Kisah seorang istri yang diselingkuhi suaminya. Hingga suatu saat ia harus mengambil suatu keputusan yang sulit.
Keputusan apa yang harus dia ambil???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FitriRahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stroke
Abim sibuk mencari rezeki untuk Reyna istrinya. Tapi ia melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah untuk kedua anaknya.
Sedangkan aku terus berusaha untuk memberikan kebahagian untuk kedua buah hatiku. Tanpa memikirkan masa depan ku sendiri.
****
Dirumah ..
Pagi hari pak Rizal dan mama Ainun datang berkunjung kerumah. Sudah lama sekali ia tidak berkunjung kerumah untuk melihat anak-anak. Rasa rindunya terhadap kedua cucunya sudah tidak terbendung lagi.
Bertemu dengan kedua cucunya adalah obat dari rasa rindunya terhadap anak semata wayangnya yang kini sudah tidak memperdulikannya lagi.
.
.
Mama Ainun dan pak Rizal bermain dan bercerita kepada Sisil dan Aisyah. Canda dan tawa mewarnai kebersamaan mereka pagi hari itu.
Tanpa disengaja Aisyah juga menceritakan tentang kejadian teman-temannya yang meledeknya sampai menangis.
Mama Ainun terkejut tentang apa yang diceritakan oleh Aisyah. Mama Ainun sedih begitu juga dengan pak Rizal.
Mama Ainun akhirnya menghibur kesedihan Aisyah. Dengan mengajak keduanya untuk berjalan-jalan diluar.
"Manda, mama mau pergi sebentar ya." Pamit mama Ainun kepada ku yang sedang berada didalam.
"Iya ma, tapi jangan lama-lama ya. Aku mau pergi."
"Pergi kemana?" Tanya mama Ainun pemasaran.
Aku pun menjawabnya. "Aku diundang kecara ulang tahun teman."
"Kita semua mau pergi kerumah ummi om Bimo, nek!" Celetuk Aisyah.
Mama Ainun dalam hati, bertanya-tanya tentang siapa dan ada hubungan apa dengan ku.
Sambil berjalan-jalan melemaskan otot kaki, mama Ainun terus berpikir tentang masalah Aisyah dan lelaki yang bernama Bimo!" Kemudian mama Ainun berbincang-bincang dengan pak Rizal dalam perjalanan santainya!
Mama Ainun tidak bisa melarang ku lagi ataupun mengatur hidup ku. Yang bisa mama Ainun lakukan hanya berdiam dan mengikuti semua rencana Allah terhadapnya.
.
.
Setelah dirasa cukup lelah, akhirnya mereka berempat pulang kerumah.
Aisyah, aku dan Sisil bersiap-siap untuk pergi bersama mama Atika, Arif dan Widya.
Setelah selesai bersiap-siap, aku pun keluar kamar hendak menemui mama yang sedang duduk didalam rumah sambil menonton tv. Kalau pak Rizal duduk di teras rumah.
"Ma, aku tinggal sebentar ya! Mama sama bapak jangan kemana-mana! Menginap saja disini!"
"Kamu gak lama perginya?" Tanya mama Ainun melihat kearah ku sambil memandang sinis.
"Enggak, ma!
Bruukk...
Terdengar suara kencang sekali.
Aku dan mama berlari keluar! Betapa terkejutnya ketika aku dan mama melihat bapak yang terjatuh kelantai.
"Pak, bangun pak. Bapak kenapa?" Tanya ku dan melihat bapak yang mulutnya sudah miring kekanan. Serta kakinya yang sudah tidak bisa untuk berpijak!
"Astaghfirullah allazim, pak bangun! Cepat bangun!"
Mama berteriak memanggil pak Rizal terus menerus, tapi pak Rizal makin lama semakin hilang kesadarannya dan akhirnya tidak sadarkan diri!
Anak-anak keluar dan melihatnya. Tanpa pikir panjang Sisil langsung meminta bantuan kepada tetangga untuk menolongnya.
.
.
Lima menit menunggu, Sisil datang bersama salah satu tetangga dengan membawa mobil miliknya!
Pak Rizal lalu dibawa dengan bantuan bapak-bapak sekitar rumah dan dimasukkan kedalam mobil. Aku dan mama serta salah satu tetangga bernama pak Harto membawa pak Rizal kerumah sakit!
Dirumah sakit...
Pak Rizal langsung mendapatkan pertolongan di IGD. Mama Ainun terus menangis. Karena sejak tadi bapak belum sadar juga.
.
.
.
Aku yang menunggu diluar ruangan IGD, memberitahukan tentang keadaan pak Rizal kesaudara. Tidak lupa aku juga menghubungi mama Atika.
📞 "Assalamualaikum, ma! Sepertinya aku gak bisa datang keacara syukuran ummi mas Bimo dan tolong sampaikan maaf ku kepadanya."
📞 "Iya nanti mama sampaikan. Mama ajak anak-anak ya dan bawa hadiah dari kamu."
📞 "Iya ma! Oh iya ma, keadaan bapak belum sadar juga."
📞 "Ya sudah, kamu temanin mama Ainun. Kasihan dia sendirian. Pasti panik sekali. Kalau begitu mama tutup dulu ya. Assalamualaikum."
📞 "Waalaikumsalam."
Aku menutup panggilan tersebut. Lalu kembali kedalam ruangan IGD, melihat keadaan mama Ainun yang sudah lelah karena sejak tadi menangis terus.
.
.
Sudah menunggu diruangan IGD hampir sepuluh jam lamanya. Sudah banyak alat yang terpasang ditubuh pak Rizal, tapi pak Rizal belum mendapatkan tindakan lebih lanjut karena harus segera dioper kerumah sakit yang lebih lengkap.
Akhirnya jam sebelas malam aku dan mama menaiki mobil ambulans menuju rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya.
Dalam perjalanan, aku mengirim sebuah pesan kepada Abim. Tapi chat tersebut tidak langsung dibalas.
.
.
Jam 23.45 WIB
Pak Rizal akhirnya sudah mulai sadar. Pak Rizal tidak jadi dirawat diruang ICU karena kesadarannya mulai pulih. Jadi pak Rizal mendapatkan perawatan diruang rawat.
Mama menemani pak Rizal yang masih tertidur. Sedangkan aku berjalan kelantai bawah untuk mencari makanan. Perut ku terasa lapar karena sejak tadi siang aku belum mengisi perutku.
Ketika sedang berjalan menuju pedagang makanan. Ponsel didalam tas ku berdering. Lalu aku mengeluarkan kan dari dalam saku celana. Ku lihat panggilan video call tersebut ternyata dari mas Bimo.
Panggilan video call pun tersambung. Ku lihat wajah lelaki yang selalu mengkhawatirkan keadaan ku. Dialah Bimo.
"Assalamualaikum. Mas Bimo!"
"Waalikusalam! Kamu lagi dimana? Lagi diluar ya? Ngapain Manda, ini kan udah malam?"
Bimo melihat suasana malam yang gelap, hanya lampu yang menyala menerangi jalan!
"Aku lagi mau beli makanan sama minuman! Oh iya mas Bimo maaf tadi aku gak bisa datang. Bagaimana acaranya, ramaikah?"
Bimo terdiam melihat ku dengan tatapan yang penuh arti.
"Kamu yang sabar, Manda! Kamu perempuan yang kuat! Insyaallah kamu bisa melewati semua ini. Yakin dan percaya sama Allah SWT pasti ada kebahagian yang sedang menanti kamu!"
Kata-kata itu terhenti diucapkan dari mulut Bimo dan diteruskan didalam hatinya.
Aku akan membahagiakan kamu! Percayalah!
Semua kesedihan kamu, sebentar lagi akan menjadi kebahagian.
Ya Allah, tolong izinkan aku untuk selalu memberikan kebahagian untuk Amanda.
Ikatkan kami berdua dalam ikatan pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan.
Izinkan aku untuk selalu bersama Amanda untuk mengarungi bahtera rumah tangga baik suka maupun duka. Amiin
"Insyaallah aku kuat menghadapi semua cobaan ini. Mas, kamu kok diam! Ada apa?"
Bimo tersadar dari lamunannya!
"Oh e-eggak apa-apa! Kamu udah dapet makanannya?" Tanya Bimo mengalihkan pembicaraannya!
"Udah nih!"
Angin malam begitu dinginnya sampai menembus tulangku. Malam itu aku benar-benar dingin sekali. Sayangnya aku tidak memakai jaket untuk menutupi tubuh ku yang dingin.
Abim terus memperhatikan aku yang sedang berjalan sambil melakukan video call.
"Kamu kedinginan, Manda?"
"Iya mas, tapi sudah tidak apa-apa! Mas sudah dulu ya. Sekali lagi maaf! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Panggilan video call pun terputus!
****
Ku kira itu panggilan dari mas Abim. Tapi mas Bimo. Kasihan mama pasti mengharapkan anaknya datang! Semoga saja mas Abim terbuka pintu hatinya!
Batin ku dan tidak terasa telah sampai diruang rawat!
.
.
Malam ini aku menginap disini, semoga saja besok ada yang menemani mama.
Malam sudah semakin larut, aku pun mulai mengantuk dan akhirnya tertidur dilantai beralaskan tikar.
Dinginnya malam itu sungguh terasa, apalagi aku tertidur dilantai. Sedangkan mama tertidur dikursi panjang!
Rasa ngantuk dan lelah mengalahkan rasa dinginnya malam itu. Akhirnya aku pun terlelap dengan pulasnya!
Keesokan paginya....
Jam 03.15 WIB
Aku terbangun lebih cepat, tidak tahan menahan rasa dingin ketika tidur dilantai. Aku pun minta izin kepada mama untuk kemusholla melaksanakan tahajjud disana sekalian sholat shubuh!
Derrrtttt...
Dering ponselku berbunyi. Lalu aku membukanya, lagi-lagi panggilan dari Bimo.
📞 "Assalamualaikum, mas! Ada apa sepagi ini?"
📞 "Waalaikumsalam, kamu dimana Manda?"
📞 "Aku masih dirumah sakit mas! Ada apa?"
Aku berhenti berjalan, rasanya tubuh ku sangat menggigil kedinginan. Lalu aku pun duduk dikursi yang ada di lorong rumah sakit.
Mata ku memandang sekeliling yang masih sepi!
.
.
.
Tiba-tiba dari arah belakang ada sesuatu dipundakku! Sebuah jaket tebal berwarna abu-abu melekat dipundakku. Memberi rasa hangat pada tubuh ku.
Aku pun menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya bahwa yang menaruh jaket itu adalah Bimo.
"Mas Bimo..." Panggil ku dengan sangat terkejut!
"Maaf kalau mengangetkan kamu. Aku kesini mau memberikan jaket itu sama kamu. Maaf kalau aku telat memberikannya! Kamu pakai ya!"
Aku terdiam seribu bahasa melihat Bimo begitu perhatiannya pada ku!
"Manda, kamu mau kemana?"
"Ehmm....anu. Itu mau sholat tahajud mas, dimusholla!"
"Ya udah kalau gitu bareng. Kita sholat bersama. Kamu mau?"
"Aku sama mas Bimo. Berdua gitu!" Tanya heran ku pada Bimo.
"Bertiga Manda. Tenang ada aku disini!" Celetuk Harris yang berada tidak jauh dari mereka.
Aku melihat Harris yang selalu setia mendampingi Bimo. Akhirnya kami bertiga berjalan beriringan untuk melakukan sholat tahajjud bersama dimusholla.
.
.
Dalam sholat tahajjud itu Bimo menyematkan doa untuk kebahagiannya bersama ku dan anak-anak!
...Happy Reading...
Terima kasih semuanya yang selalu mengikuti ceritaku dan memberikan dukungannya!
...Ikutin terus ceritanya....
Nantikan part dimana Abim dan Reyna akan merasakan semua akibat atas perbuatannya!