NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Keesokan harinya, matahari pagi bersinar cerah di langit kampus. Di koridor depan gedung fakultas yang ramai oleh lalu lalang mahasiswa, Kak Anita sedang berdiri bersama Shirin. Tidak jauh dari mereka, Aurel baru saja datang dan langsung bergabung sambil menggendong tas ranselnya.

Namun, kedatangan Aurel pagi ini langsung disambut oleh suara tawa tertahan dari Kak Anita. Senior perempuan itu rupanya sudah tidak sabar untuk menuntut cerita utuh dari sang adik tingkat.

"Aurel! Sini deh!" panggil Kak Anita, melambaikan tangannya dengan mata berbinar jenaka. "Sumpah, gue butuh konfirmasi dari lo sekarang juga. Semalam si Edward pulang ke rumahnya beneran dengan bau yang mirip gudang pasar induk?!"

Mendengar pertanyaan blak-blakan dari Kak Anita, tawa Aurel yang sejak semalam tertahan langsung meledak kembali di koridor. "Hahaha! Demi apa pun, Kak Anita, itu seratus persen nyata! Nggak bohong!" seru Aurel dengan heboh, memegangi perutnya. "Jaket kulit kebanggaannya sampai ketempelan daun selada layu, terus badannya bau perpaduan bawang merah sama knalpot angkot pasar tumpah!"

Shirin yang kemarin ikut menyaksikan awal aksi penguntitan itu langsung menepuk jidatnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, Kak! Jadi beneran si Bang Edward nekat buntutin mereka sampai terjebak di pasar sayur?"

"Bukan nekat lagi, Rin! Dia itu totalitas banget jadi intel siaga satu!" timpal Kak Anita, tawanya pecah sepenuhnya sampai harus menyandarkan punggung ke dinding koridor. "Semalam pas dia telepon gue, dia ngomel-ngomel frustrasi sampai satu jam. Katanya dia kalah telak sama taktik kaburnya si Reyhan. Gue sampai harus ngejauh dari ponsel karena telinga gue pengang dengerin dia curhat soal truk kol!"

"Lagian lagak abang lo ada-ada saja, Rel," sela Gino yang tiba-tiba muncul dari belokan koridor bersama Reyhan. Cowok buaya premium itu langsung menyengir lebar, merangkul pundak Reyhan sekilas dengan bangga. "Mau mengimbangi taktik pelarian maba spek dewa, ya jelas radar intelnya langsung kena scam total sama angkot pasar!"

Aurel refleks menghentikan tawanya saat pandangannya bergeser pada sosok cowok jangkung berjaket denim di sebelah Gino. Reyhan ada di sana, berdiri dengan ekspresi lempeng nan tenang andalannya. Namun, saat sepasang mata teduh cowok itu mengunci pandangan Aurel, ada sebuah senyuman tipis nan hangat yang terulas di bibirnya.

Jantung Aurel mendadak bergeser ritme menjadi jauh lebih cepat, membawa semburat merah yang samar di pipinya.

"Pagi, Partner. Gimana, kondisi rumah aman dari bau selada hari ini?" goda Reyhan dengan suara beratnya yang khas, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Aurel.

"Aman, Rey! Udah disemprot parfum satu botol sama Daddy," sahut Aurel salah tingkah, buru-buru memalingkan wajahnya yang menghangat sambil berpura-pura merapikan folder tugas di tangannya.

Kak Anita yang melihat interaksi manis di depan matanya itu langsung menyenggol lengan adik sepupunya dengan senyum penuh arti. "Boleh juga lo, Rey. Nanti kalau Edward ngamuk lagi di kelas, biar Kakak yang bagian jewer dia dari belakang."

Suasana di dalam ruang kuliah kelas berikutnya terasa sedikit lebih santai setelah presentasi draf tugas Pak Baskoro yang menegangkan berakhir. Dosen matkul kali ini sedang sibuk menuliskan poin-poin materi di papan tulis, sementara sebagian besar maba memanfaatkan momen tersebut untuk mencatat dengan tenang.

Aurel duduk di barisan belakang, tepat di sebelah Reyhan. Baru saja ia hendak menyalin grafik dari papan tulis, fokusnya mendadak terpecah oleh sebuah bayangan yang mondar-mandir di balik kaca bening pintu masuk kelas.

Aurel menyipitkan mata. Detik berikutnya, pintu kelas yang sedikit terbuka itu digeser perlahan tanpa suara. Muncullah wajah Bang Edward yang menyembul dari balik pintu. Senior itu sengaja memanfaatkan jam kosong di kelasnya sendiri untuk melakukan sidak dadakan ke kelas sang adik.

Bang Edward tidak menatap Aurel. Alih-alih, sepasang matanya langsung memicing tajam dan memberikan tatapan melotot yang sangat mengintimidasi ke arah Reyhan. Ia bahkan mengangkat tangan kanannya, mengarahkan dua jari ke matanya sendiri, lalu menunjuk ke arah Reyhan—sebuah kode universal 'gue awasi lo' yang sangat kentara. Tidak lupa, ia menggerakkan bibirnya tanpa suara, membentuk kalimat: "Jarak satu meter!"

Aurel yang melihat tingkah ajaib abangnya dari jarak beberapa meter langsung menepuk jidatnya sendiri. Wajahnya seketika memerah padam menahan malu sekaligus gemas karena radar posesif Bang Edward benar-benar tidak kenal tempat.

."Rey, Rey... lirik ke arah pintu deh. Intel sayur semalam beraksi lagi," bisik Aurel sangat pelan, menyenggol lengan Reyhan dengan sikunya.

Reyhan menghentikan ketikannya di laptop. Ia menoleh lambat ke arah pintu, menatap Bang Edward yang masih setia memasang wajah sangar yang dibuat-buat dari balik kaca. Bukannya panik atau takut karena dilototi oleh sang "Kapten Kesebelasan," Reyhan justru tetap memasang ekspresi lempeng andalannya.

Dengan gerakan yang sangat santai, Reyhan menaikkan sebelah alisnya. Ia kemudian meraih folder tugas kelompok mereka yang tebal, lalu menegakkannya di atas meja, tepat di antara posisi duduknya dan Aurel. Tindakan Reyhan itu secara otomatis menghalangi pandangan Bang Edward dari balik pintu, membuat sang senior tidak bisa lagi mengintip kedekatan mereka.

Gino yang duduk satu baris di depan mereka menoleh ke belakang dan membekap mulutnya sendiri, pundaknya berguncang hebat menahan tawa melihat bagaimana Reyhan mendepak pengawasan Bang Edward dengan satu gerakan folder tugas yang taktis.

Dari balik pintu, Bang Edward tampak mendengus kesal karena taktik intipannya digagalkan total oleh sebuah folder kertas. Namun, belum sempat ia menyusun rencana baru, sebuah tangan perempuan mendadak muncul dari belakang koridor. Kak Anita sudah berdiri di sana, langsung menjewer telinga Bang Edward tanpa ampun dan menyeret kekasihnya itu menjauh dari pintu kelas maba sebelum memicu keributan.

"Aduh, aduh! Iya, Sayang, ampun! Lepasin, sakit!" samar-samar suara ringisan Bang Edward terdengar meredup di koridor luar seiring langkah Kak Anita yang membawanya pergi.

Begitu dosen matkul terakhir menutup laptop dan mengucapkan salam, ketenangan kelas langsung pecah. Gino tidak membuang waktu sedetik pun. Ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat menghadap meja Aurel dan Reyhan, lalu menggebrak meja kaca itu dengan pelan namun penuh semangat.

"Pengumuman! Panggilan darurat untuk seluruh anggota dinasti maba berprestasi!" seru Gino dengan volume suara yang cukup lantang, memicu Shirin yang baru saja menggendong tasnya langsung menoleh.

"Kenapa lagi sih, Gin? Muka lo udah kayak promotor konser kurang modal," cibir Shirin, namun ia tetap melangkah mendekat ke meja belakang.

"Yee, sembarangan! Ini agenda sakral, Rin!" sahut Gino tidak mau kalah. Ia menatap Aurel dan Reyhan bergantian dengan mata yang berbinar penuh rencana licik. "Mengingat draf tugas kelompok kita kemarin dapet nilai sempurna dari Pak Baskoro, ditambah kita sukses bikin 'Intel Sayur' alias Bang Edward mati kutu dua hari berturut-turut, maka akhir pekan ini kita wajib merayakannya!"

Aurel yang sedang merapikan pulpen merahnya langsung mendongak. "Merayakan ke mana? Nggak usah aneh-aneh ya, Gin. Dompet maba gue lagi krisis."

"Tenang, Rel! Kali ini bukan bakso kantin lagi. Kita kumpul di kafe rooftop baru dekat alun-alun hari Sabtu sore nanti. Kita nongkrong, nonton live music, sekalian rayain kemenangan taktis kelompok spek dewa lo berdua," papar Gino menggebu-gebu. Ia lalu melirik tajam ke arah Reyhan. "Dan sebagai kandidat nomor satu yang kemarin dapet dukungan penuh dari Kak Anita, lo wajib dateng, Rey! Nggak ada alasan begadang atau simulasi mati!"

Reyhan yang sedang memasukkan laptopnya ke dalam tas denim hanya mengulas senyum tipis. Ekspresi wajahnya tetap lempeng tanpa beban. "Gue sih aman. Asal partner kelompok gue ikut, gue pasti dateng."

Pandangan Gino dan Shirin seketika langsung kompak tertuju pada Aurel.

"Tuh, Rel! Kode keras dari alam semesta! Kandidat nomor satu cuma mau dateng kalau pawangnya ikut," goda Gino dengan kedipan mata yang sangat menyebalkan, membuat wajah Aurel dalam hitungan detik langsung kembali berubah menjadi merah padam.

"Ginooo! Mulut lo bener-bener ya!" seru Aurel salah tingkah, refleks melemparkan kotak tisu kecil dari atas meja tepat ke arah wajah Gino, yang dengan sigap langsung ditangkap oleh cowok buaya premium itu sambil tertawa terbahak-bahak.

Shirin ikut terkekeh puas melihat sahabatnya kembali kena mental akibat gombalan taktis Reyhan. "Fiks ya, Sabtu sore jam empat. Gue sama Gino yang urus booking tempat. Jangan ada yang telat, apalagi lo, Rel. Awas aja kalau tiba-tiba diculik lagi sama Abang Siaga Satu lo."

"Iya, iya! Gue dateng!" sahut Aurel ketus

Aurel melempar pandangannya ke luar jendela koridor, menatap hamparan aspal kampus yang mulai teduh dinaungi bayang-bayang sore. Di sebelahnya, Gino dan Shirin masih asyik meributkan menu kafe rooftop untuk hari Sabtu nanti, sementara Reyhan berjalan dengan langkah santai yang ritmis di sisi kanannya.

Aurel memaksakan sebuah senyuman tipis agar tidak merusak suasana. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah ruang hampa yang terasa begitu dingin.

Semua orang—mulai dari Gino, Shirin, Kak Anita, bahkan hingga kedua orang tua Bang Edward—mengira bahwa dirinya sudah mulai membuka lembaran baru bersama Reyhan. Mereka mengira rona merah di pipinya dan sikap salah tingkahnya adalah tanda-tanda jatuh cinta. Padahal, kenyataannya sama sekali tidak seperti itu.

Aurel sebenarnya tidak menyukai Reyhan. Sama sekali tidak.

Rasa gugup dan salah tingkah yang ia tunjukkan selama dua hari ini murni karena ia merasa tidak nyaman dan terkejut dengan perlakuan Reyhan yang terlalu tiba-tiba. Bagi Aurel, perhatian Reyhan yang intens justru terasa seperti sebuah tekanan baru. Setiap kali Reyhan pasang badan melindunginya, hati Aurel tidak bergetar karena asmara, melainkan terasa asing.

Sebab, tidak peduli seberapa cerdas, tampan, atau protektifnya seorang Reyhan, cowok itu tetaplah orang asing yang baru dikenalnya kemarin sore. Reyhan bukan Bang Edward. Reyhan tidak memiliki kenangan masa kecil bersamanya, tidak tahu bagaimana kebiasaan tidurnya, dan tidak tahu bahwa satu-satunya usapan di kepala yang bermakna bagi Aurel hanyalah usapan dari tangan Bang Edward.

Aurel meremas pelan tali tas ranselnya. Ia menatap punggung Bang Edward yang sayup-sayup terlihat di ujung koridor seberang, sedang berjalan beriringan sambil merangkul mesra pinggang Kak Anita.

Rasa sakit hati dan cemburu itu ternyata masih ada di sana, bertengger kokoh dan tidak bergeser barang satu senti pun. Aurel mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat di dadanya. Jalan buntu itu belum runtuh. Ia masih berdiri di sana, mendekap erat cinta sepihaknya yang getir, sembari menyadari bahwa kehadiran orang baru sepesona Reyhan sekalipun tidak akan pernah bisa menjadi pengganti sosok Bang Edward di dalam hatinya.

Hari Sabtu sore yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Suasana di kafe rooftop yang berlokasi di dekat alun-alun kota terasa begitu hidup. Pendar lampu kekuningan yang estetik, embusan angin sore yang sejuk, serta alunan musik akustik yang mendayu-dayu dari sudut panggung menciptakan atmosfer romantis yang sempurna bagi para pengunjung.

Di meja pojok dekat pagar pembatas, Gino dan Shirin sedang heboh berdiskusi tentang menu camilan yang ingin mereka pesan. Namun, di antara keriuhan itu, Reyhan justru lebih banyak terdiam.

Sepasang mata teduh milik cowok berjaket denim itu tidak fokus pada daftar menu, melainkan diam-diam sedang mengamati Aurel yang duduk tepat di hadapannya.

Sejak mereka bertamu di rumah Bang Edward tempo hari, Reyhan bukanlah cowok bodoh yang bisa dikelabui dengan mudah. Sebagai orang yang memiliki intuisi tajam, ia mulai merasakan ada kejanggalan yang teramat besar. Semua orang di sekeliling mereka—termasuk Gino dan Shirin—mengira Aurel selalu salah tingkah di dekatnya karena benih-benih asmara. Namun, Reyhan tahu ada yang salah. Salah tingkah Aurel bukanlah jenis salah tingkah seorang gadis yang sedang kasmaran, melainkan gestur tubuh yang kaku karena merasa asing dan tidak nyaman.

Dan sore ini, spekulasi di kepala Reyhan akhirnya terjawab dengan mutlak.

Ketika lagu akustik di panggung berganti ke melodi yang lebih lambat, pintu masuk kafe mendadak terbuka, memunculkan sosok Bang Edward yang datang menyusul bersama Kak Anita. Begitu suara tawa Bang Edward yang khas menggema dari kejauhan, Reyhan dengan jelas melihat bagaimana tubuh Aurel seketika menegang.

Reyhan tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Aurel. Ia menyaksikan sendiri bagaimana sepasang mata gadis itu langsung bergerak otomatis, mengunci sasarannya tepat pada sosok Bang Edward. Ada binar yang teramat dalam, kerinduan yang getir, sekaligus rasa terluka yang luar biasa di mata Aurel saat melihat Bang Edward dengan telaten menarikkan kursi untuk Kak Anita di meja seberang.

Tatapan itu adalah tatapan mata seorang wanita yang sedang mencintai dalam diam, patah hati sedalam-dalamnya, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Dan tatapan itu... tidak pernah sekalipun ditujukan Aurel kepadanya.

Reyhan perlahan menurunkan cangkir kopi yang dipegangnya ke atas meja dengan bunyi ting yang samar. Sudut bibirnya terangkat, mengulas sebuah senyuman tipis yang terasa begitu getir dan hambar. Dada cowok denim itu berdesir perih, merasakan sebuah tamparan realitas yang telak.

Sekarang Reyhan sadar sepenuhnya. Tidak peduli seberapa sering ia pasang badan untuk melindungi gadis itu, tidak peduli seberapa taktis ia mengarang cerita demi menyelamatkan harga dirinya dari Bang Edward, semua itu tidak ada artinya. Kehadirannya tidak pernah berhasil mengikis sisa masa lalu Aurel. Di dalam hati Aurel, dirinya tetaplah orang asing yang baru dikenal kemarin sore. Labirin buntu yang dihuni Aurel ternyata terlalu kokoh, dan nama yang tertulis di ujung jalan buntu itu selamanya tetaplah nama Bang Edward, bukan dirinya.

"Rey? Lo kenapa melamun? Kopinya keburu dingin, tuh," celetuk Gino tiba-tiba, memecahkan keheningan batin Reyhan.

Reyhan tersentak pelan, lalu mengerjapkan matanya. Ia kembali menatap Aurel yang kini buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke meja dengan wajah kaku.

"Enggak apa-apa, Gin," sahut Reyhan dengan nada suara beratnya yang diusahakan se-tenang mungkin, meskipun ada ruang hampa yang mendadak terasa begitu dingin di dadanya. Ia mengulas senyum tipis ke arah Aurel, sebuah senyuman yang kini sarat akan pemahaman bahwa ia harus mulai bersiap untuk mundur perlahan dari hati yang tidak akan pernah bisa ia miliki.

Di tengah riuhnya musik akustik dan tawa Gino yang menyebarkan obrolan di meja utama, Aurel diam-diam menarik pergelangan tangan Shirin. Ia memberikan kode mata agar sahabatnya itu mengikutinya menjauh menuju area smokin room luar yang sedang sepi pengunjung.

Begitu mereka berdiri di dekat pagar pembatas lantai atas, menghadap langsung ke pendar lampu alun-alun kota, Aurel mencengkeram besi pembatas dengan erat. Angin malam yang berembus kencang menerpa wajahnya, namun tidak mampu mendinginkan kepalanya yang terasa begitu penuh.

Shirin yang menyadari perubahan atmosfer itu langsung melipat kedua tangannya di dada. "Ada apa, Rel? Muka lo tegang banget sejak Bang Edward datang tadi. Lo cemburu lagi?"

Aurel mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat di dadanya, lalu menoleh menatap Shirin dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. "Bukan cuma soal Bang Edward, Rin. Ini... ini tentang Reyhan."

"Reyhan kenapa?" tanya Shirin, alisnya bertaut heran. "Dia kurang perhatian? Kurang pasang badan buat lo?"

"Bukan begitu, Rin! Justru perlakuan dia yang terlalu baik itu bikin gue makin tersiksa," bisik Aurel dengan suara yang bergetar menahan tangis. Ia menundukkan kepalanya, menatap lurus pada sepatunya sendiri. "Semua orang... lo, Gino, Kak Anita, bahkan nyokap bokapnya Bang Edward mengira gue udah mulai membuka hati buat dia. Kalian pikir gue salah tingkah karena gue jatuh cinta."

Aurel menjeda kalimatnya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos membasahi pipinya. "Rin... gue sebenarnya nggak suka sama Reyhan. Sama sekali nggak punya perasaan."

Shirin tertegun di tempatnya berdiri, matanya membelalak tidak percaya mendengar pengakuan jujur dari sahabatnya. "Rel... lo serius? Tapi selama dua hari ini lo—"

"Gue cuma canggung, Rin! Gue kaget karena perlakuan dia yang terlalu tiba-tiba!" potong Aurel dengan nada frustrasi yang tertahan. "Reyhan itu orang asing yang baru gue kenal kemarin sore. Dia bukan Bang Edward. Dia nggak tahu memori masa kecil gue, dia nggak tahu kebiasaan gue, dan setiap kali dia berusaha melindungin gue, hati gue nggak bergetar sama sekali, Rin. Rasanya asing."

Aurel meremas tisu di tangannya dengan gusar, menyuarakan seluruh isi hatinya yang tersiksa. "Setiap kali gue ngelihat Bang Edward tersenyum dan menggenggam tangan Kak Anita di depan mata gue, rasa sakit hati dan cemburu itu masih ada di sana. Kokoh banget, nggak bergeser barang satu senti pun. Kehadiran orang baru sepesona Reyhan sekalipun... ternyata nggak akan pernah bisa menggeser atau menggantikan posisi Bang Edward di dalam hati gue."

Shirin menatap sahabatnya dengan pandangan yang melunak penuh empati. Tanpa banyak bicara, ia melangkah maju dan menarik Aurel ke dalam dekapan hangatnya, membiarkan gadis itu menumpahkan seluruh air mata akibat kenyataan getir yang menjebaknya dalam jalan buntu yang tak berujung.

Mereka berdua tidak menyadari bahwa di balik pilar pembatas yang gelap, tidak jauh dari tempat mereka berdiri, sosok Reyhan sedang mematung dengan cangkir kopi yang mendingin di tangannya. Cowok berjaket denim itu mendengar setiap untaian kata yang keluar dari bibir Aurel. Sudut bibirnya terangkat, mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat hambar, menyadari bahwa perjuangannya menjaga hati gadis itu telah resmi berakhir di ujung jalan yang salah.

Reyhan melangkah kembali menuju meja utama dengan ritme yang sangat santai, seolah-olah ia baru saja kembali dari toilet atau sekadar menikmati angin malam di sudut lain kafe. Tidak ada keraguan dalam derap langkahnya. Saat mendaratkan bokongnya kembali di sofa panjang tepat di seberang Gino, ia langsung meraih cangkir kopinya yang sudah mendingin, lalu meneguknya hingga tandas tanpa ekspresi.

Di seberangnya, Gino yang sedang asyik mengunyah kentang goreng langsung mendongak. "Lama amat lo, Rey? Habis dapet telepon dari fans maba angkatan sebelah ya?"

"Enggak, cuma cari angin aja di depan," jawab Reyhan dengan nada suara beratnya yang tenang dan sangat datar—pembawaan lempeng andalannya yang kini menjadi tameng terbaik untuk menutupi dadanya yang terasa hampa.

Tidak lama kemudian, Aurel dan Shirin berjalan kembali ke meja dengan langkah yang canggung. Aurel sudah menghapus sisa air matanya dan berusaha keras memasang kembali topeng cerianya, meskipun Shirin di sebelahnya masih sesekali melirik dengan pandangan khawatir.

Begitu Aurel duduk di sebelahnya, Reyhan sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap. Ia tidak menjauh, namun juga tidak lagi memotong jarak seperti yang biasa ia lakukan tempo hari. Ketika piring camilan tambahan mendarat di meja, Reyhan dengan santai menggeser piring tersebut ke dekat Aurel.

"Nih, dimakan. Katanya lo laper dari matkul terakhir tadi," ucap Reyhan dengan nada suara yang sangat biasa, persis seperti seorang teman kelompok kuliah yang fungsional. Tidak ada lagi binar teduh yang dalam, tidak ada lagi senyuman tipis penuh arti, dan tidak ada lagi gombalan taktis yang biasa membuat Aurel salah tingkah.

Aurel tertegun sejenak. Ia melirik Reyhan dari samping, merasakan ada sesuatu yang tak kasatmata telah bergeser dari pembawaan cowok itu, namun ia buru-buru menepisnya dan mengangguk kaku. "Eh... iya, makasih, Rey."

Tepat saat itu, Bang Edward yang duduk di meja seberang mendadak berdiri dan melambaikan tangannya heboh ke arah mereka. "Woi, maba! Boleh gabung meja nggak nih? Meja sebelah sini AC-nya terlalu kencang, kasihan Anita kedinginan!"

Mendengar suara Bang Edward, mata Aurel secara refleks kembali terkunci pada sosok senior itu, memancarkan getaran cinta sepihak yang begitu kokoh di manik matanya.

Reyhan yang menyembunyikan pandangannya di balik layar ponsel hanya bisa menyunggingkan senyum hambar yang teramat tipis. Ia tahu betul posisi dirinya sekarang. Keputusannya untuk bersikap biasa saja malam ini adalah awal dari langkah mundurnya secara teratur. Bagaimanapun, ia menghargai kejujuran perasaan Aurel yang tidak sengaja didengarnya tadi. Baginya, menjadi pelindung sunyi di jalan buntu orang lain sudah cukup sampai di sini, dan kini saatnya ia membiarkan gadis di sebelahnya itu berjuang sendiri di dalam labirin hatinya.

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!