dan Alden menunjuk salah satu dari mereka, bukan Kirana, sesuai dengan kesepakatan tidak tertulis yang mereka jaga sejak kejadian foto beberapa hari lalu. Kirana memperhatikan pola itu, menyadari betapa hati hatinya Alden sekarang dalam memperlakukan dirinya di depan umum, sesuatu yang di satu sisi dia mengerti, tapi di sisi lain terasa menyakitkan.

"Kir, kamu kenapa dari tadi diem aja? Biasanya kamu paling aktif jawab pertanyaan," bisik Tesa, menyenggol lengannya pelan.

"Nggak apa apa, cuma lagi pengen dengerin aja," jawab Kirana, meski alasan sebenarnya jauh lebih kompleks dari itu.

Sepanjang kelas, Kirana mendapati dirinya berada dalam posisi aneh, ingin sekali berinteraksi seperti biasa, tapi juga sadar bahwa setiap tindakan kecil bisa menjadi bahan gosip baru mengingat sorotan yang masih menempel pada mereka berdua sejak foto itu tersebar.

Menjelang akhir kelas, Alden mengumumkan sesuatu yang membuat seisi ruangan sedikit terkejut. "Untuk sisa semester ini, saya akan mengurangi frekuensi sesi konsultasi personal. Kalau ada yang butuh bimbingan, silakan datang di jam kerja resmi yang sudah saya tentukan, bukan di luar jam itu."

Pengumuman itu terdengar seperti kebijakan umum, tapi Kirana tahu persis alasan sebenarnya di balik keputusan itu. Dia menatap ke depan, mencoba membaca ekspresi Alden, tapi dosen itu sudah kembali sibuk merapikan berkasnya, tidak memberikan petunjuk apa pun lewat kontak mata.

"Kir, itu kedengerannya kayak khusus buat ngejauhin kamu deh," bisik Tesa, cukup pelan agar tidak terdengar orang lain.

"Mungkin emang gitu, Tes," Kirana menjawab pelan, menahan kekecewaan yang mulai muncul meski dia tahu ini bagian dari kesepakatan yang mereka buat bersama.

Begitu kelas selesai, mahasiswa mulai berhamburan keluar, dan Kirana sengaja tidak memperlambat langkahnya seperti biasa, memilih untuk langsung keluar bersama Tesa tanpa mencoba mencari kesempatan bicara dengan Alden. Ini bagian dari komitmen yang harus dia jaga, meski hatinya terasa berat setiap kali harus menahan diri seperti ini.

Di kantin siang itu, Kirana duduk bersama kelompok gabungannya, membahas rencana untuk laporan akhir proyek yang masih harus mereka selesaikan sebelum akhir semester. Suasana terasa lebih santai dibanding minggu minggu sebelumnya, meski bayang bayang gosip tentang foto itu masih sesekali terasa dalam tatapan orang orang yang lewat.

"Kir, gimana progress laporan akhirnya?" tanya Dinda, membuka laptopnya untuk mengecek dokumen bersama.

"Udah hampir lengkap, tinggal bagian kesimpulan yang belum final," jawab Kirana, ikut membuka file yang sama di laptopnya sendiri.

Mereka melanjutkan diskusi tentang detail laporan, dan untuk sesaat, Kirana bisa melupakan sejenak kekhawatirannya tentang situasi rumitnya dengan Alden, tenggelam dalam rutinitas kerja kelompok yang lebih ringan dan terkendali.

Namun di tengah diskusi, ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal muncul di layar, membuat dahinya berkerut penasaran.

"Kirana, ini Sarah. Alden pasti sudah cerita soal saya. Saya mau ngobrol sebentar sama kamu, kalau kamu berkenan. Bisa kita ketemu?"

Kirana terpaku menatap layar ponselnya, jantungnya berdebar kencang campuran antara kaget dan takut. Nama yang selama ini hanya menjadi bagian dari cerita masa lalu Alden, kini tiba tiba mengirim pesan langsung kepadanya, membawa ketidakpastian baru yang jauh lebih personal dari yang pernah dia bayangkan sebelumnya.

"Kir, kamu kenapa? Mukamu pucet banget," Nadia yang duduk di sebelahnya memperhatikan perubahan raut wajah Kirana yang tiba tiba.

"Nggak apa apa, Nad," Kirana buru buru menjawab, memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan tangan sedikit gemetar. "Cuma pesan biasa aja."

Tapi jelas terlihat itu bukan sekadar pesan biasa, dan Nadia tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban itu, meski dia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh, menghormati privasi sahabatnya yang terlihat sedang menghadapi sesuatu yang berat.

Sore harinya, setelah sesi kerja kelompok selesai dan Kirana kembali ke kosnya, dia baru berani membuka kembali pesan dari Sarah, membaca ulang kata katanya dengan hati yang berdebar tidak karuan.

Dia mencoba memikirkan bagaimana harus merespons, bimbang antara menolak permintaan itu atau justru menerimanya untuk mencari tahu lebih banyak tentang wanita yang selama ini menjadi bayang bayang dalam cerita masa lalu Alden.

Ponselnya bergetar lagi, kali ini pesan dari Alden muncul, seolah tidak tahu menahu tentang pesan yang baru saja Kirana terima dari Sarah.

"Kirana, gimana progress laporan akhirnya? Semoga berjalan lancar."

Kirana menatap kedua pesan itu bergantian, merasakan beban yang semakin berat karena harus memutuskan apakah dia perlu memberitahu Alden tentang pesan Sarah, atau menyimpannya sendiri dulu sampai dia benar benar yakin apa yang harus dia lakukan.

Dia memutuskan untuk membalas pesan Alden terlebih dahulu, memilih kata kata yang netral. "Progress lancar, Pak. Terima kasih udah nanya."

Setelah beberapa saat, dia akhirnya memberanikan diri mengetik balasan untuk Sarah, tangannya sedikit gemetar menekan setiap huruf. "Halo, Sarah. Boleh saya tau, kenapa kamu mau ketemu saya?"

Balasan dari Sarah datang cukup cepat.

"Saya cuma pengen ngerti situasi Alden sekarang, dari sudut pandang yang berbeda dari dia sendiri. Saya janji, saya nggak ada niat buruk."

Kirana menatap pesan itu lama, mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi jika dia menyetujui pertemuan itu. Di satu sisi, rasa penasarannya tentang sosok yang begitu berarti dalam masa lalu Alden begitu besar, tapi di sisi lain, dia juga khawatir pertemuan itu justru akan memperumit situasi yang sudah cukup rumit ini.

"Saya perlu pikirin dulu," Kirana akhirnya membalas, mencoba memberi diri waktu sebelum mengambil keputusan yang mungkin akan mengubah banyak hal dalam hubungannya dengan Alden.

"Tentu, saya tunggu kabar kamu," balas Sarah, disusul emoji senyum kecil yang entah kenapa terasa aneh di tengah situasi setegang ini.

Kirana meletakkan ponselnya, menatap langit langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Kehadiran Sarah yang tiba tiba menghubunginya secara langsung membawa dimensi baru dalam situasi yang sudah cukup rumit, membuka pertanyaan pertanyaan yang belum pernah dia pertimbangkan sebelumnya, tentang bagaimana masa lalu Alden bisa memengaruhi masa depan yang baru saja mulai mereka bangun bersama dengan begitu hati hati.

"Kenapa semuanya jadi makin rumit," bisiknya pelan pada dirinya sendiri, menghela napas panjang sambil mencoba memikirkan langkah apa yang paling tepat untuk diambil, apakah harus jujur ke Alden soal pesan ini, atau menghadapinya sendiri dulu untuk mencari kejelasan tentang apa yang sebenarnya diinginkan Sarah dari pertemuan mereka.

Malam itu, Kirana tidur dengan pikiran yang masih dipenuhi berbagai pertanyaan tanpa jawaban pasti, menyadari bahwa perjalanan hubungannya dengan Alden akan segera memasuki babak baru yang jauh lebih menantang dari yang pernah dia bayangkan sebelumnya, sebuah babak yang melibatkan langsung sosok yang selama ini hanya menjadi bayangan dari masa lalu yang belum sepenuhnya terselesaikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!