Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Suasana pagi kali ini terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan karena suara ramai, melainkan karena ada sesuatu yang sedang disiapkan. Sesuatu yang tidak kasat mata, tapi terasa di setiap langkah.
Widari duduk di ruang makan dengan secangkir teh hangat di tangannya. Di hadapannya terbentang buku kecil berisi catatan tanggal-tanggal baik, kalender Jawa, dan beberapa kertas bertuliskan nama keluarga besar.
Adam duduk di seberangnya, membaca koran, tapi jelas pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana.
Sagara berdiri di dekat jendela. Seperti biasa, diam. Tapi diamnya kali ini bukan kosong. Ia tahu, roda sudah mulai bergerak.
Widari akhirnya membuka suara.
“Kita tidak bisa menunda terlalu lama. Pernikahan ini harus dipersiapkan dengan terhormat.”
Adam melipat korannya. “Kamu sudah mulai menghitung hari baik?”
“Sudah. Ada beberapa yang cocok. Tapi tentu kita juga harus bicara dengan keluarga besar. Ini bukan pernikahan kecil,” jawab Widari tenang.
Sagara menoleh sedikit. “Nek… jangan terburu-buru.”
Widari mengangkat alis. “Kamu pikir ini soal buru-buru? Ini soal martabat.”
Sagara tidak membantah. Ia paham maksud neneknya. Dalam keluarga itu, pernikahan bukan hanya ikatan dua manusia, tapi juga simbol tanggung jawab moral.
“Dan Senja?” tanya Adam. “Apa dia sudah siap?”
Pertanyaan itu membuat ruangan sedikit sunyi.
Sagara menatap lantai. “Aku ingin dia ikut bicara. Ini bukan hanya tentang kita.”
Widari mengangguk. “Bagus. Panggil dia kemari.”
Beberapa menit kemudian, Senja datang dari kamar. Ia mengenakan sweater tipis, rambutnya diikat sederhana. Wajahnya masih lembut, masih muda, tapi kini ada ketenangan baru yang mulai tumbuh di sana.
“Iya, Nek?”
Widari menepuk kursi di sampingnya. “Duduklah, Nak.”
Senja duduk perlahan. Tangannya bertumpu di pangkuan, jari-jarinya saling bertaut.
“Kita ingin mulai membicarakan pernikahan kalian,” ujar Widari tanpa bertele-tele. “Tanggal, adat, keluarga besar. Semua harus dipersiapkan.”
Senja menelan ludah. Bukan karena takut, tapi karena ia tahu ini bukan pembicaraan kecil. “Aku tidak keberatan menikah,” katanya pelan tapi jelas. “Aku sudah memikirkan itu.”
Sagara menoleh padanya.
“Tapi…” lanjut Senja, suaranya sedikit bergetar, “aku ingin meminta satu hal.”
Widari menatapnya penuh perhatian. “Apa itu?”
Senja menghela napas kecil. “Aku ingin pernikahan ini tidak dipublikasikan dulu. Untuk sementara.”
Adam mengernyit tipis. “Tidak diumumkan?”
“Iya, Kek.”
Ruangan kembali sunyi. Bukan sunyi yang marah, tapi sunyi yang sedang mencoba memahami.
Widari tidak langsung menolak. Ia hanya menatap Senja lama, seperti ingin membaca sesuatu di dalam dirinya.
“Kenapa?” tanya Widari akhirnya.
Senja menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya lagi. Tatapannya jujur, tanpa dramatik. “Bukan karena aku malu, Nek. Dan bukan karena aku menolak pernikahan ini.”
Widari mendengarkan dengan serius.
“Aku hanya… butuh waktu. Tubuhku sedang berubah. Hidupku juga. Aku ingin menata diriku dulu sebelum dunia tahu.”
Adam menyandarkan punggungnya. “Kamu takut pada omongan orang?”
“Aku tidak takut, Kek,” jawab Senja pelan. “Aku hanya tidak ingin hidupku langsung dipenuhi label.”
“Label apa?” tanya Adam.
“Senja yang dinikahi karena keadaan.”
Kalimat itu keluar pelan, tapi kuat.
Sagara dalam sunyi menegang.
“Aku ingin tetap kuliah sebagai Senja seorang mahasiswi. Bukan sebagai cerita,” lanjutnya.
“Aku ingin orang mengenalku dari pikiranku, bukan dari perutku.”
Widari menarik napas panjang. Bukan karena kecewa. Justru karena terenyuh.
Senja melanjutkan, lebih lirih,
“Aku belum kuat menghadapi dunia luar dan menjadi ibu di waktu yang sama. Aku takut kalau semuanya datang bersamaan, aku malah kehilangan diriku sendiri.”
Sagara menatapnya lama. Ada sesuatu yang bergeser di dalam dadanya. Bukan penolakan, tapi penghormatan.
Widari menggenggam tangan Senja.
“Kamu tidak sedang menolak tanggung jawab. Kamu sedang menjaga dirimu.”
Senja mengangguk kecil. “Aku ingin pernikahan ini tumbuh pelan-pelan. Bukan karena sorotan, tapi karena pilihan.”
Adam tersenyum tipis. “Kamu gadis kecil dengan pikiran orang dewasa.”
Senja tersenyum malu. “Aku masih belajar, Kek.”
Widari menatap Sagara. “Dan kamu?”
Sagara menghela napas pendek.
“Dia tidak salah. Pernikahan ini seharusnya memberi perlindungan, bukan tekanan baru.”
Widari terdiam beberapa detik, lalu mengangguk. “Baik. Kita tidak akan mengumumkannya dulu. Tapi keluarga inti harus tahu.”
Senja menunduk hormat. “Terima kasih, Nek.”
“Bukan terima kasih,” jawab Widari. “Ini hakmu.”
Adam terkekeh kecil. “Kamu tahu, Widari? Aku rasa gadis ini akan membuat keluarga kita lebih dewasa dari sebelumnya.”
Widari meliriknya. “Keluarga ini sudah tua, tapi memang masih perlu belajar.”
Sagara hampir tersenyum. Setelah percakapan itu selesai, suasana justru terasa lebih ringan. Tidak ada ketegangan. Tidak ada pertentangan. Hanya kesepahaman sunyi antara generasi.
"Maaf karena aku terlalu lancang meminta sesuatu," lirih Senja.
Widuri tersenyum tipis, tapi ada kehangatan di sana. "Nggak perlu maaf. Ada kalanya kamu harus berkata tidak untuk menghargai dirimu sendiri."
"Terima kasih...," ucap Senja. “Aku izin ke kamar ya, Nek. Kepalaku pusing.”
Widari mengangguk. Senja kemudian berdiri.
Sagara ikut berdiri. “Aku antar.”
Mereka berjalan berdampingan di lorong. Tidak ada dialog besar. Hanya langkah pelan.
“Terima kasih,” ujar Sagara akhirnya.
“Untuk apa?”
“Untuk keberanianmu bicara.”
Senja tersenyum kecil. “Aku meniru Om.”
Sagara menoleh. “Meniru apa?”
“Kejujuran.”
Sagara terdiam. Itu pujian paling sunyi, tapi paling tepat sasaran.
Di depan pintu kamar, Senja berhenti. “Om tidak keberatan?”
“Tidak.”
“Padahal ini bisa membuat segalanya jadi lebih rumit.”
“Yang rumit bukan berarti salah.”
Senja mengangguk. “Om…”
“Iya?”
“Aku merasa… hari ini aku tidak hanya dilindungi. Tapi dihormati.”
Sagara menatapnya. “Itu memang seharusnya.”
Senja tersenyum, lalu masuk ke kamarnya.
Sagara berdiri beberapa detik di depan pintu tertutup itu. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa tanggung jawab bukan hanya tentang menahan. Tapi juga tentang memberi ruang.
Dan di situlah, ia tahu, Senja bukan gadis kecil yang harus diselamatkan. Ia perempuan muda yang sedang belajar memegang hidupnya sendiri.
Sagara baru saja memutar badan hendak kembali ke ruang tamu ketika sebuah suara kecil terdengar dari dalam kamar Senja.
“Ah—!”
Bukan teriakan keras. Lebih seperti pekikan refleks yang tertahan. Tapi cukup membuat langkah Sagara berhenti seketika.
Bersambung~~