Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
~Sabtu pagi, pukul 08:00 WIB~
Sinar matahari pagi menyinari kamar Bella yang kembali difungsikan sebagai ruang rapat eksekutif. Dion, Rindi, Tono, dan Bono duduk bersila di karpet dengan wajah lelah, namun mata mereka memancarkan kebanggaan luar biasa. Semalam, mereka telah memenangkan peperangan tanpa meneteskan setetes darah pun. Di meja belajarnya, Bella sedang mengetik dengan cepat di atas laptop-nya.
"Laporan Insiden (Incident Report) selesai disusun," Bella menekan tombol simpan, lalu memutar laptop-nya ke arah anggotanya. "Dokumen ini berisi kronologi serangan faksi radikal Toni, strategi mitigasi yang kita lakukan, dan rincian inventaris yang digunakan semalam, satu selang hidran dan lima liter air sekolah. Ini akan menjadi dokumen rahasia (Classified Document) internal kita."
"Bos," Dion angkat bicara, mengusap lehernya yang pegal. "Strategi semalam emang gila, si Toni sampai nangis keselek air hidran. Tapi, apa masalah kita udah selesai? Kalau dia nekat balik lagi gimana?"
"Toni adalah karyawan toksik yang baru saja di PHK massal dari perusahaannya sendiri (Geng Serigala). Dia kehilangan logistik, kehilangan dukungan pimpinan, dan yang paling parah, dia kehilangan kredibilitas di mata pasukannya sendiri setelah jebakan semalam," jelas Bella, menggunakan metode analisis perilaku konsumen (Consumer Behavior Analysis) pada musuhnya. "Seorang preman yang gagal memimpin serangan akan kehilangan pengikutnya, aku sendiri proyeksikan 80% dari kelima belas orang semalam tidak akan berani lagi mengikutinya."
Ponsel Bella di atas meja bergetar singkat. Ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak disimpan, namun Bella tahu siapa pengirimnya.
Leo: Aku mendengar kabar burung. Kudengar beberapa anak kucing kehujanan di lorong sempit semalam. Terima kasih telah tidak merusak asetku (mereka) secara permanen. Mulai hari ini, Toni sepenuhnya di luar kendaliku. Berhati-hatilah, dia licik seperti tikus got.
Bella: SLA Diterima, kinerja organisasimu sedang diawasi. Tetap di jalurmu.
Bella meletakkan ponselnya dan menatap Dion. "Dion, dengarkan baik-baik. Toni sekarang adalah variabel eksternal (Antagonis Independen), dia tidak berani menyerang kita secara langsung lagi. Dia akan mencoba taktik Guerilla (perang gerilya), menyebarkan rumor, merusak properti individu secara sembunyi-sembunyi, atau mungkin juga menyerang titik terlemah dari belakang."
"Gue cari dia ke rumahnya, Bos," potong Dion, tangannya terkepal. "Gue kasih warning letter (Surat Peringatan) pakai kepalan tangan gue biar dia cacat sekalian."
"Ditolak!" kata Bella dengan nada tegas, menghentikan niat agresif Dion. "Kekerasan vigilante (main hakim sendiri) adalah tindakan reaktif yang akan membuat kita berada di level yang sama dengan mereka, reputasi kita saat ini sedang naik di mata guru-guru dan Kepala Sekolah. Kita tidak akan mengotori tangan kita untuk menyingkirkan satu hama kecil, kita akan menggunakan kekuatan struktur institusi."
Bella berdiri dari kursinya. "Masalah eksternal kompetitor telah berhasil dimitigasi untuk sementara waktu, ita anggap ini selesai untuk sementara. Mulai hari Senin besok, kita akan kembali memfokuskan energi kita pada proyek utama yaitu Restrukturisasi Sistem Internal Sekolah."
Tono menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Restruk... apa lagi, Bos? Bukannya urusan sama akreditasi Pak Surya udah selesai? Kita kan dapet A."
"Akreditasi adalah pemolesan etalase perusahaan, Tono," jawab Bella dengan senyum misterius seorang auditor senior. "Etalasenya sudah mengkilap, tetapi mesin di dalamnya, yaitu budaya kedisiplinan siswa dan standar operasional guru Bimbingan Konseling (BK) masih menggunakan mesin peninggalan zaman prasejarah. Jika kita ingin menguasai sekolah ini secara utuh, kita harus memperbaiki sistemnya, bukan menyalahkan orangnya (Fix the System, not the Blame)."
Senin pagi, kehidupan di SMA Garuda berjalan normal seolah insiden penyusupan dan serangan air hidran di malam Jumat tidak pernah terjadi. Kebersihan yang disapu bersih oleh Dion dan Riko sebelum fajar membuat tidak ada satu pun guru yang menyadari bahwa lorong laboratorium mereka sempat menjadi medan perang. Namun, kedamaian akademis ini segera dirusak oleh suara bentakan keras dari dalam Ruang Bimbingan Konseling (BK). Bella yang sedang melintas di koridor bersama Siska (Sekretaris OSIS) untuk mengantar dokumen ke ruang tata usaha, menghentikan langkahnya. Pintu ruang BK terbuka setengah. Di dalam, Bu Ratna sedang memarahi dua orang siswa kelas sepuluh yang ketahuan membolos di kantin.
"Kalian ini sampah masyarakat! Bodoh! Tidak punya masa depan! Kalau besok kalian bolos lagi, saya panggil orang tua kalian dan saya skor kalian satu minggu!" bentak Bu Ratna dengan suara melengking hingga terdengar ke ujung lorong. Kedua siswa kelas sepuluh itu hanya menunduk, wajah mereka memancarkan campuran antara ketakutan dan kebencian (dendam).
Siska mendesah pelan di sebelah Bella. "Bu Ratna selalu begitu, pendekatan disiplinnya cuma pakai amarah dan ancaman. Anak-anak yang dihukum bukannya kapok, malah makin benci sama sekolah."
Bagi Bella Anastasia, pemandangan di dalam ruang BK itu bukanlah sebuah sesi pendisiplinan pendidikan, melainkan sebuah tragedi Manajemen Sumber Daya Manusia (HRD) yang paling fundamental.
*Menghancurkan harga diri karyawan (atau siswa) di depan umum (Public Shaming) tidak akan pernah menghasilkan peningkatan kinerja (Performance Improvement)* batin Sarah Paramitha. Itu hanya akan melahirkan Karyawan Toksik baru seperti Toni, definisi pengawas yang buruk menciptakan karyawan yang buruk.
Bella menyerahkan dokumen di tangannya kepada Siska. "Bawa ini ke tata usaha, Siska. Aku harus melakukan audit dadakan terhadap departemen Human Resources sekolah kita."
Sebelum Siska sempat mencegahnya, Bella sudah melangkah masuk ke dalam Ruang BK dengan postur tubuh setegak jenderal bintang empat, lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi 'Klik' yang tegas. Bu Ratna menghentikan omelannya dan menatap tajam ke arah Bella, kebencian guru BK itu terhadap Bella masih membekas sejak Bella mempermalukannya di ruang Kepala Sekolah beberapa waktu lalu.
"Bella Anastasia. Sedang apa kamu di sini? Saya tidak memanggilmu, dan saya sedang sibuk mengurus anak-anak nakal ini!" hardik Bu Ratna.
Bella berjalan mendekati meja Bu Ratna. Ia tidak membungkuk, ia tidak meminta maaf. Ia menatap kedua siswa kelas sepuluh yang ketakutan itu, lalu menatap Bu Ratna.
"Selamat pagi, Ibu Ratna," sapa Bella dengan intonasi formal. "Saya memotong sesi konseling ini karena saya mengamati adanya inefisiensi prosedural (Procedural Inefficiency) dalam metode pendisiplinan yang Ibu terapkan. Ibu tidak sedang menyelesaikan masalah (Problem Solving), tetapi ibu hanya sedang menciptakan resistensi (penolakan) mental."
Wajah Bu Ratna memerah seketika, "Berani-beraninya kamu! Kamu cuma siswa! Kamu tidak punya hak mengkritik metodologi pendidikan saya!"
"Jika metodologi Ibu berhasil, saya tidak akan berada di sini," balas Bella tanpa berkedip, ia kemudian menunjuk dua siswa kelas sepuluh tersebut. "Anak-anak ini membolos. Berdasarkan prinsip RCA (Root Cause Analysis), apakah Ibu sudah menanyakan mengapa mereka membolos? Apakah mereka tidak paham materi gurunya? Apakah ada masalah perundungan di kelas? Atau apakah mereka memiliki disleksia yang tidak terdiagnosis?"
Bu Ratna terdiam, mulutnya setengah terbuka. respon yang bisa diterjemahkan jika ia tidak pernah menanyakan hal-hal itu. Di otaknya, bolos berarti nakal. Titik.
"Ibu tidak mencari akar masalahnya (Fix the System). Ibu hanya menyalahkan mereka (Fix the Blame)," Bella melanjutkan serangannya dengan presisi klinis. "Dan ketika Ibu menghardik mereka sebagai 'sampah masyarakat', Ibu membunuh motivasi intrinsik mereka. Sebagai divisi konseling, tugas Ibu adalah membina aset sekolah, bukan merusaknya."
"L-lalu... menurut manajer sok pintar sepertimu, apa yang harus saya lakukan?!" tantang Bu Ratna dengan suara bergetar karena emosi dan rasa malu. "Beri mereka hadiah karena sudah bolos?!"
"Tentu saja tidak. Kita menggunakan instrumen korporat, Performance Improvement Plan (Program Peningkatan Kinerja/PIP)," Bella merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah template dokumen kosong yang memang selalu ia siapkan untuk segala situasi. Ia meletakkan template PIP tersebut di meja Bu Ratna.
"Dalam sistem PIP, alih-alih memberikan skorsing pasif (libur di rumah yang justru disukai oleh siswa nakal), kita memberikan mereka Target Harian yang terukur," jelas Bella. "Mereka wajib melaporkan diri ke ruang BK setiap pagi pukul 06:45 untuk evaluasi absen, dan mereka diwajibkan menyelesaikan tugas resume (summary) dari pelajaran yang mereka tinggalkan saat membolos. Jika dalam periode evaluasi dua minggu (Probation Period) mereka berhasil mencapai target (KPI), surat peringatannya diputihkan. Jika mereka gagal, barulah sanksi administratif (skorsing) dijatuhkan dengan landasan data yang objektif." lanjutnya.
Kedua siswa kelas sepuluh itu menatap Bella dengan mata terbelalak, hukuman ini terdengar jauh lebih masuk akal dan 'bisa dikerjakan' daripada sekadar di-cap sebagai sampah. Bu Ratna sendiri menatap kertas template yang sangat profesional itu, kolom-kolomnya terstruktur dengan rapi: Nama, Indikator Pelanggaran, Target Perbaikan, Tenggat Waktu (Timeline), dan Kolom Tanda Tangan Komitmen.
Bahkan ego Bu Ratna yang setinggi langit pun tidak bisa menyangkal bahwa template kerja administratif yang dibawa Bella ini jauh lebih modern, rapi, dan solutif dibandingkan buku catatan kumalnya yang penuh coretan spidol merah.
"Bapak Surya mulai melihat saya sebagai aset strategis di sekolah ini, Ibu Ratna," ucap Bella, suaranya merendah menjadi bisikan korporat yang mengancam namun elegan. "Dan saya sedang mencoba membantu Ibu agar divisi BK ini tidak terlihat terlalu primitif di mata Kepala Sekolah, saya tawarkan revolusi administrasi (Administrative Restructuring). Ibu bisa mengambil kredit atas ide ini, pilihan itu ada di tangan Ibu."