Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perbedaannya Yang sebenarnya bukan pada tempatnya
Malam itu, di kontrakan petak Gang Mangga, sepatu putih Aurel akhirnya selesai diperbaiki.
Slamet masih duduk di dingklik kayu yang salah satu kakinya sudah miring. Di atas kepalanya, bohlam kuning 5 watt yang digantung seadanya dengan kabel biru bergoyang pelan tertiup angin yang menyelinap dari celah dinding triplek. Cahayanya redup, nyaris tak cukup untuk melihat garis jahitan. Token listrik baru diisi Sari pagi tadi seharga dua puluh ribu masih menyala, syukurlah.
Di tangan Slamet yang besar, kasar, kapalan, dan kuku-kukunya menghitam debu semen, tergenggam sepatu putih berukuran 38. Sepatu yang tadi siang solnya menganga tepat di tengah lapangan basket SMA Loyola. Di samping dingklik berdiri botol lem Fox berbungkus kuning baru dibelinya di toko bangunan dekat pangkalan ojek, harga dua belas ribu. Itu seluruh uang lembur siang tadi, hasil mengangkut batako dari pukul tujuh pagi sampai lima sore.
Hari ini Slamet tidak merokok. Kantongnya memang kosong.
Ia mengamplas sisa lem lama yang sudah mengeras, perlahan, sehalus mungkin. Tangannya kasar, tapi setiap gerakannya penuh kehati-hatian. Ia menekan-nekan solnya dengan ibu jari agar merekat rapat, lalu mengetuknya pelan dengan batu kali yang dipungutnya sendiri dari depan pintu.
Sari duduk di lantai, bersandar pada dinding yang ditempeli kalender bermotif jamu. Bakul jamunya sudah dicuci bersih, botol-botol kaca bekas sirup tertata rapi di sudut ruangan. Tangan Sari yang keriput dan kaku karena setiap pagi mengangkat bakul seberat lima belas kilo berkeliling kampung sejak pukul lima, kini mengusap lembut rambut Aurel yang meringkuk di pojok, memeluk lutut erat.
"Pak, pelan-pelan saja, tak perlu buru-buru. Biar kering sempurna," ucap Sari lirih.
"Iya, Bu. Biar kuat. Biar besok Aurel bisa berlari lagi," jawab Slamet tanpa menoleh, matanya tak lepas dari celah sol yang sedang menyatu.
Aurel diam saja, matanya masih bengkak dan merah. Ia belum bisa melupakan tawa kecil yang terdengar di lapangan tadi. "Eh, sepatunya putus!" Suaranya halus, tapi di telinganya terdengar seperti teriakan yang memecah kesunyian.
Hampir satu jam Slamet mengerjakannya. Tak ada percakapan lain. Hanya suara tetesan air dari keran tetangga dan deru motor yang sesekali melintas di jalan tanah gang.
Setelah selesai, Slamet meletakkan sepatu itu di bawah dingklik, menutupinya dengan kantong kresek putih bertuliskan Indomaret agar tak berdebu, dan tak digigit tikus.
"Sudah, Nak. Pakai ini dulu ya besok. Kalau tabungan pendaftaran sudah cukup, bulan depan Bapak belikan yang baru, janji itu," kata Slamet sambil menyeka keringat di dahi dengan ujung kaos oblongnya yang robek di kerah.
Aurel langsung memeluk ayahnya. Bau semen dan keringat bercampur tercium tajam, tapi baginya, itu adalah bau yang paling aman di dunia.
Malam itu mereka makan nasi putih, sayur bayam bening, dan sepotong tempe yang dibagi tiga. Tak ada yang menyebut kata "sepatu" lagi.
Sementara itu, di Perumahan Graha Candi Golf, Clarissa baru saja selesai makan malam. Ruang makan luas itu terang benderang, meja makan kayu jatinya panjang dan kosong namun pikirannya tetap tertinggal di lapangan basket SMA Loyola pagi tadi.
Ia masih terbayang gadis yang berjongkok di tengah lapangan, tangan gemetar berusaha menyambung sol yang lepas. Wajahnya memerah menahan tangis dan malu, tapi kulitnya bersih, matanya jernih, dan ia tetap terlihat cantik.
Clarissa naik ke kamar, membuka laci meja belajarnya. Di sana tersimpan kotak sepatu Nike berwarna putih, belum pernah dibuka, belum pernah dipakai. Hadiah ulang tahun dari bibinya bulan lalu. Ukurannya 38 sedikit kebesaran untuk kakinya yang 39. Label harganya masih menempel, wanginya masih seperti di toko.
Ia memegang kotak itu lama sekali.
Keesokan paginya, gerimis masih turun halus. Halaman sekolah masih basah dan licin.
Aurel berangkat lebih awal. Jam setengah enam ia sudah berjalan kaki dari Gang Mangga hingga pertigaan, baru naik angkot hijau dengan begitu ia menghemat dua ribu rupiah. Sepatu buatan ayahnya ia genggam di tangan, baru dipakai sesaat sebelum memasuki gerbang, agar lemnya tak lepas terkena air hujan. Langkahnya sedikit kaku; lemnya belum benar-benar lentur.
"Sepatumu sudah diperbaiki Bapakmu ya, Rel?" tanya Pak Satpam sambil tersenyum mengenalnya.
"Iya, Pak," jawab Aurel sambil menunduk, sedikit malu.
Di kelas XI IPS 2, Sinta sudah menunggunya.
"Wah, bagus sekali, Rel! Rapih sekali. Bapakmu jago sekali ya."
Aurel tersenyum tipis, hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Pelajaran olahraga hari itu untungnya hanya teori di dalam kelas membahas teknik permainan bola voli. Aurel bernapas lega. Ia duduk di barisan paling belakang, menyembunyikan kakinya di bawah meja.
Saat istirahat pertama, seluruh kelas kosong semua pergi ke kantin. Aurel tak ikut; ia tak membawa uang sepeser pun. Ia berjalan menuju ruang UKS untuk mengembalikan jarum pentul yang kemarin dipinjamnya.
Saat kembali ke kelas, di atas mejanya tergeletak sebungkus plastik bening besar.
Dengan tangan gemetar ia membukanya. Di dalamnya sepasang sepatu Nike putih yang persis baru, mengkilap, berbau toko. Di sela talinya terselip secarik kertas, ditulis dengan pulpen biru:
Pakai saja dulu kalau butuh. Aku punya cadangan di loker. Loker 17. Tidak apa-apa kok. C
Aurel tahu itu dari Clarissa. Gadis dari kelas IPA yang kemarin melihatnya jatuh.
Sepatu itu indah, lembut, dan pasti nyaman sekali dipakai. Kalau ia memakainya, tak ada yang akan menertawakannya lagi.
Namun ia teringat pesan ibunya, yang selalu diucapkan pelan namun tegasb"Nak, kita boleh miskin, tapi jangan meminta-minta. Itu memalukan."
Ia melipat kembali kertas itu, memasukkan sepatu itu ke dalam plastik semula, lalu menulis di balik kertas yang sama dengan pulpen yang tintanya sudah menipis:
Terima kasih banyak, Clarissa. Sepatumu sangat bagus. Tapi sepatuku sudah diperbaiki Bapak kemarin malam. Sudah bisa dipakai kok. Terima kasih sekali atas kebaikanmu. Aurel
Ia menitipkan bungkusan itu kepada petugas kebersihan untuk diletakkan di depan loker nomor 17.
Siang itu, saat membuka lokernya yang dikunci gembok merah muda, Clarissa menemukan plastik itu kembali. Sepatu itu tak tersentuh.
Ia membaca tulisan tangan Aurel berulang kali. Ini pertama kalinya ada orang menolak pemberiannya.
Ia memasukkan kembali kotak sepatu itu ke dalam loker, menguncinya, dan membiarkannya di sana tidak dibawa pulang.
Sore itu, angkot hijau jurusan Gang Mangga penuh sesak. Aurel duduk dekat jendela, sepatu buatan ayahnya diikat kencang dengan karet gelang agar solnya tak melepas lagi.
Dua kursi di belakangnya, Clarissa duduk tertutup masker hitam, berusaha tak dikenal. Tak ada yang menyangka anak penghuni Graha Candi Golf naik angkot sempit ini.
Angkot berhenti di Gang Mangga yang jalannya masih berupa tanah becek. Aurel turun, berjalan perlahan menuju rumahnya yang kecil.
Clarissa mengintip dari balik kaca jendela yang berkabut. Ia melihat rumah itu pintu dari triplek, atap dari asbes, halaman sempit tempat sebuah bakul jamu diletakkan rapi. Di depan pintu, seorang pria dengan pakaian penuh noda semen sedang duduk memandang jalan masuk.
Clarissa turun di halte berikutnya. Ia berdiri diam di bawah pohon mangga, gerimis membasahi rambutnya. Ia memikirkan gadis yang berjalan pulang dengan sepatu yang dijahit ayahnya sendiri. Mengapa hatinya terasa ingin mengenalnya lebih dekat?
Angkot hijau melaju pergi, meninggalkan gang yang mulai diguyur hujan lebih deras.
Di dalam kontrakan, Aurel melepas sepatunya, meletakkannya kembali di bawah dingklik, menutupinya dengan kantong kresek seperti biasa.
Besok masih harus dipakai lagi.
kalau bisa double up