Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Neraka Di Balik Gerbang Akademi 3
Ruang administrasi bagian belakang terasa pengap.
Lampu putih di langit-langit menyala terlalu terang, membuat ruangan kecil itu terlihat lebih dingin daripada seharusnya. Di atas meja terdapat beberapa map, gelas kopi, dan tumpukan dokumen yang belum dirapikan.
Surya duduk di balik meja.
Dedi berdiri di dekat lemari, sementara Haris bersandar pada dinding. Ketiganya menatap Rani ketika gadis itu masuk.
"Katanya kamu masih belum bisa diatur," ujar Surya.
Rani menunduk. "Saya sudah berusaha mengikuti aturan, Pak."
"Kalau begitu, kenapa kamu membuat keributan?"
"Saya tidak membuat keributan."
Dedi langsung tertawa pendek.
Surya mengangkat satu tangan, meminta Dedi diam. Dia kemudian menatap Rani seolah sedang menghadapi seorang anak yang sangat mengecewakan.
"Kamu tahu kenapa orang tuamu mengirim kamu ke sini?"
Rani mengangguk pelan. "Untuk pembinaan."
"Benar. Mereka ingin kamu berubah. Mereka ingin kamu berhenti membuat masalah di rumah."
"Tapi saya tidak pernah—"
"Jangan memotong pembicaraan."
Rani langsung terdiam.
Surya membuka sebuah map dan mengeluarkan lembar laporan. Di dalamnya terdapat catatan tentang perilaku Rani, lengkap dengan beberapa keterangan yang tidak pernah dia lakukan.
"Kamu tercatat membangkang, tidak menghormati pembina, dan beberapa kali menolak pemeriksaan. Kalau laporan ini kami kirimkan kepada orang tuamu, menurutmu mereka akan senang?"
Rani memandangi kertas itu. "Itu tidak benar, Pak."
Surya menutup map.
"Kalau kamu terus membantah, bagaimana kami bisa membantu kamu?"
Rani meremas ujung bajunya. "Saya cuma tidak mau dipanggil sendirian ke ruangan itu lagi."
Senyum tipis di wajah Surya menghilang.
Dedi melangkah maju. "Kamu masih membicarakan hal itu?"
Rani mundur setengah langkah.
"Saya tidak nyaman, Pak."
"Jangan menggunakan kata-kata seperti itu sembarangan."
"Tapi Bapak—"
"Rani."
Suara Surya terdengar lebih keras.
Gadis itu langsung membeku.
Surya bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekat. Dia tidak perlu berteriak. Nada suaranya yang datar justru membuat Rani semakin takut.
"Di sini, semua kegiatan dilakukan untuk kebaikan kalian. Kalau kamu merasa tidak nyaman, mungkin karena kamu belum terbiasa menerima arahan."
Rani menggeleng pelan. "Saya cuma ingin pulang."
"Semua anak juga mengatakan hal yang sama pada awalnya."
"Saya ingin bicara dengan Ibu."
Surya menghela napas panjang, seolah permintaan itu sangat merepotkan.
"Orang tuamu sudah mempercayakan kamu kepada kami. Jangan terus-menerus mengganggu mereka."
Rani mulai menangis. Dia berusaha menghapus air matanya, tetapi semakin ditahan, semakin sulit baginya bernapas dengan tenang.
"Saya kangen Ibu."
Dedi mendekat dan mencengkeram lengannya.
"Sudah dibilang jangan menangis!"
Rani meringis. "Sakit, Pak."
Cengkeraman itu tidak dilepaskan.
"Kalau kamu tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil, berhenti bersikap seperti anak kecil."
Surya kembali ke meja. Dia mengambil sebuah lembar pernyataan dan meletakkannya di hadapan Rani.
"Tanda tangani."
Rani membaca tulisan di bagian atas kertas. Isinya menyatakan bahwa dirinya telah salah memahami arahan pembina, membuat tuduhan tanpa bukti, dan berjanji tidak akan mengulangi perilaku tersebut.
Wajahnya semakin pucat.
"Saya tidak bisa tanda tangan."
Dedi langsung menarik kursi dari belakangnya. Bunyi gesekan kaki kursi dengan lantai membuat Rani tersentak.
"Jangan menguji kesabaran kami."
"Saya tidak berbohong."
Haris yang sejak tadi diam akhirnya maju. Dia mengambil kertas itu, lalu menepuk-nepukkannya ke telapak tangan.
"Kamu pikir ada yang peduli dengan cerita kamu?"
Rani menggeleng.
"Orang tua kamu bahkan tidak datang menjemput. Mereka tidak menelepon. Mereka tidak tahu kamu sedang apa di sini." Haris menatapnya tajam. "Kalau mereka benar-benar peduli, bukankah seharusnya mereka sudah datang?"
Rani terdiam.
Kata-kata itu seperti menekan bagian paling rapuh dalam dirinya.
Dia sudah berulang kali membayangkan ibunya datang menjemput. Dia membayangkan bisa memeluk ibunya, menangis sepuasnya, lalu menceritakan semua yang terjadi.
Namun, setiap kali dia meminta izin untuk menelepon, para pembina selalu mengatakan hal yang sama.
Orang tuanya sibuk.
Orang tuanya tidak mau diganggu.
Orang tuanya ingin dia belajar mandiri.
Rani tidak tahu bahwa semua pesan yang dikirim ibunya tidak pernah sampai kepadanya.
Dia juga tidak tahu bahwa permintaan kunjungan keluarga sudah berkali-kali ditolak oleh pihak akademi.
"Kalau kamu terus membuat masalah, orang tuamu bisa saja memutuskan untuk memperpanjang masa pembinaanmu."
Rani mengangkat wajah.
"Maksud Bapak?"
Surya menatapnya tanpa ekspresi. "Bisa saja mereka tidak mau menerima kamu kembali, sebelum kamu benar-benar berubah."
Air mata Rani jatuh lagi.
Dia ingin percaya bahwa ibunya tidak akan melakukan itu. Namun, setelah hampir tiga minggu tanpa kabar, rasa takut mulai menggerogoti keyakinannya.
"Saya akan diam," katanya akhirnya. "Saya janji tidak akan bicara lagi."
Dedi melepaskan lengannya.
"Seharusnya dari tadi."
Surya menunjuk kertas di atas meja. "Tanda tangan."
Dengan tangan gemetar, Rani mengambil pulpen.
Dia tidak setuju dengan isi pernyataan itu. Dia tahu dirinya tidak berbohong. Akan tetapi, di dalam ruangan tersebut, kebenaran tidak memiliki tempat.
Dia menandatangani kertas itu sambil menahan tangis.
Surya mengambil kembali dokumen tersebut dan memasukkannya ke dalam map.
"Bagus. Sekarang kembali ke kamar. Besok pagi kamu tetap mengikuti kegiatan seperti biasa."
Rani mengangguk.
Namun, ketika dia hendak keluar, Dedi kembali memanggilnya.
"Satu lagi."
Rani berhenti.
"Kalau kamu mengulangi cerita yang sama kepada anak lain, hukumannya bukan cuma berdiri di lorong."
Rani menoleh sedikit.
Dedi tersenyum tipis.
"Kamu masih ingat ruang isolasi?"
Tubuh Rani langsung menegang.
"Jangan sampai kami harus mengingatkan kamu bagaimana rasanya berada di sana."
Rani berjalan menyusuri lorong dengan langkah pelan. Tangannya masih terasa sakit akibat cengkeraman Dedi. Sesekali dia mengusap bekas kemerahan di lengannya, berusaha menahan tangis yang kembali muncul.
Ketika sampai di kamar, Lilis langsung bangkit dari ranjang.
"Ran, kamu nggak apa-apa?"
Rani tidak menjawab. Dia hanya berjalan menuju tempat tidurnya, lalu duduk sambil menundukkan kepala.
Lilis mendekat dan memperhatikan wajahnya yang sembap. "Mereka ngapain lagi sama kamu?"
Rani menggeleng. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya dia berbisik, "Mereka menyuruhku tanda tangan surat pernyataan."
"Surat apa?"
"Katanya aku salah paham. Katanya aku berbohong tentang kejadian itu."
Lilis terdiam. Dia ingin bertanya lebih jauh, tetapi melihat kondisi Rani membuatnya mengurungkan niat.
"Aku takut, Lis," ucap Rani lirih. "Kalau aku terus melawan, mereka bilang aku nggak akan diizinkan pulang."
Lilis duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling diam.
Malam semakin larut. Dari balik jendela, cahaya lampu halaman terlihat redup.
Rani menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Dalam gelap, dia kembali membayangkan wajah ibunya.
"Mah, jemput Rani..."
Suaranya begitu pelan, nyaris tenggelam oleh suara kipas angin.
Namun, tidak ada jawaban.
Di tempat itu, bahkan tangisan pun harus disembunyikan.
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor