NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Gaya Selangit Dompet Menjerit

Pintu studio terbuka, memperlihatkan kerumunan penonton yang mulai berhamburan keluar. Farah, Niken, dan Selina ikut berjalan bersama arus orang-orang tersebut. Begitu keluar dari studio, Farah mengembuskan napas sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Rame banget filmnya,” komentar Farah.

"Iya,” sahut Niken singkat, mengangguk setuju.

"Dah, ah, kita makan aja. Makan besar di tempat yang supermahal!” seru Farah tiba-tiba. Wajahnya tampak bersemangat, seolah sudah tak sabar membayangkan hidangan lezat yang akan mereka santap.

Selina langsung menoleh kepadanya. Matanya membulat, tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.

"Jadi, Mbak Farah nraktir kita?” tanyanya memastikan.

Farah hanya tersenyum santai. “Ayo aja!”

"Ya sudah, yuk!” Selina langsung menyambut antusias.

Mereka pun bergegas meninggalkan area bioskop, berjalan menuju pintu resto yang masih di dalam mal itu. Namun, baru beberapa langkah, Arya yang sejak tadi berjalan bersama mereka tiba-tiba mengingatkan sesuatu.

"Eh, anak-anak, ajak juga,!” katanya.

Farah mengangguk kecil, lalu menoleh kepada Selina.“Sel, telepon Tya.”

Selina mengernyitkan dahi. “Dia diajak makan juga?”

"Yang penting sih anak-anaknya. Kalau dia mau gabung, ya nggak masalah,” jawab Farah enteng. Baginya, yang terpenting anak-anak bisa ikut menikmati makan malam bersama. Soal Tantya, itu urusan belakangan.

Niken yang mendengar percakapan mereka langsung menyelipkan ide dengan nada santai.

"Dia suruh bayar sendiri aja deh.”

Farah menoleh, lalu mengangguk setuju tanpa berpikir panjang.“Bisa.”

Ketiganya saling pandang, kemudian tersenyum tipis. Rencana makan malam mewah itu tampaknya akan segera terwujud. Tinggal menunggu apakah Tantya akan ikut bergabung atau memilih melewatkannya.

Sementara itu, bagi Farah dan Niken, mengajak Tantya rupanya bukan semata-mata soal kebersamaan. Ada perhitungan tersendiri yang diam-diam mereka siapkan untuk perempuan itu. Tak lama setelah Farah menyuruh Selina menelepon Tantya, perempuan itu akhirnya muncul di hadapan mereka bersama ketiga ponakannya. Ibunya Tantya dan Tara juga ikut menyusul. Mereka berjalan beriringan menuju tempat Farah, Niken, dan yang lainnya berkumpul.

Begitu tiba, ibu Tantya menyapa keluarga besannya dengan ramah. Ia menyalami Bu Martha terlebih dahulu, kemudian menyapa yang lain. Namun, sambutan yang diterimanya terasa dingin. Bu Martha hanya menjawab sekadarnya, sementara yang lain pun tak menunjukkan keramahan yang berarti.

Meski begitu, ibu Tantya tak mempermasalahkannya. Ia sudah cukup mengenal sikap keluarga besannya itu.

"Kita mau makan. Anak-anak juga kayaknya sudah lapar.” ujar Farah sambil melirik ketiga ponakannya.

"Anak-anak udah makan,” jawab Tantya tenang.

Farah mengangkat alis, lalu menatap Tantya dengan ekspresi seolah tak percaya.

"Makan di mana? Jangan-jangan kamu ajak makan di warteg, ya?”

Tantya menatap Farah sekilas. Ia sudah terbiasa dengan sindiran semacam itu, jadi tak merasa perlu menunjukkan kekesalan.

"Ya, nggaklah. Makan di restoran yang kata Mbak Farah harganya supermahal.”

Farah langsung mendengus kecil. Senyum meremehkan tersungging di bibirnya.

"Jangan ngayal, deh!”

Tantya hanya mengangkat bahu. Ia tak berniat berdebat panjang lebar dengan kakak iparnya itu.

"Terserah. Mau percaya atau nggak juga.”

Jawabannya yang santai membuat Farah sedikit kesal. Namun, sebelum ia sempat menanggapi, ibu Tantya sudah lebih dulu menyentuh lengan putrinya.

"Tya, Ibu mau pulang aja.”

Tantya segera menoleh kepada ibunya. “Oh, iya, Bu. Ayo, bareng Tya. Nanti Tya pesankan angkutan online-nya.”

Ia kemudian berpamitan kepada Bu Martha sebagai besannya, juga kepada anggota keluarga yang lain. Sekali lagi, sambutan yang diterima ibu Tantya terasa sekadarnya. Namun, perempuan paruh baya itu tetap berusaha tersenyum dan berpamitan dengan sopan.

Setelah itu, Tantya menemani ibunya dan Tara berjalan meninggalkan area tempat mereka berkumpul. Ketiganya tak langsung menuju pintu keluar mal. Mereka masih menyempatkan diri berbelanja beberapa keperluan sehari-hari yang dibutuhkan ibu Tantya.

Setelah semua belanjaan selesai, Tantya mengajak ibu dan Tara menuju area parkir. Ia membuka mobil menggunakan kunci cadangan, lalu mengambil beberapa oleh-oleh yang sudah disiapkannya untuk sang ibu.

"Nih, Bu, oleh-olehnya dibawa pulang, ya!” kata Tantya sambil menyerahkan bungkusan tersebut.

Ibu Tantya menerima bungkusan itu dengan senyum hangat. “Kamu ini, Tya. Sudah repot-repot.”

"Nggak repot, Bu. Memang Tya siapkan buat Ibu.”

Tara ikut membantu membawa barang belanjaan. Setelah memastikan semuanya terbawa, Tantya memesankan angkutan online untuk ibu dan Tara agar mereka bisa pulang dengan nyaman.

Sebelum kendaraan datang, ibu Tantya sempat menggenggam tangan putrinya.

"Kamu hati-hati, ya, Nak. Jangan terlalu capek!”

Tantya tersenyum. “Iya, Bu. Ibu juga hati-hati di jalan. Kabari Tya kalau sudah sampai rumah.”

Tak lama kemudian, kendaraan yang mereka tunggu tiba. Tantya membantu memasukkan barang-barang ke dalam bagasi, lalu mengantar ibu dan Tara sampai ke kendaraan.

Setelah berpamitan sekali lagi, ia berdiri di tempatnya, memperhatikan kendaraan itu perlahan meninggalkan area parkir.

Barulah setelah kendaraan tersebut tak lagi terlihat, Tantya berbalik menuju tempat keluarganya berkumpul.

Ia tahu, malam itu masih panjang. Dan entah kejutan apalagi yang sudah disiapkan keluarga suaminya untuknya.

Tantya kembali menyusuri area mal untuk mencari keluarganya. Setelah berpisah dengan ibu dan Tara, ia sempat mengira mereka masih berada di sekitar lobi bioskop. Namun, setelah menghubungi Selina, barulah ia mengetahui bahwa rombongan itu sudah lebih dulu masuk ke restoran.

Tantya pun segera menyusul.

Begitu tiba, ia mendapati Farah, Niken, Selina, Arya, dan yang lainnya sudah duduk mengelilingi sebuah meja besar. Ketiga ponakannya tampak asyik menikmati hidangan, sementara beberapa gelas minuman sudah tersaji di atas meja.

Salah seorang anak yang melihat Tantya datang langsung berseru riang.

“Tante, tadi kita sudah makan di sini juga, ya?”

Tantya tersenyum sambil mengangguk. “Iya, Sayang.”

“Tuh, kan, Ma! Aku nggak bohong,” sahut anak itu, menoleh kepada ibunya dengan wajah puas.

Farah mengerutkan kening. Ia melirik hidangan di hadapan anaknya, kemudian menatap Tantya dengan tatapan penuh selidik.

“Tapi menu makannya pasti pilih yang murah-murah, deh.”

“Nggaklah, Ma. Malah bebas! Nggak kayak sama Mama, ini itu nggak boleh,” jawab anak itu polos.

Farah terdiam sesaat. Wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan mendengar jawaban anaknya sendiri. Namun, ia tak mungkin meluapkan kekesalan di depan semua orang hanya karena perkataan seorang anak.

Sementara itu, Tantya hanya tersenyum tipis. Ia tak tertarik ikut campur dalam urusan ibu dan anak itu. Tanpa banyak bicara, ia menarik kursi dan duduk dengan tenang.

Seorang pelayan segera menghampiri untuk mencatat pesanannya.

Tantya membuka daftar menu, memperhatikan beberapa pilihan minuman, lalu menunjuk salah satu jus dengan harga paling mahal di antara yang tersedia.

“Saya pesan jus ini, ya, Mbak.”

Pelayan itu mengangguk sopan dan mencatat pesanannya.

Namun, Farah yang sempat melirik daftar menu di tangan Tantya langsung bereaksi.

“Hei! Jus itu mahal, tahu! Yang lain juga nggak ada yang pesan jus itu, kok kamu malah memesannya?”

Tantya mengangkat wajah. Ia menatap Farah sebentar, kemudian menjawab dengan nada datar.

“Lah, suka-sukaku, lah, mau pesan apa. Aku bayar sendiri, kok.”

“Ya, tapi nggak perlu juga pesan yang paling mahal!” Farah masih saja mempermasalahkannya.

Tantya tak membalas. Ia kembali menyandarkan tubuhnya dengan santai, seolah omelan Farah barusan tak lebih dari suara angin yang lewat.

Tak lama kemudian, pesanan mereka mulai berdatangan. Satu per satu hidangan diletakkan di atas meja. Aroma makanan yang menggugah selera memenuhi udara, sementara para pelayan sibuk memastikan semua pesanan tersaji dengan benar.

Farah yang sejak tadi tampak percaya diri mendadak berubah ekspresi ketika seorang pelayan menyerahkan lembar tagihan kepadanya.

Ia mengambilnya, lalu membaca angka yang tertera di sana.

Matanya membelalak.

Mahal sekali!

Pekikannya tertahan di tenggorokan. Ia segera melirik hidangan di atas meja, seolah tak percaya bahwa makanan sebanyak itu bisa menghabiskan uang dalam jumlah yang cukup besar.

Padahal, tadi dialah yang dengan lantang mengajak semua orang makan besar di restoran supermahal.

Tantya sempat melirik wajah Farah. Sudut bibirnya terangkat sedikit, tetapi ia memilih diam. Ia tak perlu berkomentar untuk mengetahui bahwa kakak iparnya itu sedang menghitung-hitung pengeluaran dalam kepala.

Beberapa saat kemudian, pelayan kembali menghampiri meja mereka dengan membawa pesanan terakhir.

"Kak, ini pesanannya.”

Tantya mengangguk. “Oke, Mbak. Saya bayar pakai QRIS, ya.”

"Baik, Kak.”

Tantya segera mengambil ponselnya dan membuka aplikasi perbankan. Ia hendak memindai kode pembayaran yang disodorkan pelayan ketika tiba-tiba Farah menyela dengan enteng.

"Mbak, sekalian tagihan yang ini, ya. Dibayar sama dia.”

Tangan Tantya yang sedang memegang ponsel terhenti.

Ia menoleh perlahan kepada Farah, memastikan dirinya tak salah dengar.

Sementara itu, Farah justru bersikap seolah permintaannya merupakan hal yang sangat wajar. Ia bahkan kembali menyodorkan lembar tagihan itu ke arah pelayan.

"Apa?” Tantya akhirnya bersuara. “Nggak salah, Mbak? Katanya mau nraktir keluarga?”

Farah mengibaskan tangan, berusaha terlihat santai. “Ya, sekalian aja. Kamu, kan, sudah kerja. Uangnya juga ada.”

Tantya tertawa kecil. Bukan karena merasa lucu, melainkan karena benar-benar tak habis pikir dengan cara berpikir kakak iparnya.

"Gaji udah dua digit, eh, akhirnya penjaga toko ini juga yang disuruh bayar?” Tantya menyindir sambil menggeleng pelan. “Hebat sekali, Mbak. Tadi yang semangat ngajak makan di restoran mahal siapa, yang ujung-ujungnya nyuruh orang lain bayar siapa.”

Seketika, suasana di meja itu berubah canggung.

Selina menoleh kepada Niken. Arya memilih diam, sedangkan beberapa anggota keluarga lainnya saling pandang, tak tahu harus menanggapi bagaimana.

Wajah Farah mulai memerah. Ia jelas tak menyangka Tantya akan menyindirnya secara terang-terangan di depan semua orang.

"Apaan, sih, Tya? Cuma begitu aja diperhitungkan!” bentaknya, berusaha menutupi rasa malunya.

Tantya terkekeh lagi. Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Farah dengan senyum yang sulit diartikan.

"Lho, siapa yang memperhitungkan? Aku cuma mengingatkan. Katanya mau nraktir, kok malah tagihannya dilempar ke aku?”

Ia mengangkat bahu, lalu kembali mengambil ponselnya.

"Kalau dari awal memang nggak sanggup, nggak perlu gengsi ngajak makan di tempat mahal, Mbak. Makan di tempat biasa juga nggak masalah, kok. Yang penting jangan sampai gaya lebih besar daripada isi dompet.”

Jleb!

Ucapan Tantya telak menghantam harga diri Farah.

Untuk sesaat, perempuan itu tak mampu membalas. Rahangnya mengeras, sementara tatapan matanya menunjukkan kemarahan yang berusaha ia tahan mati-matian.

Tantya sendiri tetap duduk tenang. Ia tak merasa bersalah sedikit pun. Baginya, jika seseorang berani mengajak orang lain bersenang-senang demi gengsi, orang itu juga harus berani menanggung konsekuensinya sendiri.

Apalagi jika niat awalnya hanya ingin pamer, lalu berakhir dengan menyuruh orang lain membayar.

Tantya tersenyum tipis, kemudian kembali mengarahkan perhatian kepada pelayan yang masih berdiri menunggu.

"Maaf, Mbak. Tagihan saya saja, ya. Yang lainnya biar dibayar masing-masing.”Ia mengangkat ponselnya, siap memindai kode QRIS.

Sementara Farah hanya bisa menatapnya dengan wajah masam. Malam yang semula ia bayangkan sebagai ajang pamer kemewahan perlahan berubah menjadi malam yang justru mempermalukan dirinya sendiri.

1
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!