NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Kebenaran yang Mengerikan

​

Aira terbangun dengan rasa pening yang luar biasa hebat, bagaikan ribuan jarum menusuk tempurung kepalanya secara bersamaan. Tenggorokannya terasa sangat kering dan terletak pasir, sementara lidahnya pahit akibat sisa zat kimia obat tidur yang dipaksa masuk ke tubuhnya.

Saat ia mencoba menggerakkan tangannya untuk memegang kepala, sebuah hentakan keras menahannya. Aira tersentak kaget. Kedua pergelangan tangannya telah terikat erat dengan tali kain tebal pada sandaran sebuah kursi kayu tua. Bahkan kedua pergelangan kakinya pun diikat rapat pada kaki-kaki kursi.

Suasana di sekelilingnya remang-remang dan dingin menusuk tulang. Hanya ada satu bola lampu gantung tua berdebu yang memancarkan pendar cahaya kuning redup, menerangi sebuah ruangan berbau kayu lapuk dan tanah basah. Suara deburan angin malam yang menghantam pepohonan rindang di luar terdengar samar-samar. Ini jelas bukan rumah Pradipta. Ini adalah sebuah bangunan terisolasi di tengah rimba yang jauh dari peradaban.

"Sudah bangun, Aira?"

Suara mengayun yang dingin itu menggelegar dari sudut ruangan yang tertutup bayang-bayang gelap.

Langkah kaki tegap terdengar mendekat. Darel melangkah keluar dari kegelapan. Ia tidak lagi mengenakan kemeja seragam sekolah yang rapi atau sweater rajut hangat yang biasa membuatnya tampak seperti pangeran sekolah yang santun. Darel mengenakan pakaian serba hitam. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi, bibirnya tak lagi mengukir senyum manis palsu, dan kedua matanya tampak kosong—dingin, pekat, serta sama sekali tak memiliki pendar kemanusiaan.

"Kak... Kak Darel..." bisik Aira dengan suara yang teramat serak dan pecah. Air mata ketakutan seketika merembes membasahi pipinya. "Ini di mana? Kenapa aku diikat kayak gini?! Lepasin aku, Kak! Tolong lepasin!"

Darel menarik sebuah kursi besi dingin dari sudut ruangan, mendudukinya tepat di hadapan Aira hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Ia mengulurkan tangan kanannya, mengusap bekas air mata di pipi Aira dengan ujung jarinya yang terasa amat dingin bagaikan es.

"Kenapa harus dilepas, Aira?" gumam Darel pelan, intonasi suaranya teratur datar tanpa emosi sama sekali, seolah-olah ia sedang membicarakan cuaca. "Di sini kita aman. Gak ada Vino yang bakal ikut campur, gak ada orang tua kamu yang merepotkan, dan gak ada siapa-siapa lagi yang bisa mengganggu kita. Cuma ada saya... dan kamu."

"Kamu gila! Kamu udah gila, Darel!" jerit Aira histeris. Tubuhnya bergerak-gerak kasar mencoba melepaskan ikatan tali yang makin menggores kulit pergelangan tangannya hingga memerah. "Lepasin aku! Vino pasti nyariin aku sekarang! Dia gak bakal tinggal diam!"

Mendengar nama Vino diucapkan dari bibir Aira, sudut bibir Darel terangkat sedikit—membentuk sebuah kekeh tipis nan kering yang amat mengerikan. Ia mendadak maju, mencengkeram rahang Aira dengan kuat menggunakan jemarinya yang kekar, memaksa cewek itu menatap lurus ke dalam matanya yang pekat tanpa batas.

"Vino gak bakal bisa menemukan kamu di sini, Aira," desis Darel tajam, matanya menyipit penuh kegelapan murni. "Gak ada satu orang pun yang tahu keberadaan vila tua ini. Dan soal Vino... dia cuma serangga kecil yang telat menyadari permainannya."

Aira menahan napasnya yang sesak, dadanya naik turun oleh kepanikan ekstrem.

"Kamu mau tahu kebenarannya, Aira?" bisik Darel rapat di depan wajah Aira, membiarkan napas dinginnya menerpa kulit cewek itu. "Saya sudah memperhatikan kamu sejak kamu masih kelas dua SMP. jauh sebelum kamu tahu nama saya. Saya tahu jam berapa kamu bangun setiap pagi, jalur trotoar mana yang kamu lewati sepulang sekolah, toko buku mana yang sering kamu kunjungi, sampai lagu apa yang selalu kamu dengar di kamar kamu sebelum tidur."

Aira membeku total. Rasa merinding yang teramat hebat merayapi seluruh tengkuk dan punggungnya. Rangkaian foto-foto lama yang ia lihat di ponsel Darel kemarin malam mendadak terbayang jelas di benaknya.

"Kamu... kamu yang ngintai aku selama ini?" bisik Aira gemetaran.

"Bukan cuma mengintai, Aira," jawab Darel dengan seringai penuh kebanggaan yang gila. "Saya yang merancang seluruh hidup kamu. Kamu pikir bisnis ayah kamu bangkrut dan keluarga kamu terjerat utang secara kebetulan? Tidak, Aira. Saya yang membocorkan data keuangan perusahaan ayah kamu ke pihak lawan. Saya yang mengatur agar keluarga kamu hancur sampai tak punya pilihan selain menitipkan kamu di kediaman Pradipta."

Aira membelalakkan matanya, napasnya seolah terhenti seketika. "Kamu... kamu yang hancurkan keluargaku?!"

"Saya melakukan itu semua supaya kamu gak punya tempat bersandar selain saya!" potong Darel, suaranya mendadak meninggi sebelum kembali melunak secara abnormal. "Semua ini skenario yang saya susun sangat rapi selama bertahun-tahun. Kamu dirancang untuk jadi milik saya, Aira. Hanya milik saya."

Topeng Darel telah hancur dan tanggal sepenuhnya. Di hadapan Aira kini bukan lagi sosok pangeran sekolah yang sempurna, melainkan seorang psikopat obsesif yang mematikan. Tangisan Aira pecah dalam histeria murni, menyadari betapa dalam dan mengerikannya cengkeraman kegelapan yang kini mengurung nyawanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!