Alina Putri Jayashree merupakan seorang anak perempuan yang berasal dari kota Bogor. Saat ini, ia berusia 23 tahun. Ia berhasil mencapai mimpinya untuk memiliki sebuah toko buku.
Bayu Rafardhan adalah seorang anak laki laki berusia 26 tahun ini sangat menyayangi keluarganya. Ayahnya bernama Lukman baru saja meninggal dan sekarang ia tinggal bersama Bunda yang bernama Indri di Jakarta. Sebelumnya, merantau di Bandung karena pekerjaan. Namun, ia memutuskan untuk resign dan mencari pekerjaan di Jakarta agar bisa menjaga dan merawat Bunda.
Siapa sangka, niat Bayu untuk bekerja di Jakarta membuatnya dekat dengan kembali dengan masa lalu tetapi dengan versi yang berbeda. Kisah cinta tak terduga pun terjadi tidak sesuai ekspektasi, inilah yang di alami Bayu dan Alina beserta para sahabatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Ke empat rekan kerja Alina sedang berada di depan parkiran toko Vin Books, sesuai yang telah direncanakan bahwa malam ini mereka akan mampir ke kontrakan Alina untuk bermain sekaligus membahas mengenai pekerjaan.
"Asyiiik, kita main ke kontrakan Kak Alina" ucap Fara dengan gembira.
"Heh, kata siapa main? ingat ya, sambil kerja" ucap Acha penuh penekanan tetapi seraya tersenyum.
"Ih, nggak kok, kerjaan aku mah udah beres. Yang belum itu Kak Acha, Iya kan, Kak Bayu?" jawab Fara dengan meledek Acha.
"Fara, tolong diam sebentar Dek" ucap Bayu dengan lemah lembut, ia sedang sibuk dengan handphone-nya. Acha sangat puas menertawakan Fara yang di cuekin oleh Bayu, sedangkan Kevin berusaha menahan tawa dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bayu mengirim pesan melalui grup untuk menginformasikan kepada Alina bahwa ia akan segera berangkat menuju kontrakan. "Oke, kita berangkat sekarang" kata Bayu.
"Gak, mau!" ucap Fara dengan nada tinggi, ia tampak menyilangkan tangannya serta memasang ekspresi cemberut.
"Kenapa nggak mau? padahal kamu yang paling bersemangat" tanya Bayu penasaran.
"Aku nggak mau sama Kak Acha, lihat tuh matanya kelihatan udah lelah dan menguap, pasti sangat mengantuk. Lagian kak Acha ngajakin berantem mulu, nanti kalau terjadi sesuatu di jalan gimana coba"
"Ya udah imut, kamu nggak usah ikut aja," ucap Acha lalu mencubit pipi Fara.
"Ih, Kak Acha!" rengek Fara dengan menggembungkan pipinya itu.
Bayu pun menyarankan bahwa Kevin yang akan mengemudikan mobil Acha dan Fara ikut bersama dengan Bayu. Acha tampak menolak karena tidak ingin merepotkan sedangkan Kevin setuju, karena ia mengingat tentang kejadian kecelakaan yang di ceritakan oleh Acha tadi pagi. "Cha, bahaya mengemudikan mobil dalam keadaan mengantuk. Masih ingatkan dengan kejadian tadi pagi yang kamu ceritakan?" tanya Kevin, sedikit menakut - nakuti Acha. Hanya dalam hitungan detik tanpa sepatah katapun Acha pun langsung memberikan kunci mobilnya kepada Kevin. "Oke, Let's go!" ucap Kevin dengan tersenyum, lalu mereka segera masuk ke dalam mobil.
Bayu dan Fara sangat senang akhirnya rencana mereka berhasil. Fara mengambil kesempatan saat sedang berada di gudang penyimpanan buku bersama Bayu. Ia bilang kepada Bayu, bahwa ia berencana untuk mendekatkan Kevin dengan Acha agar lebih akrab, kata Fara sih agar sahabatnya itu terpilih jadi calon istri. Fara juga berharap Bayu akan mendukung rencananya dan ternyata Bayu pun menyetujui hal itu. Fara akan memanfaatkan apa yang terjadi untuk dijadikan ide pendekatan, seperti tadi pada saat Fara melihat Acha tampak sangat mengantuk dan menutup mulutnya karena menguap saat diparkiran, lalu ia malah bersikap seakan - akan marah dengan Acha, hingga akhirnya Kevin yang mengemudikan mobil Acha.
Saat ini, Bayu sedang fokus mengemudikan mobil. Bayu menoleh ke arah Fara yang sedang duduk di sebelahnya, wanita itu tampak tersenyum gembira.
"Senang banget kamu, belum tentu berhasil Dek. Kamu juga tadi bilang apa? Calon istri?" tanya Bayu.
"Iya, mereka itu sangat cocok sih, menurut aku. Kalau menurut kakak gimana?"
"Jangankan terpilih jadi calon istri, kehidupan mantan dia aja masih di kepoin," ucap Bayu dalam batinnya. Di lihatnya Fara yang masih menatap untuk menantikan jawaban. Bayu berkata, "Kakak belum bisa jawab sekarang."
Fara pun bertanya - tanya kepada Bayu kenapa belum bisa menjawab karena kan Kevin temannya dan Bayu juga sudah tahu seperti apa prilaku Acha. Bayu pun menjelaskan kepada Fara bahwa hubungan dalam kisah cinta dibentuk bukan hanya berdasarkan cinta tetapi juga ada alasan lain, salah satu diantaranya yaitu kriteria. Bayu tidak tahu kriteria calon pasangan yang dicari oleh Kevin dan Acha seperti apa. "Ish, tapi orang kalau udah jatuh cinta, pasti dia tidak akan memperdulikan kriteria. Yang ada, hanya takut kehilangan kak." ucap Fara yang beralih memainkan handphone-nya.
Deg
Bayu terdiam tidak lagi merespon, ia rasa ada benarnya juga apa yang di ucapkan oleh Fara. Ia tidak ingin kehilangan Alina hanya karena perasaan cinta di masa lalu, bukan karena Alina itu berpakaian seksi dengan aura terbuka, apalagi berambut panjang kriteria yang dia mau. Bayu saja tidak tahu Alina berambut pendek atau panjang, karena wanita itu selalu berpakaian tertutup dan mengenakan kerudung. Ia mengejar Alina, tetapi dia sendiri hingga saat ini belum tahu siapa yang di kejar oleh Alina.
Berbeda dengan Bayu yang terus bergelut dengan pemikirannya. Kevin dan Acha yang saat ini sedang berada dalam satu mobil itu mereka menjadikan kesempatan untuk saling mengenal dan lebih terbuka. Awalnya, Acha sangat canggung, tetapi kata Kevin sih agar lebih mengenal antara sesama teman.
"Cha, kalau ngantuk tidur aja. Nanti di bangunin kalau udah nyampe."
"Mata aku sebenarnya masih lumayan fresh, nggak ngantuk - ngantuk amat kok, Fara aja tuh yang terlalu berlebihan isengnya."
"Fara nggak bareng kita sekarang, bahas aja yang ada," ucap Kevin dengan lirih.
"Maksudnya?"
"Tentang kita"
"Hah, kita? kenapa memangnya?"
"Kok kenapa, kita kan sekarang rekan kerja, harus saling mengenal dong."
"Oke, nama Aku Acha dan aku berasal dari Bogor. Sekarang aku tinggal di Jakarta, aku hobi traveling dan cukup update di sosmed" Mendengar jawaban Acha, membuat Kevin tersenyum. Kevin berkata, "Oh, berarti kriteria cowok yang kamu suka itu yang hobinya sama dengan kamu?"
"Belum tahu Vin, tapi mungkin akan seperti itu."
"Dih, kok belum tahu sih. Teman aku banyak, siapa tahu nanti kalau aku kenalin kalian berjodoh."
"Eh, giliran kamu sekarang!" ucap Acha dengan ketus, ia berusaha untuk mengubah topik pembicaraan.
"Kalau nama kan udah tahu ya, kalau tempat tinggal ya di sini, Jakarta. Aku anak tunggal dan hobi aku....tidur."
"hahaha, Kevin. Mana ada kayak gitu," ucap Acha dengan tersenyum lebar. Kevin juga tersenyum, ia menoleh ke arah Acha. "Ya ampun, jangan mulai sekarang Kevin. Masih ada banyak kesempatan, sekarang itu keselamatan yang paling utama," gerutu Kevin dalam batinnya. Tetapi kembali fokus mengemudikan mobil, walau sebenarnya ada banyak ide - ide candaan yang ingin dia lontarkan kepada Acha.
...----------------...
Luthfi baru saja pulang kerja dan ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil sebotol air. Bi Tuti yang mendengar suara mobil Luthfi pun keluar dari kamarnya untuk memberikan informasi. Bi Tuti bilang, bahwa Sarina belum makan ataupun minum sejak tadi siang. Luthfi yang mendengar hal itu pun langsung membuatkan kue pukis kesukaan Sarina, walau sebenarnya Bi Tuti sudah menyiapkan makanan untuk Sarina tetapi Luthfi bilang jika makanan itu akan di makan olehnya saja. Bi Tuti masih siap siaga mengawasi Lutfhi yang sedang masak, untuk berjaga - jaga siapa tahu butuh bantuan. Tetapi, justru Luthfi meminta Bi Tuti kembali ke kamarnya karena sudah waktunya untuk istirahat.
Setelah selesai membuat kue pukis, Luthfi membawanya ke kamar. Betapa terkejutnya ia melihat Sarina sedang tertidur dengan memegang foto pernikahannya. Luthfi mengelus rambut Maira dan menciumnya. Ia beralih mendekati Sarina, Luthfi baru menyadari ternyata terdapat air mata yang mengalir hingga pipinya. Luthfi dengan hati - hati mengambil foto itu dan meletakkannya di meja. Ia juga menghapus air mata yang berlinang di pipi Sarina, tetapi sayangnya Luthfi tidak jadi melakukan hal itu. Luthfi mencoba membangunkan Sarina dengan menepuk - nepuk lengan istrinya itu, sambil berbisik di telinga Sarina karena ia tidak ingin Maira sampai ikut terbangun juga. Dengan cara itu Luthfi berhasil membuat Sarina terbangun, Sarina terkejut saat ia menoleh sangat dekat dan tepat di depan wajah Luthfi. Ia dan Luthfi pun terdiam saling memandang, suara lenguhan dari Maira membuat mereka tersadar.
"Huft, untung saja Maira masih tertidur," ucap Luthfi untuk memecahkan keheningan. Sontak Sarina pun mengubah posisinya menjadi duduk dan menghapus air mata yang sudah berlinang di pipinya. Ia berkata, "Eh, Mas Bian baru nyampe? Atau jangan - jangan dari tadi ya? Maaf ya Mas, aku ketiduran." Ucap Sarina sambil menatap Luthfi, tetapi tidak lama kemudian ia menunduk.
"hmm, dari tadi sih. Tapi aku baru nyampe kamar."
"Memangnya tadi ke mana dulu?"
"Aku buatin ini buat kamu," kata Luthfi yang sedang memegang sepiring kue pukis.
"Tidak pernah ada kata - kata romantis diantara kita, Mas. Bahkan, aku pun tidak tahu apa yang kamu rasakan terhadap aku. Entah itu hanya perhatian biasa atau kamu memang cinta sama aku," batin Sarina.
"Ayo, aku suapin" kata Luthfi seraya menyodorkan kue pukis itu ke arah mulut Sarina.
"Nggak perlu, Mas. Aku bisa sendiri kok," Sarina mendorong lengan Luthfi agar menjauh dari mulutnya. Tetapi, saat Sarina akan mengambil piring itu, Luthfi berkata, "No, kali ini aku maksa."
"Oke, aku juga maksa." ucap Sarina dengan lirih, ia juga mengambil kue pukis dari piring yang Luthfi pegang. Luthfi menerima suapan dari Sarina, begitupun dengan Sarina. Walau sebenarnya ada beberapa hal yang ingin dia bicarakan. Namun, ia lebih mengutamakan istrinya itu agar mau makan. "Besok pagi, aku harap kamu sudah siap menjawab beberapa pertanyaan dari aku," batin Luthfi.