NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Hening menyergap seketika di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu. Suara dengung lemari es kecil di sudut ruangan yang biasanya samar-samar terdengar kini seolah lenyap, digantikan oleh detak jantung Keira yang bergemuruh kencang di dalam telinganya sendiri. Udara di ruangan itu mendadak terasa jauh lebih tipis, membuat dadanya sesak seolah-olah oksigen di sekitarnya tersedot habis dalam satu detik.

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Davin tajam, langsung pada sasaran, tanpa basa-basi seperti obrolan sore mereka biasanya. Sepasang mata lelaki itu menatap lurus, mengunci setiap gerak-gerik Keira dengan tatapan menyelidik yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ada kilat ketidakpercayaan bercampur kecurigaan pekat di sana, sorot mata seorang manajer yang sedang menginterogasi bawahannya di ruang tertutup.

Keira merasakan tenggorokannya mendadak kering. Seluruh darah di tubuhnya seolah surut ke kaki, meninggalkan jemarinya yang dingin dan kaku di sisi tubuh.

Apakah Davin tahu soal pertemuanku dengan Nadia di kafe Jalan Sudirman? Apakah Nadia mengadukan sesuatu? Atau... apakah Davin hanya menebak-nebak karena pertanyaanku malam itu tentang prosedur audit?

Berbagai kemungkinan buruk berkelebat cepat di kepalanya, menciptakan kepanikan yang luar biasa. Selama ini, Keira selalu membayangkan bahwa jika suatu hari kebohongan atau rahasianya terbongkar, ia akan meresponsnya dengan kejujuran atau setidaknya dengan tangisan ketakutan.

Namun di detik ini, di bawah tatapan tajam kekasihnya, insting bertahan hidupnya justru membawanya ke satu benteng pertahanan tertua di dunia: berbohong demi melindungi diri.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ia kumpulkan, Keira memaksa bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis senyuman kaku yang ia samarkan sebaik mungkin agar terlihat seperti kebingungan yang wajar.

"Orang kantor?" ulang Keira dengan suara yang diusahakan selazim dan senatural mungkin, meski ada getar halus yang nyaris tak tertangkap di ujung kalimatnya. "Maksud kamu apa, Vin? Siapa yang mau datang ke sini? Kan orang-orang kantor kamu enggak ada yang tahu alamat kos aku, kecuali kalau kamu sendiri yang kasih tahu."

Kalimat itu meluncur keluar dari mulutnya dengan mulus, sebuah kombinasi antara pertanyaan balik dan pengingat halus bahwa selama ini dunianya memang dibatasi oleh Davin sendiri.

Davin tidak langsung melepaskan tatapannya. Lelaki itu terus mengamati wajah Keira, mencari-cari retakan pada ekspresi kekasihnya, mencari tanda-tanda kegugupan atau gestur tubuh yang mencurigakan. Detik-detik berjalan terasa begitu lambat, bagaikan tetesan air yang jatuh di atas batu karang.

Hingga akhirnya, garis-garis keras di rahang Davin perlahan-lahan sedikit melunak. Ia mengalihkan pandangannya, mengusap tengkuknya yang kaku dengan sebelah tangan, lalu menghela napas panjang—helaan napas seorang lelaki yang sedang memikul beban mental luar biasa berat.

"Ah... lupakan, Kei," ucap Davin dengan nada suara yang kembali merendah, meski masih menyisakan ketegangan. "Maaf kalau nadanya agak ketus. Hari ini di kantor benar-benar bikin stres. Ada urusan internal yang bikin aku harus ekstra waspada sama orang-orang di sekitar divisi keuangan."

Mendengar pengakuan itu, Keira merasakan rongga dadanya sedikit lebih longgar, meski rasa ngeri belum sepenuhnya hilang dari permukaan kulitnya. Ia menelan ludahnya yang terasa pahit.

"Ada masalah lagi sama pekerjaan kamu?" tanya Keira pelan, mengambil langkah hati-hati untuk mendekati Davin, lalu meletakkan tangannya yang dingin di atas bahu lelaki itu. "Kamu keliatan capek banget, Vin. Kalau memang berat, jangan terlalu diporsir pikirannya."

Davin meraih tangan Keira yang ada di bahunya, menggenggamnya cukup erat, lalu mengecup punggung tangan itu pelan-pelan.

Sentuhan itu masih terasa hangat seperti biasa, namun kini Keira bisa merasakan ada getaran kecemasan yang nyata di balik genggaman tersebut kecemasan seorang lelaki yang takut kehilangan kendali atas dunia yang telah ia bangun.

"Aku cuma lagi banyak pikiran soal urusan audit kemarin, Kei," jawab Davin lirih, menyandarkan keningnya di dada Keira untuk sejenak mencari ketenangan. "Cuma di sini tempat aku bisa lepas dari semua tekanan itu. Makanya... aku enggak mau ada hal lain dari luar yang masuk dan merusak ketenangan kita di sini."

Kalimat itu diucapkan Davin dengan nada penuh permohonan, sebuah pernyataan cinta sekaligus sebuah peringatan tak kasat mata.

Keira membalas pelukan itu, mengelus rambut kekasihnya dengan gerakan lembut yang mekanis. Di permukaan, ia adalah perempuan penurut yang menjalankan perannya dengan sempurna menenangkan, menyayangi, dan menjadi tempat bersandar.

Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, pelukan itu tidak lagi terasa seperti sebuah dekapan suci dari seorang pelindung. Pelukan itu kini terasa seperti ikatan yang mengurung, di mana ada hal-hal serius yang sengaja disembunyikan di balik tirai perlindungan tersebut, dan setiap rahasia kecil harus dibayar dengan kewaspadaan yang tiada henti.

Malam itu, setelah Davin selesai makan malam, meneguk air hangat, dan akhirnya tertidur pulas karena kelelahan yang teramat sangat, kamar kos kembali diselimuti kesunyian malam yang pekat.

Di luar, angin malam berembus pelan menyapu atap seng kos Jalan Melati.

Di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu, Keira duduk bersila di atas lantai beralaskan karpet tipis, memegang ponsel retaknya dengan layar redup.

Ia tidak menyalakan lampu utama meja; ia hanya mengandalkan temaram cahaya dari layar ponselnya untuk menatap lembaran buku sketsa yang terbuka di hadapannya.

Pikiran Keira berkecamuk hebat. Pertanyaan Davin sore tadi telah membuka matanya lebar-lebar terhadap satu kenyataan: Davin sedang menyembunyikan sesuatu yang serius berkaitan dengan pekerjaannya, sementara di sisi lain, dokumen dari Nadia menyisakan tanda tanya besar tentang apa yang sebenarnya terjadi di kantor. Hubungan mereka tidak lagi sesederhana dulu; ada retak-retak halus yang mulai bermunculan di antara keduanya.

Dan di tengah kebingungan itu, Keira menyadari bahwa ia tidak lagi berdiri di tempat yang sama. Di dalam laci mejanya, tersimpan amplop coklat berisi honor pertamanya dari hasil menggambar.

Di dalam aplikasi ponselnya, ada undangan kolaborasi lanjutan untuk zine edisi kedua.

Ia bukan lagi bayangan transparan yang sepenuhnya bergantung pada belas kasihan Davin. Ia memiliki lembaran kertas, goresan pensil, dan dunia kecilnya sendiri yang mulai bertunas di luar kendali lelaki itu.

Dengan tangan yang masih diselimuti rasa ragu dan gentar, Keira kembali membuka aplikasi media sosial seninya. Ia menatap pesan dari Rian tentang tawaran ilustrasi untuk tema Kota di Bawah Hujan.

Meskipun dadanya masih berdegup kencang karena ketakutan akan masa depan dan bayang-bayang kecurigaan Davin, ibu jari Keira perlahan mulai mengetik balasan:

“Halo, Rian. Aku siap bantu untuk edisi kedua ini. Boleh kirimkan detail konsepnya?”

Begitu pesan itu terkirim, Keira mengembuskan napas panjang. Ia menutup ponselnya, merebahkan diri sejenak di atas karpet tipis, memandang langit-langit kamar kos yang gelap. Ia tahu, langkah kecil yang ia ambil ini penuh dengan ketidakpastian dan risiko. Namun, meskipun rasa takut itu masih mencengkeram dadanya, ia memilih untuk tetap melangkah memulai sebuah perjalanan kecil di atas ubin kehidupan yang keras ini, demi menemukan kembali napas hidupnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!