NovelToon NovelToon
Paket Cinta

Paket Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Imamah Nur

Kabur dari perjodohan toksik, Nokiami terdampar di apartemen dengan kaki terkilir. Satu-satunya harapannya adalah kurir makanan, Reygan yang ternyata lebih menyebalkan dari tunangannya.

   Sebuah ulasan bintang satu memicu perang di ambang pintu, tapi saat masa lalu Nokiami mulai mengejarnya, kurir yang ia benci menjadi satu-satunya orang yang bisa ia percaya.

   Mampukah mereka mengantar hati satu sama lain melewati badai, ataukah hubungan mereka akan batal di tengah jalan?

Yuk simak kisahnya dalam novel berjudul "Paket Cinta" ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Rasa Kecewa

Ia bisa menghitung bulu mata Reygan yang lentik, melihat pantulan dirinya di manik matanya yang gelap, dan merasakan getaran samar dari tubuh pria itu. Jantungnya berhenti berdetak, menunggu. Menunggu sentuhan yang terasa tak terhindarkan, sebuah titik balik yang sudah lama membayangi setiap pertengkaran dan gencatan senjata mereka. Bibirnya sedikit terbuka, sebuah undangan tanpa suara. Reygan menelan ludah, gerakan kecil di jakunnya adalah satu-satunya hal yang bergerak di alam semesta yang membeku itu. Semakin dekat, semakin dekat…

DRRT! DRRT! DRRT!

Suara getaran yang kasar dan brutal meledak dari saku celana Reygan, memecahkan keheningan magis itu seperti palu godam menghantam kaca. Getarannya begitu kuat hingga merambat melalui lantai dan terasa di telapak kaki Nokiami.

Seketika, seolah tersengat listrik, Reygan tersentak mundur. Ia mundur dua langkah penuh, menciptakan jurang yang terasa seperti ribuan kilometer di antara mereka. Kehangatan yang tadi menyelimuti Nokiami lenyap, digantikan oleh hawa dingin yang canggung. Mata Reygan mengerjap beberapa kali, keintiman di dalamnya menghilang secepat kilat, digantikan oleh ekspresi kaget dan panik.

“Sial,” desisnya, suaranya serak. Ia merogoh sakunya dengan gerakan kaku dan menarik keluar ponselnya yang layarnya menyala terang, menampilkan notifikasi pesanan baru.

Nokiami hanya bisa berdiri mematung, napas yang sejak tadi ditahannya kini keluar dalam satu embusan gemetar. Pipi dan telinganya terasa panas membara. Ia membuang muka, tiba-tiba merasa sangat tertarik pada pola retakan di ubin dapur. Keheningan yang tadinya sarat dengan antisipasi kini terasa berat oleh hal-hal yang tidak terucapkan.

“Ada… ada orderan masuk,” kata Reygan, suaranya kembali datar dan efisien. Topeng kurir pemarahnya sudah terpasang kembali dengan sempurna, seolah momen yang baru saja terjadi hanyalah halusinasi. “Di restoran seberang. Harus kuambil sekarang.”

“Oh,” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Nokiami. Suaranya terdengar kecil dan asing di telinganya sendiri. “Oke.”

“Sausnya,” kata Reygan, menunjuk wajan dengan dagunya, matanya sama sekali tidak mau bertemu dengan mata Nokiami.

“Jangan sampai gosong.”

“Nggak akan,” jawab Nokiami pelan, tangannya secara refleks meraih sendok kayu, meskipun ia sama sekali tidak berniat mengaduk apa pun. Pikirannya kosong.

Reygan mengangguk singkat, lalu berbalik dan berjalan cepat keluar dari dapur. Langkahnya terburu-buru, seperti seorang penyusup yang hampir tertangkap basah. Nokiami mendengar suara jaket hijaunya yang khas disambar dari sofa, lalu suara ritsleting yang ditarik dengan kasar.

“Reygan, tunggu,” panggil Nokiami, lebih karena refleks daripada niat. Ia bahkan tidak tahu apa yang ingin ia katakan.

Reygan berhenti di ambang pintu, punggungnya masih menghadap Nokiami. “Apa? Aku nggak punya waktu.”

“Kita… makan malamnya…” Nokiami memulai, kalimatnya menggantung di udara, terdengar konyol bahkan baginya.

“Kau habiskan saja,” potong Reygan cepat. “Aku nggak lapar.”

Bohong. Perutnya tadi berbunyi paling keras. Kata-kata itu menusuk Nokiami lebih tajam dari yang seharusnya. Ini bukan lagi soal makan malam. Ini soal penolakan. Penolakan terhadap momen yang hampir terjadi, penolakan terhadap apa pun yang mulai tumbuh di antara mereka di tengah tumpukan kertas utang dan ancaman.

“Kenapa kau lari?” tanya Nokiami, suaranya lebih tegas sekarang, dipenuhi frustrasi.

Reygan akhirnya berbalik sedikit, hanya kepalanya yang menoleh. Wajahnya keras, rahangnya terkatup rapat. “Aku nggak lari. Aku kerja. Ingat? Ini yang kulakukan. Aku mengantar makanan untuk orang-orang sepertimu supaya bisa bayar utang. Nggak ada waktu buat main-main masak-masakan.”

Setiap kata terasa seperti tamparan. ‘Orang-orang sepertimu’. ‘Main-main masak-masakan’. Ia sengaja menciptakan jarak, membangun kembali tembok yang baru saja mereka runtuhkan bersama dengan tawa mereka.

“Tadi itu bukan main-main,” balas Nokiami pelan, menantang tatapannya.

Tatapan Reygan goyah sejenak. Hanya sepersekian detik, Nokiami melihat kilatan penyesalan di sana sebelum topengnya kembali mengeras. “Terserah apa katamu. Aku harus pergi.”

“Jadi begitu saja?” desak Nokiami, berjalan beberapa langkah mendekatinya. “Kita akan pura-pura kalau beberapa menit yang lalu itu tidak pernah terjadi?”

“Memangnya apa yang terjadi?” tantang Reygan, suaranya dingin. “Aku kena tepung di hidung, kau tertawa seperti orang gila. Lalu ponselku bunyi. Selesai. Nggak ada yang perlu dibahas.”

“Kau pembohong,” bisik Nokiami, rasa sakit dan marah berbaur di dalam dadanya. “Kau pembohong yang payah, Reygan.”

Reygan terdiam, napasnya sedikit memburu. Ia membuka mulutnya, hendak membalas dengan sarkasme yang lebih tajam, tapi kemudian ia menutupnya lagi. Ia hanya menatap Nokiami lekat-lekat, pertarungan sengit berkecamuk di matanya. Antara keinginan untuk tinggal dan keharusan untuk pergi. Antara perasaan yang baru ia sadari dan kenyataan pahit statusnya yang selalu menghantuinya.

“Aku nggak bisa, Nokia,” katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar, sarat akan kelelahan. “Aku nggak bisa melakukan… ini.” Ia menggerakkan tangannya secara samar, menunjuk ke arah mereka berdua, ke arah apartemen, ke arah kekacauan intim yang telah mereka ciptakan. “Fokusku cuma satu: lunasin utang. Nggak ada ruang untuk yang lain. Apalagi untuk… drama.”

“Aku bukan drama!” seru Nokiami, tersinggung.

“Bukan itu maksudku,” sahut Reygan cepat, frustrasi.

“Maksudku… ini semua. Kau dan Leo, aku dan utangku. Ini rumit. Dan aku nggak punya kemewahan untuk menghadapi hal-hal rumit sekarang. Aku cuma butuh uang tunai dan delapan jam tidur kalau beruntung. Mengerti?”

Nokiami tidak menjawab. Ia mengerti. Tentu saja ia mengerti. Logika dingin di balik kata-katanya tidak terbantahkan. Tapi hatinya menolak untuk menerima. Hatinya baru saja merasakan kehangatan tawa yang tulus dan janji dari sebuah ciuman yang hampir terjadi, dan sekarang ia diminta untuk kembali ke kedinginan realita.

Reygan menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat dengan kekalahan. “Dengar, pasta itu akan lembek kalau kelamaan direbus. Angkat sekarang.”

Dan dengan itu, ia berbalik dan membuka pintu.

“Reygan!” panggil Nokiami sekali lagi, putus asa.

Ia berhenti, tapi tidak menoleh.

“Terima kasih,” kata Nokiami pelan. “Untuk… tawanya.”

Punggung Reygan menegang sejenak. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Nokiami sendirian dalam keheningan yang memekakkan telinga, hanya ditemani suara air mendidih di atas kompor.

Nokiami berdiri di sana selama beberapa menit, menatap pintu yang tertutup. Energi di dalam ruangan terasa terkuras habis, menyisakan kehampaan. Ia berjalan lunglai ke kompor dan mematikannya. Aroma saus tomat dan bawang putih yang tadi terasa begitu menggoda kini justru membuatnya mual. Lapar yang tadi menggerogotinya telah lenyap, digantikan oleh rasa hampa di ulu hatinya.

Ia bersandar di meja dapur, memejamkan mata. Bayangan wajah Reygan yang begitu dekat, tatapannya yang intens, kehangatan napasnya—semua itu berputar di benaknya. Begitu nyata, namun kini terasa seperti mimpi.

Matanya terbuka dan menangkap sesuatu di atas meja. Sebuah sobekan kertas struk belanjaan yang kumal, tergeletak di samping wadah garam. Itu jelas bukan miliknya. Pasti jatuh dari saku Reygan. Ada tulisan tangan yang familier dan sedikit berantakan di atasnya.

Dengan jantung yang kembali berdebar, Nokiami mengambil kertas itu. Sisi depannya berisi tulisan yang sangat khas Reygan.

Kau memasak seburuk kau memberi ulasan. Sausnya hampir jadi arang.

Nokiami mendengus. Setengah kesal, setengah geli. Bahkan dalam situasi seperti ini pun, pria itu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengkritik. Dasar kurir menyebalkan. Ia hampir meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah, tapi sesuatu menahannya. Ia merasakan ada lipatan di kertas itu. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia membalik sobekan struk itu.

Ada tulisan lain di baliknya. Tiga kata saja.

Napas Nokiami tercekat di tenggorokan. Matanya terpaku pada tulisan itu, membacanya berulang-ulang, seolah mencoba memastikan otaknya tidak sedang mempermainkannya. Seluruh udara seakan tersedot keluar dari paru-parunya saat makna dari tiga kata sederhana itu menghantamnya dengan kekuatan penuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!