NovelToon NovelToon
Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Duda
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fhatt Trah

Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.

Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.

Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Tantangan Oma Soraya

TAK!

Gema denting tongkat Oma Soraya masih menyisakan dengung tipis di udara, membungkam habis seluruh ruang makan. Bahkan gesekan alat makan Tante Vina mendadak terhenti di udara.

Oma Soraya melipat serbet kainnya dengan sangat rapi, meletakkannya tepat di sisi kiri piring porselen yang sudah bersih. Pandangan tajamnya bergeser dari Arka yang jemarinya masih menaut erat jemari Naya, lalu terkunci sepenuhnya pada Naya.

“Kata-kata yang indah, Arka,” ucap Oma Soraya, suaranya tenang namun sarat bobot penekanan yang membuat atmosfer ruangan semakin menghimpit. “Tapi di keluarga ini, kita tidak hidup hanya dari kata-kata romantis.”

Oma memajukan sedikit tubuhnya, menopang kedua tangan di atas kepala tongkat peraknya. “Naya.”

Naya menegakkan punggungnya refleks. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang, namun ia memanggil sisa kepasrahan dan keberaniannya untuk menatap balik sepasang mata senja yang amat berwibawa itu.

“Iya, Oma?” sahut Naya.

“Keluarga Dirgantara tidak dibangun dari kebetulan,” ujar Oma Soraya datar.

“Setiap orang yang masuk ke rumah ini membawa nilai. Bukan cuma nama besar, tapi komitmen. Berkas pernikahan kalian sudah resmi di mata hukum dan agama, tapi di mata keluarga ini... kamu masih seorang asing yang tiba-tiba melompati pagar.”

Vina menyunggingkan senyum kemenangan tipis dari seberang meja, sementara Rendy bersandar santai menikmati sudut yang kian memojokkan sepupunya.

“Oma, Naya sudah—” Arka hendak menyela, namun Oma Soraya mengangkat satu tangannya, menghentikan kalimat Arka tanpa bantahan.

“Oma belum selesai berbicara, Arka,” potong Oma dingin. Matanya kembali menatap Naya.

“Minggu depan adalah peringatan hari jadi yayasan publik Dirgantara. Sebagai istri dari calon penerus utama, kamu tidak bisa hanya bersembunyi di balik ketiak Arka.” Oma Soraya menjeda sejenak, mengamati setiap celah gestur di wajah Naya.

“Oma menyerahkan seluruh tanggung jawab penyelenggaraan gala dinner amal itu kepadamu. Buktikan pada paman, tante, dan seluruh petinggi perusahaan bahwa kamu pantas berdiri di samping Arka. Bahwa kamu bukan sekadar tameng sementara, atau... keputusan impulsif yang disesali.”

Naya merasakan hembusan napas Arka yang tertahan di sisinya. Tantangan ini bukan sekadar tugas biasa, ini adalah jebakan bernuansa ujian sosial tingkat tinggi.

Satu kesalahan kecil di hadapan media dan elite Jakarta akan menghancurkan citra yang dibangun Arka, sekaligus memberi amunisi bagi Hendra dan Vina untuk menjatuhkan Arka di Rapat Umum Pemegang Saham mendatang.

Marisa tampak ingin memprotes, “Mami, bukankah itu terlalu mendadak untuk Naya? Dia bahkan belum—”

“Kalau dia memang wanita pilihan Arka yang tak butuh kalkulasi itu,” sela Oma Soraya sembari menatap Arka tajam, “maka tugas sepele seperti ini harusnya bisa diselesaikan dengan mudah. Bukankah begitu, Naya?”

Seluruh pasang mata kini tertuju pada Naya.

Naya merasakan remasan lembut jemari Arka di bawah meja, sebuah tanda agar ia membiarkan pria itu yang mengambil alih.

Namun, ia tahu, jika ia terus berlindung di balik Arka malam ini, Vina dan Rendy akan terus memandangnya sebagai titik lemah Arka yang paling gampang dihancurkan.

Naya menarik napas dalam-dalam, perlahan melepaskan genggaman tangan Arka, lalu menegakkan bahunya. Ia mengukir senyum paling tenang.

“Saya menerima tanggung jawab itu, Oma,” jawab Naya, suaranya terdengar jernih tanpa keraguan yang berarti.

“Terima kasih sudah mempercayakan acara penting keluarga kepada saya. Saya akan memastikan malam itu berjalan sesuai dengan standar tinggi yang dipimpin Oma selama ini.”

Di seberang meja, senyum sinis Vina sedikit memudar, berganti dengan kilatan terkejut. Arka menoleh, menatap samping wajah Naya dengan sudut mata yang menyempit, antara terkejut dan ketertarikan yang tak terduga.

Oma Soraya diam beberapa detik, memperhatikan keteguhan di mata wanita muda di hadapannya, sebelum akhirnya berdiri dari kursinya.

“Kita lihat hasilnya minggu depan,” sahut Oma singkat. “Makan malam selesai. Arka, bawa istrimu ke kamar di lantai dua. Kalian menginap malam ini.”

Tanpa menunggu jawaban, Oma Soraya melangkah pergi membelah ruangan dengan ketukan tongkatnya yang teratur, meninggalkan ruang makan yang kini diselimuti ketegangan baru.

****

Hawa dingin dari pendingin udara di koridor lantai dua sama sekali tak mampu meredakan rasa panas yang membakar pipi Naya. Langkah kakinya terasa berat, seolah menyusuri lorong pengadilan menuju eksekusi.

Kesan berani dan tenang yang baru saja ia pamerkan di hadapan Oma Soraya menguap tanpa sisa. Kini, yang tersisa hanyalah seorang wanita yang isi kepalanya dipenuhi bayangan-bayangan liar tentang apa yang akan terjadi di balik pintu kamar Arka.

Menginap? Berdua? Di kamar Arka?

Imajinasi Naya berputar hebat. Berkas pernikahan mereka memang sah, namun hubungan mereka dibangun di atas kesepakatan darurat.

Bayangan tentang gaun yang terlepas, sentuhan jarak dekat di atas ranjang yang sama, serta canggungnya menyandang status pengantin baru di malam pertama mendadak menghantam mentalnya hingga remuk.

“Naya.”

Suara berat Arka yang memanggil tepat di samping telinganya membuat Naya tersentak kaget. Langkahnya terhenti mendadak, hanya beberapa senti di depan pintu kayu mahoni berukir tebal, kamar pribadi Arka.

“Saya perhatikan dari tadi kamu diam saja,” ucap Arka. Jemari pria itu terulur menekan gagang pintu, lalu mendorongnya perlahan. “Kamu baik-baik saja?”

“Sa-saya, baik-baik saja,” sahut Naya cepat, suaranya naik satu oktav. Ia buru-buru menyilangkan tangan di depan dada.

“Saya hanya... membayangkan tugas dari Oma untuk minggu depan. Sangat menantang, kan?”

Arka terkekeh pelan. Pria itu melangkah masuk terlebih dahulu, membiarkan pencahayaan lampu dinding bernuansa putih lembut menyinari kamar seluas studio bertema modern-minimalist yang terkesan sangat maskulin. Aroma kayu cendana dan citrus khas Arka memenuhi udara, membuat dada Naya makin sesak.

“Bohong,” gumam Arka datar sembari melepas kancing jas hitamnya satu per satu. Ia berbalik, menatap Naya yang masih berdiri mematung di ambang pintu.

Arka menatap Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sudut mata menyipit, menyadari arah pikiran wanita itu. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi ranjang berukuran king size yang tertata rapi dengan sprei sutra warna abu-abu gelap.

“Saya tahu kamu bukan sedang memikirkan gala dinner, Naya,” lanjut Arka, mengikis jarak dengan melepas dasinya pelan-pelan. “Wajah kamu merah padam. Kamu memikirkan kata 'menginap' yang diucapkan Oma, kan?”

Jantung Naya seperti melompat keluar dari dadanya. “T-tentu saja tidak! Jangan percaya diri begitu!”

“Benarkah?” Arka melangkah mendekat, menghentikan gerakannya tepat satu langkah di depan Naya. Tatapannya mengunci mata Naya, menyisakan jarak yang begitu tipis hingga Naya bisa merasakan hangat dari napas pria itu.

“Lalu kenapa kamu memegang kerah bajumu seerat itu? Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang saya?”

Naya menelan ludah dengan susah payah. Lidahnya mendadak kelu, tak mampu menyusun kalimat sanggahan saat wangi Arka benar-benar menginvasi seluruh indranya.

“Apa kamu berpikir kita akan melakukan sesuatu malam ini?” imbuh Arka memicing.

“Uhuk! Uhuk-uhuk!”

Naya tersedak ludahnya sendiri. Tenggorokannya mendadak gatal luar biasa akibat guncangan rasa malu yang meledak serentak di dadanya. Wajahnya yang semula sudah merah padam kini kian membara hingga ke ujung telinga, persis seperti kepiting rebus.

Ia terbatuk-batuk sembari menepuk dadanya sendiri, refleks mundur dua langkah untuk memberi jarak aman dari pria yang baru saja menelanjangi jalan pikirannya tanpa ampun.

“Su—supaya Pak Arka tahu ya,” ujar Naya bersuara serak di sela batuknya, menunjuk dada Arka dengan jari telunjuk yang sedikit gemetar, “saya ini cuma kaget! Tidak pernah terlintas sedikit pun di pikiran saya soal... soal hal-hal aneh begitu!”

Arka tidak langsung menyahut. Pria itu justru melipat kedua tangannya di dada, memperhatikan reaksi berlebihan Naya dengan satu alis terangkat. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk lengkungan samar yang penuh kepuasan terselubung.

“Benarkah?” gumam Arka, melangkah maju satu tindak untuk memangkas kembali jarak yang dibuat Naya. “Tapi respon tubuhmu mengatakan hal yang sebaliknya, Naya.”

“Itu reflex! Semua orang kalau dituduh yang tidak-tidak juga pasti batuk!” Naya membela diri panik, pandangannya bergulir liar ke sekeliling kamar, mencari objek apa saja selain paras tampan pria di hadapannya yang teramat intimidatif.

Matanya akhirnya tertambat pada ranjang king size berseprai abu-abu gelap yang mendadak terlihat sangat mengancam.

“Pokoknya malam ini saya tidur di sofa,” cetus Naya cepat sebelum Arka sempat membuka mulut lagi. Ia menunjuk sofa kulit berwarna krem di sudut ruangan. “Pak Arka tidur di ranjang. Titik. Jangan protes.”

Arka menoleh ke arah sofa yang ditunjuk Naya, lalu kembali menatap istrinya itu dengan tatapan menilai.

“Sofa itu dirancang untuk duduk, bukan untuk tidur orang setinggi kamu,” sahut Arka santai sembari melempar dasinya ke atas meja rias. Ia kemudian mulai melonggarkan dua kancing teratas kemeja putihnya, memperlihatkan garis leher dan tulang selangka yang tegas.

“Lagipula, kalau besok pagi Oma atau pembantu masuk dan melihat kamu tidur di sofa, sandiwara kita selesai sebelum gala dinner dimulai.”

Naya menelan ludah melihat gerakan jemari Arka pada kancing kemejanya. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke langit-langit kamar.

“Lalu mau bagaimana? Tidak mungkin kita tidur di satu ranjang yang sama tanpa... tanpa...” Naya menggantungkan kalimatnya, tak sanggup melanjutkan.

“Tanpa apa?” goda Arka, suaranya terdengar makin rendah saat ia berjalan mendekati ranjang. Arka menepuk kasur empuk itu dua kali. “Ranjang ini luasnya dua meter. Kalau kamu tidur di ujung kanan dan saya di ujung kiri, kita bahkan tidak akan saling bersentuhan, Naya. Kecuali... kamu sendiri yang berniat merayap ke tengah.”

–tbc–

1
Maseni Maseni
asyik mulai saling jatuh cintrong nih mereka..... tinggal nunggu arka bucin kak

lanjut
sunaryati jarum
Ia kamu sudah jatuh hati pada Naya, apalagi hanya bersentuhan saja senjatamu langsung mode on
sunaryati jarum
Selalu.terbayang Naya,Nak Arka
sunaryati jarum
Bersentuhan saja bikin berdiri tegak ototnya,apalagi ko pijit🤣🤣🥰
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): dikira mijit otot lengan kali ya😆😆😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Tersiksa sendiri dengan komitmen yang kau buat Nak Arka 🤣🤣🤣 yang dikontrak hidup enjoy yang mengontrak kepanasan .
sunaryati jarum
Itu ular anaconda Naya,kamu polos banget sih.Padahal anak SMP sekarang sudah pada tahu
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ular yg berbisa😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Kecewa Arka tahu ada guling mati di ranjangnya 🤣🤣
sunaryati jarum
Semoga acara yang kau tangani sukses,Naya.
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): amiiiiin......
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
paha oh paha 🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): terbayang-bayang paha mulus ya😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Makin lemes Arka ,emak suka
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 tidak bisa tidur,balas saja Naya seolah guling juga,impas
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): 😂😂😂😂😂😂
total 1 replies
sunaryati jarum
Yakin benengmu tetep kokoh Nak Arka.
sunaryati jarum
Bener tuh kata Doni
sunaryati jarum
Mengapa gengsi Arka,emak sumpahin kau memanggilku perjanjian dan bucin pada istri kontrakmu 😂😂😂
sunaryati jarum
Benar dugaan emak ,kamu itu sarjana yang hanya kurang beruntung.Kamu beruntung punya sahabat yang tepat buat melaksanakan tantangan Oma Soraya.Semogs berhasil Dera,dan melebihi ekspektasi mereka yang meremehkan kamu
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 bagaimana cara membuktikan Arka, jika burungmu bisa terbang?
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): ya dikeluarin dari sangkarnya atuh kak🤭🤭🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Pilihan mendadak pada Naya ternyata tepat ,dia cerdas mungkin sarjana juga,cuma nasib yang kurang beruntung
Maseni Maseni
saatnya menunggu arka tersiksa dengan perasaannya sendiri.... sementara naya B aja dan enjoy dgn kerjaanya yg baru

buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): oke😉👌🏻
total 1 replies
Rian Moontero
mampir ah😄👍
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah): thank you🙏
total 1 replies
Tiara Bella
kasian sekali km Naya.....Arka jangan galak² Napa km....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!