Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Beberapa hari semenjak insiden 'March ngamuk ke Mexim', atmosfer di mansion rasanya kayak lagi masa honeymoon phase—tapi versi keluarga. March pulang lebih awal, bantuin si kembar nyusun Lego, dan bahkan nawarin diri nemenin gue belanja skincare (yang mana berakhir dengan dia borong setengah isi counter La Mer). Miko dan Mika? Udah kayak anak ayam ngintil induknya. Kemana gue pergi, mereka ngekor. Nggak ada lagi mata ketakutan atau langkah ragu-ragu. Cuma murni cinta anak ke ibunya.
Life is good.
Tapi, di setiap novel romance-thriller, masa damai itu cuma jeda sebelum badai beneran dateng. Dan guess what? Sang badai akhirnya unjuk gigi.
Hari ini, Aluna mampir.
Dia datang pakai midi dress putih tulang yang sok polos, senyum semanis gula buatan, dan kotak macarons dari Ladurée—sogokan basic andalannya. Waktu dia melangkah masuk ke ruang tamu, wangi parfum floral yang kelewat powdery langsung nusuk hidung gue. Bikin mual, jujur aja. Tapi sebagai Chloe versi pro, gue nyambut dia dengan pelukan hangat dan senyum yang jauh lebih manis. Keep your friends close, and your enemies closer, right?
Waktu asisten rumah tangga nganterin teh chamomile, Aluna langsung pasang muka prihatin—topeng andalannya tiap kali mau mulai drama. "Chloe, lo kelihatan pucet deh. Kecapekan ngurusin si kembar, ya? Mereka kan rewel banget. Apalagi si Mika, duh, suka ngamuk tiba-tiba gitu."
Gue tersenyum tipis, menyesap teh dengan anggun. "Nggak tuh. Mika anak yang manis kok. Mereka berdua gampang banget diatur sekarang."
Aluna sedikit flinch. Alisnya bertaut sepersekian detik sebelum dia buru-buru nutupin pake ketawa renyah yang maksa banget. "Oh ya? Bagus deh kalau gitu. Gue kirain lo masih... struggling. Kan, bukan anak kandung lo, Chlo. Wajar kalau lo ngerasa nggak nyambung. Jangan dipaksain, ntar lo malah depresi lho."
Wow. Just wow. Taktiknya rapi banget. Nyiram minyak ke api, tapi apinya nggak ada. Dia lagi berusaha ngingetin gue soal status 'ibu tiri' buat mancing insecurity Chloe yang dulu.
"Santai aja, Lun. Gue enjoy kok," sahut gue enteng. "Btw, gue ke toilet bentar ya."
Gue ngasih alasan klise dan ninggalin Aluna sendirian. Tapi gue nggak bener-bener ke toilet. Gue belok ke lorong kecil di samping ruang tamu, tempat yang perfect buat eavesdropping. Dari sini, gue bisa ngelihat pantulan ruang tamu lewat cermin hias di dinding.
Dan bener aja. Begitu dia ngerasa clear, Aluna langsung beraksi.
Miko dan Mika, yang baru kelar main puzzle di ruang keluarga, masuk ke ruang tamu nyari gue. Ngelihat Aluna, langkah dua bocah itu otomatis pelan. Mereka nggak begitu suka sama Aluna, tapi dia selalu bawa mainan mahal, jadi mereka biasanya nyamperin.
"Halo, kesayangan Tante Aluna!" seru Aluna, suaranya dibuat-buat seceria mungkin. Dia ngerogoh tote bag Chanel-nya dan ngeluarin dua kotak mainan robot dan boneka edisi limited. "Liat nih, Tante bawa apa!"
Mata si kembar berbinar. Mika pelan-pelan ngambil kotak boneka itu, sementara Miko ngambil robotnya. "Makasih, Tante Aluna," ucap mereka kompak, sopan sesuai ajaran gue.
Aluna senyum licik. Dia jongkok, nyamain tinggi sama mereka. Tangannya ngusap kepala Miko, tapi tatapannya tajam menelisik. "Miko sama Mika seneng nggak akhir-akhir ini? Mama Chloe udah nggak suka marah-marah, ya?"
Miko ngangguk semangat. "Iya! Mama sekarang baik. Mama masakin Miko cookies!"
"Mama bacain cerita sebelum bobo!" seru Mika, matanya berbinar bahagia.
Senyum di bibir Aluna mendadak kaku. Tangannya yang ngusap kepala Miko berhenti bergerak. "Wah... bagus deh. Tante seneng dengernya. Tapi..." Dia sengaja ngegantung kalimatnya, ngasih efek dramatis yang murahan. "Kalian tahu nggak kenapa Mama Chloe tiba-tiba baik?"
Miko mengerjap bingung, memeluk kotak robotnya lebih erat. "Kenapa, Tante?"
Aluna mencondongkan tubuhnya, suaranya dipelankan, seolah lagi ngasih tahu rahasia besar. "Mama Chloe itu cuma pura-pura baik, Sayang. Dia lagi nyari perhatian Papa March biar Papanya beliin dia banyak barang mewah. Kalau Papanya lagi nggak ada, nanti dia pasti bakal galak lagi ke kalian."
Brengsek. Urat di leher gue rasanya mau putus nahan emosi.
"Nggak mungkin!" bantah Miko, suaranya agak tinggi, matanya mulai berkaca-kaca. "Mama sayang sama Miko!"
"Iya! Mama beneran sayang!" Mika ikut ngebela, bibirnya mulai mengerucut nahan tangis.
Aluna mendengus pelan, ekspresinya berubah jadi iba palsu. Dia narik napas sok berat. "Kalian masih kecil, belum ngerti. Mama Chloe kan bukan mama kandung kalian. Dia nggak mungkin bener-bener sayang. Dulu aja dia sering nyubit Mika, kan? Inget nggak waktu dia kurung Miko di kamar? Itu sifat aslinya."
Jantung gue mencelus denger fakta itu. Chloe bener-bener iblis.
Miko mundur selangkah. Tangan kecilnya gemetar. Mata bulatnya natap Aluna dengan raut ketakutan. Ingatan buruk yang udah pelan-pelan gue hapus, ditarik paksa lagi ke permukaan sama perempuan ular ini. Mika langsung sembunyi di balik punggung abangnya, mulai sesenggukan.
"Coba kalian pikir," lanjut Aluna, terus menekan mental anak-anak kecil itu. "Kalau Mama Chloe beneran sayang, kenapa dia baru baik sekarang? Dulu kenapa jahat? Karena dia lagi ngerencanain sesuatu yang buruk. Dia mau buang kalian."
"TIDAK!" Miko berteriak, air matanya pecah. Dia ngelempar kotak robotnya ke lantai sampai sudutnya penyok. "Mama nggak mau buang Miko!"
"Sstt, Miko jangan teriak-teriak. Nanti Mama Chloe denger, dia bakal marah besar sama Miko," desis Aluna, pura-pura panik nutupin mulut Miko. "Kalian harus hati-hati. Jangan percaya sama senyumnya. Kalian cuma aman sama Papa... dan sama Tante Aluna."
Gue nggak bisa nahan diri lagi. Tangan gue mengepal sampai buku-buku jari memutih. Aluna udah ngelewatin batas maksimal toleransi gue. Main-main sama mental gue, gue sikat. Tapi main-main sama mental anak-anak gue? You’re digging your own grave, bitch.
Dengan raut wajah datar namun menahan aura membunuh, gue melangkah keluar dari lorong, ngebuat heels gue berbunyi nyaring di lantai marmer.
Satu. Dua. Tiga.
Gue berhenti tepat di ambang pintu ruang tamu. Aluna yang kaget setengah mati langsung berdiri tegak, narik tangannya dari Miko kayak abis kesetrum. Senyum palsunya buru-buru dipasang lagi, tapi matanya jelas panik.
"Eh, Chlo! Udah dari toiletnya?" sapanya, suaranya sedikit gemetar.
Gue mengabaikan dia. Sepenuhnya. Pandangan gue cuma tertuju ke dua anak gue. Miko dan Mika lagi nangis sesenggukan, natap gue dengan pandangan campur aduk antara rindu, takut, dan kebingungan.
"Miko, Mika. Sini sama Mama," panggil gue pelan, suaranya lembut tapi tegas. Nggak ada nada marah, cuma dekapan verbal yang hangat.
Miko ragu-ragu. Kakinya maju satu langkah, tapi dia nengok ke arah Aluna, ingat peringatan perempuan itu. Hati gue rasanya kayak diiris denger keraguan itu.
"Sayang, lihat Mama." Gue berjongkok, merentangkan tangan, natap mata mereka berdua dengan seluruh ketulusan yang gue punya. "It's me. Mama won't hurt you. I promise. Come here."
Mika yang pertama kali luluh. Dia lari nabrak dada gue, nangis kejer di bahu gue. "Mama... hiks... Mama nggak buang Mika kan?"
Gue memeluknya erat banget, menciumi puncak kepalanya berkali-kali. "Nggak akan pernah, Sayang. Mama nggak akan pernah ninggalin kalian."
Miko nyusul sedetik kemudian. Dia meluk gue nggak kalah erat, nangis diam-diam, nyembunyiin mukanya di ceruk leher gue. Tangannya ngeremes baju gue seakan takut gue bakal hilang ditelan bumi.
Gue ngangkat pandangan, natap lurus ke arah Aluna. Kalau tatapan bisa membunuh, perempuan itu udah jadi debu detik ini juga.
"Aluna," panggil gue. Nada suara gue dingin, sedingin kutub utara. Nggak ada lagi 'sahabat'. Nggak ada lagi kepalsuan. "Gue rasa visit lo hari ini udah cukup."
Aluna gelagapan. Dia nyoba ketawa canggung. "Lho, Chlo, gue cuma ngajak ngobrol anak-anak—"
"Gue bilang," potong gue, berdiri perlahan tanpa ngelepasin pelukan Miko dan Mika di kaki gue. Gue maju satu langkah, mengintimidasi dia dengan tinggi badan gue yang sedikit lebih unggul. "Visit lo udah cukup. Pintu keluar ada di sebelah sana."
Muka Aluna merah padam. Dia jelas terhina. Dia ngambil tote bag-nya dengan gerakan kasar, natap gue dengan sorot mata penuh kebencian yang akhirnya nggak bisa ditutupin lagi.
"Lo pikir lo bisa terus bersembunyi di balik topeng 'ibu peri' lo ini, Chloe?" desisnya pelan, memastikan si kembar nggak denger. "Gue kenal lo. Lo monster. Cepat atau lambat, March bakal sadar kalau dia nikahin orang gila."
Gue tersenyum tipis. Smirk yang jauh lebih mematikan dari miliknya. Gue condongkan badan, berbisik tepat di telinganya. "Lo salah, Lun. Monster yang asli baru aja bangun. Dan kalau lo berani nyentuh anak-anak gue lagi, gue pastiin hidup lo hancur berantakan. Coba aja. I dare you."
Aluna menelan ludah kasar. Dia mundur teratur, wajahnya pucat pasi ngerasain aura ancaman gue yang bener-bener nyata. Tanpa ngomong sepatah kata pun lagi, dia balik badan dan setengah berlari keluar dari mansion.
Gue menarik napas panjang, nurunin adrenalin yang meletup-letup. Pertempuran pertama resmi dimenangkan. Tapi gue tahu, Aluna nggak bakal nyerah segampang ini.
Gue kembali jongkok, ngusap air mata Miko dan Mika. "Udah, jangan nangis lagi. Tante Aluna bohong. Tante Aluna kan nggak tinggal di sini, jadi dia nggak tahu apa-apa soal kita. Yang tahu kita cuma Mama, Papa, Miko, dan Mika. Right?"
Miko ngangguk pelan, ngusap ingusnya dengan punggung tangan. "Mama beneran sayang kan?"
"Sayang banget," gue nyium pipi Miko, lalu pipi Mika. "Udah, sekarang kita cuci muka yuk. Terus kita telepon Papa, minta dibawain es krim cokelat. Gimana?"
Mata mereka langsung berbinar lagi. "Mauuu!"
Gue tersenyum puas. Perang dingin ini udah dimulai. Dan gue bakal mastiin, keluarga kecil ini nggak akan bisa dipecah-belah oleh siapa pun.
memang al sama amanda bisa punya anak lagi tapi beda cerita yang mulai berjuang akibat dibully menderita mulai bayibelum bahagia bepenuhnya sudah meninggal
katanya mafia masak gak bisa nemuin sampaai 5 th
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭