Samuel Kelt adalah pria tampan, kaya, dan playboy. Ia adalah putra pemilik kampus ternama. Walaupun memiliki sikap seperti itu, ia tetap menjadi pria terpopuler di kampus Universitas Indonesia. Setiap wanita selalu mengejarnya disana.
Clara Aldrey adalah wanita kaya yang sangat cantik. Ia putri tunggal dari pemilik perusahaan Sungai Budi, namun kekayaan dan kecantikannya ia tutupi dengan cara berdandan seculun mungkin di kampusnya agar tidak diganggu pria pria playboy di Universitas Indonesia tersebut.
Namun siapa sangka sikap acuh tak acuhnya membuat Samuel Kelt sangat penasaran, ia adalah wanita satu satunya yang tak mau mengejarnya bahkan selalu menghindarinya. Setiap hari, Samuel selalu mengganggu Clara di kampus dan membuat wanita itu tak nyaman.
Suatu hari di acara pertemuan keluarga, keduanya dipertemukan sebagai pasangan yang sudah dijodohkan. Namun hanya Clara yang mengenali pria itu sedangkan Samuel tak mengenalinya karena penampilannya yang berbeda.
Akankah keduanya menjadi jodoh???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegalauan Samuel
Sepanjang perjalanan pulang, Clara terus mengingat ciuamannya. Ia bahkan berusaha mengendalikan debaran jantungnya yang tak bisa berdetak normal lagi. Ia juga menyesali tamparan yang ia lakukan pada Samuel, karena ini adalah pertama kalinya ia mengangkat tangan dan memukul seseorang. Ia bingung dengan sikap Samuel yang tiba-tiba memeluknya dan juga menciumnya. Entah sebenarnya ia marah atau malu dengan perlakuan seperti itu.
Taksi berhenti tepat di depan rumahnya, Clara pun turun dan masuk ke rumahnya. Wajahnya lesu karena lelah, ia melemparkan tas dan sepatunya sembarangan lalu duduk di ruang keluarga. Ia menyenderkan tubuhnya lalu memejamkan matanya. Clara sama sekali tak menyadari ada langkah kaki yang mendekatinya.
Johannes dan Velly menatap putrinya yang terus memejamkan matanya, keduanya tahu anak mereka sepertinya sedang dalam mood yang buruk. Velly menepuk pundaknya pelan, Clara membuka matanya.
"Surprise..." ujar keduanya.
Clara terkejut. "Mami, papi... kalian sudah pulang." ujarnya seraya bangun dan memeluk keduanya.
"Sudah dewasa tapi sangat manja." kata Johannes.
Clara bergeming, ia justru memeluk ibunya lebih lama lalu menangis. Tentu saja, mereka terkejut mendengar putrinya menangis.
"Ada apa sayang, kau baik baik saja kan?" tanya Velly panik.
"Katakan pada papi, jika ada yang mengganggumu Clara." sahut Johannes.
Clara menggeleng tanpa melepaskan pelukannya.
"Jangan seperti ini sayang, kau membuat kami panik. Katakan ada apa?" tanya Velly lagi.
Clara melepaskan pelukannya. "Aku merindukan kalian berdua." jawabnya.
Keduanya tertawa. "Hanya itu?" tanya Johannes.
Clara mengangguk.
"Sepertinya kau bukan anak mami yang dulu, bukankah kau pernah jauh dari kami selama bertahun-tahun sayang." ujar Velly.
"Ikh mami, aku manja sedikit saja tidak boleh." jawab Clara.
"Bukan seperti itu nona muda Loman. Mami hanya terkejut, kau pulang langsung seperti ini. Mandilah sekarang, lalu kita makan malam." perintah Velly.
Clara menatap ibu dan ayahnya bergantian. "Bolehkah Clara makan di kamar saja, hari ini Clara benar benar lelah." pintanya.
Velly menatapnya, ia tahu ada masalah pada putrinya.
"Kita jarang makan malam bersama sayang. Seharusnya..."
Velly menghentikan ucapan Johannes dengan memegang tangannya dan menggeleng.
"Baiklah, mami yang akan mengantarkan makanannya ke atas." jawab Velly.
Clara tersenyum lalu mencium pipi orang tuanya dan meninggalkan mereka menuju kamarnya.
*****
Johannes dan Velly kembali bertatapan.
"Ada apa mi?" tanya Johannes.
"Sepertinya ada masalah dengan putri kita, aku bisa merasakannya sayang. Aku akan berusaha berbicara dengannya." jawab Velly.
"Baiklah, kau yang lebih mengerti anak perempuan. Lebih baik kita makan malam lebih awal agar kau bisa segera berbicara dengannya." kata Johannes.
Velly menganggukkan kepalanya. "Aku akan melihat bu Lani, jika sudah siap aku akan memanggilmu."
Johannes mengangguk, ia membiarkan istrinya menuju dapur sedangkan ia menunggu di ruang keluarga itu.
*****
Samuel terus melamun sambil mengganti pakaian bersama tim basket yang lain. Mereka terus menatap Samuel yang sedang dalam keadaan tidak normal seperti biasanya.
"Aku pulang duluan." ujar Samuel pada mereka.
"Kita mau makan bersama Sam, bukankah tadi pak Jorge sudah mengatakannya." kata Jerry.
"Kalian nikmati saja, aku sedang dalam mood yang buruk." jawab Samuel.
"Mana mungkin kita makan tanpa sang kapten." kata Given.
"Benar..." sahut yang lain.
Samuel menghela nafasnya. "Aku akan pulang terlebih dahulu, aku akan menyusul kalian nanti." jawabnya seraya meninggalkan mereka semua.
Jerry dan Given segera mengejar Samuel.
"Ada apa bos?" tanya Jerry sambil terus mengikuti langkah Samuel.
"Tidak ada apa apa, aku hanya ingin pulang terlebih dahulu." jawab Samuel.
"Apa kau bertengkar lagi dengan Clara?" tanya Given.
Samuel menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap mereka. "Kali ini lebih buruk, aku berharap wanita itu mau memaafkanku."
"Lebih buruk? Jangan jangan kau..." ujar Jerry terkejut.
"Sialan..." umpat Samuel. "Seharusnya aku tak melakukan itu. Sudahlah, aku ingin pulang dulu." sambungnya seraya meninggalkan mereka berdua.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Given bingung.
"Kau terlalu bodoh untuk mengerti." ejek Jerry.
"Sialan..." umpat Given membuat Jerry tertawa.
"Apa kau menyukai wanita culun itu Sam, aku tak mengerti mengapa kau begitu tertarik pada wanita yang sama sekali tak sejajar dengan penampilanmu. Untuk pertama kalinya aku melihat kegalauan pada wajahmu. Kau belum menyadarinya Sam, kau memeluk dan mencium seorang wanita dalam keadaan sadar karena kau sedang jatuh cinta padanya." pikir Jerry.
"Sudahlah Giv, kita tunggu saja kehadiran Sam di restoran nanti. Pak Jorge dan yang lainnya sedang menunggu kita." ujar Jerry.
"Tapi apa yang Samuel lakukan pada Clara? Aku yakin mereka bertengkar lagi." kata Given.
"Biarkan bos Sam yang menanganinya, kita tak perlu ikut campur lagi." jawab Jerry.
"Baiklah..." kata Given seraya mengikuti Jerry menemui tim basket mereka.
*****
Entah apa yang sedang Samuel pikirkan saat ini, ia bukannya pulang ke rumah, ia justru menuju kompleks perumahan elite tempat tinggal Clara. Sesampainya disana, ia terus menatap rumah mewah itu.
"Haruskah aku menemuinya sekarang, aku takut akan menambah kemarahan wanita itu." pikir Samuel.
"Tapi jika aku membiarkannya, aku akan terus merasa bersalah padanya. Mengapa kali ini perasaanku sangat berbeda, saat aku tak sadar tidur dengan Celia, aku bahkan sama sekali tak merasa bersalah. Tapi kenapa hanya sebuah ciuman padanya membuatku begitu menyesalinya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku." pikirnya lagi.
Samuel terus merasakan kegalauan yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia pun memutuskan untuk menemui wanita itu. Ia keluar dari mobilnya dan mengetuk pintu gerbang.
"Permisi..." ujar Samuel.
Seorang security datang tapi tanpa membuka pintunya. "Mau cari siapa?" tanya pak Nazriel.
"Pak apakah Clara ada? Aku teman kuliahnya." jawab Samuel.
Pak Nazriel ingat ucapan nona mudanya, jika ia sedang menyamar di kampusnya dengan penampilan yang buruk dan mengakui sebagai anak dari seorang pelayan di rumahnya sendiri. Kecuali Violin, tak ada satupun yang boleh mengetahuinya.
"Oh non Clara, eh maksudku Clara anak pelayan disini. Jam segini mana bisa menemui tamu. Atasan kami bisa marah." jawab pak Nazriel.
"Hanya sebentar pak, tolong katakan padanya." pinta Samuel lagi.
"Maaf tidak bisa." jawab pak Nazriel lagi seraya meninggalkan pintu gerbang.
Samuel menghela nafasnya dan mengumpat begitu banyak. Ia bahkan tak bisa menemui Clara dengan bebas kecuali saat kuliah. Samuel pun kembali ke mobilnya dan menancap gasnya keluar dari kompleks perumahan tersebut.
*****
Johannes dan Velly sudah menyelesaikan makan malamnya lebih awal, Velly segera membawa makanan putrinya ke lantai tiga. Ia mengetuk pintu kamar putrinya berkali kali. Lalu masuk karena tak ada jawaban dari dalam kamarnya.
Velly terkejut saat melihat putrinya tertidur dengan rambut yang masih basah. "Ya Tuhan sayang, apa kuliah hari ini begitu berat sampai kau tak sempat mengeringkan rambutmu yang basah, bahkan kau belum makan malam Clara." ujarnya.
Velly mengguncangkan tubuh putrinya pelan. "Nona muda Loman, bangun sayang... Makan terlebih dahulu."
Clara mengerjapkan matanya lalu menatap ibunya. "Ya Tuhan, aku ketiduran mi." jawabnya seraya bangun.
"Apa hari ini sangat lelah? Kau bahkan tak sempat mengeringkan rambutmu." tanya Velly.
Clara mengangguk. "Hari ini ada pertandingan basket, dan aku harus membantu mereka di lapangan."
"Apa itu menjadi tugasmu?"
"Ikhlas mi, itu juga demi kemenangan kampus. Dan untunglah pertandingannya memang dimenangkan oleh kami."
"Kau yakin bukan karena kau di bully disana?" tanya Velly penasaran.
"Ya ampun mi, tidak ada semacam itu." jawab Clara.
"Baiklah, sini mami bantu kau mengeringkan rambutmu. Sudah lama sekali mami tidak melakukannya, lalu setelah itu makanlah. Lalu berbicara dengan mami lagi." pinta Velly sambil mengambil hairdryer nya.
Clara senang ibunya mau melakukan itu, ia seperti anak gadis yang berusia belasan tahun yang sedang di urus ibunya sendiri.
*****
Happy Reading All...😘😘😘