Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.
Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—
*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*
Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.
Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**
Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:
*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*
Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**
Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.
Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**
Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**
Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:
*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*
Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.
——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Harga Sebuah Operasi
Telepon dari Salatiga masuk ketika Laras sedang mewawancarai pedagang pasar.
“Mbak Larasati? Eyang Sri mengeluh dada sesak. Kami sudah bawa ke rumah sakit.”
Pena jatuh dari tangannya.
Ia meminta izin kepada narasumber, menghubungi Kirana, lalu memesan tiket perjalanan tercepat. Kirana tidak bertanya panjang.
“Kirim kabar. Liputan saya alihkan,” katanya.
“Terima kasih, Mbak.”
Perjalanan terasa terlalu lama. Saat Laras tiba, Eyang Sri terbaring dengan selang oksigen tipis. Wajah tuanya tetap berusaha tersenyum.
“Nduk, cuma masuk angin.”
“Masuk angin tidak pakai monitor jantung.” Laras mencium tangannya. “Kenapa tidak bilang dari kemarin?”
“Biar kamu kerja tenang.”
Dokter menjelaskan ada sumbatan koroner yang memerlukan pemasangan ring jantung secepatnya. Rumah sakit setempat bisa menstabilkan, tetapi karena kondisi lain dan usia Eyang, rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap disarankan.
“Jakarta?” tanya Laras.
“Bisa. Pastikan transportasi medis, bukan kendaraan pribadi. Kami siapkan ringkasan dan koordinasi rujukan.”
Laras mencatat setiap kata. BPJS membantu sebagian proses sesuai rujukan, tetapi pilihan tindakan cepat di rumah sakit swasta membawa biaya tambahan besar.
“Berapa lama aman menunggu?”
“Kami tidak menyarankan menunda. Malam ini pasien distabilkan. Besok transfer kalau tempat tersedia.”
Laras menghubungi RS Medika Utama. Setelah dokumen dikirim, rumah sakit menerima rujukan. Ambulans berangkat pagi dengan petugas medis. Laras duduk di samping Eyang sepanjang perjalanan, menghitung detak monitor dan membaca doa pelan.
“Jangan takut,” kata Eyang.
“Eyang yang sakit, kenapa malah menenangkan aku?”
“Karena wajahmu lebih pucat.”
Di Jakarta, pemeriksaan ulang memastikan tindakan pemasangan ring. Perawat memberikan estimasi biaya: operasi, ICU, obat, pemeriksaan lanjutan. Total sekitar Rp180 juta. Uang muka Rp50 juta harus dibayar dalam tiga hari.
Laras membaca angka itu dua kali.
Tabungan pribadinya setelah pembelian tanah menipis. Gaji baru belum banyak. Apartemen bisa dijual, tetapi prosesnya tidak selesai dalam tiga hari. Meminjam dengan jaminan juga butuh waktu.
“Apakah BPJS tidak bisa menutup?”
“Sebagian sesuai kelas dan rujukan, Mbak. Estimasi ini untuk jalur tindakan yang dipilih dan kemungkinan perawatan intensif. Bagian keuangan bisa jelaskan rinci.”
Laras meminta setiap komponen dicetak. Ia tidak mau panik membuatnya menandatangani sesuatu tanpa paham.
Petugas administrasi menjelaskan dua skema pembayaran dan kemungkinan pengajuan keringanan. Laras meminta formulir, daftar dokumen, serta nama petugas penanggung jawab. Ia juga memastikan uang muka bukan syarat untuk tindakan darurat penyelamatan nyawa.
“Untuk kondisi gawat, tindakan stabilisasi tetap berjalan,” jawab petugas. “Uang muka untuk jadwal tindakan yang sudah direncanakan. Kami tidak akan menelantarkan pasien.”
Penjelasan itu memberi Laras ruang bernapas, meski tagihan tidak mengecil. Ia mengisi formulir dengan alamat KTP baru. Ketika menulis kontak keluarga, pena berhenti. Ia hanya menulis namanya sendiri.
“Suami pasien?” tanya petugas.
“Sudah lama meninggal. Saya cucunya dan pendamping utama.”
“Orang tua Mbak?”
“Tidak terlibat.”
Petugas tidak mendesak. Ia memberi daftar hak pasien dan nomor bantuan sosial rumah sakit.
Di kamar, Eyang Sri tertidur. Laras menelepon pengelola Rumah Puspa dan memastikan dana operasional tidak disentuh.
“Pakai dulu kalau darurat,” kata Mbak Ratih dari telepon.
“Tidak. Itu uang anak-anak.”
“Aku bisa cari pinjaman.”
“Jangan. Aku cari jalan.”
Nadia datang membawa makanan dan power bank. Ia membaca biaya lalu langsung menawarkan tabungan.
“Cuma dua belas juta, tapi ambil.”
“Saya pinjam, bukan ambil.”
“Terserah sebutannya. Yang penting setor dulu.”
Laras memeluknya. “Terima kasih.”
“Telepon Naren.”
“Tidak.”
“Kenapa? Dia memberi apartemen enam ratus lima puluh juta.”
“Justru karena itu. Saya tidak mau setiap krisis membuat saya lari ke uang dia.”
“Galih?”
“Uang dia sudah terlalu banyak membayar hidup saya.”
“Ini nyawa Eyang, bukan gengsi.”
“Saya tahu.”
Kirana menelepon dan menawarkan uang muka gaji serta dana darurat karyawan. Jumlahnya membantu, tetapi masih jauh dari Rp50 juta. Laras mengucapkan terima kasih dan menerima prosedur pinjaman resmi.
Galih juga menelepon, menanyakan kenapa Laras tidak membalas pesan sejak pagi.
“Eyang masuk rumah sakit,” kata Laras.
“Kenapa nggak bilang? Rumah sakit mana?”
“RS Medika Utama. Kondisinya sudah stabil.”
“Gue datang malam ini.”
“Tidak perlu, Mas. Ada urusan keluarga dan administrasi.”
“Justru itu. Butuh uang?”
Pertanyaan langsung tersebut membuat Laras menatap estimasi biaya.
“Belum,” jawabnya.
“Belum atau nggak mau minta?”
“Saya sedang mengatur.”
“Ras, kita punya kesepakatan. Gue tidak keberatan membantu.”
“Saya tahu. Kalau perlu, saya bilang.”
Galih akhirnya setuju, tetapi meminta kabar setelah dokter datang. Kebaikannya tidak terasa palsu. Justru itu membuat rasa bersalah Laras semakin berat. Ia menyembunyikan Naren dari pria yang menawarkan bantuan bagi satu-satunya keluarganya.
Ia menghubungi calon pembeli beberapa barang preloved. Dua tas dan satu jam bisa terjual cepat, mungkin menghasilkan delapan belas juta. Dengan uang Nadia dan kantor, uang muka hampir tertutup.
Namun biaya berikutnya masih Rp130 juta.
Menjelang malam, Eyang bangun. “Jangan jual semua barangmu.”
“Barang bisa dicari lagi.”
“Jangan jual rumah anak-anak.”
“Tidak akan.”
“Kalau begitu Eyang ikut keputusanmu.”
Laras menggenggam tangannya. “Eyang harus sembuh. Itu keputusan saya.”
“Kamu dari kecil suka memerintah Eyang.”
“Karena Eyang dari kecil suka pura-pura tidak sakit.”
Eyang Sri tersenyum, lalu meminta Laras mengambil tas kainnya. Di dalam ada mukena tipis dan amplop berisi tabungan kecil.
“Ini buat biaya,” katanya.
Laras membuka amplop. Isinya uang pecahan kecil, mungkin dikumpulkan berbulan-bulan dari sisa kebutuhan.
“Simpan. Buat beli buah setelah pulang.”
“Sedikit juga uang.”
“Bagi saya, ini doa Eyang. Doanya saya ambil, uangnya Eyang simpan.”
Mereka salat bergantian sesuai kondisi Eyang. Sesudahnya, Laras duduk di sisi ranjang sementara Eyang membaca zikir pelan. Bunyi monitor masuk di antara setiap lafaz, teratur tetapi rapuh.
“Nduk,” Eyang berbisik, “jangan jual dirimu lagi untuk menyelamatkan semua orang.”
Laras menegang. Ia tak tahu seberapa banyak Eyang pahami.
“Saya cuma jual tas,” jawabnya.
“Eyang tidak bicara soal tas.”
Mata tua itu menutup karena lelah sebelum Laras sempat bertanya.
Perawat meminta Laras ke bagian administrasi untuk tanda tangan persetujuan tindakan awal. Di koridor, lampu putih membuat angka pada lembar estimasi semakin tajam.
Ponselnya terbuka pada kontak Naren.
Ia teringat pria itu menghapus rekaman, memberinya pintu, dan berkata ingin belajar melindungi tanpa mengurung. Meminta bantuan tidak selalu berarti menyerahkan hidup. Namun Laras belum tahu bagaimana membedakan pertolongan dari jerat sebelum terlambat.
Jarinya menggantung di tombol panggil.
Di balik kaca kamar, Eyang Sri tidur dengan tangan kurus di atas selimut. Monitor berbunyi teratur.
Laras menekan layar sampai padam.
Ia tetap berdiri di ujung koridor, menggenggam daftar biaya Rp180 juta tanpa menelepon siapa pun.