NovelToon NovelToon
Surat Terakhir Bapak

Surat Terakhir Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachman Santoso

**Surat Terakhir Bapak**

*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*

Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.

Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.

Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.

*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laci Ketiga

Laras merobek amplop itu di bawah lampu dapur, dengan Ibu berdiri di belakangnya. Satu lembar kertas bergaris dari buku nota toko, lipatan yang sama, tulisan tegak dan miring ke kanan.

*Laras. Kalau kamu membaca ini, berarti Darmawan sudah mulai menghubungimu. Bapak tidak terkejut. Dia selalu sabar menunggu sampai Bapak tidak bisa membela diri.*

*Bapak sakit, Nak. Kanker pankreas, sudah empat belas bulan, dan dokter bilang waktu Bapak tidak panjang. Bapak tidak cerita pada siapa pun, bahkan pada ibumu, sampai tiga bulan terakhir. Bapak bilang pada Bima itu jantung. Bapak yang meminta Ibu berbohong. Jangan salahkan dia.*

Laras menoleh. Ibu memejamkan mata dan mengangguk, sekali, sangat pelan.

*Surat wasiat yang dibacakan Pak Surya sengaja Bapak buat bertahap. Bapak ingin kalian mendengar kebenarannya dari Bapak sendiri, bukan dari Darmawan. Tapi Bapak tahu dia akan bergerak begitu Bapak tiada. Karena itu Bapak menyiapkan sesuatu.*

*Di meja kerja Bapak, di toko, ada laci ketiga yang tidak bisa dibuka dari luar. Tekan papan dasar laci kedua sampai berbunyi klik. Di dalamnya ada semua yang Bapak kumpulkan selama tiga puluh tahun: bukti setiap transfer, surat pernyataan asli Ratna, dan rekaman pembicaraan Bapak dengan Darmawan dua tahun lalu, ketika dia sendiri yang menyebut ancamannya.*

*Pakai itu kalau terpaksa. Tapi pikirkan baik-baik dulu. Kalau semuanya dibuka, kebenaran tentang Sekar dan tentang kamu ikut terbuka di depan hukum, dan Bapak tidak ingin kalian membayar harga itu sendirian.*

*Satu hal lagi. Kamu anak Bapak. Bukan karena darah, bukan karena janji. Karena Bapak yang memilihmu, setiap hari, selama dua puluh sembilan tahun, dan Bapak akan memilihmu lagi kalau bisa.*

*Sudah makan, Nak?*

Laras menutup mulutnya dengan punggung tangan. Dari belakang, Ibu meletakkan telapak tangan di bahunya, hangat dan tak bergerak.

"Dia selalu menutup surat dengan itu," bisik Ibu. "Bahkan surat untuk Ibu."

---

Ketukan ketiga datang tepat setelah Laras melipat surat itu.

Kali ini ia tidak menunggu. Ia berjalan ke pintu depan, memutar kunci, dan menariknya terbuka sebelum Ibu sempat mencegah.

Di teras, tanpa payung dan tanpa map cokelat, berdiri Pak Surya. Jas hujannya basah di bahu, kacamatanya berembun. Ia tampak sepuluh tahun lebih tua daripada kemarin siang.

"Mbak Laras," katanya serak. "Saya mohon, beri saya lima menit."

"Kamu yang selipkan surat ini."

"Ya. Pak Hartono menitipkannya enam bulan lalu. Pesannya: berikan kepada Laras begitu Darmawan menghubunginya, dan tidak sebelum itu." Ia menelan ludah. "Dia sudah menghubungi Mbak semalam. Saya tahu karena ..."

"Karena kamu yang kasih tahu dia soal Sekar."

Kalimat itu keluar datar, tanpa tuduhan. Pak Surya terdiam. Hujan menetes dari ujung atap, satu-satu, dan Ibu muncul di belakang Laras dengan kerudung seadanya.

"Saya tidak punya pembelaan," kata Pak Surya akhirnya. Bahunya melorot. "Kantor saya berutang pada Sentosa Karya sejak krisis moneter. Pak Darmawan memegang jaminan rumah dan kantor saya. Dua tahun lalu dia mulai meminta kabar kecil: siapa yang datang ke rumah ini, siapa yang menelepon. Saya pikir itu hal remeh. Lalu ... lalu Pak Hartono menitipkan wasiatnya, dan saya tahu isinya akan jadi bahan bakar baginya."

"Kamu tetap kasih tahu," ujar Ibu.

"Dia menelepon sebelum saya berangkat kemarin. Dia bilang kalau saya tidak menyebut apa yang akan dibacakan, dia akan menyita kantor saya hari itu juga." Suaranya pecah. "Saya sudah enam puluh delapan tahun, Bu. Saya tidak punya apa-apa selain kantor itu. Saya pengecut."

Laras mengamati lelaki tua di depannya. Ia ingin marah, dan separuh dirinya memang marah, tetapi marah itu terasa seperti pakaian yang tak muat lagi. Terlalu banyak pengecut di cerita ini, termasuk dirinya.

"Kenapa sekarang?" tanyanya. "Kenapa kamu kasih surat ini kalau kamu takut padanya?"

"Karena Pak Hartono satu-satunya orang yang membayar jasa saya dengan tepat waktu selama tiga puluh tahun tanpa pernah bertanya apa-apa." Pak Surya mengangkat wajahnya. Matanya basah. "Dan semalam saya sadar, kalau saya tidak melakukan satu hal benar sebelum mati, saya tidak akan bisa menatap fotonya."

Ia merogoh saku jas hujan dan mengeluarkan sebuah kunci kecil berkarat, diikat tali pintal. Laras mengenalinya: kunci toko, cadangan yang dulu Bapak simpan di bawah pot kaktus.

"Pak Hartono bilang, kalau Mbak membaca suratnya, Mbak pasti mau segera ke toko," katanya. "Saya akan antar. Mobil saya di ujung gang."

---

Satu hal membuat Laras berhenti di anak tangga ketiga.

Ia sudah setengah jalan ke kamar Bima untuk membangunkannya ketika sadar pintunya terbuka. Pintu kamar itu tidak pernah terbuka lebar. Bima selalu menutupnya sejak SMP.

"Bim?"

Kasurnya rapi. Terlalu rapi. Sprei ditarik kencang, bantal ditumpuk, selimut terlipat di kaki ranjang. Tak ada tanda seseorang tidur di sana semalam. Jendela di sisi barat setengah terbuka, tirainya berkibar pelan.

Laras memutar nomor Bima. Nada sambung tidak terdengar, hanya suara operator yang dingin: *nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.*

Ia berlari turun. "Bu! Bima nggak di kamarnya!"

Ibu sudah berdiri di kaki tangga, wajahnya putih seperti kertas.

"Motornya?"

Laras menerobos pintu samping, ke halaman. Tempat Bima biasa memarkir motor bebeknya kosong. Hanya ada bekas ban di tanah basah, memanjang ke arah gerbang.

---

Mobil Pak Surya, Kijang tua yang berbau karpet lembap, meluncur melewati Jalan Pasar Lama dalam setengah jam yang terasa dua jam. Ibu duduk di sebelahnya dengan tas kecil di pangkuan, tak bicara. Laras di kursi belakang, memeluk suratnya sendiri.

Toko Mebel Jati Hartono berdiri di ujung blok, rolling door besinya setengah terangkat. Tidak sepenuhnya tertutup.

"Itu tidak saya buka," kata Pak Surya cepat.

"Aku tahu," jawab Laras.

Ia menyelip masuk lewat celah di bawah pintu besi. Bau kayu jati, lem, dan debu gergaji menyergapnya, bau masa kecil yang tak pernah ia akui rindukan. Lampu neon di langit-langit padam. Hanya cahaya abu-abu pagi yang masuk dari jendela belakang.

Meja kerja Bapak ada di pojok, di bawah foto hitam putih bengkel pertama. Meja jati tua dengan tiga laci di sisi kanan, kayunya sudah hitam mengilap oleh puluhan tahun tangan.

Dan laci kedua, yang tidak boleh dijual meski ditawar mahal, tertarik keluar setengah.

Laras berlutut. Dengan jari bergetar ia menekan papan dasar laci itu, seperti yang tertulis di surat. Ada bunyi klik, dan papan itu bergeser, memperlihatkan ruang tersembunyi di bawahnya.

Kosong.

Hanya debu halus berbentuk persegi panjang, jejak benda-benda yang sudah diangkat, dan satu hal lain: secangkir teh di atas permukaan meja, uapnya masih menipis ke udara dingin.

Tidak ada satu orang pun di toko ini sejak kemarin sore.

Di samping cangkir itu terselip selembar nota kecil, tulisan tangan yang buru-buru dan sangat Laras kenal.

*Mbak, jangan datang jam 10. Aku yang urus semuanya. Jangan percaya Pak Surya. Maafin aku. — B*

Laras berdiri pelan. Di belakangnya, di celah rolling door, siluet Pak Surya membeku di antara cahaya pucat dan bayangan, dengan kunci kecil berkarat masih tergenggam di tangannya.

1
ceuceu
Ternyata kerumitan keluarga ini bermula dari kebejatan ibu
ceuceu
Rumit
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, mampir juga yuk ke sc akuu
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!