Lima tahun telah berlalu sejak Edeline putus dengan kekasihnya. Namun wanita itu masih belum mampu melupakan mantan kekasihnya itu. Setelah sekian lama kehilangan kontak dengan mantan kekasih, waktu akhirnya mempertemukan mereka kembali. Takdir keduanya pun telah berubah. Edeline kehilangan harapannya. Namun tanpa dirinya sadari ada seseorang yang selama ini diam-diam mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6 Omamori
...Bab. 6...
...OMAMORI...
Di kuil, Keith memejamkan mata berdoa dengan khusuk. Ariana mengucapkan sebait doa dalam hati. Ia lalu menatap Keith di sampingnya sampai Keith mulai membuka matanya. Ariana memalingkan wajah.
"Kalau boleh tahu apa yang kamu doakan? Khusuk sekali," tanya Ariana.
"Hanya memohon kesehatan, kelancaran pekerjaan, dan seseorang," jawab Keith jujur.
"Apa orang yang penting?" tanya Ariana ingin tahu.
"Entahlah. Mungkin ya mungkin juga tidak," jawab Keith. Ia sendiri bingung.
"Pasti orang yang kamu sukai. Iya, kan?" Ariana bertanya lebih detail.
"Sepertinya," jawab Keith.
Ariana terdiam hanya bergumam pelan. "Hm."
"Kalau kamu mendoakan apa, Ariana? Kamu pasti sering datang berdoa, kan?" giliran Keith bertanya.
"Aku berdoa untuk orang tuaku dan seseorang," jawab Ariana.
"Orang yang kamu sukai?" tebak Keith.
"Iya. Aku menyukainya saat pertama kali melihatnya. Dia sering tersenyum. Ada kalanya dia juga begitu serius. Dia baik sekalipun terhadap orang yang baru dikenal. Aku bisa melihatnya dari sorot matanya dan ketulusannya." Ariana menerangkan sambil membayangkan sosok orang itu.
"Apa dia tahu kamu menyukainya?" tanya Keith.
"Tidak. Aku rasa dia menyukai orang lain," jawab Ariana dengan murung.
"Jangan pesimis dulu. Kamu kan belum mencoba. Tunjukkan perhatianmu padanya." Keith memberi semangat.
"Ya. Terima kasih," ucap Ariana.
Kebetulan hari itu ada stand Omamori di samping kuil. Ariana mengajak Keith ke sana untuk melihat-lihat. Ariana tertarik untuk membeli, Keith pun ikut membeli satu.
"Aku tidak bisa lama. Aku masih harus mengantar kunci. Ayo, kuantar kamu pulang dulu!" ajak Keith setelah pergi dari stand.
"Tidak, kamu duluan saja. Aku masih ada keperluan. Nanti aku bisa pulang sendiri," tolak Ariana.
"Oh, baiklah aku duluan, ya! Sampai bertemu!" pamit Keith. Ariana tersenyum kecil sambil melambaikan tangan. Menatap kepergian Keith sampai sosoknya menghilang.
...🌹🌹🌹...
Aku sedang berdiri di atas balkon menikmati sejuknya udara malam. Dari atas sini ku lihat Keith datang. Dia membuka pintu pagar dan berjalan masuk. Dia tidak melihatku jadi aku turun ke bawah. Mama sepertinya di kamar jadi aku membuka pintu.
"Maaf, kemalaman. Ini kuncimu!" Keith langsung menyodorkan kunci padaku. Aku menerimanya.
"Habis kencan di mana?" ejekku.
"Tidak ada kencan, Edeline! Kami hanya ke kuil!" jelas Keith jujur.
"Heh ... Keith ke kuil?!" seruku. Agak kaget juga baru sekarang dengar Keith pergi ke kuil.
"Apa yang salah? Sudah ya, aku pulang dulu. Sampai bertemu besok, Nyonya Edeline!" pamit Keith sambil mengejek.
"Heh ... Nyonya katamu?! Awas, ya!" seruku tak terima dipanggil begitu tua. Keith pergi dengan cepat sambil tertawa terkekeh.
Aku masuk kembali ke dalam rumah. Entah kapan mama sudah ada di ruang tamu.
"Keith jadi rajin kemari, ya!?" kata mama dengan nada menggoda.
"Dia kemari hanya mengantar kunci, Mama. Akhir-akhir ini ada seorang gadis yang selalu datang saat toko mau tutup. Aku tak mau menunggu jadi ku biarkan Keith yang melayaninya dan menutup toko," jelasku.
"Begitu?" Mama seperti tak percaya.
"Iya. Aku rasa gadis itu menyukai Keith, Mama!" kataku lagi dengan semangat.
"Lalu, kamu?" Mama bertanya dengan tatapan penuh arti.
"Aku? Aku kenapa? Mama jangan bercanda, ah!" sahutku.
"Kamu berada di satu toko dengan Keith cukup lama. Bertemu dan bekerja bersama setiap hari. Masa kamu tidak ada perasaan sedikitpun padanya?" tanya mama heran.
"Aku tak merasa ada apa-apa. Mama kenapa bertanya yang aneh-aneh begitu?" Aku malah merasa aneh pada mama. Mama sudah seperti mak comblang saja yang suka mengomporiku soal Keith.
"Mama juga pernah muda, Edeline. Dua orang yang bersahabat sejak lama saja bisa saling jatuh cinta, apalagi yang modelnya sepertimu!" ujar mama enteng saja.
"Mama tidak melarang kalau kamu suka sama Keith. Sebab Mama tahu Keith pemuda yang baik," lanjut mama.
Aku diam saja tak menanggapi.
"Oya, Edeline, Mama hampir lupa. Bagaimana dengan rencana liburan bersama Celine. Kamu ikut kan?" tanya mama. Akhirnya ada topik lain.
"Entahlah. Aku bingung. Kalau aku pergi, bagaimana dengan toko bunga?" jawabku.
"Toko bunga kan ada Keith yang mengurus. Cuma 4 hari koq, sayang kesempatan langka. Mama sih sudah tua, biar kalian yang muda saja yang menikmati," ujar mama.
"Apa Keith bisa mengurus toko sendiri? Bagaimana kalau banyak pembeli?" tanyaku masih ragu.
"Kalau mau berlibur jangan banyak pikir nanti malah batal. Mama percaya Keith bisa. Kalau ramai Mama bisa pergi membantu. Kalau tidak dekat-dekat dengan bunga tidak masalah. Lagipula alergi Mama masih ringan." Mama meyakinkan. Tapi aku masih kurang yakin.
...🌹🌹🌹...
Aku baru tiba di toko tepat Keith juga baru sampai.
"Selamat pagi, No ...."
Aku mengacungkan tinjuku ke depan wajah Keith sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Aku masih belum membalas ejekannya semalam.
"Maksudku, selamat pagi Edeline yang manis!" Keith segera meralat.
"Jangan pura-pura bersikap manis! Aku masih belum lupa panggilanmu semalam," ancamku.
"Aku cuma bercanda. Masih pagi jangan marah-marah nanti beneran tua loh!" Keith masih mengejek sambil tertawa kecil. Aku melotot dan ingin menimpuknya dengan tasku namun dia keburu kabur ke dalam duluan.
Aku jadi teringat ucapan mama semalam. Aku bertemu Keith setiap hari, bercanda setiap saat, tapi tidak merasakan perasaan lebih terhadapnya. Sebenarnya itu karena aku belum siap menerima hati yang baru. Aku belum bisa melupakan dia sepenuhnya meskipun itu sudah lama berlalu.
Aku masih terus memegang brosur itu di toko. Keith datang menghampiri.
"Pergi saja tidak usah banyak berpikir," komentarnya tanpa diminta.
Aku menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Ku letakkan brosur itu ke atas meja. Lalu menatap Keith.
"Aku membuat kebijakan baru. Mulai bulan depan setiap hari minggu toko bunga tutup alias libur. Jadi, kamu punya hari libur setiap minggu. Sementara gaji akan tetap diberikan penuh setiap awal bulan," kataku serius.
"A- apa? Kenapa harus seperti itu? Aku tidak butuh hari libur," protes Keith tidak setuju.
"Kamu tidak butuh tapi aku tidak mau di cap bos egois yang membuat pegawai harus bekerja keras setiap hari," terangku.
"Kamu bisa membiarkanku jaga sendiri di hari minggu asal jangan ditutup. Lagipula aku tidak bekerja dengan keras lihat sekarang saja aku sangat santai," ujar Keith. Aku menggelengkan kepala.
"Ayolah ... Edeline, Aku tidak suka berlibur. Hari libur sangat membosankan. Tidak ada yang bisa aku kerjakan." Keith memohon. Aku tetap menggeleng.
"Keputusan tidak bisa diubah. Kamu juga perlu waktu untuk dirimu sendiri, Keith. Kamu harus memikirkan hal lain selain pekerjaan. Melakukan sesuatu yang lain selain yang berhubungan dengan bunga. Kamu harus memikirkan masa depanmu juga!" kataku tegas. Keith tak bisa membantah.
"Baiklah," ucap Keith dengan lemas.
"Aku rasa akan menitipkan toko ini selama 4 hari padamu. Kamu bisa mengurusnya dengan baik, kan?!" tanyaku serius.
"Tentu saja. Kamu bisa percayakan padaku, Edeline! Aku takkan mengecewakanmu!" jawab Keith sangat bersungguh-sungguh.
"Oke. Terima kasih," balasku.
Celine sangat senang mendengar aku akan pergi bersamanya. Dia dan Hans serta putrinya sampai berkunjung ke rumah mama. Kami berkumpul dan makan bersama. Celine juga berencana menitipkan putrinya pada mama. Sebab tak ingin merepotkan Hans yang harus berjualan. Mama juga tidak keberatan.
Sehari sebelum berangkat, aku masih ke toko. Aku sibuk mengemasi barang-barang di atas meja. Aku ingin semuanya tetap rapi sampai aku pulang. Keith datang menawarkan bantuan. Aku menolak karena bukan pekerjaan sulit. Kemudian ia memberikan sesuatu seperti kantong kecil padaku.
"Ini untukmu!"
"Apa itu?" tanyaku.
"Ini Omamori, jimat keberuntungan," jawab Keith. Lalu ia menunjuk huruf kanji yang tertulis di atasnya.
"Kotsu Anzen, keselamatan sampai tujuan. Terimalah!" Ia sodorkan padaku.
Aku melongo. "Kamu percaya hal seperti ini?" tanyaku sambil mengerutkan kening.
"Tidak begitu. Tapi apa salahnya?! Ini ambillah!" jawab Keith terus menyodorkannya padaku.
Aku menyeringai, menerima kantong itu dengan perasaan aneh. Menggumam dengan suara kecil.
"Gadis itu sangat ajaib!"
"Apa katamu?" tanya Keith tak mendengar jelas.
"Ahahaha .... Tidak ada. Arigato gozaimasu!" jawabku sambil tersenyum lebar menutupi kebohongan.
"Sama-sama," balas Keith yang juga ikut tersenyum lebar. Senyum yang amat terlalu manis.
^^^bersambung...^^^
karna buka kisah baru itu perlu tenaga jga hirup udara yg pas😌 utk qm edeline semangat ya buat kisah baru nya lgi😌
ga segampang itu menjalani kisah baru dan melupakan yg lama
cari kerjaan baru mngkn akan berubah kehidupan baru dan pastinya akan bertemu dgn org yg baru
semangat
masih nyangkut masa lalu jgn mulai buka halaman baru
bisa aja qm yg selanjutnya menyakiti perasaan nya 🙄 pahamkan itu jgn asal hdup aja🙄
basa basi