NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Rules

"Udah puas molornya, Tuan Putri?" tembak Devan cepat, nadanya sengaja dibuat nyebelin demi menutupi rasa salah tingkahnya yang nyaris meledak. "Ngelindur apaan lu barusan? Ngeces tuh ujung bibir."

Aira yang nyawanya baru kumpul setengah langsung mengusap ujung bibirnya panik. "Hah?! Masa sih?!" Tapi tangannya nggak nemuin cairan apa pun. Kering.

Sadar dirinya baru aja dikadalin, nyawa Aira yang tadinya masih melayang langsung login seratus persen. Matanya mendelik galak ke arah Devan.

"Nggak lucu, cowok gila!" rutuk Aira sambil menarik bantal leher yang entah sejak kapan ada di kepalanya, lalu melemparnya sembarangan ke jok belakang.

"Siapa yang ngelawak?" Devan terkekeh renyah, mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gaya santai. "Turun buruan. Udah nyampe nih. Atau lu mau gue gendong ala bridal style sampai ke atas biar makin romantis?"

"Mimpi aja lu sana!" sembur Aira tajam.

Nggak mau buang energi ladenin godaan receh Devan, Aira buru-buru membuka seatbelt, menendang pintu mobil, dan melangkah keluar sambil nenteng heels-nya di tangan kanan.

Namun, Aira benar-benar meremehkan seberapa parah tingkat kelelahan fisiknya hari ini. Gaunnya yang beratnya bukan main. Ditambah kakinya yang masih nyeker, baru dua langkah menjauh dari mobil, pergelangan kakinya yang lemas kehilangan keseimbangan.

Lutut Aira goyah. Tubuhnya oleng ke samping kanan, bersiap nyungsep mencium lantai basement.

"A-aduh!"

Aira memejamkan matanya, menunggu rasa sakit mendatangi tubuhnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sebuah lengan kekar melingkar cepat di pinggangnya, menarik tubuhnya hingga menabrak dada beraroma citrus-woody yang khas.

Srett!

"Baru nyampe rumah udah mau main nyerang aja, Ra," bisik sebuah suara berat tepat di atas telinganya. "Sabar dikit napa, masuk kamar aja belum kita."

Aira membuka lebar matanya. Napasnya tertahan. Wajahnya cuma berjarak sekilan dari wajah Devan yang entah gimana caranya cowok itu bisa secepat kilat keluar dari mobil dan menangkap tubuhnya. Devan menatapnya sambil senyum-senyum jahil, tangannya masih ngunci pinggang Aira erat-erat.

Sensasi panas seketika menjalar ke seluruh wajah Aira. Malu, gengsi, deg-degan, campur aduk jadi satu porsi komplit.

"Lepasin!" Aira mendorong dada Devan sekuat tenaga, membebaskan diri dari pelukan cowok itu sambil merapikan gaunnya yang agak berantakan. "Kaki gue keram tahu nggak! Bukan mau nyerang lu!"

"Keram apa caper minta ditangkep?" goda Devan lagi, sama sekali nggak ada niat buat berhenti bikin Aira kepanasan. Pria itu menekan remote mobilnya, lalu berjalan mendahului Aira menuju lift. "Ayo buruan jalan. Atau beneran mau digendong?"

"Bawel lu!" gerutu Aira sambil jalan tertatih-tatih ngikutin Devan dari belakang. Sumpah demi apa pun, kalau tenaganya lagi full charge, Aira pasti udah mukul kepala Devan pake heels-nya.

Ting!

Pintu lift khusus itu terbuka langsung menyuguhkan pemandangan interior kondominium penthouse yang luasnya bikin nganga.

Ruangannya didominasi gaya minimalis modern bernuansa monokrom. Kaca jendela setinggi lantai ke langit-langit menampilkan kelap-kelip lampu gedung pencakar langit Jakarta. Mewah, rapi, maskulin banget. Tapi suasananya agak dingin, khas tempat tinggal cowok bujangan yang gila kerja.

Aira mengedarkan pandangannya ke sekeliling, masih menenteng sepatunya.

"Kamar gue di mana?" todong Aira langsung to the point. Bodo amat soal tata krama bertamu, ini cowok yang nyeret dia ke sini, jadi Aira berhak langsung nodong fasilitas.

Devan meletakkan kunci mobilnya di atas meja dekat foyer, lalu menunjuk ke sebuah lorong di sebelah kiri ruang tengah. "Kamar lu yang pintunya warna abu-abu. Paling ujung. Barang-barang sama koper lu udah dimasukin semua ke situ kemarin."

Tanpa ngomong makasih, Aira langsung menyeret langkah kakinya menuju pintu abu-abu yang ditunjuk. Begitu pintu dibuka, Aira melihat tiga koper besarnya udah nangkring rapi di sudut kamar yang ukurannya kelewat luas lengkap dengan kamar mandi dalam. Kasurnya berukuran king size, seprainya masih wangi laundry.

Aira menghembuskan napas lega. Setidaknya malam ini ia bisa molor dengan damai tanpa ada gangguan. Ia baru aja mau menutup pintu dan ngunci diri dari dalam, saat sebelah tangan Devan tiba-tiba nahan daun pintunya dari luar.

Cowok itu nyender di kusen pintu, melipat tangan di dada sambil menatap Aira intens. "Udah mau tidur aja?"

"Ya iyalah! Emang mau ngapain lagi? Lomba lari maraton?!" sahut Aira ngegas, mencoba mendorong pintu tapi tenaga cowok itu kayak tembok beton. "Singkirin tangan lu. Gue mau ganti baju terus tidur."

"Kita perlu ngobrol bentar," kata Devan, nadanya mendadak berubah agak serius, meski cengiran jahil di sudut bibirnya belum sepenuhnya luntur. "Sebagai dua orang yang sekarang terpaksa tinggal seatap, kita butuh ground rules, Ra. Biar lu nggak seenaknya ngacak-ngacak rumah gue, dan gue nggak perlu repot ladenin tantrum lu tiap hari."

Mendengar kata 'rules' alias aturan, sisa-sisa hormon kompetitif Aira langsung mendidih. Ia membuka pintu kamarnya lebih lebar, menatap Devan menantang sambil berkacak pinggang—lupa kalau kondisinya masih pake gaun pengantin super ribet.

"Oke, kalau lu mau bahas rules, ayo kita bahas sekarang sekalian," tembak Aira berapi-api. "Biar batasan kita jelas dari hari pertama."

Devan mengangkat sebelah alisnya, nungguin. "Silakan, nyonya rumah. Apa aja aturan lu?"

Aira menghitung pake jarinya. "Satu, kamar kita misah. Kamar ini wilayah gue, lu nggak boleh masuk tanpa izin gue, begitupun sebaliknya. Batas wilayah kekuasaan jelas."

"Setuju," Devan ngangguk pelan. "Lanjut."

"Dua," Aira menatap Devan makin tajam. "Jangan ada skinship atau sentuhan fisik apa pun kalau kita lagi berdua di rumah ini. Yang tadi di resepsi sama pas di basement itu yang terakhir kalinya. Gue benci lu pegang-pegang gue sembarangan."

Devan terkekeh pelan denger aturan nomor dua. Tatapannya mendadak mengunci mata Aira. "Kalau gue nggak sengaja nyentuh lu? Atau lu yang oleng terus jatuh ke pelukan gue kayak tadi, masa gue biarin lu nyungsep?"

"Ya biarin aja gue nyungsep! Nggak usah sok pahlawan!" serobot Aira galak buat nutupin jantungnya yang mendadak diskoan. "Pokoknya kasih jarak minimal satu meter kalau kita lagi jalan bareng di rumah."

"Oke, dicatat. Jarak satu meter," Devan mengangguk lagi, bibirnya menahan senyum geli. "Ada lagi?"

"Tiga, gue bebas pergi ke mana aja, main sama Sandy ke mana aja, belanja apa aja. Lu jangan coba-coba ngatur jadwal main gue atau ngelaporin gue ke Papi."

Devan memiringkan kepalanya sedikit. "Gue bebasin lu mau ngapain aja di luar. Tapi gantian, sekarang dengerin rules dari gue."

Aira melipat tangannya, dagunya mendongak nantangin. "Apa?"

Devan menegakkan tubuhnya, melangkah maju satu langkah ngelewatin ambang pintu, bikin Aira refleks mundur selangkah gara-gara jarak mereka mendadak terlalu dekat. Wangi yang menguar dari tubuh cowok itu kembali mengurung Aira.

"Aturan dari gue simpel, Calista," suara Devan merendah, berat, dan penuh penekanan. "Pertama, jangan pernah bawa temen cowok lu ke dalam unit gue tanpa sepengetahuan gue."

"Gue nggak punya temen cowok yang bakal gue bawa pulang, santai aja kali," potong Aira ketus.

"Bagus," lanjut Devan santai, tatapannya menyusuri wajah Aira lamat-lamat. "Kedua, pas kita lagi di luar, entah itu di depan keluarga lu, di depan bokap gue, atau di depan publik... lu wajib mainin peran sebagai istri gue dengan sempurna dan nggak ada nolak kalau gue rangkul atau gandeng lu di depan umum. Ngerti?"

Aira mendelik. "Lu mau manfaatin status ini buat nyiksa gue secara mental kan?!"

"Ini simbiosis mutualisme, Ra. Lu dapet akses harta lu balik, gue dapet citra rumah tangga yang tenang di depan pemegang saham perusahaan keluarga gue," bantah Devan logis, meski tatapan matanya nyiratin hal lain yang nggak bisa Aira baca.

Cowok itu nyender lagi ke kusen pintu, melempar senyum penutupnya. "Aturan ketiga dari gue... jangan sampai baper sama gue selama kita tinggal seatap. Karena ngelihat kelakuan lu yang gampang banget merah pipinya kalau gue godain dikit... gue takut lu nggak kuat nahan pesona gue."

Mata Aira melotot maksimal. Mulutnya nganga saking kagetnya dengar tingkat kepedean Devan yang udah nembus stratosfer.

"Cuih! Najis parah! Mending gue baper sama tiang listrik daripada sama lu!" sembur Aira langsung membanting daun pintu kamarnya dengan tenaga dalam sekuat badak.

Brak!!

Pintu tertutup rapat tepat beberapa senti di depan hidung Devan.

Dari balik pintu, Aira menyandarkan punggungnya sambil ngos-ngosan, memegangi dadanya yang berdetak kelewat brutal.

Sialan banget emang si Devan! Udah nyebelin, sok kegantengan, tapi parahnya... omongan cowok itu emang ampuh banget ngacak-acak kewarasan Aira.

Sementara di luar pintu, Devan cuma ketawa ngakak pelan. Pria itu menepuk-nepuk daun pintu itu dengan santai.

"Tidur yang nyenyak, Istriku. Welcome home," panggil Devan dari luar, lalu melangkah menuju kamarnya sendiri dengan senyum puas terukir jelas di wajah tampannya.

Perang mental di kondominium ini baru aja dimulai, dan Devan nggak sabar buat lihat kekacauan apalagi yang bakal dibikin cewek barbar itu besok pagi.

1
Fazira
lanjut 💪
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
Fazira
semangat Kak 💪
Fazira
seru kak , lanjutkan 😍😍
zeylin
Wowwww baguss banget
Ael
🤭
Fazira
Ihh gemezz banget sih mereka 😍😍
Ael
next next 💪💪
nebula🌌
sukaaa
semangat thorr💪💪😍
Fazira
😍😍
Fazira
😍😍😍
Ael
next
Ael
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!