ini cerita gue...
Dimana gue harus di jodohkan sama pria yang usianya jauh banget dari gue, dan dia juga seorang duda. It's a nightmare!
Tapi pada akhirnya gue juga mulai suka sama si duda ganteng ini. Tapi gue harus menempuh perjalanan sulit untuk memperjuangkan cinta gue. this is my story, I am the eldest Lady Master of my family.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eldest Lady Master 34
.
Setalah ciuman panjang yang membuat nafas keduanya hampir habis, Jarvis mengajak Lilo keluar.
Jarvis mendapatkan pesan dari Muvita pagi tadi, dan jelas menyuruhnya untuk menemui Lilo yang sedang sangat suntuk di rumah.
Tidak menyangka jika dia melihat lilo yang sedang tertidur sambil mengigau di pagi hari.
Sampai akhirnya mereka berciuman dengan begitu penuh gairah.
"Paman... Memangnya kita akan kemana?" tanya Lilo saat Jarvis mengajaknya untuk ikut bersamanya. Jarvis juga meminta Lilo untuk berpakaian rapi dan sopan.
"Ke kantorku. Kamu bilang ingin belajar bekerja kan?" Lilo menganggukan kepalanya.
"Mm... Aku juga tidak ada kerjaan apa-apa." jawab Lilo
"Kalau begitu ayo..." Jarvis menggenggam tangan Lilo, mereka berdua berjalan beriringan keluar dari rumah keluarga Lilo yang sepi, karena semuanya sedang tidak ada di rumah.
"Paman... Apa kita akan pergi ke suatu tempat dulu? kenapa kita pergi ke arah berlawanan dengan kantor paman?" tanya Lilo
"Kita meeting sebentar di salah satu restoran yang ada di hotel baru milik keluarga Darma. Hanya sebentar." jawab Jarvis.
Meeting yang menyebalkan pasti akan membuat Lilo merasa bosan setengah mati nantinya. Jarvis tidak mau Lilo pergi saat dia sedang serius bekerja.
"Beneran sebentar?"
Jarvis menganggukkan kepalanya.
"Iya... Kalau kamu bosan, kamu bisa pergi menemui aunty dan uncle kesayangan mu. Mereka bekerja di sana kan? Mengurus hotel yang begitu besar..." Lilo menggelangkan kepalanya.
"Aku tidak mau... Uncle Aldi dan aunty marry pasti sedang sangat sibuk bekerja mengurus hotel baru itu... Aku juga tidak yakin untuk menemuinya saat ini. Dia pasti akan menyuruhku untuk ke rumahnya. Aku sedang tidak ingin bertemu dengan si b*stard putera mereka itu! Mereka berdua sangat nakal! Mereka lebih muda dariku. Hanya berbeda beberapa bulan saja dariku... Tapi mereka selalu menjadi seperti kakak untuk ku... Haissshh... Mereka terlalu mengatur dan selalu saja menyebalkan!" Jarvis tidak mengerti hubungan seperti apa keluarga dari calon mertuanya itu
Walaupun terdengar aneh, tapi dia tahu jika mereka sudah pasti saling menyayangi.
"Mereka itu kembar?" tanya Jarvis
"Mm... Tapi jangan membahasnya. Mereka itu sangat menyebalkan! Selalu saja menganggap ku anak kecil!" jawab Lilo
Jarvis tertawa kecil mendengar itu.
"Bagaimana bisa mereka melihat mu sebagai anak kecil..." Jarvis menatap lurus ke arah dada Lilo yang memang memiliki ukuran yang mungkin sama dengan para gadis dewasa lainnya.
"Paman!!! Gue colok mata loe!" gerutu Lilo
"Ha ha ha ha... Aku hanya bercanda honey Lilo..." Jarvis mengacak-acak rambut Lilo, setalah itu dia kembali fokus pada mengemudinya.
"Paman.... Kamu pasti sangat sibuk kan? Kenapa kamu harus repot-repot menemuiku?"
Jarvis menepikan mobilnya, dia menatap Lilo yang sedang melihatnya dengan berbagai macam pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya
"Pasti mama menghubungi mu untuk datang kan?" tany Lilo lagi
"Walaupun benar kalau mama kamu menghubungi ku untuk datang padamu, tapi walaupun aunty Muvita tidak melakukannya, aku juga akan tetap datang untuk menemuimu." jawab Jarvis.
"Kenapa?"
"Apa aku harus menjawabnya? sudah jelas jika itu adalah karena aku menyukaimu. Memangnya aku butuh alasan apa lagi? Kamu tidak percaya padaku?" Lilo tersenyum tipis mendengar itu.
"Aku percaya."
"Tapi mood ku sedang sangat tidak baik... Aku tidak ingin marah-marah hari ini." Jarvis menganggukkan kepalanya.
"Aku akan menjauhkan mu dari Andara." jawab Jarvis, dia tahu jika Lilo sama sekali tidak menyukainya.
Walaupun Jarvis hanya menganggapnya sebagai adik perempuannya, tetap saja sikap Andara selalu saja membuatnya merasa kesal, terlebih lagi saat ada Lilo. Andara akan benar-benar membuatnya kesal.
"Aku berterimakasih jika dia tidak muncul di hadapan ku nantinya. Tapi jika dia muncul mencari masalah dengan ku, maka jangan salahkan aku jika aku tidak akan sungkan untuk membuatnya menyesal!" jawab Lilo.
Cup!
Jarvis mencium kening Lilo sekilas
"Jangan marah lagi. Aku akan melakukan apapun untuk membuat mu tersenyum hari ini."
'merinding.... Kali paman duda udah mulai bersikap kayak gini.... manis, tapi bikin gue takut... Takut nge-lakuin dosa... Nasib gue gini amet, punya calon suami pria yang terlalu matang... Gue kalah talak kalau udah urusan gombal-menggombal!'
Jarvis kembali mengecup kening Lilo, sebelum akhirnya dia mengemudikan mobilnya untuk segera menghadiri rapat penting pagi ini.
Tidak perlu waktu yang lama, Lilo dan Jarvis sudah sampai di sana.
Lilo menunggu dengan santai, saat Jarvis membicarakan tentang bisnis dengan clien-nya. Dia juga sedikit mendengarkan untuk sekalian belajar bagaimana saat menghadapi client untuk bekerja sama.
Dia duduk di sebelah Jarvis yang sedang terus berdiskusi dengan dua pria hang mungkin seumuran dengan ayahnya, Abrian.
'Cool banget calon suami gue kalau udah lagi kerja gini... coba aja dia baru umur 25 tahunan... Pasti itu nambah perfect! Tapi... Nanti pasti banyak banget cewek yang antri buat dapertin dia... Gue enggak mau! Mendingan dia yang sekarang aja... Yang udah 35 tahun, terus duda juga... Biar enggak ada yang mau selain gue...' Lilo menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikirannya yang sudah kemana-mana.
"Shit!" desisnya
Lilo terkejut saat tangan Jarvis tiba-tiba menggenggam tangannya.
"Kamu bosan?" bisiknya.
"Sedikit...,x jawab Lilo yang juga berbisik.
"Tunggu sebentar lagi." bisiknya lagi.
Lilo menganggukan kepalanya
Beberapa menit kemudian meeting sudah selesai.
Jarvis membawa Lilo keluar dari restoran untuk kembali ke kantornya.
"Kencan kita hanya di kantor saja nanti..." ucapnya.
"Kencan? Kencan itu hanya untuk orang yang saling mencintai dan mereka menjalin sebuah hubungan." jawab Lilo
"Kita juga saling mencintai, dan lagi kita juga sebentar lagi akan segera menikah, bukankah itu sama saja?"
Lilo hanya menatap jengah pada Jarvis.
Lilo semakin jengah saat dia melihat seseorang yang sedang mendekat ke arahnya dengan wajah yang begitu berbunga-bunga.
'Nenek lampir Andara mau ngapain ke sini? Jangan bilang dia mau nyamperin Jarvis... Astaga... Niat banget nich orang!' batin Lilo kesal.
"Kak Jarvis..." ucapnya dengan begitu manis dan manja.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Jarvis dengan begitu dingin
"Aku ingin makan di sini." jawab Andara yang masih memperlihatkan bagaimana manisnya dia pada Jarvis.
Sebenarnya Andra datang ke sana karena memang dia tahu kalau Jarvis akan meeting di sana. Dia tidak menyangka jika ternyata Jarvis bersama dengan Lilo.
"Kak Jarvis ingin kembali?" tanya Andara yang masih bersikap begitu manis.
"Hoek!" Lilo merasa ingin mual mendengar itu
"Kamu tidak apa-apa Lilo?" tanya Jarvis khawatir.
"Gue enggak apa-apa... Masuk angin mungkin. Gara-gara j*lang cap badak..." jawab Lilo, tatapan matanya tajam mengarah pada Andara.
"kamu!!!" Teriak Andara kesal.
"Lihat paman! Dia mencari masalah dengan ku duluan!" sungut Lilo
"Kamu mengatai ku j*lang cap badak!"
"ague cuman asal ngomong. Dan itupun bukan buat elo, tapi ko elo ngerasa kalau itu buat elo, apa loe pikir kalau itu emang cocok buat elo?" jawab Lilo dengan senyuman memprovokasinya
Andara mengepalkan tangannya dengan kuat, dia tidak boleh terbawa emosi dan mengacaukan semuanya. Terlebih lagi Jarvis terlihat kesal saat ini padanya
"Lilo... kenapa kamu begitu tidak menyukai ku?" tanya Andara yang sengaja memperlihatkan kesedihannya.
"Itu jelas karena elo itu jelek." jawab Lilo dengan begitu santainya
Lagi-lagi Andara hanya bisa menahan kemarahannya dengan mengepalkan tangannya.
"kamu pikir kamu begitu cantik?!"
"Tentu saja... Iya kan honey Jarvis?" Lilo melompat memeluk lengan Jarvis dengan begitu manja.
Jarvis tersenyum gemas melihat tingkah Lilo yang begitu menggemaskan, terlebih dia memanggilnya 'Honey Jarvis'
"Tentu saja... Lilo yang paling cantik." jawba Jarvis.
"Ayo kita kembali ke kantor..." ajak Jarvis.
Lilo dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Mm" jawabnya
Andara hanya bisa kembali menelan rasa pahit yang dia rasakan.
'Lilo!!! Dia benar-benar seperti hantu! Selalu ada di manapun! Aku benar-benar membencinya!'.
piiisssss
yg bener aja Jarvis mau nyari pngacara buat Andara.
kaya Dika tegas,GK mudah dibohongi bisa baca pikiran org kalo ada yg mau nrbuat jahat
Jarvis gak ada tegas tegasnya ciihhh lemah