Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah
“Cahaya?” Akira yang sedang memegangi kepalanya mengalihkan fokusnya melihat sedikit cahaya di tangan Amane yang sedang tertidur.
Akira yang penasaran pun mencoba menyentuh cahaya itu.
Saat tangannya bersentuhan dengan cahaya itu.
WOOSSHHH!
“?!”
Dia merasa ruangan disekitarnya melengkung dan terasa seperti mundur dengan cepat.
Ding...
[Terdeteksi individu Kanon Amane mengharapkan bantuan dari Anda]
[Otoritas Raja Pahlawan Digunakan]
“Apa ini—”
NGIINGGG!!
Suara dengung terdengar keras bersamaan dengan Akira yang mendapati dirinya sudah berada diruangan yang berbeda.
“Dimana ini?” Akira melihat ruangan yang sangat berantakan seperti kapal pecah.
Akira mencoba menggerakkan badannya tapi dia tidak bisa menggerakkannya sedikitpun.
Tidak lama, Akira merasa bergerak, namun bukan dia yang bergerak, dia seperti merasa ada di tubuh seseorang.
Ding...
[Anda sedang melihat ingatan Individu Kanon Amane]
“Aku… sedang di dalam ingatan Amane? tapi ini dimana.”
PRANG!
Suara botol kaca pecah terdengar bersamaan dengan jatuhnya Akira.
“Apa ini? Kenapa rasanya wajahku seperti dihantam sesuatu.”
BUGH!
“Ughh!”
Akira merasa dirinya ditendang oleh seseorang hingga bersandar di tembok.
Perlahan dia seperti melihat sesuatu didepannya dan suara tidak asing terdengar.
“A-yah…”
“Anak tidak berguna! Bukannya mencari uang! kau malah bersenang-senang disekolah!!”
PRANG!
Sebuah botol kaca dilempar tepat di sampingnya.
“Kau kira siapa yang membuatmu bisa sekolah!!”
“Ma-ma-maaf.”
Setelah melihat keadaan di hadapannya, Akira menyimpulkan, sekarang dirinya sedang berada di tubuh Amane, namun ia hanya bisa melihat dan merasakan apa yang Amane alami.
......................
Beberapa Menit Berlalu...
“Hah?!”
Akira bernafas berat dan cepat, wajahnya berkeringat dingin setelah kembali sadar ke dirinya yang asli setelah cukup melihat ingatan Amane.
Akira melihat tangannya masih menyentuh tangan Amane, perlahan dia sedikit mengangkat lengan baju Amane dan memegang lengan Amane dengan telunjuknya, lalu dia mendapati sebuah bekas luka yang dilihatnya saat memasuki ingatan Amane.
Akira kembali menutup bekas luka di lengan Amane, lalu ia mencoba menarik nafas panjang mencoba kembali tenang.
Setelah kembali tenang, mukanya datar dengan sorot mata yang tajam, seperti melihat ke arah yang sangat jauh, setelah itu, dengan perlahan dia turun dari kasur.
Akira pun segera menuju pintu dan membukanya.
Saat ia membuka pintu, dia mendapati Amamiya yang mau masuk.”
“Yoshikawa—”
Amamiya berhenti berbicara ketika Akira menatap tajam ke arahnya.
“A-ada apa?” Amamiya yang sedikit takut dan mecoba tenang, berbicara dengan gagap.
“Bisa antar aku ke suatu tempat?”
......................
Beberapa Jam Berlalu...
Amamiya yang sedang mengemudi menelan ludah, karena merasa ada yang aneh dengan Akira.
“Amamiya.”
“I-iya?” Amamiya terkejut hingga bicaranya gagap.
“Jika orang tua melakukan kekerasan pada anaknya, apa tindak lanjutnya?”
“Orang tua itu akan dikenakan pidana 15 tahun atau lebih tergantung tingkat keparahan.”
“Begitu ya…”
“Kenapa dia menanyakan hal itu?” pikir Amamiya.
Criitt!!
“Kita sudah sampai.”
“Terimakasih, lalu, apa kau bisa panggil beberapa polisi disekitar sini?”
“Bisa, tapi kenapa?”
Akira keluar dari mobil dan berkata,
“Kau akan tau nanti.”
Jgleg!
Pintu mobil ditutup, lalu Amamiya yang masih tidak tau kenapa harus memanggil polisi tetap menuruti perkataan Akira dan pergi meninggalkan Akira.
“Terlihat sama…”
Akira berdiri diam menatap rumah kecil yang terlihat sangat normal dan bersih.
Ding...
[Anda masih belum bisa menggunakan mana selama satu hari]
"Berarti aku pingsan 2 hari ya... lalu, jika tidak bisa menggunakan mana ada cara lain." gumamnya.
Dia berjalan menuju pintu rumah itu dan mengetuknya.
Cklek!
“Ah sepertinya dia sudah datang, kau tidak perlu khawatir.”
Saat pintu itu sedikit dibuka suara lelaki terdengar seperti sedang berbicara dengan orang lain.
Ketika pintu itu terbuka sepenuhnya, terlihat seorang lelaki gemuk dengan pakaian yang terlihat sangat kotor, dan rumahnya yang sangat berantakan.
“Hah?” Pria itu mengangkat satu alisnya ketika melihat Akira.
“Siapa kau?”
“Aku pahlawan yang melatih putrimu.”
“Ohh… jadi kau yang pahlawan yang melatih putriku.” Pria itu tersenyum lebar.
“Lalu.” Pria itu berhenti tersenyum dan menatap tajam Akira sambil berkata, “Dimana putriku?”
Akira hanya diam menatap ke arah pria itu.
“Oii! Mana dia!.” suara seorang lelaki terdengar di dalam rumah.
Pria itu tiba tiba berbalik badan sambil tersenyum lebar dan berkata.
“Ahh maaf, sepertinya ini orang lain.”
“Yang benar saja! Kapan putrimu datang?! aku sudah membayar mahal kan!!”
“Ahh iya iya mohon tunggu sebentar.”
Akira yang mendengar perkataan seorang lelaki di dalam rumah membuatnya menatap kosong ke depan.
“Oi!.”
Pria itu mendengar Akira dan berbalik badan, dengan muka kesal ia berkata,
“Apa mau mu! Yang lebih penting, dimana putriku—”
“Apa yang kalian bicarakan?” Suara Akira terdengar berat sambil menatap tajam dengan sorot mata yang kosong ke arah pria itu.
“Hah?! Itu tidak ada urusan—”
“Apa.” Suara Akira semakin berat dan mengancam, ”Yang kalian bicarakan?!” Tatapan matanya terus menusuk mata pria itu .
Pria itu berkeringat dingin dan sedikit mundur karena merasa ada yang aneh dengan Akira.
“A-apa apaan kau—”
Brak!
“Oii!”
Pria tak dikenal yang sedang di dalam rumah menggebrak meja.
“Berisik sekali… kau sedang bicara dengan siapa?”
“Ah dia—”
Drap!
Akira menerobos masuk ke dalam menyenggol pria gemuk itu.
“Oii! Ngapain kau masuk-masuk rumah orang!”
Akira tak memperdulikan pertanyaannya dan tetap terus berjalan sampai ke depan pria tak dikenal yang sedari tadi duduk.
“Siapa ka—”
“Kalian membicarakan apa?!”
“Apa ini, masuk-masuk langsung bicara tak sopan.” Pria itu menggelengkan kepalanya.
Pria itu tiba-tiba menatap ke arah Akira sambil tersenyum sinis.
“Apa maksudnya soal membeli putr—”
BUGHH!!
Dalam sekejap mata, pria itu terpukul oleh Akira sampai terpental kebelakang hingga kepalanya menembus tembok.
“Hah?” Pria gemuk di belakang hanya bisa terdiam, tidak bisa melihat gerakan Akira sama sekali.
Pria gemuk itu melangkah cepat menuju ke arah Akira dengan raut wajah kesal sambil berkata,
“Oii!! Mentang-mentang kau seorang pahlawan—”
Akira mengambil sebuah botol kaca yang terletak di atas meja.
“Kau tidak bisa berbuat—”
PRANG!!
Akira memutar badannya dan menghantam botol kaca ke wajah pria gemuk itu hingga pecah.
Pria gemuk itu langsung memegang wajahnya dan memejamkan matanya karena kesakitan sambil berteriak,
“Akhhh!! Apa yang kau lakuka—”
Saat Pria gemuk itu membuka matanya ia menyadari Akira tidak berada didepan.
“Dimana di—”
BRAKK!!
Kepala Pria gemuk itu terhantam ke meja kayu hingga patah oleh Akira yang mendorong kepalanya dari belakang.
Pria itu masih sadar, namun, saat mencoba bangun, dia merasa ada yang hilang.
“Ta-tanganku!” Ia menatap satu tangannya yang hilang dengan histeris.
Akira yang sedari tadi sudah berpindah tempat ke depannya, menekukan kakinya, dan menjambak Pria gemuk itu.
Dia mengangkat kepalanya, agar mata mereka saling menatap.
“Sakit?” Dia menatap tajam ke arah pria gemuk itu yang seperti sedang menangis dan ketakutan.
Pria gemuk itu pun tanpa ragu menganggukan kepalanya.
“Begitu ya… tapi, ini belum selesai.”
Mendengar perkataan Akira, Pria itu menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil berkata,
“Ti-tidak! tidak—”
......................
Beberapa menit berlalu.
Criitt!
Jgleg!
“Maaf tapi kenapa kami harus kesini?” Tanya seorang polisi lelaki.
“Aku disuruh seseorang.” jawab Amamiya.
Disekitar Amamiya ada dua mobil polisi dengan 4 orang polisi yang terlihat kebingungan karena jawaban dari Amane.
Cklek!
Suara pintu terbuka, dari dalam rumah, Akira keluar dengan mantelnya yang terciprat noda darah.
Tap… tap…
Para Polisi yang melihat Akira dengan sigap langsung menodongkan pistol ke arahnya sambil gemetaran karena Akira terlihat mencurigakan.
Akira yang ditodong senjata hanya menatap dengan muka datar tanpa emosi.
“Tunggu! Dia satu tim denganku!” teriak Amamiya.
Para polisi pun saling menatap, tidak lama mereka menaruh pistol mereka kembali.
Akira berjalan menuju mobil, dan saat melewati Amamiya, dia berbisik,
“Cek ponselmu.”
Begitu melewati Amamiya, dia melepaskan mantel panjangnya dan menaruhnya di Inventory lalu langsung masuk ke dalam mobil.
Amamiya yang tidak tau apa yang terjadi pada Akira, langsung menuruti perintahnya untuk membuka ponsel.
“?!”
Saat membuka ponselnya, mata Amamiya membulat, dia melihat 2 foto dan pesan yang dikirim oleh Akira.
Foto yang dikirim Akira membuat Amamiya tidak bisa berkata-kata, namun dia langsung percaya dengan pesan yang dikirim Akira, pesan itu memberi tau Amamiya, bahwa, orang yang ada di dalam foto adalah penjahat yang melakukan tindak kriminal.
Gleg!
Amamiya menelan ludah tidak percaya dengan apa yang dilakukan Akira.
“Entah kenapa, aku jadi teringat perkataan jendral…”